Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 — SURAT CERAI DAN PINTU YANG TERTUTUP
Hujan turun ketika Celine Wang keluar dari kantor Daniel Zhou.
Langit Shanghai tampak kelabu, seolah ikut merasakan sesuatu yang patah di dalam hatinya. Di tangannya, ia menggenggam tas berisi surat peninggalan ibunya dan salinan dokumen investasi yang baru saja mengubah pandangannya terhadap masa lalu.
Pesan misterius yang diterimanya masih terngiang-ngiang.
Jika kau ingin mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas kematian ayahmu, berhentilah menyelidiki keluarga Wu.
Celine tidak tahu siapa pengirimnya. Namun, satu hal kini semakin jelas: perceraian bukan satu-satunya pintu yang harus ia lewati untuk meninggalkan masa lalunya.
Ada rahasia yang sengaja dikubur seseorang, dan ia berniat menemukannya.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini, nama yang muncul di layar membuat langkahnya terhenti.
Alexander Wu.
Celine memandangi nama itu beberapa detik sebelum mengangkat panggilan.
“Ada apa?” tanyanya datar.
“Kau di mana?” Suara Alexander terdengar dingin seperti biasanya.
“Itu bukan urusanmu lagi.”
Hening sejenak.
“Ada beberapa dokumen yang perlu kau jelaskan. Aku menemukan catatan investasi lama atas namamu.”
Celine menggenggam ponselnya lebih erat.
“Jadi, akhirnya kau menemukannya.”
“Apa maksudmu?”
“Tidak ada.” Celine menarik napas. “Kalau kau ingin tahu tentang dokumen itu, kita bisa membicarakannya melalui pengacara.”
“Aku tidak sedang meminta izin kepadamu, Celine. Aku ingin jawaban.”
Senyum pahit muncul di bibirnya.
“Tiga tahun aku menjadi istrimu, Alexander. Ketika kau membutuhkan bantuan, aku selalu memberikan jawaban. Ketika kau membutuhkan seseorang untuk berdiri di sisimu, aku selalu ada. Tetapi saat aku membutuhkanmu untuk sekadar memercayaiku, kau justru memberiku surat cerai.”
“Jangan mencampuradukkan masalah pribadi dengan urusan perusahaan.”
Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada yang Alexander bayangkan.
Celine memejamkan mata sebentar.
“Tenang saja. Aku tidak akan mencampuradukkannya lagi.”
Ia mengakhiri panggilan sebelum Alexander sempat menjawab.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menunggu pria itu menyelesaikan pembicaraan.
Dua jam kemudian, Celine tiba di kediaman keluarga Wu.
Ia tidak datang untuk meminta Alexander menarik kembali surat cerai mereka. Ia datang karena masih ada beberapa barang pribadi yang tertinggal, termasuk sebuah kotak kayu kecil milik ibunya yang selama ini disimpan di kamar mereka.
Daniel telah menyarankan agar ia tidak datang sendirian, tetapi Celine tidak ingin terlihat takut.
Ia berdiri di depan pintu utama rumah megah itu. Tempat tersebut pernah ia anggap sebagai rumahnya sendiri. Selama tiga tahun, ia menyambut Alexander di sana, menyiapkan makan malam, dan menunggunya pulang ketika malam semakin larut.
Kini, bahkan udara di tempat itu terasa asing.
Seorang pelayan membuka pintu.
“Nyonya Wu?”
Celine tersenyum tipis.
“Namaku Celine Wang sekarang.”
Pelayan itu terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
“Aku datang untuk mengambil barang-barangku.”
“Silakan masuk, Nyonya.”
Celine melangkah ke dalam. Lampu kristal masih berkilauan di langit-langit, lantai marmer tetap bersih, dan lukisan mahal menghiasi dinding. Segala sesuatu tampak tidak berubah.
Namun, di atas meja ruang tamu, ia melihat dua cangkir teh dan sebuah buket mawar merah muda.
