NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 14 : Terowongan Kerangka

Tanah diatas mereka bergetar makin keras.

DUK... DUK... DUK...

Debu berjatuhan dari sela-sela akar yang menjadi atap lubang mereka. Jamur-jamur biru yang tadi cahayanya tenang, sekarang berkedip-kedip cepat seperti lampu yang korslet, karena getaran kaki Bhayavedin di atas mereka.

Di depan pintu masuk, bayangan kaki raksasa Bhayavedin yang seperti akar pohon raksasa masih berdiri diam. Tidak bergerak. Tidak menggeram. Hanya telinganya yang lebar dan sobek-sobek itu bergerak ke kiri dan kanan, menangkap suara.

Hidungnya yang hanya dua lubang besar mengendus.

Srrrk... srrrk...

Dia mencium bau asing. Bau darah Elina, bau roti coklat, bau keringat takut mereka.

Di dalam lubang, kelimanya menahan napas.

"Gilang, tahan napas lo." bisik Bima, suaranya gemetar tapi ia paksa pelan banget, karena ia ingat Bhayavedin peka suara. "Jangan takut, dia ngerasa takut lo."

Gilang wajahnya sudah pucat pasi, keringat dinginnya netes. "Gua, gua nggak sengaja Bim,kaki gua kesemutan."

Maira memeluk Elina yang masih tertidur pulas karena kelelahan, Elina tidak sadar ada Bhayavedin di depan. Maira menutup luka Elina pelan dengan kain, biar bau darahnya tidak terlalu menyebar.

"Elinanya jangan kebangun dulu. Kalau dia kebangun dan nangis, suaranya kedengeran." bisik Maira ke Arga.

Arga yang masih memegang peta kulit kayu itu, matanya celingukan mencari cara lain. Ia melihat ke belakang lubang, ke arah akar yang paling rapat tempat tadi ia menemukan peta. Karena getaran kaki Bhayavedin yang menghentak-hentak di atas, akar-akar di belakang mereka retak.

KRETAKKK...

Sebuah celah kecil terbuka di antara akar belakang. Celah itu gelap, hanya angin dingin yang keluar dari dalamnya. Bau tanah yang lebih tua, lebih pengap.

Bima melihatnya.

"Ga,belakang lo ada lubang."bisik Bima sambil menunjuk.

Arga menoleh. Celah itu cukup untuk satu orang merangkak. Sangat sempit, gelap gulita, tidak tahu ujungnya di mana.

"Terowongan?" kata Gilang pelan.

Arga menyorotkan senter HP-nya yang sudah mau habis baterai ke dalam celah itu. Cahaya senter hanya bisa menembus sekitar dua meter, setelah itu gelap total. Dinding terowongan itu bukan tanah, tapi akar-akar yang saling melilit membentuk lorong.

"Gimana nih? Masuk gak?" tanya Maira, suaranya cemas. "Jangan-jangan jebakan lain? Jangan-jangan di dalem ada Bhayavedin lain?"

Semua terdiam. Ragu.

Di depan, Bhayavedin mulai mengorek pintu masuk dengan kuku akarnya yang runcing.

KRAK... KRAK...

Lubang pintu masuk perlahan melebar, akar-akar penutupnya mulai patah satu per satu.

"Gak ada pilihan Mai." kata Bima cepat, ia sudah ambil keputusan. "Di depan ada Bhayavedin, kalau kita di sini, bau kita sama suara kita kecium semua. Di belakang ada harapan. Sekalipun jebakan, kita harus coba."

Arga mengangguk. "Peta juga nunjukin rute ke belakang ini, Bim. Gambar sungai hitam ada setelah lubang akar. Mungkin terowongan ini jalannya."

Gilang melihat Elina yang masih digendong Maira. "Elina gimana? Dia masih lemes."

Maira hanya mengangguk pelan.

"Gua gendong," kata Gilang tiba-tiba, padahal tadi dia yang paling takut. "Biar Maira bisa jalan di depan pegangan akar. Gua di belakang sama Elina."

Maira menatap Gilang, sedikit kaget karena Gilang biasanya paling mengeluh.

"Lang, lo yakin? Elina lumayan berat loh," kata Maira.

"Yakin. Daripada kita semua mati di sini karena Bhayavedin denger kita berisik, mending gua gendong," jawab Gilang, suaranya masih gemetar tapi ia paksa berani, karena ia ingat kalau ia takut, Bhayavedin makin ngerasa.

