Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih nafkah lahir
Setelah selesai berbelanja, ummi mengajak Tiyas makan di sebuah restoran cepat saji di dalam mall tersebut. Melihat orang-orang di sampingnya yang sudah menerima makanan dan melihat cara mereka makan stek dengan menggunakan pisau dan garpu, Tiyas sedikit minder. Hal itu biasanya ia lihat di film-film. Namun saat ini ia menghadapinya secara langsung.
Tidak lama kemudian makanan mereka datang.
"Silahkan bu."
"Terima kasih, kak. "
"Sama-sama."
Ummi menggeser makanan yang lain lebih dekat ke Tiyas.
"Ayo makan."
"Ummi, Tiyas ndak bisa pakai begitu."
Ummi mengulum senyum. Ummi senang melihat kepolosannya.
"Gampang kok. Ayo ummi ajari. Biar nanti saat kamu ikut abang ke undangan kamu bisa menyesuaikan. "
"Iya ummi."
Ummi pun mengajari Tiyas cara memegang pisau dan garpu saat ingin memotong stek. Terlihat mudah, namun butuh keuletan. Sekali dia kali Tiyas masih gagal. Namun untuk ketiga kalinya akhirnya dia bisa melakukannya dengan cukup elegan.
"Nah bisa, kan?"
"Alhamdulillah, ummi. Terima kasih sudah ngajari Tiyas."
"Sama-sama, sayang. Yuk dilanjut makannya."
Beberapa saat kemudian, mereka selesai makan. Tidak terasa sudah Adzan Maghrib.
"Nak, ummi mau shalat di Mushalla. Kamu kalau mau nunggu di sini nggak pa-pa."
"Tiyas shalat juga, ummi."
"Oh kamu sudah suci toh?"
"Sudah, ummi."
"Ya sudah ayo kita shalat dulu."
Dalam hati ummi sangat senang mendengar menantinya sudah bisa shalat. Itu artinya ada harapan bagi anak dan menantunya untuk ehem ehem. Ummi berharap mereka semakin dekat dan saling mencintai.
Mereka shalat Maghrib berjama'ah di Musholla mall. Setelah selesai shalat, kebetulan Zain menelpon Tiyas. Tiyas langsung mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Belum pulang?"
"Masih shalat, mas. Setelah ini akan pulang. Kenapa mas?"
"Nggak pa-pa. Ya sudah hati-hati."
"Iya, mas."
Zain pun mengakhiri panggilannya.
Tiyas dan ummi keluar dari mall. Mereka menunggu pak sopir yang masih mengambil mobil. Tidak lama kemudian pak sopir pun datang. Mereka naik ke dalam mobil.
"Langsung pulang ya."
"Baik nyonya."
Di rumah Zain sedang duduk di ruang tengah. Zean pun duduk di sampingnya. Mereka sedang asyik membahas skor sepak bola. Namun tiba-tiba obrolan mereka merambat ke lainnya.
"Dek, gmn soal perjodohan mu?"
"Jangan bahas itu, bang. Aku sudah menolaknya. Masa' iya aku mau dijodohin sama janda. Ada-ada saja si opa tuh."
"Kamu tahu dari mana kalau janda?"
"Lha opa sendiri yang bilang. Yang gadis masih banyak malah dijodohin sama janda."
"Hati-hati kalau ngomong, Zean. Dulu abi menikahi ummi juga status nya janda." Sahut abi yang baru saja datang menghampiri mereka.
"Jandanya ummi kan beda, bi."
"Ya siapa tahu janda pilihan opa juga beda."
"Nggak deh, bi."
"Pokoknya awas saja kalau tahun depan kamu belum menikah, tetap abi jodohkan sama tu janda."
"Astaghfirullah... tahun depan itu sudah di depan mata lho, bi."
"Nah itu tahu! Artinya waktumu sudah hampir habis. Puas-puasin itu hobimu berkelana menjajaki hati wanita, asal jangan kamu bikin mereka sakit hati dan tetap jaga etika."
"Hem... wanita yang kukenal kebanyakan matre."
Abi hanya bisa menggelengkan kepala.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Lagi nungguin kita ya?"
"Iya nih, abi nungguin ummi. Abang nungguin istrinya." Sahut abi sambil ngelirik Zean.