Evelyn Zhao duduk di sofa dengan gaun krem yang elegan.
Wanita itu mengangkat wajah dan tersenyum seolah kedatangan Celine merupakan kejutan yang menyenangkan.
“Celine? Aku tidak menyangka kau akan datang.”
Celine menatapnya tanpa ekspresi.
“Aku hanya mengambil barang-barangku.”
“Tentu.” Evelyn meletakkan cangkirnya. “Aku turut sedih atas apa yang terjadi. Perceraian tentu bukan hal yang mudah, apalagi setelah kalian bersama selama tiga tahun.”
“Kalau kau benar-benar sedih, kau tidak perlu membicarakannya dengan senyum seperti itu.”
Senyum Evelyn sedikit menegang.
“Aku tidak bermaksud menyakitimu.”
“Kalau begitu, jangan berpura-pura menjadi orang yang peduli kepadaku.”
Suasana ruang tamu mendadak sunyi.
Evelyn berdiri perlahan.
“Aku tahu kau masih mencintai Alexander. Tetapi terkadang, kita harus menerima kenyataan bahwa seseorang tidak lagi memiliki perasaan yang sama.”
Celine memandangnya lama.
“Kau benar tentang satu hal. Aku memang pernah mencintainya.”
Ia melangkah mendekat, tetapi suaranya tetap tenang.
“Namun, jangan salah mengira bahwa karena aku pernah mencintainya, aku akan terus membiarkan diriku diinjak-injak.”
Sebelum Evelyn sempat menjawab, suara langkah terdengar dari tangga.
Alexander muncul dengan kemeja putih dan celana hitam. Tatapannya langsung tertuju kepada Celine.
“Kau kembali untuk apa?”
Celine menoleh.
“Aku sudah menjelaskan kepada pelayan. Aku mengambil barang-barangku.”
Alexander melirik Evelyn, kemudian kembali menatap Celine.
“Kau bisa meminta seseorang mengambilnya.”
“Aku bisa melakukan banyak hal sendiri. Kau seharusnya sudah mengetahui itu setelah tiga tahun menjadi suamiku.”
Rahang Alexander mengeras.
“Kalau kau datang untuk membicarakan dokumen investasi, kita bisa menyelesaikannya sekarang.”
“Aku tidak datang untuk membicarakan perusahaan.”
“Lalu apa?”
“Barang-barangku.”
Jawaban singkat itu membuat Alexander kehilangan kata-kata sesaat.
Ia terbiasa melihat Celine berusaha menjelaskan diri, berusaha mempertahankan hubungan mereka, atau menunggunya melunak setelah pertengkaran. Namun, wanita yang berdiri di hadapannya kini tidak melakukan semua itu.
Celine bahkan tidak meminta Alexander menatapnya lebih lama.
Di lantai atas, Celine memasuki kamar yang dahulu mereka tempati bersama.
Ia berhenti di ambang pintu.
Di atas meja rias, masih terdapat beberapa botol parfum miliknya. Di lemari, beberapa pakaian tertinggal. Di sudut ruangan, ada foto pernikahan mereka dalam bingkai perak.
Dalam foto itu, Celine tersenyum bahagia, sementara Alexander berdiri di sampingnya dengan wajah tenang.
Ia mengangkat bingkai tersebut.
Dulu, ia mengira pria itu hanya tidak pandai menunjukkan perasaan. Ia percaya bahwa di balik sikap dinginnya, Alexander menyimpan cinta yang tidak mudah diungkapkan.
Ternyata, ia terlalu sibuk mencari cinta dalam diam seseorang hingga lupa memperhatikan bagaimana orang itu memperlakukannya.
Celine meletakkan kembali bingkai foto tersebut, kali ini menghadap ke bawah.
Ia mengambil kotak kayu kecil peninggalan ibunya dari laci paling bawah. Kotak itu memiliki ukiran bunga yang mulai pudar, tetapi masih tersimpan rapi.
Ketika ia berbalik, Alexander sudah berdiri di ambang pintu.
“Jadi, kau benar-benar akan membawa semuanya pergi?”
Celine menatapnya bingung.
“Bukankah itu yang kau inginkan?”
“Aku tidak mengatakan kau harus pergi tanpa membawa apa pun.”
“Kau memberiku surat cerai, Alexander. Kau mengatakan bahwa kehadiranku mengganggu masa depanmu.” Celine menghela napas. “Apa lagi yang ingin kau jelaskan sekarang?”
Alexander terdiam.
Untuk sesaat, ia ingin mengatakan bahwa semua keputusan itu terasa lebih sederhana sebelum Celine benar-benar pergi. Ia ingin mengatakan bahwa rumah ini terasa berbeda sejak wanita itu meninggalkan kamar mereka.
Namun, harga dirinya menahan semua kata tersebut.
“Aku hanya tidak ingin masalah ini menjadi rumit.”
Celine mengangguk pelan.
“Kalau begitu, jangan membuatnya rumit.”
Ia membawa tasnya dan berjalan melewati Alexander.
Saat bahu mereka hampir bersentuhan, Alexander spontan meraih pergelangan tangannya.
“Celine.”
Wanita itu berhenti, tetapi tidak berbalik.
“Apa?”
Alexander membuka mulut, kemudian menutupnya kembali. Ia sendiri tidak tahu apa yang ingin dikatakannya.
Celine perlahan melepaskan tangannya dari genggaman pria itu.
“Jangan menahanku hanya karena kau belum terbiasa melihatku pergi.”
Lalu ia melangkah menuruni tangga.
Di ruang utama, Evelyn telah berdiri di dekat pintu. Senyumnya kembali muncul ketika melihat Celine membawa tas.
“Semoga kau menemukan kebahagiaan di luar sana,” katanya manis.
Celine berhenti tepat di hadapannya.
“Terima kasih. Aku juga berharap kau menemukan kebahagiaanmu sendiri, tanpa perlu mengambil tempat orang lain.”
Wajah Evelyn memucat sesaat.
Celine tidak menunggu balasan. Ia membuka pintu utama dan melangkah keluar.
Di belakangnya, pintu besar itu perlahan tertutup.
Suara pintu yang terkunci terdengar pelan, tetapi bagi Celine, bunyinya seperti akhir dari sebuah kehidupan yang telah lama ia pertahankan sendirian.
Ia berdiri di bawah hujan, membiarkan beberapa tetes air membasahi wajahnya.
Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh.
Bukan karena ia ingin kembali.
Ia menangis karena akhirnya berani mengakui bahwa selama tiga tahun, ia telah berusaha menyelamatkan pernikahan yang hanya diperjuangkan oleh satu orang.
Celine menghapus air matanya, lalu mengangkat dagu.
Ponselnya bergetar sekali lagi. Sebuah pesan masuk dari Daniel.
Dokumen tambahan sudah kutemukan. Ada nama seseorang dari keluarga Wu dalam laporan terakhir ayahmu. Kita perlu bertemu malam ini.
Celine menatap layar, lalu menyimpan ponselnya.
Ia belum tahu siapa yang mengkhianati keluarganya. Ia juga belum tahu sejauh mana Alexander terlibat dalam rahasia tersebut.
Namun, ia tidak akan membiarkan ketakutan menghentikannya.
Di belakangnya, rumah keluarga Wu berdiri megah dengan segala kemewahannya. Di depannya, jalanan Shanghai terbentang luas, dipenuhi kemungkinan yang belum pernah ia bayangkan.
Celine melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Hari itu, ia kehilangan sebuah rumah.
Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mulai menemukan jalan pulang kepada dirinya sendiri.
Dan ia bersumpah, suatu hari nanti, ketika kebenaran terungkap, tidak seorang pun akan bisa menyuruhnya pergi seolah-olah dirinya tidak pernah berarti.