Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: AKU MELAHIRKAN ANAK VION
RS Vantec Internasional, lantai 10, ruang bersalin VIP nomor 1.
Ruangan itu sama sekali tidak kayak ruang bersalin biasa. Fasilitasnya lebih mirip presidential suite hotel bintang tujuh, ada kasur ekstra besar, sofa kulit mewah, kulkas pribadi, sampai dinding kaca full yang suguhkan pemandangan seluruh Jakarta. Di luar ruangan, dua puluh dokter kandungan terbaik se-Indonesia, sepuluh perawat profesional, dan tiga puluh pengawal jas hitam siaga jaga.
Di dalam ruangan, cuma ada dua manusia.
Alesha Vion, dengan perut buncit sempurna sembilan bulan, keringat deras sambil genggam erat jari Vion.
Dan Vion Mahendra, CEO paling kejam se-negeri, yang hari ini pakai baju pasien sama kayak Alesha, tanpa jas formal, rambut berantakan karena tidak tidur semalaman, wajah pucat pasi bahkan lebih pucat dari Alesha yang mau lahiran.
"Aargh! VION! SAKIT BANGET!"
Alesha menjerit tertahan, remas jari Vion kuat sampai buku tangannya memutih.
Vion malah teriak jauh lebih nyaring dari Alesha.
"DOKTER! PANGGIL DOKTER! ISTRI SAYA KESAKITAN! CEPAT KASIH BIUS! BIUS TOTAL SEKARANG JUGA! AKU TIDAK SANGGUP LIHAT RATU KU KESAKITAN!"
Dua puluh tenaga medis yang siaga di luar langsung berhamburan masuk karena panik dengar teriakan pimpinan korporasi.
Salah satu dokter senior coba tenangkan Vion.
"Tuan Vion, ini proses alami persalinan. Nyonya Vion harus mengejan sendiri. Kami tidak bisa bius total."
"TIDAK BISA BAGAIMANA! UNTUK APA SAYA GAJI KALIAN SATU MILIAR PER ORANG! AKU TIDAK MAU LIHAT ISTRI KU MENDERITA!"
Vion bentak puluhan dokter itu dengan mata merah penuh amarah. Sosok CEO yang biasanya bisa hancurkan korporasi triliunan tanpa kedip itu kini hampir pingsan cuma lihat istrinya kontraksi.
Alesha yang lagi nahan sakit di jeda kontraksi, malah senyum tipis lihat kepanikan suaminya.
"Vion... kamu... kamu jauh lebih panik dari aku..."
Vion langsung jatuh bersimpuh di sisi ranjang, cium bertubi-tubi punggung tangan Alesha yang basah keringat dengan penuh lembut.
"Ratuku... ampuni aku... aku tidak berdaya ringankan beban mu... aku cuma bisa pegang jari mu..."
Alesha belai rambut hitam Vion yang berantakan dengan sisa tenaganya.
"Jangan minta maaf... kamu sudah tugas mu... dengan jadi suami ku sekaligus ayah buat anak kita..."
Tim medis kasih aba-aba.
"Nyonya Vion, tarik napas dalam... satu... dua... tiga... EJAN!"
Alesha kerahkan seluruh sisa tenaga di tubuhnya. Tujuh tahun ia berjuang sendiri sebagai wanita tak punya apa-apa. Sembilan bulan ia rawat janin ini dengan kemewahan seperti ratu. Hari ini, ia jalani perjuangan terakhir demi sambut belahan jiwanya.
"AARGH!"
Teriakan panjang menggema penuhi ruang VIP.
Disusul kemudian...
Oek... Oek... Oek...
Tangisan bayi. Nyaring. Keras. Sehat.
Suara tangisan itu meraja, menggema ke seluruh lantai 10 RS Vantec.
Seorang perawat angkat sosok bayi mungil berselimut kain putih bersih, lalu serahkan ke pelukan Alesha.
"Selamat, Nyonya Vion. Bayi laki-laki. Kondisi sangat sehat dengan berat 3,8 kilo. Wajahnya mirip sekali dengan Tuan Vion. Sangat tampan."
Alesha terima buah hatinya dengan tangan gemetar dan air mata bahagia. Bayi kecil wajah kemerahan, hidung mancung, dengan rambut hitam lebat.
Sangat mirip Vion. Benar-benar replika ayahnya.
Vion berdiri mematung di sisi ranjang, menatap bayi itu dengan mata berkaca basah. Pertahanan air mata sang CEO berdarah dingin akhirnya runtuh. Untuk pertama kali seumur hidup, ia nangis terisak.
"Anak ku..." bisik Vion parau, coba sentuh pipi mungil sang bayi pakai jarinya yang gemetar.
Bayi kecil itu seketika berhenti nangis saat sentuhan jari Vion mendarat di kulitnya, lalu refleks genggam erat jari pria itu dengan telapak tangannya yang amat kecil.
