Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 13
Malam pertama Gani dan Teani tidak berjalan layaknya para pengantin pada umumnya. Bahkan mereka pun tak ada di satu kamar yang sama. Teani tidur di kamarnya yang dulu sedangkan Gani tidur di sofa, tempat tadi Jexen merebahkan tubuh.
Sepanjang malam Gani tidak tidur. Matanya terus saja melihat ke pintu kamar Rinda yang ada di atas.
Wajahnya penuh dengan rasa penasaran terkait apa yang dilakukan dengan Rinda dan Jexen di dalam sana.
Gani merasa gusar, dia belum pernah merasa sepert ini sebelumnya.
"Dia istriku, beraninya dia berada dalam satu kamar dengan seorang pria bahkan lebih muda darinya."
Gani masih terus melihat ke arah kamar. Sampai-sampai dia tidak sadar bahwa malam telah berlalu dan menjadi pagi.
Tak tak tak
Suara sepatu berhak terdengar nyaring ketika beradu dengan lantai. Gani bangkit dari duduknya lalu berjalan untuk menghampiri Rinda.
Matanya berkedip beberapa kali saat melihat beberapa luka yang masih berbekas itu.
"Sini sayang, pegang tanganku," ucap Gani. Tangannya terulur berharap Rinda akan menyambutnya. Akan tetapi tangan Gani hanya menyentuh angin, pasalnya tangan Rinda sudah digenggam lebih dulu oleh Jexen.
Rahangnya mengeras. Pria muda itu selalu jadi pilihan Rinda, sejak tadi malam.
"Simpan wajah iba mu itu, Gani. Aku tak butuh kau mengasihani ku," ujar Rinda. Ia tak lagi memanggil Gani dengan embel-embel 'mas' seperti dulu.
Mas adalah panggilan hormat yang ia tujukan kepada Gani sebagai suaminya. Namun Rinda sekarang tak perlu melakukan itu karena Gani bukan pria yang perlu dihormati olehnya.
"Rin, kamu kenapa jadi dingin seperti ini? A-aku masih suami kamu Rind. Kamu nggak seharusnya begini?"
Air muka Gani semakin gelap. Wajahnya memelas, seolah dia adalah korban dari istri yang berselingkuh dengan berondong.
Rinda hanya menyunggingkan senyum menanggapi tingkah Gani yang penuh kepura-puraan itu. Bagi Rinda semua rasa cinta miliknya kepada Gani telah sirna seiring kecelakaan malam itu.
"Jex, mari kita berangkat," ajak Rinda.
"Dengan senang hati, My Lady," jawan Jexen.
Gani mengepalkan tangannya, karena tangannya tak diterima, kini Gani meraih tangan Rinda dan menariknya dengan sedikit kasar.
"Apa-apaan kamu ini Gani!"
Rinda menatap dengan tatapan tidak suka. Ia berusaha menarik tangannya, namun tangan Gani terlalu kuat.
"Lepas!" ucap Jexen pelan tapi tegas. Matanya menatap tajam ke arah Gani.
Gani tetap bergeming. Dia tidak peduli dengan Jexen. Baginya berondong itu bukanlah siapa-siapa di sini, dia hanya orang lain.
"Rinda, kamu kenapa jad seperti ini. Kamu tak acuh padaku? Aku ini masih suamimu," ucap Gani dengan menarik tangan Rinda lagi agar mendekat padanya.
Beruntung ada Jexen yang langsung berdiri diantara mereka berdua sehingga Rinda dan Gani tetap berjarak.
"Minggir kamu," tukas Gani. Ia terganggu dengan keberadaan Jexen. pandangannya dari Rinda jadi terhalang gara-gara anak ini.
"Lepas aku bilang. Nona ku tak ingin kamu menyentuhnya. Jadi, lepaskan. Atau aku panggilkan polisi atas tuduhan pelecehan."
"Hahaha pelecehan? Dia istriku, aku bebas melakukan apa saja kepadanya."
Rahang Jexen mengeras, matanya juga memerah. Ingin sekali dia melayangkan pukulan ke wajah pria itu, tapi Jexen menahan dengan sangat baik niatnya. Ia tak ingin Rinda terkena masalah.
"Istrimu, ya memang benar istrimu. Tapi jika aku menolak, itu bisa dianggap pelecehan. Lagi pula Gani, bukankah kamu masih punya istri lagi. Sana bermain lah dengan istrimu yang satu. Bukankah kalan sudah sering melakukannya, bahkan sebelum menikah. Atau jangan-jangan, kalian melakukannya jauh sebelumnya."
