NovelToon NovelToon
38.000 Langkah Ke Hatimu

38.000 Langkah Ke Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Time Travel
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.

Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.

Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 — Rahasia di Balik Senyum

Waktu terus berjalan begitu saja. Hari berganti minggu dan pertemuan kita di taman itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hariku. Kita belum pernah bertukar nomor telepon dan belum pernah bertemu di luar taman itu. Tapi anehnya aku tidak merasa perlu itu. Rasanya taman itu adalah dunia kecil milik kita berdua. Di sana tidak ada gangguan dari dunia luar, tidak ada kesibukan yang memburu, hanya aku dan dia serta waktu yang berjalan lebih lambat dari biasanya.

Sore itu langit terlihat sangat indah. Warna jingga keunguan menyebar luas di atas sana seolah seseorang sedang menyapukan kuas besar di atas kanvas langit. Aku datang lebih awal dari biasanya. Bima belum ada di sana. Aku duduk di bangku kayu itu sambil melihat ke arah jalan masuk taman, menunggu sosok yang selalu kutunggu setiap sore. Tidak lama kemudian aku melihatnya berjalan mendekat. Tapi hari ini ada sesuatu yang berbeda. Langkahnya tidak setenang biasanya. Bahunya terlihat lebih kaku dan senyum yang biasa menyambutku hari ini terasa sedikit dipaksakan. Dia tersenyum, tapi matanya tidak ikut berbinar seperti biasanya.

"Kamu sudah datang lama?" tanyanya sambil duduk di sebelahku. Suaranya terdengar biasa saja, tapi aku cukup mengenalnya sekarang untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.

"Baru sebentar kok. Kamu baik-baik saja Bima? Wajahmu terlihat lelah hari ini," tanyaku lembut.

Dia terdiam sejenak, menatap ke arah pohon-pohon di depan kita. "Hanya sedikit banyak pikiran. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan."

Tapi nadanya tidak meyakinkan sama sekali. Aku melihat tangannya yang saling menggenggam erat di pangkuannya seolah dia sedang menahan gemetar. Ada garis tegang di rahangnya yang biasanya tidak terlihat. Hatiku mulai merasa cemas. Aku tidak ingin memaksanya bicara kalau dia belum siap, tapi aku juga tidak ingin berpura-pura tidak melihat bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.

"Kamu boleh menyimpan rahasiamu Bima. Aku tidak akan memaksamu menceritakannya. Tapi aku mau kamu tahu satu hal. Kalau kamu merasa berat memikulnya sendirian, aku ada di sini. Mendengarkan saja tanpa menghakimi. Tidak perlu solusi, tidak perlu jawaban, hanya kehadiranmu yang cukup. Kadang berbagi beban membuatnya terasa lebih ringan meskipun masalahnya belum selesai," ucapku pelan tapi tulus.

Bima menoleh padaku dan kali ini senyumnya terasa lebih tulus meskipun matanya terasa berkaca-kaca. Dia menghela napas panjang seolah sedang mengumpulkan keberanian yang terserak di mana-mana. "Kamu tahu Aurora? Kamu terlalu baik untuk seseorang sepertiku. Kadang aku merasa tidak pantas mendapatkan ketenangan yang kamu berikan ini. Seperti aku sedang meminjam sesuatu yang berharga dan tahu bahwa suatu hari nanti aku harus mengembalikannya."

Ucapannya membuat dadaku terasa sesak. "Kenapa kamu selalu bicara seolah kita punya waktu yang sedikit? Seolah ada sesuatu yang akan memisahkan kita kapan saja. Kita ada di sini sekarang kan? Itu yang terpenting. Biarkan hari esok mengurus dirinya sendiri saat waktunya tiba."

Dia mengangguk pelan tapi matanya terlihat sedih sekali. "Kamu benar. Hari ini yang penting. Maaf ya kalau aku membuatmu merasa cemas. Aku hanya sedang berjuang dengan diriku sendiri. Sesuatu yang harus aku selesaikan sendirian sebelum aku bisa benar-benar berdiri di hadapanmu tanpa merasa menyembunyikan apa-apa."

"Kamu tidak perlu sempuma Bima. Kamu cukup dengan segala kekuranganmu. Aku tetap di sini menunggumu sampai kamu merasa siap. Tidak ada batas waktu, tidak ada tekanan. Pergilah saat kamu harus pergi, kembalilah saat kamu bisa kembali. Pintu keberadaanku selalu terbuka untukmu di sini," jawabku dengan suara yang mantap meskipun di dalam sana hatiku terasa perih mendengarnya berbicara seolah perpisahan sudah di depan mata.

