Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : SUAMI DATANG
Pukul 19.00 WIB. Hotel Luminor Sidoarjo.
Bintang sengaja memilih lobby hotel untuk tanda tangan MoU. Profesional, terang, banyak CCTV. Bukan di kamar, bukan di tempat sepi. Dia tahu betul batasan seorang istri, meski suaminya sedang sibuk dengan janda anak satu di Surabaya.
"Maaf ya Pak Devan, saya undang ke hotel. File MoU-nya baru selesai saya print di business center. Biar sekalian sah," kata Bintang dengan blazer hitam, sudah berbeda dengan yang tadi dipakainya di gudang, tapi kini rambutnya sudah terurai rapi. Wangi kayu di gudang tadi sudah berganti wangi parfum soft yang elegan.
Devan datang dengan kemeja kotak-kotak bersih yang paling bagus yang ia punya. Masih ada sisa serbuk kayu tipis di ujung sepatunya yang ia lap berkali-kali sebelum masuk hotel bintang 4 itu.
Grogi.
"Tidak apa-apa Bu Bintang. Saya yang terima kasih, Ibu sudah percaya sama saya," jawab Devan tulus.
Dua materai 10 ribu ditempel. Dua tanda tangan. Bintang Kejora yang tegas, dan Devan Pradipa yang tangan kapalnya sedikit bergetar saat tanda tangan.
TTD DONE.
"Alhamdulillah," ucap Bintang lega. MoU 350jt untuk 40 set kitchen set. Ini adalah proyek mandiri pertamanya tanpa embel-embel nama Angkasa. Jika berhasil, ia bisa membuktikan pada Bu Ratna dan Bu Lilis bahwa ia bukan sekadar sekretaris yang nempel terus di belakang Dirut.
"Bu Bintang, sebagai rasa terima kasih... boleh saya traktir makan malam? Di restoran hotel ini saja. Saya janji tidak lama. Anggap saja syukuran kerja sama," tawar Devan dengan sopan, menunduk.
Ia tahu diri, tidak berani menatap Bintang terlalu lama.
Bintang melirik jam. 19.30. Perutnya memang kosong seharian hanya audit. Dan merayakan kerja sama di restoran hotel adalah hal yang wajar dalam bisnis.
"Boleh. Tapi saya yang traktir ya. Kan saya dari kantor pusat," jawab Bintang sambil tersenyum. Senyum tulus pertama setelah 3 hari.
Mereka pun pindah ke restoran hotel di lantai 1. Meja dekat kaca, diterangi lampu temaram. Devan memesan ayam bakar, Bintang memesan sop buntut. Mereka bicara soal desain kitchen set, soal tren warna sage green yang lagi laku. Obrolan mengalir. Bintang tertawa kecil saat Devan cerita bagaimana dulu ia pernah salah ukur lemari sampai tidak muat masuk pintu rumah klien.
Untuk sesaat, Bintang lupa tentang mobil dingin, tentang Damar, tentang Bu Ratna yang membentaknya.
Di luar restoran, sebuah Alphard hitam berhenti mendadak. Angkasa datang. Dia tidak ada di Surabaya.
Sejak melihat foto Bintang dan Devan yang dikirim Mandor Anggara ke grup, dadanya terbakar. Tanpa pikir panjang, ia menyetir 45 menit dari Surabaya ke Sidoarjo. Tidak telepon, tidak chat. Hanya satu tujuan: memastikan Bintang baik-baik saja. Dan yang ia lihat dari kaca restoran adalah Bintang tertawa. Tertawa yang sudah lama tidak ia lihat. Tertawa di depan pria lain. Pria brewok, dengan tangan kapalan yang tadi siang ia lihat di foto.
Langkah Angkasa membeku di depan pintu restoran.
Bintang yang pertama kali melihatnya.Tawa Bintang berhenti seketika. Sendok di tangannya jatuh ke piring.