Suara korekkan di depan makin keras.

BRAKK!!

Satu akar besar patah.

"Udah, nggak ada waktu! Masuk sekarang!" perintah Bima pelan tapi tegas.

Akhirnya karena nggak punya pilihan, mereka masuk kedalam situ.

Bima yang pimpin jalan merangkak paling depan, karena dia paling berani dan senter HP Arga dipegang Arga yang ada di belakang Bima. Jadi Bima yang buka jalan, Arga yang baca peta.

Urutan mereka: Bima di depan, lalu Maira, lalu Arga yang sambil baca peta kulit kayu, lalu Gilang yang menggendong Elina di punggungnya, Elina yang belum pulih digendong Gilang sambil setengah sadar.

"El, pegangan yang kuat ya." bisik Gilang ke Elina di punggungnya. "Jangan takut ya, El..."

Elina yang masih ngantuk hanya mengangguk lemah di bahu Gilang, "Lang,kita mau kemana?"

"Kita mau keluar El, kita mau pulang." jawab Gilang, menahan agar suaranya tidak bergetar ketakutan.

Terowongan itu sangat sempit dan lembab. Mereka harus merangkak dengan perut hampir menempel tanah. Bau akar busuk menyengat hidung. Setiap gerakan mereka menimbulkan suara - srek... srek...- gesekan baju dengan akar.

"Pelan-pelan,jangan berisik.Ingat, Bhayavedin peka suara." bisik Bima dari depan.

Mereka merangkak sekitar sepuluh menit dalam gelap, hanya cahaya senter HP Arga yang redup. Napas mereka semua ditahan, tidak ada yang berani ngobrol keras.

Sampai akhirnya, terowongan sempit itu tiba-tiba melebar.

Bima yang di depan berhenti. "Eh,di depan lega."

Mereka masuk ke sebuah ruangan yang agak besar di dalam tanah. Ruangan itu tidak dibentuk sengaja, tapi terbentuk karena akar-akar raksasa saling melilit dan menciptakan rongga seukuran kamar tidur.

Arga menyorotkan senter ke sekeliling ruangan.

Dan mereka semua membeku.

"Astaga..." Maira menutup mulutnya.

Didalam sana terdapat banyak kerangka manusia.

Bukan satu atau dua. Puluhan. Kerangka-kerangka itu duduk bersandar di dinding akar, ada yang tergeletak menumpuk, ada yang masih memakai baju pendaki yang sudah lapuk, sepatu gunung yang sudah jebol, tas carrier yang sudah berlumut. Tengkorak-tengkorak itu menatap kosong ke arah mereka.

Semuanya mati di ruangan itu.

"Gila... ini... ini apa..." Gilang suaranya hampir nangis, ia memeluk Elina lebih erat.

Bima menelan ludah, mencoba tetap tenang jadi pemimpin. "Jangan panik, jangan panik. Ingat, kalau kita takut, Bhayavedin di atas ngerasa."

"Ini semua korban Bhayavedin juga ya?" tanya Maira, suaranya berbisik gemetar sambil merinding. Ia melihat satu kerangka kecil yang memeluk boneka, mungkin anak seumuran mereka. "Mereka semua nggak berhasil keluar."

Arga yang baca peta, tangannya gemetar menyorotkan senter ke dinding. Di dinding akar, ada banyak goresan tulisan, seperti orang-orang sebelum mereka mencoba menulis pesan terakhir.

Ada yang tulis: "JANGAN BERSUARA"

Ada yang tulis: "DIA MENDENGAR TAKUTMU"

Ada yang tulis: "TUTUP BAUMU DI SUNGAI HITAM"

Sama persis dengan keterangan di peta mereka.

Elina yang di gendongan Gilang, yang tadinya setengah tidur, sekarang terbangun karena hawa dingin ruangan kerangka itu. Ia melihat tengkorak-tengkorak di sekelilingnya.

"Lang,itu apa?" Elina langsung memeluk leher Gilang kencang, takutnya naik.

"El, jangan lihat El,merem aja ya." kata Gilang cepat, ia sendiri merinding setengah mati tapi ia harus kuat karena gendong Elina. "Jangan takut ya, El. Kita bukan mereka, kita bakal keluar."

