Dua puluh tahun lalu, malam berdarah menghancurkan Klan Lin di Ibu Kota Yanjing. Lin Xuan, yang saat itu baru berusia lima tahun dan menderita keracunan meridian mematikan, diselamatkan oleh seorang pertapa misterius menuju Lembah Kabut Abadi di Pegunungan Kunlun. Di sana, ia digembleng oleh Tujuh Guru Agung yang masing-masing merupakan legenda hidup di bidangnya: pengobatan kuno, bela diri dalam (Neigong), alkimia, formasi/fengshui, senjata rahasia, strategi finansial bawah tanah, dan intelijen global.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Pengkhianat yang Berlutut dan Kedatangan Sang Dewi Medis
Suasana di lorong VIP Rumah Sakit Internasional Pertama Kota Jianghai hening bagaikan kuburan.
Seluruh anggota keluarga besar Su yang beberapa menit lalu masih mencibir dan menertawakan Lin Xuan kini menundukkan kepala dalam-dalam, bahkan untuk bernapas keras pun mereka tidak berani. Di ujung lorong, suara gonggongan menyedihkan dari Dr. Zhao Ming yang merangkak masuk ke dalam lift masih terdengar samar, menjadi pengingat nyata betapa kejamnya nasib siapa pun yang berani memprovokasi pemuda berkemeja putih itu.
Bruk!
Suara lutut menghantam lantai marmer memecah keheningan. Su Guodong, Paman Ketiga yang sedari tadi gemetar hebat sambil memegangi perut kanannya, merangkak maju dan memeluk kaki ranjang tempat Su Zhenhai berdiri.
"Ayah! Tolong ampuni aku, Ayah! Aku khilaf! Semua ini karena Wang Teng dari Klan Wang yang mengancamku!" Su Guodong menangis meraung-raung, keringat dingin bercampur rasa sakit yang mulai membakar organ hatinya membuatnya kehilangan seluruh kewibawaannya. "Mereka bilang jika aku tidak mencampurkan bubuk itu ke dalam teh Ayah, mereka akan membongkar hutang judiku di Makau dan menghancurkan Su Group! Tuan Muda Lin, tolong selamatkan nyawaku! Aku tidak mau mati!"
Wajah tua Su Zhenhai memerah padam karena murka. Tangannya yang semula hangat kini bergetar hebat menunjuk wajah putra ketiganya sendiri.
"Binatang tak tahu balas budi!" bentak Su Zhenhai dengan suara menggelegar bak singa tua yang baru bangkit. "Aku membesarkanmu, memberimu dua puluh persen saham perusahaan, dan kau malah bersekongkol dengan Klan Wang untuk meracuni ayah kandungmu sendiri serta menjual keponakanmu?!"
"Ayah, beri aku satu kesempatan lagi—"
"Tidak ada kesempatan bagi pengkhianat!" potong Su Zhenhai tegas. Ia menoleh kepada pengawal pribadinya dan sekretaris hukum keluarga. "Mulai detik ini, cabut seluruh saham, jabatan, dan aset atas nama Su Guodong! Usir dia dan keluarganya dari kediaman Su! Dan mulai hari ini, seluruh keputusan di dalam Su Group maupun Keluarga Su berada di tangan Su Qingxue dan Tuan Muda Lin Xuan! Siapa pun yang berani membantah satu kata saja dari mereka, keluar dari Keluarga Su!"
Liu Fang, ibu Su Qingxue yang tadi paling bersemangat menjodohkan putrinya dengan Wang Teng, langsung memucat dan menutup mulutnya rapat-rapat.
Lin Xuan menatap Su Guodong yang merintih kesakitan di lantai, lalu menjentikkan sebatang jarum perak ke titik akupunktur di bahu pria paruh baya itu.
"Aku menahan penyebaran racun di hatimu selama tujuh hari," ujar Lin Xuan dingin sambil mencabut kembali jarumnya. "Pergilah ke kediaman Klan Wang sekarang. Katakan pada mereka, jika dalam dua puluh empat jam Patriark Klan Wang tidak datang berlutut di depan gerbang Keluarga Su sambil membawa penawar aslinya dan kompensasi seratus juta dolar, maka bukan hanya kau yang mati, seluruh garis keturunan Klan Wang juga akan menemaniku menguburmu."
Tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun, Su Guodong bangkit tertatih-tatih dan berlari tunggang-langgang meninggalkan lorong VIP.
Tepat pada saat itu, derap langkah sepatu hak tinggi terdengar berlari cepat dari ujung koridor.
Seorang wanita muda berusia sekitar dua puluh enam tahun dengan jas putih dokter yang terbuka, memperlihatkan blus sutra biru tua yang membalut lekuk tubuhnya yang indah dan proporsional, berhenti tepat di depan ruang ICU. Wajahnya cantik mempesona dengan kacamata tanpa bingkai yang menambah kesan intelektual dan elegan.
Dialah Dr. Qin Rou, cucu perempuan dari Kepala Asosiasi Medis Jianghai sekaligus spesialis bedah toraks termuda yang paling dihormati di rumah sakit tersebut.
"Profesor Wilson! Apakah benar kabar yang baru saja kudengar dari ruang kontrol pusat?!" Qin Rou bertanya dengan napas sedikit terengah-engah, matanya langsung tertuju pada layar monitor EKG dan sosok Su Zhenhai yang berdiri tegak dengan wajah segar bugar. "Tuan Besar Su yang sudah mengalami henti jantung akibat nekrosis pembekuan meridian... benar-benar hidup kembali?!"
