Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.
Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.
Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Gugatan Resmi Tiba
Cahaya matahari yang menusuk celah dinding kayu kontrakan memaksa Bagas untuk membuka matanya yang terasa sangat berat. Rasa nyeri di sekujur tubuhnya akibat tidur di atas lantai semen yang dingin dan lembap membuatnya mengerang pelan. Ia menyapu pandangan ke sekeliling ruangan yang kini tampak semakin sempit karena tumpukan barang yang tidak terurus.
Ibu Melati masih berbaring meringkuk di sudut, napasnya terdengar tidak teratur seolah ia sedang mengalami mimpi buruk yang panjang. Di sisi lain, Siska sudah terbangun, namun ia hanya duduk melamun dengan rambut yang kusut masai dan tatapan kosong yang menghujam ke lantai. Tidak ada lagi sisa-sisa kemewahan yang dulu mereka banggakan, yang tersisa hanyalah aroma debu dan keputusasaan yang kental.
"Sudah pagi," gumam Bagas dengan suara yang terdengar serak seperti gesekan amplas.
Ia berusaha bangkit dan menopang berat tubuhnya dengan satu tangan di dinding yang kasar. Bagas meraba kantung celananya, berharap ada satu lembar uang kertas yang tertinggal, namun tangannya hanya merasakan kain kosong yang halus dan mengejek.
Siska menoleh perlahan ke arah kakaknya dengan sorot mata yang penuh kebencian. Ia tidak lagi memiliki energi untuk berteriak atau memaki seperti malam sebelumnya, tetapi kehancuran mentalnya justru terlihat jauh lebih mengerikan.
"Apa kau benar-benar akan pergi ke proyek itu sekarang?" tanya Siska dengan nada yang nyaris tidak terdengar.
Bagas tidak segera menjawab, ia sibuk membenahi kerah kemejanya yang sudah kusut dan berdebu. Ia tahu bahwa penampilannya saat ini adalah gambaran paling jujur dari harga dirinya yang telah hancur lebur di hadapan Laras.
"Tidak ada pilihan lain, Siska," jawab Bagas sambil berjalan menuju pintu kayu yang sudah mulai lapuk. "Kalau kita tidak makan hari ini, mungkin besok kita sudah tidak punya tenaga untuk sekadar berdiri."
Ibu Melati perlahan membuka matanya, ia mendengar percakapan kedua anaknya dengan perasaan yang tercabik-cabik. Ia berusaha duduk meski pinggangnya terasa kaku akibat usia yang mulai menua dan beban hidup yang menekan.
"Bagas, tunggu," panggil Ibu Melati dengan suara yang parau.
Bagas menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, namun ia enggan berbalik untuk menatap ibunya. Ia masih menyimpan amarah yang terpendam di balik punggungnya yang tegang.
"Ada apa lagi, Bu?" tanya Bagas dingin.
"Apa kau tidak bisa mencoba meminjam uang pada teman kantormu yang dulu?" tanya Ibu Melati penuh harap. "Mungkin saja mereka masih segan padamu."
Bagas tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat kering dan menyakitkan telinga. Ia menoleh sedikit, menatap ibunya dengan tatapan mata yang menyimpan ribuan penyesalan yang terlambat.
"Ibu masih belum paham?" tanya Bagas dengan penekanan di setiap katanya. "Dunia ini sudah tidak mengenal Bagas Pratama si manajer sukses, yang ada hanyalah Bagas Pratama si pecundang yang diusir dari rumahnya sendiri."
Siska membuang muka, ia merasa muak dengan kenyataan yang terus-menerus diulang oleh kakaknya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tidak stabil karena lapar yang mulai menyerang perutnya.
"Pergilah, Mas," ucap Siska dengan nada dingin. "Kalau kau tidak berhasil membawa uang, lebih baik kau jangan kembali ke sini."
Bagas tidak menanggapi perkataan adiknya, ia segera membuka pintu kontrakan dan melangkah keluar menuju jalanan gang yang sempit dan becek. Udara pagi yang lembap menerpa wajahnya, membawa aroma sampah dan asap kendaraan yang mulai memenuhi suasana kota.
Ia berjalan tertatih-tatih di sepanjang gang, menghindari tatapan mata beberapa tetangga yang sempat meliriknya dengan curiga. Bagas tahu mereka pasti sudah mendengar kabar tentang kejatuhannya yang sangat memalukan ini.
Setelah menempuh perjalanan kaki selama setengah jam, ia sampai di sebuah lokasi pembangunan gedung besar yang terletak di pinggiran kota. Suara bising mesin molen dan teriakan para pekerja memenuhi udara di sana, menciptakan suasana yang sangat asing bagi pria yang terbiasa duduk di kursi empuk kantor ber-AC.
Bagas menghampiri seorang pria bertubuh kekar yang mengenakan helm proyek berwarna kuning terang. Pria itu adalah sang mandor yang sedang sibuk memeriksa tumpukan semen yang baru saja diturunkan dari truk.
"Permisi, Pak," sapa Bagas dengan nada yang berusaha ia buat sehormat mungkin.
