Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ENAM
"Kamu membawanya ke sini sendirian, Bayu? Profesor Zain sama sekali tidak memegang tangannya?"
Pertanyaan halus itu mengapung di udara, memecah hening ruang kesehatan kampus yang memiliki fasilitas dan obat lumayan cukup.
Amara perlahan membuka kelopak matanya yang berat. Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatannya adalah langit-langit ber cat putih bersih dan semburat cahaya sore yang menerobos dari celah tirai. Kesadarannya terkumpul perlahan, menyisakan denyut halus di pelipisnya.
"Kamu sudah bangun?"
Sebuah suara pria yang teramat lemah lembut menyapa dari sisi ranjang. Amara menoleh pelan, menemukan sosok pemuda berwajah hangat yang menatapnya dengan raut khawatir.
"Maaf, aku bantu ya," ucap pria itu sigap, mengulurkan kedua tangannya untuk menopang punggung Amara agar gadis itu bisa beralih ke posisi duduk yang lebih nyaman.
Amara menyandarkan punggungnya pada bantal tebal, menghela napas pelan untuk meredakan pusing yang masih tersisa. "Terima kasih, Kak Bayu," ucap Amara dengan suara yang masih sangat lemah dan parau.
Pemuda itu mengerutkan dahi, lalu tersenyum canggung sembari memiringkan kepalanya. "Kamu tahu namaku?"
"Tentu saja," sahut Amara, memaksakan senyum tipis di bibirnya yang pucat. "Kamu Bayu Pramadi, mahasiswa semester lima jurusan Hukum, sekaligus Ketua BEM Universitas Candrakirana. Siapa yang tidak kenal Kakak di kampus ini?"
Bayu serta-merta menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, pipinya merona tipis karena rasa malu atas pujian polos dari Amara. "A-aku tidak seterkenal itu, Amara. Aku hanya mahasiswa biasa yang kebetulan mendapat amanat."
Amara merapikan helai rambutnya yang berantakan, lalu menatap Bayu penasaran. "Apa Kakak yang menolongku waktu aku pingsan di koridor tadi?"
"Ah... sebenarnya tidak secara langsung. Aku tahu namamu juga dari prof. Zain," aku Bayu jujur, tangannya bergerak mengusap tengkuknya. "Profesor Zain yang menahan tubuhmu agar tidak langsung jatuh menghantam lantai. Kebetulan aku sedang lewat di koridor yang sama setelah menyelesaikan urusan di sekretariat BEM. Lalu, aku langsung membawamu ke ruang kesehatan ini karena Profesor Zain... kelihatannya kebelet dan sudah tidak tahan lagi ingin ke toilet."
Seketika, jemari Amara di atas selimut putih mengepal amat erat. Buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak hebat yang mendadak menembak dadanya hingga sesak.
Rasa sakit di hatinya saat ini jauh lebih menyiksa daripada denyut perih di kepalanya.
Sebegitu jijiknya kamu padaku, Kak Zain? batin Amara berteriak dalam kepedihan yang teramat sangat. Menolongku yang pingsan saja kamu merasa sangat enggan dan terburu-buru pergi hanya demi bersuci dan membersihkan jejak kulitku dari tubuhmu?
"Amara? Kamu tidak apa-apa? Muka kamu mendadak pucat lagi," tegur Bayu khawatir, melangkah mendekat.
Amara dengan cepat menguasai dirinya, menggeleng pelan sembari melepas kepalan tangannya. "Tidak apa-apa, Kak. Hanya sedikit pusing."
Bayu melirik jam tangannya, lalu menatap Amara penuh perhatian. "Aku antar kamu pulang ya? Kelihatannya kamu belum kuat kalau harus naik transportasi umum sendirian."
"Ah, jangan, Kak Bayu," tolak Amara halus namun tegas. "Lagi pula rumah kita tidak searah. Aku takut ayahku akan memarahiku jika melihatku diantar oleh pria yang tidak kenal dekat. Tolong bantu pesankan ojek online saja, Kak, karena ponselku mati kehabisan baterai."
Bayu menggaruk kepalanya kembali, tampak ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk paham. "Oh, begitu ya. Baik kalau begitu. Tapi jangan ojek online motor ya. Aku pesankan mobil online saja agar kamu bisa beristirahat dengan nyaman selama perjalanan pulang."
"Terima kasih banyak, Kak Bayu," bisik Amara tulus.
