NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Sekretaris, Bukan Simpanan

Botol kecil itu sudah ada di mejanya ketika Damar masuk.

Obat tetes mata. Merek yang sama, ukuran yang sama, diletakkan di sudut kanan meja, di samping gelas air putih yang masih penuh dan berembun. Persis seperti setiap pagi selama dua tahun ini.

Damar berdiri di depan meja itu dengan jas masih di tangan.

Pukul setengah sembilan. Anala sudah di kursinya di luar pintu kaca, rambut disanggul rapi, blazer hitam berlengan panjang menutupi pergelangan tangannya yang masih dibalut kasa. Riasan tipis di pipi kirinya menutupi memar yang semalam masih biru. Kalau dia tidak tahu, dia tidak akan tahu.

Dia membuka pintu.

"Anala."

Perempuan itu berdiri. "Ya, Pak."

"Obat ini." Damar mengangkat botol kecil itu. "Dari mana kamu tahu?"

Hampir tiga tahun lalu dia menjalani operasi mata. Sejak itu, kalau malam turun, dunia di depannya jadi buram di pinggir-pinggirnya, dan dia harus meneteskan obat itu tepat waktu. Dia tidak pernah membicarakannya dengan siapa pun. Dewan direksi tidak tahu. Eyang tidak tahu. Hanya Reza.

Anala tidak terlihat terkejut dengan pertanyaan itu. "Pak Reza yang bilang, waktu saya baru masuk. Supaya saya ingatkan Bapak kalau ada rapat sampai malam."

Damar menatapnya. Wajah itu tenang. Terlalu tenang.

"Hm."

Dia meneteskan obat itu dan menutup pintu.

***

Jam sepuluh, Reza masuk tanpa mengetuk dan meletakkan ponselnya di depan Damar.

"Lihat. Satu kantor sudah tahu."

Di layar ada tangkapan layar dari sebuah grup WhatsApp. Nama grupnya Divisi Marketing Gosip. Pesan paling atas dikirim oleh Vera, staf HR yang selalu tersenyum terlalu lebar setiap kali berpapasan dengan Damar di lift.

Ternyata yang bikin bos nggak masuk kemarin itu karena si sekretaris pulang dalam keadaan pingsan. Digendong sendiri sama Pak Damar dari pagar. Dari pagar rumah, ya, bukan pagar kantor. Sekretaris rasa nyonya.

Di bawahnya, belasan emoji tertawa. Seseorang menulis, simpanan premium beda kelas. Seseorang lagi, pantes dua tahun nggak pernah ganti sekretaris.

"Sumbernya pasti dari sopir atau satpam kompleks," kata Reza. "Gosip gini cepet banget nyebarnya."

Damar menatap layar itu tanpa ekspresi.

"Dan satu lagi." Reza menggeser layar ke berita lain. "Tempat Gilang di Batam. Tagih bersih banget kerjanya. Tiga lokasi, semua tutup dalam satu malam. Gilang sendiri masih di rumah sakit, katanya luka tusuknya lumayan dalam."

"Bagus."

"Mar." Reza menurunkan suaranya. "Soal Nala. Aku masih belum yakin."

"Aku tahu."

"Terus kenapa dia masih duduk di depan pintumu?"

Damar tidak menjawab. Dia melirik ke balik pintu kaca. Anala sedang menelepon seseorang sambil mencatat, punggungnya lurus, bolpoinnya bergerak cepat. Seolah dua malam lalu dia tidak berdiri di panggung di Batam. Seolah tidak ada apa-apa.

***

Bianca datang pukul dua belas, membawa tas belanja dari restoran Jepang dan senyum yang terlalu manis.

Dia tidak menelepon dulu. Dia tidak pernah menelepon dulu. Dia berjalan melewati deretan meja di lantai tiga puluh dua dengan sepatu hak tinggi yang suaranya terdengar sampai ke ujung ruangan, dan setiap kepala menoleh mengikutinya.

"Damar, sayang." Dia meletakkan kotak bento di atas meja Damar tanpa diminta. "Aku tahu kamu pasti belum makan. Kamu kan kalau kerja suka lupa."

Damar tidak mengangkat kepala dari berkas yang dia baca.

Bianca berbalik dan menatap ke luar pintu kaca, ke meja sekretaris. Pintu itu dibiarkan terbuka, dan suaranya cukup keras untuk didengar oleh separuh lantai.

"Itu siapa, sih?"

"Sekretarisku," kata Damar.

"Oh, sekretaris." Bianca tersenyum. "Sekretaris yang tinggal di rumahmu itu, ya?"

Ruangan di luar mendadak sangat sunyi. Damar bisa melihat Vera di meja HR berhenti mengetik. Dua staf marketing yang tadi berdiri di dekat dispenser saling melirik.

Anala berdiri. Dia mengambil map biru dari mejanya dan berjalan masuk ke ruang kerja Damar dengan langkah yang sama sekali tidak terburu-buru.