"Nona Qin, lihatlah sendiri!" Profesor Wilson menunjuk ke arah ubin lantai yang masih menyisakan jejak embun beku dan abu larva hitam, lalu menatap Lin Xuan dengan penuh kekaguman. "Bukan hanya hidup kembali! Pemuda luar biasa ini menggunakan tiga batang jarum perak yang berputar sendiri dengan resonansi energi bio-elektrik untuk menarik keluar parasit es dari jantung pasien dalam waktu kurang dari satu menit!"
Pupil mata indah Qin Rou membesar. Sebagai cucu dari keluarga pengobatan tradisional dan modern terkemuka di Jianghai, ia pernah membaca sebuah catatan kuno rahasia milik kakeknya.
Tiga jarum mengunci neraka, jarum berputar menarik roh, uap es membeku di ujung jari...
"Jangan-jangan... teknik yang Anda gunakan tadi adalah Sembilan Jarum Pembalik Takdir yang sudah hilang selama tiga ratus tahun?!" suara Qin Rou bergetar hebat saat ia menatap Lin Xuan dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Apakah Anda... murid dari legenda gunung Kunlun, Dewa Medis Guigu?!"
Lin Xuan memasukkan kedua tangannya ke saku celana jinsnya sambil tersenyum tipis. "Matamu jauh lebih tajam daripada dokter berkacamata emas yang baru saja merangkak keluar tadi."
Wajah cantik Qin Rou merona tipis mendengar pujian santai itu. Tanpa memedulikan tatapan terkejut para perawat di sekitarnya, dokter jenius yang terkenal angkuh terhadap ratusan pelamar kaya di Jianghai itu langsung membungkuk hormat di hadapan Lin Xuan.
"Tuan Muda Lin! Nama saya Qin Rou! Kakek saya, Qin Changsheng, telah mencari jejak Dewa Medis Guigu selama tiga puluh tahun demi menyembuhkan luka dalam di meridiannya. Jika Tuan Muda Lin tidak keberatan, bolehkah saya meminta nomor kontak Anda dan mengundang Anda ke Paviliun Medis Keluarga Qin?"
Belum sempat Lin Xuan menjawab, ponsel di tangan Su Qingxue berdering nyaring.
Su Qingxue mengangkat panggilan tersebut. Namun baru beberapa detik mendengarkan suara di seberang telepon, wajah cantiknya yang semula lega kembali menegang dingin.
"Su Qingxue, kudengar bocah gunung tunanganmu itu baru saja memukuli Zhao Ming dan mengusir Paman Ketigamu?" suara arogan seorang pria muda terdengar jelas dari pengeras suara ponsel. "Hebat juga nyali kalian. Tapi jangan kira karena kakek tua itu siuman, Su Group bisa lepas dari genggamanku! Saat ini seluruh bahan baku pabrik farmasi dan kosmetik Su Group sudah kublokir di Pelabuhan Jianghai, dan tiga bank utama sudah menyetujui penarikan paksa pinjaman kalian sore ini!"
"Wang Teng! Kau melanggar kontrak dagang secara sepihak!"Suara Su Qingxue meninggi.
"Kontrak? Di Kota Jianghai, kata-kata Klan Wang adalah hukum!" Wang Teng tertawa sinis di seberang telepon. "Malam ini pukul delapan, aku mengadakan perjamuan di Ballroom Utama Hotel Grand Royal. Datanglah sendiri, berlutut untuk menuangkan anggur bagiku, dan tandatangani penyerahan lima puluh satu persen saham Su Group. Kalau kau berani tidak datang—atau kalau bocah gunung itu berani menyembunyikan kepalanya—besok pagi Su Group akan dinyatakan pailit dan rata dengan tanah!"
Tut!
Sambungan telepon terputus.
Di dalam ruangan, Liu Fang langsung menjerit histeris. "Habis sudah! Wang Teng benar-benar murka! Dia bahkan menggerakkan tiga bank utama dan penguasa pelabuhan! Qingxue, semua ini gara-gara bocah gunung pembawa sial ini! Cepat usir dia dan pergilah meminta maaf pada Tuan Muda Wang malam ini!"
Su Qingxue menggigit bibir bawahnya hingga memutih. Sebagai CEO, ia tahu betul bahwa jika pasokan bahan baku dan kredit bank dibekukan bersamaan, rantai kas Su Group akan runtuh dalam empat puluh delapan jam. Namun, menyerahkan diri kepada pria bejat seperti Wang Teng sama saja dengan masuk ke sarang serigala.
Tiba-tiba, sebuah telapak tangan yang hangat menepuk pelan bahu Su Qingxue.
Lin Xuan mengambil ponsel dari tangan wanita itu, lalu menatap Su Qingxue dengan sorot mata tenang yang seolah mampu meruntuhkan langit sekalipun.
"Qingxue, bukankah tadi aku sudah bilang bahwa mulai hari ini kau berada di bawah perlindunganku?" ujar Lin Xuan lembut namun penuh kepastian. "Siapkan gaun terbaikmu untuk malam ini. Kita datangi perjamuan Hotel Grand Royal itu bersama-sama. Aku ingin melihat sendiri, seberapa keras tulang Tuan Muda Wang itu saat aku menginjak kepalanya di depan seluruh elit Kota Jianghai."