Empat hari kemudian.
Gedung serbaguna Universitas Candrakirana dipenuhi oleh ribuan pasang mata. Ribuan lampu sorot memancarkan cahaya megah ke atas panggung utama, menandai berjalannya acara seremonial pelepasan calon wisudawan sekaligus penyambutan mahasiswa baru. Ruangan raksasa yang sanggup menampung hingga tiga ribu orang itu bergemuruh oleh riuh tepuk tangan dan alunan musik instrumen.
Di ruang persiapan belakang panggung, Amara sedang berdiri di depan cermin besar, merapikan gaun panjang berwarna biru malam yang melekat anggun di tubuhnya. Malam ini, sebagai penyanyi utama dari grup Paduan Suara Harmoni, Amara menjadi salah satu pusat perhatian.
Setelah menyelesaikan penampilannya di atas panggung yang sukses memukau seluruh hadirin dengan vokal merdunya, Amara turun dari panggung. Ia memutuskan untuk membaur di area acara, menikmati hiburan dan beramah-tamah dengan mahasiswa lainnya.
Dari kejauhan, di barisan paling depan yang diisi oleh para dosen dan pejabat penting kampus, Amara sempat melirik ke arah kursi VIP. Zain duduk di sana dengan posisi tubuh yang tegap, tampak anggun dan tak tersentuh dalam balutan setelan jas hitamnya. Namun, Amara menyadari satu hal, saat dirinya tadi berdiri di atas panggung dan menyanyikan lagu utama, kursi Zain dalam keadaan kosong. Pria itu tidak ada di sana.
Amara menghela napas pendek, menyunggingkan senyum miris, lalu memilih untuk tidak ambil pusing.
"Mara! Kamu sudah sehat betul?"
Sebuah suara ceria memutus lamunan Amara. Ia menoleh dan menemukan Bayu melangkah menghampirinya dengan senyum merekah, masih mengenakan id card panitia di lehernya.
"Tadi aku lihat kamu bernyanyi dari samping panggung," lanjut Bayu dengan mata berbinar jujur. "Suaramu merdu sekali. Sangat cocok kalau jadi penyanyi internasional."
Amara terkekeh pelan, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kak Bayu, bukannya Kakak sedang bertugas sebagai panitia? Jangan memuji berlebihan seperti itu, aku jadi malu."
"Iya, aku memang panitia, kan aku Ketua BEM-nya," sahut Bayu bangga, menepuk dada sendiri sebelum tertawa pelan. "Tapi mendengarkanmu bernyanyi tadi benar-benar mengalihkan perhatianku."
Sebuah tepukan mendarat di bahunya. Yunda, mahasiswi tingkat dua dari jurusan sebelah, tiba-tiba sudah berdiri di samping Amara. Tangannya memegang dua gelas minuman berwarna merah pekat yang menggiurkan.
"Kamu lihat Erin dan Dinda tidak?" tanya Yunda sembari melongokkan kepalanya ke arah kerumunan.
Amara menunjuk ke arah barisan paling depan di dekat panggung. "Oh, mereka tadi lari ke depan panggung. Kakak tingkat pujaan mereka sedang tampil menyanyi di sana."
Yunda menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ckckck, mereka berdua ini benar-benar ya. Terang-terangan sekali kalau sedang naksir orang. Oh iya, Amara, aku titip dua gelas minuman ini sebentar ya di mejamu. Tapi ingat, awas jangan diminum! Bahaya."
Amara mengerutkan alisnya, menatap dua gelas cairan merah itu curiga. "Ini apa? Kelihatannya cuma sirup biasa."
Bayu kemudian melirik ke arah handy-talkie di pinggangnya yang mulai berisik. Ia menghela napas menyesal. "Ah, Amara, aku tinggal dulu ya. Masih harus memeriksa kesiapan acara di area luar. Nanti kalau kamu perlu sesuatu atau butuh bantuan, aku ada di belakang panggung ya."
"Baik, Kak Bayu. Selamat bertugas kembali," balas Amara ramah.
Setlah keberangkatan Bayu, Amara mengambil segelas orange juice dari meja hidangan. Ia berdiri di sudut ruangan, meneguk minuman dingin itu perlahan sembari menikmati penampilan tari modern dari mahasiswa tingkat atas.
"Amara... Jangan menyendiri terus di sini. Cari pasangan dong!"
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