Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.
Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.
Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.
Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.
Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Agim masuk ke mansion masih mengenakan mantel panjang gelap yang ia pakai bila bepergian. Begitu melewati pintu utama, matanya hanya mencari satu orang.
Bintang.
Gadis kecil itu ada di pangkuan Hana, sepenuhnya terjaga, mengamati sekelilingnya dengan mata besar yang penuh rasa ingin tahu.
"Mana putri kecilku?" tanya Agim.
Hana tersenyum melihat antusiasme suaminya.
"Kukira kamu akan menyapaku dulu."
"Nanti."
Ia merentangkan tangan.
"Cucuku dulu."
Hana tertawa dan menyerahkan si kecil.
"Nah, begini baru benar."
Ia mencium dahi Bintang.
"Selamat malam, mentari kecilku."
Bayi itu membalas dengan celoteh yang mengundang senyum semua orang.
Tak lama seluruh keluarga sudah berkumpul di meja makan malam. Hidangannya melimpah seperti biasa.
Ada daging, salad, sayuran, roti, dan berbagai masakan khas yang disiapkan para juru masak mansion.
Bintang tetap di pangkuan Agim, nyaman sekali, bermain dengan salah satu kancing mantel kakeknya.
Selama semua orang mengobrol, Nadira diam saja. Garpunya nyaris tak menyentuh makanan.
Kata-kata Hana tak mau pergi dari kepalanya.
"Tidak semua pertempuran dimenangkan dengan menarik pelatuk."
"Belajarlah menghadapi seorang mafioso."
Ia menarik napas pelan. Sejauh ini melawan Drilon secara frontal tak memberinya hasil apa pun.
Mungkin sudah waktunya mengganti strategi. Bukan karena menyerah, tapi karena ia perlu meraih kemenangan-kemenangan kecil. Intan menyadari sahabatnya sedang jauh.
"Kamu baik-baik saja?"
"Aku sedang berpikir."
"Itu bikin aku khawatir."
Nadira hanya tersenyum miring.
Di seberang meja, Drilon mengamati percakapan itu tanpa ikut campur.
Setelah makan, semua mulai meninggalkan ruang makan. Agim tetap duduk dengan Bintang dalam pelukannya.
"Kamu tidak akan pernah melepaskan anak itu, ya?" tanya Hana.
"Tidak."
"Sudah kuduga."
Bintang tertawa kecil.
"Lihat? Dia setuju denganku."
Tawa memenuhi ruangan. Drilon mendekati ayahnya, dengan lembut mengusap rambut putrinya, lalu mengecup kepalanya.
"Selamat malam, Sayang."
Bintang hanya memejamkan dan membuka matanya pelan-pelan. Agim tersenyum.
"Dia sudah bisa mengenali suaramu."
Drilon hanya mengangguk, lalu berbalik dan menyusuri koridor menuju kamarnya.
Nadira mengamatinya sampai menghilang, menarik napas. Inilah saatnya. Ia menunggu beberapa detik lagi agar tak menarik perhatian.
Lalu ia melangkah ke arah yang sama, berhenti di depan pintu, dan mengetuk dua kali.
"Masuk," kata Drilon.
Ia membuka pintu perlahan. Drilon sudah melepas jasnya dan melonggarkan dasi. Melihat Nadira masuk, ia mengangkat sebelah alis.
"Aku tak menyangka kedatangan tamu."
Nadira menutup pintu di belakangnya.
"Kita perlu bicara."
Drilon menunjuk kursi.
"Kalau begitu bicaralah, silakan duduk."
Ia tetap berdiri.
"Aku lebih suka begini."
Drilon mengangkat bahu.
"Terserah."
Beberapa detik keheningan menguasai kamar. Nadira mengingat kata-kata Hana: jangan menyerang, bicara.
"Keluargaku pasti panik." Drilon tetap menyimak. "Mereka tidak tahu aku di mana." Ia menarik napas dalam. "Atau di mana Intan." Drilon bersedekap. "Aku perlu memberi tahu bahwa kami masih hidup."
