Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bumi
Pagi itu, sepoi angin taman kota berembus membawa aroma rumput basah yang segar. Cahaya matahari hangat menerobos di antara sela-sela ranting pohon, membiaskan bintik-bintik emas di atas bangku taman.
Radhit duduk kaku di bangku kayu itu.
Meski luka di kepalanya masih terbalut perban tipis di balik topinya dan tubuhnya belum sepenuhnya pulih, penampilan Radhit pagi ini sangat berbeda. Tidak ada lagi kemeja mahal yang tajam atau aura kaku Direktur Utama yang menakutkan. Pria itu hanya mengenakan kaus polos yang longgar dan celana kain sederhana.
Tangan Radhit yang mendekap sebuah kotak mainan kayu bergetar pelan. Telapak tangannya berkeringat dingin.
Bagaimana kalau dia nangis lagi saat melihatku? Bagaimana kalau dia masih menganggapku monster?
Rasa cemas yang luar biasa memukul-mukul dada Radhit, jauh lebih menakutkan daripada saat ia harus menghadapi krisis bisnis bernilai triliunan rupiah.
Tuk... Tuk... Tuk...
Suara langkah kaki ringan dari atas jalan setapak kayu membuat jantung Radhit melonjak drastis.
Vivian melangkah mendekat. Ia mengenakan gaun kain kasual berwarna krem. Di sampingnya, seorang balita laki-laki berkaus kuning dengan celana kodok melompat-lompat kecil seraya memegang erat jemari ibunya.
DEG.
Pandangan Radhit terkunci sepenuhnya pada sosok anak mungil itu. Matanya seketika mengembun oleh genangan air mata yang memanas.
Vivian menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Radhit. Ia menatap mantan suaminya itu seraya menghela napas pelan membuang sisa-sisa sesak di dadanya.
"Bumi..." panggil Vivian lembut seraya berlutut di samping anaknya. "Ingat kan apa yang Ibu bilang di rumah tadi?"
Bumi mengangguk pelan. Mata bulatnya yang polos menatap sosok Radhit yang duduk kaku dengan pandangan serba salah.
"Ingat, Ibu... Paman yang penolong itu..." bisik Bumi dengan suara mungilnya yang menggemaskan.
Kata-kata sederhana itu membuat dada Radhit terasa sesak oleh rasa haru yang tak tertahankan. Vivian tidak menceritakan keburukan masa lalunya pada Bumi. Wanita itu tetap menjaga nama baiknya di depan sang anak.
Vivian mendongak, menatap mata Radhit yang memerah. "Mas Radhit... silakan kalau mau bicara sama Bumi."
Radhit menelan ludah dengan susah payah. Pria itu perlahan bergeser dan berlutut di atas rumput taman—merendahkan posisinya sejajar dengan tinggi badan Bumi. Ia tidak peduli lututnya tergores tanah atau celananya kotor.
"Halo, Jagoan..." sapa Radhit dengan suara yang sangat parau dan bergetar hebat.
Radhit menyodorkan kotak kayu di tangannya dengan hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kaca yang sangat rapuh.
"Ay—paman... punya mainan mobil-mobilan kayu buat Bumi. Boleh paman kasih?"
Bumi memiringkan kepalanya. Ia menatap kotak itu, lalu beralih menatap wajah Radhit. Di mata polos anak itu, pria di hadapannya tidak lagi terlihat menakutkan seperti waktu di desa. Pria ini memancarkan kehangatan dan tatapan mata yang begitu merindukannya.
Perlahan, kaki-kaki mungil Bumi melangkah mendekat. Tangan kecilnya yang empuk terulur meraih kotak kayu dari genggaman Radhit.
"Mobil-mobilan?" tanya Bumi riang saat melihat isi kotak tersebut.
"Iya... ini buatan tangan Paman sendiri waktu di rumah sakit kemarin..." bisik Radhit, air mata penyesalan dan kebahagiaan akhirnya meluncur deras membasahi pipinya tanpa bisa ditahan lagi.
Bumi menatap air mata yang menetes di pipi Radhit. Tangan kecilnya yang mungil dan hangat mendadak terulur, menyeka air mata di wajah Radhit dengan punggung tangannya.
"Paman kok nangis? Kepala Paman masih sakit, ya?" tanya Bumi polos, menunjuk perban di kepala Radhit.
JLEB!
Sentuhan lembut jemari kecil itu menghantam ulu hati Radhit begitu dalam!
Dua tahun lalu, ia membuang dan mengutuk anak ini saat masih di dalam kandungan. Namun kini, tangan mungil yang pernah disia-siakannya itu justru mengusap air matanya dengan penuh kasih sayang.
Radhit tidak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Bumi, menangis terisak tanpa suara. Bahunya berguncang hebat di atas tanah berumput.
"Maafin Ayah, Nak... Maafin Ayah..." bisik Radhit meraung di dalam hatinya, tak berani mengucapkannya keras-keras karena takut mengejutkan anaknya.
Vivian yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka memalingkan wajahnya ke samping. Tangannya meremas gaunnya sendiri, menahan lelehan air mata yang ikut jatuh melihat pemandangan itu.
Sisa-sisa kebencian di hati Vivian seolah luruh satu per satu, berganti dengan rasa iba yang mendalam. Ia tahu, pria di hadapannya kini benar-benar telah hancur dan lahir kembali sebagai sosok yang berbeda.
Bumi yang bingung melihat Radhit menangis, perlahan memeluk leher Radhit dengan kedua lengan mungilnya.
"Paman jangan menangis lagi... Bumi udah gak takut kok sama Paman..." bisik balita itu menepuk-nepuk pelan bahu lebar Radhit.
Pelukan hangat dari darah dagingnya sendiri membuat Radhit merasa seolah jiwanya yang telah mati selama dua tahun ini... akhirnya mendapatkan napas kehidupannya kembali.
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian