CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CIUMAN PERTAMA YANG TAK TERBALAS
Awen dan Afu berjalan beriringan setelah kembali dari klinik. Sesampainya di apartemen, mereka justru berdiri terpaku di depan pintu tanpa berbicara.
Afu memandang Awen. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan, tetapi dia bingung harus memulai dari mana.
Sementara itu, Awen semakin gelisah memikirkan perubahan sikap saudara kembarnya tersebut. Afu yang biasanya suka mengejeknya tadi terlihat begitu panik ketika melihat dirinya berdarah. Bahkan, pemuda itu menggendongnya dan berteriak meminta pertolongan.
Mereka saling pandang, tetapi tak satu pun memulai pembicaraan.
Hingga akhirnya, Awen memberanikan diri untuk membuka suara.
“Fu, gue mau tanya sesuatu. Boleh?”
Afu sempat terdiam, lalu mengangguk.
“Boleh. Kita bicara di dalam aja.”
Awen mengangguk dan mengikuti langkah Afu menuju ruang tamu.
Mereka duduk berhadapan di sofa. Namun, tak satu pun segera membuka mulut. Keduanya saling memandang, kemudian buru-buru mengalihkan pandangan.
Afu menatap ke atas, lalu melirik ke samping. Ketika pandangannya kembali bertemu dengan Awen, mereka sama-sama cepat-cepat memalingkan wajah.
Hal itu berulang beberapa kali sampai akhirnya mereka tertawa bersamaan.
“Fu, kenapa lo tertawa?” tanya Awen.
“Lah, lo sendiri kenapa tertawa?”
Awen tersenyum malu-malu.
Perlahan, suasana canggung itu mencair. Mereka mulai membicarakan hal-hal ringan, bahkan saling menggoda seperti biasanya.
Awen yang semakin berani tiba-tiba mencolek hidung Afu.
Afu tersenyum.
Namun, ketika Awen hendak mengulanginya, Afu dengan cepat menangkap tangannya.
Awen terkejut. Tarikan itu membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga dia terjatuh tepat ke pangkuan Afu.
Keduanya langsung membeku.
Wajah Awen tertunduk tepat di hadapan wajah Afu. Jarak mereka begitu dekat hingga Awen bisa merasakan embusan napas pemuda itu.
Napas Afu mulai memburu. Jantungnya berdetak semakin kencang.
Awen pun terdiam. Entah mengapa, dia malah memejamkan mata ketika merasakan napas Afu menyentuh wajahnya.
Perlahan, Afu mendekatkan wajahnya.
Lalu, bibirnya menyentuh pipi Awen.
Awen membeku. Wajahnya langsung memerah, sementara tangannya gemetar.
Ketika Afu sedikit menjauh, Awen membuka mata. Dia menoleh ke arah pemuda itu, berniat membalas ciumannya.
Namun, tiba-tiba dia merasakan sesuatu bergetar di paha Afu.
Awen langsung melotot.
Afu pun terkejut melihat reaksinya. Beberapa detik kemudian, terdengar suara dering telepon yang membuyarkan kedekatan mereka.
Awen bergumam, " oh telpon ya, gue kirain?"
Awen buru-buru bangkit dari pangkuan Afu. Pemuda itu segera merogoh sakunya dan mengangkat telepon.
“Halo, Clara. Ada apa?”
“Fu, tadi pagi gue lihat lo menggendong Awen ke klinik. Apa gue salah lihat?”
Afu langsung teringat kejadian pagi tadi, ketika dia panik menggendong Awen menuju klinik.
“Beneran. Gue memang menggendong Awen ke klinik tadi pagi.”
“Memangnya apa yang terjadi? Gue sampai dengar lo teriak-teriak minta tolong!”
“Parah deh. Pokoknya, ceritanya bikin gue sendiri nggak percaya.”
Suara Clara terdengar semakin penasaran.
“Yang bener, Fu? Apa yang terjadi sama Awen?”
“Dia datang bulan!”
Tiba-tiba, Clara tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha! Jadi, lo panik sampai menggendong Awen ke klinik cuma gara-gara dia datang bulan?”
“Udah, Clara! Lo puas sekarang setelah dengar cerita gue?”
“Lo emang bodoh banget! Semua cewek pasti datang bulan, dong!”
“Ya, masalahnya gue baru tahu setelah sampai di klinik. Gue kira—”
Afu menghentikan ucapannya.
“Lo kira apa? Dia keguguran? Emangnya lo udah ngapain aja sama Awen?”
“Wah, gila lo, Clara! Pikiran lo udah ke mana-mana!”
“Ya, gue kira begitu. Lagian, selama liburan kuliah, kalian ke mana aja sih? Nggak pernah ada kabar!”
“Ya, di rumah aja. Nggak ke mana-mana.”
Tut... tut... tut...
Tiba-tiba, sambungan telepon terputus.
Afu menatap layar ponselnya. Ternyata, baterainya habis.
Dia menghela napas, lalu menoleh ke arah Awen.
Namun, begitu menyadari Afu sedang memandangnya, Awen buru-buru memalingkan wajah. Pipinya kembali memerah.
“Fu, gue mandi dulu, ya. Rasanya badan gue udah gatal.”
Afu hanya mengangguk.
Dia memandangi punggung Awen yang berjalan menuju kamar mandi. Setelah gadis itu menghilang di balik pintu, senyum perlahan muncul di bibirnya.
Afu menyentuh pipinya sendiri, kemudian teringat kejadian beberapa saat lalu.
Fu, apa yang baru aja lo lakukan? Lo barusan mencium Awen! Lo gila, apa? Lo mencium saudara kembar lo sendiri!
Namun, omelan dalam pikirannya tak mampu menghapus senyum di wajahnya.
Afu bahkan melompat kecil sambil menahan teriakan.
“Yes!”
Dia mengepalkan tangan, berusaha menahan kegembiraannya.
Gue nggak peduli lo Alu atau siapa. Di mata gue, lo adalah Awen! Gue nggak peduli perasaan apa yang sekarang ada di hati gue. Yang gue tahu, gue suka sama Awen!
Afu mondar-mandir di ruang tamu sambil tersenyum sendiri. Setiap kali berhenti, dia kembali menyebut nama Awen dengan wajah berbinar.
Tanpa disadarinya, sesosok perempuan cantik melayang di dekat dinding ruang tamu.
Rambut putihnya memancarkan cahaya lembut. Kulitnya juga berkilau, sementara sepasang sayap di punggungnya terus mengepak untuk menjaga tubuhnya tetap melayang.
Dia adalah Ling Ling, peri pendamping Awen.
Melihat tingkah Afu, Ling Ling tersenyum geli. Dia kemudian melayang menuju kamar mandi.
Di dalam, Awen sedang berdiri di depan cermin, memandangi wajahnya sendiri.
Ling Ling turun perlahan dan menepuk pundaknya.
Awen hampir berteriak karena terkejut. Namun, begitu menyadari siapa yang datang, dia langsung memeluk peri itu.
“Ya ampun, Ling Ling! Lo ke mana aja sih? Gue cari-cari, tapi lo nggak pernah kelihatan. Gue kira lo udah ninggalin gue!”
Ling Ling tersenyum sambil mengusap wajah Awen dengan lembut.
“Dasar bodoh! Gue ini peri pendamping lo. Gue nggak akan ninggalin lo begitu aja. Gue cuma perlu melaporkan perkembangan keadaan lo ke dunia peri.”
Awen langsung tersenyum lebar.
“Ling Ling, hari ini gue seneng banget!”
Ling Ling tersenyum. Dia sudah bisa menebak siapa yang membuat Awen begitu bahagia.
“Tadi Afu nyium gue!” Awen berseru dengan pipi memerah. “Gue sampai nggak bisa nolak. Tapi, pas gue mau membalas, malah ada telepon dari Clara!”
Senyum Awen perlahan memudar ketika mengingat kejadian itu. Namun, tak lama kemudian, dia kembali tersenyum sambil menempelkan kedua tangan ke pipinya.
“Ling Ling, menurut lo Afu itu gimana?”
Awen memandangi dirinya sendiri di cermin, lalu menjawab pertanyaannya tanpa sadar.
“Dia manis banget. Tampan juga, perhatian pula. Wajahnya putih, matanya bening dan berkilau. Dia mengingatkan gue pada salju yang turun di tengah musim dingin.”
Ling Ling tersenyum tipis. Dia membelai rambut Awen sebelum bertanya dengan lembut.
“Kalau begitu, apa yang lo ingat tentang salju?”
Pertanyaan itu membuat Awen terdiam.
Tiba-tiba, sebuah kenangan melintas dalam pikirannya.
Dia melihat dirinya berdiri di bawah emperan sebuah minimarket ketika salju turun. Tubuhnya menggigil, sementara Afu datang membawa payung hitam dan mengenakan mantel cokelat tebal.
Awen kembali melihat mata Afu yang bening dan berkilau serta wajahnya yang putih. Saat itulah dia pernah meminta agar pemuda itu mengizinkannya menggunakan panggilan khusus.
Awen terbelalak.
Kedua tangannya terangkat, lalu dia berseru dengan penuh kegembiraan.
“Gue ingat, Ling Ling! Gue pernah memanggil Afu dengan sebutan Salju!”
Ling Ling tersenyum lebar dan segera meraih tangan Awen.
“Baguslah! Sepertinya ingatan lo mulai kembali. Itu adalah salah satu kenangan yang dimiliki Awen. Siapa tahu, ke depannya lo akan mengingat lebih banyak kenangan lainnya.”
Awen menggenggam tangan Ling Ling dengan penuh haru.
“Terima kasih, Ling Ling. Lo udah membantu gue menemukan kembali ingatan dan perasaan gue. Sekarang gue tahu siapa yang sebenarnya ada di dalam hati gue.”
Ling Ling mengangguk senang.
“Baguslah kalau lo udah tahu. Semoga kali ini gue nggak membuat kesalahan lagi saat menulis alur cerita cinta lo.”
Awen tersenyum lebar.
Namun, sesaat kemudian, Ling Ling mulai menghilang.
Awen tidak menyadarinya. Dia justru kembali bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Ling Ling, menurut lo, apa yang bakal terjadi sama hubungan gue dan Afu nanti?”
Tak ada jawaban.
Awen menunggu beberapa saat, lalu mengangkat wajah dan menoleh ke samping.
Ling Ling sudah menghilang.
Awen mengembuskan napas kecil, tetapi senyum di wajahnya tak kunjung lenyap.
Sekarang dia mulai memahami siapa dirinya dan siapa yang ingin dia cintai.
Ya, gue adalah Awen. Kali ini, gue nggak akan kehilangan cinta gue lagi.
Dia mengepalkan tangan dengan penuh tekad.
Gue akan lebih aktif mengejar cinta gue sendiri!
Awen kemudian mulai bersiap mandi dengan air hangat dari pancuran.
Sementara itu, matahari telah bergeser dari atas kepala, menyisakan cahaya hangat yang menerobos masuk di tengah udara musim dingin.