"Iya iya Zean nungguin angin saja." Zean beranjak dari sofa dan kembali ke kamarnya.
Ummi dan abi hanya bisa tertawa melihatnya.
Abi memang sengaja menggodanya agar ia ingin segera menikah juga.
"Nak kamu bisa mandi dan shalat isya' dulu. Nanti kita makan malam bersama. Tadi kan cuma makan stek sama dessert belum makan nasi."
"Iya, ummi."
Zean dan istrinya kembali ke kamar. Begitu pun ummi dan abi.
Sampai di kamar, Tiyas langsung meminta maaf kepada Zain karena sudah belanja cukup banyak hari ini. Zain pun tidak mempermasalahkannya.
"Itu uang nafkah untuk kamu.Kamu bebas membelanjakan apa saja selagi kamu butuh dan tidak mubazir. Kalau untuk uang belanja bahan makanan itu sudah aku kasih ke ummi. Kamu tidak keberatan, kan?"
"Ah iya, tentu saja tidak. Alhamdulillah kalau mas tidak marah. Terima kasih."
"Sama-sama. Untuk apa aku marah? Kalau dulu aku kerja untuk diriku sendiri. Sekarang aku kerja untuk istri."
Tiyas pun mengulum senyum.
"Itu masih nafkah lahir belum nafkah batin." Gumam Zain dalam hati.
Tiyas menaruh barang belanjaannya di walk in closed. Ia tidak ingin Zain melihat baju-baju aneh dan pakaian dalam yang dibelinya tadi. Ia juga menata skincare dan kosmetik lainnya di meja rias. Zain hanya memperhatikannya.
Setelah itu, mereka shalat Isya' berjama'ah.
Ummi dan abi baru saja selesai shalat Isya'. Setelah itu, mereka keluar dari kamar menuju ruang makan. Di sana sudah ada Zean duduk di kursinya. Di meja makan sudah tersedia hidangan malam ini. Ada nasi putih, cumi kuah, udang balado, dan sambal goreng kerang.
"Tumben sudah di sini duluan, lapar ya?"
"Iya ummi. Lapar banget. Abang sama istrinya mana?"
"Paling masih shalat."
"Zean panggil saja ya?"
Zean berdiri dari duduknya.
"Eh jangan, nggak usah! Bentar lagi juga pasti turun."
Zean pun duduk kembali dan mencicipi udang yang ada di depannya.
Tidak lama kemudian Zean dan Tiyas datang. Mereka pun mulai makan malam. Tiyas makan lebih sedikit dari biasanya karena perutnya masih kenyang.
"Kok makannya sedikit, nak? Nggak enak ya?"
"Enak kok, ummi. Hanya saja saya masih kenyang."
"Iya juga, tadi kita habis makan dessert keju, hehe... "
Beberapa saat kemudian, mereka selesai makan. Seperti biasanya Tiyas membantu bibi' membereskan perabotan bekas mereka makan.
Setelah itu, Tiyas ikut duduk bersama suami dan mertuanya di ruang tengah. Mereka membahas persiapan keberangkatan umroh yang akan dilakukan satu minggu lagi. Mereka juga membahas konsep resepsi pernikahan Zain dan Tiyas. Karena meski ummi dan abi berasa di tanah suci nanti, persiapan pernikahan harus tetap berjalan. Abi sudah meminta bantuan kepada orang kepercayaannya untuk mengurus segalanya.
"Nak Tiyas sukanya warna apa? Biar nanti warna gaun dan seragam keluarga disamakan dengan warna kesukaan nak Tiyas."
"Warna maroon, ummi."
"Oke, kalau begitu nanti biar sepupunya abang yang mengatur gaun dan seragam keluarga."
"Saya terserah saja, ummi."
"Bang, nanti kamu tulis siapa saja teman dan rekan ku yang akan diundang. Selebihnya biar abi yang mendata."
"Iya, abi."
"Ya sudah, ini sudah jam 9. Kalian istirahat saja. Nak Tiyas pasti juga capek tadi habis keliling sama ummi."
"Iya, ummi."
Mereka kembali masuk ke kamarnya masing-masing.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
maju Zain pantang mundur.. hehehehe
sabar, sabar.... 🤣🤣🤣