Rinda menyeringai, apalagi wajah Gani tiba-tiba memucat dan pegangan tangannya terlepas begitu saja.
Rinda mengusap pergelangan tangannya yang sedikit merah. Dia lalu melenggang pergi meninggalkan Gani yang masih berdiri terpaku dan terkejut dengan apa yang baru saja Rinda katakan.
Saat kembali sadar, Gani berlari ke luar rumah, ia ingin mengejar Rinda, tapi istrinya sudah pergi bersama degan Jexen.
"Rinda!!"
Suara Gani begtu keras, membuat semua orang yang mendengar langsung menghampirinya, salah satunya adalah Teani.
"Kamu kenapa Gani?" tanya Teani. Dari tadi ada keributan antara Rinda dan Gani, tapi Teani baru muncul saat ini.
Menghindar, atau tidak mau terlibat? Keduanya memiliki makna yang kurang lebih sama, hanya saja berbeda penyebutan.
"Minggir!"
Gani menepis tangan Teani yang menggenggam lengannya. Dia juga mendorong Teani agar menjauh dari tubuhnya.
"Gan, apa-apaan kamu! Kenapa kamu kasar seperti ini. Kita, kita baru saja menikah kemarin. Kenapa kamu tiba-tiba bersikap tak acuh padaku?"
Teani menyipitkan matanya. Dia terkejut saat Gani mendorong tubuhnya. Selama ini Gani selalu bersikap lembut padanya. Tapi sekarang, pria itu menjadi begitu kasar.
Teani tak habis pikir dengan perubahan sikap Gani yang begitu cepat itu. Memang benar Rinda telah kembali, tapi Teani sangat tidak percaya Gani tega menampik tangannya.
"Cukup Teani, aku capek. Pernikahan kita, aku sudah mantab untuk membatalkannya."
Gani bicara tanpa ragu, sorot matanya terlihat begitu yakin membuat Teani terpaku sejenak. Tubuh wanita itu mendadak kaku dengan keputusan tiba-tiba Gani.
"Tidak! Tidak bisa! Aku tidak mau. Kita sudah menikah dengan sah. Kita sudah melakukan itu bahkan jauh sebelumnya, dan kamu mau meninggalkan aku begitu saja? Jahat kamu Gan. Selama ini kamu menganggap ku apa hah? hanya pelampiasan hasrat mu begitu? Kamu yang tak puas dengan Rinda, lalu mencari ku. Dan sekarang saat Rinda kembali, kamu langsung mencampakkan aku begitu saja? Tidak, aku tidak mau!"
Urat di leher Teani menonjol semua. Nafasnya terengah-engah karena dia bicara tanpa jeda. Teani meluapkan rasa kesalnya kepada Gani yang sudah menumpuk sejak semalam.
"Terserah, tapi yang jelas aku tidak mau pisah sama Rinda," balas Gani. Dia melenggang pergi mencari Mbok Rah untuk bertanya dimana pakaiannya berada.
"Gani! Stop! jangan pergi, aku belum selesai bicara! Arghhhhh!!!!!"
Teani berteriak marah sambil menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Kemarahan yang meluap-luap itu membuat air matanya mengalir deras.
"Semua ini karena Rinda," ucapnya lirih dengan rahang yang mengeras. Teani mengeratkan gigi-giginya dengan kuat.
"Tea," panggil Nania lirih. Wanita paruh baya tersebut sejak tadi melihat perselisihan Teani dengan Gani. Tapi Nania memilih diam. Dia baru bicara setelah mereka mereda.
"Apa Ma, apalagi sekarang Ma. Dia mau membatalkan pernikahan kita. Dia mau mengakhiri pernikahan yang bahkan belum dimulai. Aku tidak mau Ma. Aku mencintainya, aku sangat mencintainya. Bahkan dalam waktu yang sudah cukup lama."
Teani tergugu. Dia menangis dalam pelukan Nania.
Usapan lembut Nania di kepala Teani membuat wanita itu merasa lebih tenang. Dan sebuah bisikannya juga semakin membuat Teani yakin bahwa dia tak akan kehilangan Gani meski pria itu gigih ingin berpisah.
"Benar, itu adalah benar Ma. Aku yakin dia akan tetap jad milikku."
TBC