Bima menarik napas dalam, mencoba jadi yang paling waras. "Oke dengerin semua. Kita istirahat sebentar aja di sini, 2 menit. Tapi jangan lama-lama, ruangan ini bau mayat, bau asing kita bakal kecampur bau mayat, Bhayavedin bisa nyium kalau kita diem di sini."

Mereka duduk melingkar di tengah ruangan kerangka itu, di antara tengkorak-tengkorak. Tidak ada yang berani bersandar ke dinding karena ada kerangka.

"Arga, peta bilang apa lagi?" tanya Bima.

Arga membuka lagi peta kulit kayu, membacanya di bawah senter. "Setelah ruangan ini harusnya ada jalan keluar menuju sungai hitam... gambarnya hanya garis lurus."

Maira berbisik, "Tapi kenapa mereka semua mati di sini? Kenapa mereka nggak lanjut ke sungai hitam?"

Bima menjawab pelan, "Mungkin mereka terlalu takut buat lanjut, Mai. Mereka sembunyi di sini, tapi rasa takut mereka kecium Bhayavedin, akhirnya Bhayavedin nungguin mereka di luar terowongan sampai mereka mati kelaparan."

Jawaban Bima membuat semua makin merinding.

Setelah istirahat sebentar, mereka kembali berjalan.

Bima yang pimpin jalan, Arga yang baca peta, Elina yang belum pulih digendong Gilang.

"Bim, pelan-pelan,gua gendong Elina berat." kata Gilang dari belakang.

"Gua tau Lang, gua pelan kok." jawab Bima dari depan, ia menyibak akar-akar yang menghalangi jalan.

Maira yang di tengah, sesekali menoleh ke belakang memastikan Gilang dan Elina baik-baik saja. "El, lo masih kuat kan?"

Elina mengangguk lemah di punggung Gilang, "It's oke. Tapi aku haus."

"Nanti keluar dari sini kita minum ya El. Tahan ya." kata Maira.

Mereka berjalan sekitar dua puluh menit lagi menyusuri terowongan yang sekarang agak lebih lebar, jadi bisa setengah jongkok, tidak perlu merangkak total.

Angin mulai berubah. Bau busuk kerangka mulai hilang, ganti bau air dan bau lumut segar.

Arga yang baca peta berseru pelan, "Eh,peta bilang lurus aja nanti belok kiri, di depan ada cahaya!"

Mereka berjalan lurus lalu belok kiri dan benar saja...

Di ujung terowongan, ada cahaya. Bukan cahaya biru jamur lagi, tapi cahaya putih kekuningan, seperti cahaya sore.

Mereka mempercepat langkah, masih tetap berusaha tidak bersuara keras.

Sampai akhirnya mereka keluar dari mulut terowongan.

Dan mereka sampai di sebuah kawasan terpencil yang sepi, lebih baik dari tempat saat mereka tiba di dunia monster itu.

Kalau tempat pertama mereka tiba itu hutan akar yang gelap, pengap, penuh suara aneh dan bau busuk Bhayavedin, tempat ini... berbeda.

Ini seperti padang rumput kecil yang dikelilingi akar raksasa yang membentuk dinding alami, seperti mangkuk. Rumputnya pendek, warnanya hijau keabuan, ada bunga-bunga kecil putih yang bercahaya pelan. Langitnya di sini tidak hitam total, tapi ungu gelap dengan satu bulan besar yang menggantung rendah, cahayanya lembut.

Tidak ada suara geraman. Tidak ada bau busuk. Sepi. Tenang.

"Gila... ini... ini jauh lebih baik..." kata Gilang, menurunkan Elina pelan dari gendongannya.

Elina duduk di rumput, menginjak rumput itu, wajahnya sedikit lebih segar. "Lang,di sini nggak bau..."

Maira langsung duduk selonjor, menghela napas panjang tapi tetap pelan, "Akhirnya... bisa napas."

Bima berdiri di depan, masih siaga, tapi ia juga merasakan bedanya. "Tempat ini sepi nggak ada jejak kaki Bhayavedin di rumputnya."

Arga membuka peta lagi, menunjuk gambar sungai hitam. "Menurut peta, sungai hitam itu ada di ujung padang ini, setelah padang ini kita bakal sampai kita udah bener jalurnya."

Mereka berlima berdiri di padang sepi itu, di antara dinding akar raksasa. Untuk pertama kalinya sejak masuk dunia monster itu, mereka merasa sedikit aman.

***

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!