Malam itu kita tidak bercerita banyak. Kita hanya duduk berdampingan menikmati keheningan yang hangat. Sesekali dia menatapku lama sekali, seolah dia sedang menghafal setiap detail wajahku agar tidak lupa saat nanti kita terpisah jarak yang jauh. Tatapannya penuh dengan kerinduan yang sulit dijelaskan, padahal kita sedang duduk berdampingan. Rasanya dia sedang mencintai seseorang yang tidak bisa dimiliki sepenuhnya, dan itu membuatku merasa sedih untuknya tanpa benar-benar memahami alasannya.

Beberapa hari berikutnya Bima datang dan pergi seperti biasa. Kadang dia terasa ceria dan bercerita banyak hal. Kadang dia hanya duduk diam dan aku menemaninya dalam keheningan tanpa banyak bertanya. Dia menyelipkan pesan-pesan kecil di bukuku seperti biasanya. Tapi aku mulai melihat pola yang tidak biasa. Kadang dia datang dengan pucat dan terlihat sakit. Kadang ada memar samar di pergelangan tangannya yang dia sembunyikan dengan lengan jaketnya. Saat aku bertanya dia hanya tersenyum dan bilang itu hanya kecerobohannya sendiri. Tapi aku bukan anak kecil. Aku tahu ada sesuatu yang sedang terjadi padanya, sesuatu yang berbahaya dan dia berusaha melindungiku dengan cara menyembunyikannya.

Suatu sore dia datang lebih awal dari biasanya. Dia membawa sebuket bunga liar yang sederhana tapi cantik sekali. Warnanya putih bersih dan harumnya lembut menenangkan. Dia memberikannya kepadaku dengan senyum yang lebih ceria dari biasanya, seolah dia berusaha menebus hari-hari yang suram sebelumnya.

"Aku memungutnya di pinggir jalan tadi. Warnanya mengingatkanku padamu. Sederhana tapi bersinar di tempat yang tidak disangka-sangka," katanya saat aku menerima bunga itu dengan rasa senang yang tulus.

"Makasih Bima. Aku akan merawatnya baik-baik. Ini bunga terindah yang pernah kuterima," ucapku sambil mencium aroma segar bunga itu.

Dia tersenyum puas, tapi kemudian dia menatap ke arah langit yang mulai gelap dengan tatapan yang jauh. "Aurora, janji sama aku sesuatu ya. Apa pun yang terjadi ke depannya, apa pun yang nanti kamu dengar atau ketahui tentang diriku, ingatlah satu hal. Bahwa setiap langkah yang kuambil menuju kamu itu tulus. Bahwa aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Dan bahwa mencintaimu adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku, walau waktunya mungkin sangat singkat."

Suaranya bergetar di akhir kalimatnya. Aku menatapnya lekat-lekat, merasakan ada sesuatu yang besar sedang mendekat. Sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.

"Kamu membuatku takut Bima. Kenapa seolah kamu sedang berpamitan?" tanyaku pelan, tanganku menggenggam bunga itu erat-erat.

Dia menggeleng pelan, lalu menyentuh punggung tanganku dengan jemarinya yang terasa sedikit dingin. "Bukan berpamitan. Hanya memastikan kamu tahu kebenarannya sebelum terlambat. Kadang takdir berjalan lebih cepat dari rencana kita. Aku hanya tidak ingin kamu meragukan ketulusanku saat waktunya tiba."

"Kalau ada masalah yang berat, ceritakan padaku. Mungkin aku tidak bisa menyelesaikannya, tapi setidaknya kita bisa menghadapinya bersama-sama. Aku tidak mau kamu menanggungnya sendirian," pintaku dengan mata yang mulai terasa panas.

Dia tersenyum lembut, lalu berdiri dan menatapku dari atas sedikit. "Kamu sudah terlalu banyak memberiku kebahagiaan Aurora. Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Percaya padaku ya? Seperti yang selalu kamu lakukan selama ini."

Dia berjalan pergi sore itu dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Aku memperhatikannya sampai menghilang di balik pepohonan, dan untuk pertama kalinya sejak kita pertama kali bertemu aku merasa takut akan apa yang akan terjadi. Hatiku berdebar kencang dengan perasaan tidak tenang yang tidak bisa kujelaskan sumbernya. Aku pulang dengan membawa bunga pemberiannya, tapi hatiku terasa berat sekali. Sesuatu sedang berubah dan aku belum siap menghadapinya. Namun di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku berjanji pada diriku sendiri. Apa pun yang sedang dia hadapi, apa pun rahasia yang dia simpan, aku akan tetap di tempat ini menunggunya sampai dia merasa cukup kuat untuk membuka semuanya kepadaku. Karena aku percaya padanya, dan rasa percaya itu adalah hal terakhir yang mau kulepaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!