"Sa...?" Devan menoleh. Ia melihat seorang pria tinggi, tampan, memakai kemeja hitam mahal, tatapannya tajam menusuk langsung ke arahnya. Aura Dirut. Aura suami. Angkasa masuk. Tidak marah meledak-ledak. Ia terlalu elegan untuk itu. Ia berjalan pelan ke meja Bintang, menarik kursi kosong dan duduk.
Tidak permisi.
"Selamat malam. Saya Angkasa. Suaminya Bintang," kata Angkasa dingin, mengulurkan tangan ke Devan. Jabatannya keras. Devan langsung berdiri, panik dan sangat sopan.
"Selamat malam Pak. Saya Devan. Rekan bisnis Bu Bintang. Maaf Pak, kami baru saja selesai tanda tangan MoU untuk proyek kitchen set." Angkasa tidak menjawab Devan.
Matanya hanya tertuju pada Bintang.
"MoU 350jt tanpa sepengetahuan Dirut? Hebat kamu, Bintang," kata Angkasa lirih. Suaranya pelan tapi menyakitkan.
Bintang menahan napas. Inilah yang ia takutkan. Dicap tidak mandiri salah, mandiri juga salah.
"Pak Dirut, saya bisa jelaskan. Saya sudah email laporannya. Proyek ini akan menyelamatkan cabang Sidoarjo yang rugi. Saya tidak pakai uang pribadi Bapak, saya pakai kas cabang yang memang menganggur," jawab Bintang profesional, tapi matanya mulai berkaca-kaca. Suasana restoran menjadi canggung. Beberapa tamu mulai melirik.
Devan merasa tidak enak. Ia tahu diri.
"Baik kalau begitu, Bu Bintang, Pak Angkasa. Saya permisi dulu. Terima kasih untuk makan malamnya Bu. Saya akan mulai kerjakan besok pagi, untuk progres akan saya kirimkan secara berkala pada ibu."Devan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Bintang dan Angkasa berdua di meja yang masih penuh makanan.
Hening.
Hanya suara musik restoran yang terdengar.
"Jadi ini alasan kamu dinas? Cari pengganti saya yang bisa bikin kitchen set?" tanya Angkasa akhirnya.
Kata-katanya cemburu, kekanak-kanakan. Jauh dari sosok Dirut yang biasanya bijak.
Bintang menatap Angkasa.
Kecewa.
"Sa... Kamu pikir aku se-murah itu?" tanya Bintang pelan. Air matanya jatuh satu tetes.
"Aku dinas karena aku capek di rumah terus dibilang istri tidak pengertian. Aku di sini kerja, Sa. Bukan... bukan seperti yang kamu pikirkan." Angkasa melihat air mata Bintang.
Dadanya langsung menyesal. Ia mengulurkan tangan ingin menghapus air mata itu.
Tapi Bintang berdiri.
"MoU-nya sudah sah Pak Dirut. Laporan lengkapnya ada di kamar saya nomor 312. Silakan di audit kalau Bapak tidak percaya sama istri sendiri," kata Bintang dingin. Ia kembali memanggil Angkasa dengan sebutan 'Pak Dirut'.
Lalu ia pergi meninggalkan restoran, meninggalkan Angkasa sendirian di meja makan bersama dua piring yang belum habis..
Di kamar 312, Bintang mengunci pintu dan menangis. Bukan karena MoU-nya ditolak, tapi karena tawa tulusnya yang pertama dalam 3 hari itu harus berakhir seperti ini. Dan di restoran, Angkasa menatap punggung Devan yang sudah menghilang di parkiran, lalu menatap bon makan malam di mejanya.Terima kasih untuk makan malamnya Bu.Tulisan tangan Devan di bon itu rapi. Sederhana. Tidak genit seperti Mentari. Untuk pertama kalinya, Angkasa merasa... dia yang kalah jauh dari tukang kayu itu.
Bersambung...