"Selamat siang, Mbak Bianca." Suaranya sopan, jelas, dan cukup keras untuk sampai ke dispenser. "Saya tinggal di paviliun, Mbak. Bangunan terpisah di halaman belakang. Ada Bi Iyah dan Pak Ujang juga di sana. Kalau Mbak mau cek, silakan. Nanti saya kirimkan alamatnya."

Bianca membuka mulut. Menutupnya lagi.

Anala menoleh ke Damar dan menyerahkan map itu. "Notulen rapat direksi kemarin, Pak. Yang Bapak tidak hadiri."

"Taruh di situ."

"Baik, Pak."

Dia keluar. Pintu kaca tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang pelan.

Di luar, seseorang terbatuk untuk menyamarkan tawa. Dua staf di dekat dispenser buru-buru kembali ke meja masing-masing. Vera menunduk ke layar komputernya dengan wajah merah, jarinya menggulir sesuatu di ponsel dengan cepat sekali.

Anala duduk, membuka laptop, dan mulai mengetik. Bahunya tidak naik turun. Tangannya tidak gemetar. Kalau ada yang menunggu perempuan itu menangis di toilet, mereka akan menunggu lama.

Bianca menatap pintu itu dengan rahang mengeras. "Kamu biarin sekretarismu ngomong begitu sama aku?"

"Dia menjawab pertanyaanmu."

"Damar!"

"Bento-nya bawa pulang," kata Damar. "Aku sudah makan."

Dia belum makan. Bianca tahu dia belum makan. Bianca mengambil tasnya, meninggalkan kotak bento itu dengan sengaja, dan keluar dengan langkah yang lebih keras daripada waktu dia datang.

Begitu lift tertutup, Damar menekan interkom.

"Vera. Ke ruangan saya."

Lima menit kemudian, staf HR itu berdiri di depan mejanya dengan wajah pucat. Damar tidak mengatakan banyak. Dia hanya meletakkan ponsel Reza di meja dengan layar menghadap ke atas.

"Hapus," katanya. "Grupnya juga."

"B-baik, Pak. Maaf, Pak, saya tidak..."

"Sekarang."

***

Pukul tiga sore, dia memanggil Anala masuk dan menutup pintu.

"Duduk."

Perempuan itu duduk. Tangannya terlipat di atas pangkuan, kasa di pergelangannya mengintip sedikit dari balik lengan blazer.

"Jaket yang kamu pakai kemarin pagi," kata Damar. "Punya siapa?"

Sedetik. Hanya sedetik, tapi dia melihatnya. Bulu mata Anala turun, lalu naik lagi.

"Saya beli di bandara, Pak."

"Jaket laki-laki. Merek Italia. Di toko bandara Batam."

"Itu yang tersisa ukurannya."

"Tiketmu?"

"Saya pinjam ponsel orang dan beli lewat aplikasi."

"Ponsel siapa?"

"Orang yang kebetulan duduk di sebelah saya di ruang tunggu." Anala menatapnya lurus. "Bapak mau saya cari dia lagi untuk mengembalikan ponselnya?"

Damar diam. Dia tahu itu tidak benar. Setidaknya tidak semuanya. Ada sesuatu di antara Batam dan pagar rumahnya yang tidak perempuan ini ceritakan, dan dia tahu, kalau dia menekan lebih keras, perempuan ini akan menjawab dengan kebohongan yang lebih rapi lagi.

Yang mengganggunya bukan kebohongan itu. Dia sudah terbiasa dengan orang yang berbohong kepadanya. Yang mengganggunya adalah dia tidak ingin menekan lebih keras.

"Sudah," katanya. "Kembali bekerja."

Anala berdiri. Di ambang pintu, ponsel Damar berbunyi.

Eyang.

Damar mengangkatnya. "Ya, Eyang."

"Nanti malam jangan telat." Suara itu pelan dan sopan, seperti biasa. Suara yang tidak pernah perlu dinaikkan untuk didengar. "Dan bawa sekretarismu."

Damar terdiam.

"Eyang dengar dia baru mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Eyang ingin melihat sendiri perempuan yang bisa membuat cucuku tidak masuk kantor satu hari penuh."

"Dia sedang tidak sehat."

"Bawa dia, Damar."

Sambungan terputus.

Damar meletakkan ponsel di meja. Anala masih berdiri di ambang pintu, menunggu, seolah dia sudah tahu isi telepon itu.

"Kamu tidak perlu ikut," katanya.

Anala menatapnya. Di lehernya, di balik kerah blazer hitam itu, Damar bisa melihat kilau tipis rantai kalung ibunya.

"Eyang yang minta, Pak," katanya. "Saya tidak bisa menolak."

Dia menutup pintu. Damar menatap pintu kaca itu lama, sampai bayangan perempuan itu kembali duduk di kursinya dan mulai mengetik, seolah tidak ada apa-apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!