Deg.
Jantung Vion yang dikenal kejam, yang tidak pernah bergetar saat libas imperium bisnis Grup Mahardika, kini bergemuruh hebat karena genggaman jari mungil itu.
"Alesha... dia... dia pegang jari ku..."
Alesha tertawa di sela air matanya, sandarkan kepala di dada Vion yang masih pakai baju pasien.
"Ya, Vion. Dia kenali ayahnya. Penguasa paling kejam di luar sana, tapi berubah jadi pria paling bucin di dalam ruangan ini."
Tiba-tiba, pintu ruangan berderit terbuka. Hendra melangkah masuk bawa kotak beludru kecil.
"Tuan Vion, Nyonya Vion. Akta kelahiran sudah jadi."
Vion buka kotak itu pakai satu tangan, sementara tangan lain masih digenggam buah hatinya.
Di dalam dokumen resmi itu tertera jelas:
Nama: Arka Vion Mahendra
Putra dari: Vion Mahendra & Alesha Vion
Tanggal Lahir: 24 September 2026
Tempat: RS Vantec Internasional
Arka. Artinya cahaya.
Cahaya yang hadir terangi setelah dua puluh bab penuh kegelapan dan air mata.
Vion angkat tinggi bayi Arka menghadap dinding kaca raksasa yang persembahkan pemandangan Jakarta.
"ARKA! DENGAR BAIK-BAIK! AKU VION MAHENDRA! AYAH MU! MULAI DETIK INI, SELURUH KOTA JAKARTA ADALAH MILIK MU! MILIK IBU RATU MU! SIAPA PUN YANG BERANI USIK IBU DAN KAMU, AKU RATAKAN MEREKA SAMPAI HABIS!"
Seruan menggelegar Vion mantul ke seluruh lantai 10, disaksikan langsung tiga puluh pengawal pribadi dan dua puluh dokter yang seketika bersimpuh kasih penghormatan.
Alesha yang masih berbaring lemah di atas ranjang, menatap suami dan putranya di balik dinding kaca dengan sejuta rasa syukur.
Dua pekan lalu, di titik yang sama, di Ballroom Grand Mulia, ia dibiarkan sendiri tanggung malu di atas altar pakai gaun murah.
Hari ini, ia lahirkan seorang pangeran pewaris marga Mahendra, penerus tahta Vantec Group senilai lima puluh triliun, di rumah sakit milik suaminya sendiri, dikawal ketat puluhan pengawal, dan dicintai oleh lelaki paling ditakuti yang kini tumpahkan air mata bahagia karena genggaman jari mungil.
Jauh di luar sana, di panti jompo Bogor, Nyonya Listia yang lagi selesai cuci seratus piring kotor dengar siaran radio lokal: NYONYA VION TELAH LAHIRKAN PUTRA PERTAMA BERNAMA ARKA VION MAHENDRA.
Ia berhenti gerakkan tangannya, lalu panjatkan doa lirih dalam diam, "Selamat, Alesha... ampuni aku..."
Di IGD RS Polri, Gunawan yang duduk di kursi roda karena lumpuh strok lihat berita bahagia itu lewat TV rumah sakit, lalu nangis parau, "Cucu ku..."
Di kontrakan sempit Tanjung Priok, Rian yang baru pulang ngojek lihat foto bayi Arka yang terpampang di ponsel temannya, lalu jatuhkan helm usangnya untuk kesekian kalinya. Ia sangat sadar, bayi itu bukan darah dagingnya. Dan selamanya tidak akan pernah jadi miliknya.
Di lantai 88 Vantec Tower, Clarissa yang kembali turun jadi OB setelah keguguran, lihat foto bayi Arka dari grup chat kantor, lalu elus perutnya yang sudah rata sambil merintih pilu, "Andai anak ku masih hidup..."
Dan di lantai 10 RS Vantec, Alesha Vion, mantan pengantin melarat yang sempat dicampakkan di altar, kini berubah seutuhnya jadi permaisuri agung, lahirkan pewaris imperium Mahendra, didekap erat oleh Vion Mahendra yang bersimpuh di sisi ranjang sambil berbisik:
"Terima kasih, Ratuku. Kau sudah kasih secercah cahaya buat hidup ku. Arka. Dan mulai hari ini, sumpah setia ku cuma untuk satu hal: lindungi cahaya dan ratu ku. Selamanya."
Alesha kecup hangat dahi Vion dan kening mungil Arka bergantian.
"Tidak, Vion. Aku yang harus terima kasih karena kau sudah buktiin ke aku bahwa setelah dibuang di altar, wanita miskin tetap berhak jadi ratu. Penguasa singgasana abadi."
Mereka saling dekap erat bertiga di balik dinding kaca raksasa yang pantulkan kilau cahaya kota Jakarta.