Drilon diam beberapa saat. Nadira menunggu. Ia tahu mendesak saat ini hanya akan jadi kesalahan.
Drilon berjalan pelan ke jendela dan memandang gelap di luar. Ia berpikir, menimbang risiko.
Ia tahu mengizinkan kontak apa pun bisa membuka celah, tapi ia juga paham membuat kedua perempuan itu terputus sepenuhnya hanya akan menambah ketegangan di rumah ini.
Setelah hampir satu menit, ia berbalik.
"Kamu hanya ingin mengabari bahwa kalian baik-baik saja?"
"Ya."
"Tanpa mengatakan di mana kalian berada."
"Ya."
"Tanpa mencoba minta tolong."
Nadira menarik napas pelan.
"Aku bersumpah."
Drilon mengamatinya beberapa detik, mencari kebohongan di matanya. Tidak menemukan.
"Besok akan kuatur sambungan telepon yang diawasi."
Mata Nadira membelalak. Ia benar-benar tidak menyangka akan berhasil.
"Terima kasih." Drilon hanya mengangguk kecil. "Mamaku berhak tahu aku masih hidup."
"Aku mengerti. Akan kuusahakan kamu bisa menelepon."
Nadira kembali terkejut. Aneh mendengar ia berkata begitu. Ia berjalan ke pintu dan memegang kenopnya. Sebelum sempat keluar, ia mendengar suara Drilon.
"Nadira."
Ia hanya menoleh sedikit.
"Apa?"
Drilon tersenyum miring, senyum puas diri yang kini sudah ia kenali.
"Lihat, kan?"
Ia mengerutkan kening.
"Lihat apa?"
"Kita hanya perlu lebih banyak bicara."
Nadira bersedekap.
"Jangan mulai."
Tapi Drilon melanjutkan.
"Lihat betapa baiknya kita bisa saling mengerti." Senyumnya melebar, makin menggoda. "Aku bahkan mengira kamu menikmati percakapannya."
Nadira memutar bola mata.
"Jangan memaksakan diri."
"Mengaku saja."
Ia tertawa tak percaya.
"Kepercayaan dirimu layak jadi bahan penelitian."
Drilon tertawa pendek.
"Kamu datang ke sini dengan tekad bernegosiasi."
"Karena aku ingin bicara dengan keluargaku."
"Dan berhasil."
Nadira menarik napas dalam.
"Itu bukan berarti aku jadi suka padamu."
Drilon memiringkan kepala sedikit.
"Selangkah demi selangkah."
Nadira menuding jarinya ke arahnya.
"Mimpi saja."
Drilon membalas dengan tatapan geli.
"Bermimpi belum dilarang."
Ia menggeleng, berusaha menyembunyikan senyum tak percaya.
"Selamat malam, Setan."
"Selamat malam, Nadira."
Ia membuka pintu. Sebelum benar-benar keluar, suara Drilon terdengar lagi.
"Dan jangan lupa."
Ia menoleh.
"Lupa apa?"
"Setiap kali kamu bicara denganku seperti ini... peluangmu mendapatkan yang kamu mau naik drastis."
Nadira tersenyum sinis.
"Jangan terbiasa."
"Akan kuambil risikonya."
Ia keluar kamar sambil terus menggeleng. Begitu pintu tertutup, Drilon mengeluarkan tawa singkat.
Untuk pertama kalinya sejak Nadira tiba di rumah itu, mereka mengakhiri percakapan tanpa teriakan, ancaman, atau pertengkaran.
Itu hanya sedikit.
Tapi bagi seseorang yang terbiasa menaklukkan segalanya dengan kekerasan, percakapan kecil itu terasa seperti sebuah permulaan.
Dan bagi Nadira, itu baru langkah pertama dari strategi yang jauh lebih besar. Akhirnya ia mengerti bahwa kadang kata-kata yang dipilih dengan baik bisa membuka pintu yang tak akan pernah terbuka oleh amarah.