Mandor itu berhenti sejenak, ia menatap Bagas dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sorot mata yang tajam dan merendahkan. Ia melihat pakaian yang sudah tidak rapi dan wajah yang tampak kelelahan.
"Mau apa kau di sini?" tanya mandor itu ketus.
Bagas menelan ludahnya yang terasa kering, ia mencoba membuang jauh-jauh rasa gengsinya demi sesuap nasi untuk ibu dan adiknya. Ia harus menekan egonya hingga titik terendah agar bisa bertahan.
"Saya dengar di sini sedang membutuhkan kuli angkut," jawab Bagas dengan suara yang berusaha teguh. "Saya ingin melamar menjadi pekerja di sini."
Mandor itu tertawa keras, sebuah tawa yang menarik perhatian beberapa pekerja lain di sekitar mereka. Mereka berhenti bekerja sejenak untuk menertawakan pria necis yang terlihat salah tempat ini.
"Kau?" tanya mandor itu sambil menunjuk dada Bagas dengan jari telunjuknya. "Lihat tanganmu yang halus itu. Kau pikir memindahkan sak semen itu pekerjaan main-main?"
Bagas mengepalkan tangannya dengan kuat, ia merasa darahnya mendidih mendengar penghinaan tersebut. Namun, ia segera menundukkan kepalanya, memaksa dirinya untuk tetap tenang dan pasrah.
"Saya akan bekerja keras, Pak," ucap Bagas memohon. "Saya punya tenaga, saya hanya perlu waktu untuk membiasakan diri."
Mandor itu terdiam sejenak, matanya meneliti wajah Bagas yang tampak putus asa namun memiliki tekad yang aneh. Ia mendesah panjang, lalu mengangguk singkat.
"Baiklah, angkut semen itu ke lantai dua," perintah mandor itu sambil menunjuk tumpukan sak semen yang cukup tinggi di sudut lapangan. "Kalau kau pingsan atau tidak sanggup, langsung pergi dari sini dan jangan pernah kembali."
Bagas segera bergegas menuju tumpukan sak semen tersebut tanpa berkata sepatah kata pun. Ia mulai mengangkat sak pertama yang terasa jauh lebih berat dari yang ia bayangkan sebelumnya.
Berat beban itu seolah menjadi simbol dari seluruh dosa dan kesalahannya selama tiga tahun terakhir ini. Bagas terhuyung saat melangkah, namun ia memaksa kakinya untuk terus bergerak naik melalui tangga kayu yang curam dan tidak stabil.
Di kejauhan, mungkin di belahan kota yang lain, Laras mungkin sedang menikmati sarapan pagi dengan tenang. Ia pasti sudah tidak lagi memikirkan tentang pria yang pernah menghancurkan hatinya itu.
Bagas terus menaiki anak tangga, setiap tetes keringat yang jatuh ke lantai beton adalah bayaran atas keserakahannya. Ia tidak lagi memikirkan masa depan atau kejayaan, yang ada di benaknya hanyalah cara untuk bisa bertahan hidup hingga matahari terbenam.
Waktu terasa berjalan sangat lambat, namun Bagas tidak berhenti meski otot-ototnya mulai berteriak kesakitan. Setiap kali ia berhasil sampai di lantai atas, ia akan kembali turun dengan tangan kosong untuk mengambil beban berikutnya.
Ia menyadari bahwa dunia memang tidak pernah memberikan belas kasihan pada mereka yang lupa cara menghargai kebaikan orang lain. Kini, di tengah debu bangunan dan kebisingan proyek, Bagas sedang belajar tentang arti kehilangan yang sesungguhnya.
Satu per satu sak semen ia pindahkan dengan seluruh sisa tenaganya, mengabaikan nyeri yang menusuk di tulang belakangnya. Ia bukanlah lagi Bagas Pratama sang manajer, melainkan seseorang yang harus bertarung untuk setiap detik kehidupan yang tersisa.
Matahari mulai meninggi, membakar kulitnya yang tidak terbiasa dengan paparan sinar matahari langsung. Namun, Bagas tidak mengeluh, ia hanya terus bergerak dengan irama yang kaku dan tersiksa.
Setiap gerakannya adalah sebuah pengakuan yang sunyi, sebuah permintaan maaf yang tidak akan pernah terdengar oleh Laras. Bagas sadar bahwa ia telah membuang permata demi segenggam kerikil yang kini pun telah hilang dari genggamannya.
Saat ia meletakkan sak terakhir di lantai atas, Bagas terduduk lemas dengan napas yang memburu. Ia menatap ke langit yang cerah di atas gedung, merasa sangat kecil dan tidak berarti di bawah luasnya cakrawala.
Hari ini adalah awal dari hari-hari panjang penuh penderitaan yang harus ia jalani. Bagas menutup matanya sejenak, membiarkan kelelahan meresap ke dalam jiwanya, sementara bayangan rumah, fasilitas, dan kehidupan yang nyaman perlahan memudar dari ingatannya.
Ia akhirnya mengerti bahwa kesombongan hanya akan membawa seseorang pada keruntuhan yang paling dalam. Bagas Pratama telah kalah total, dan kini, ia harus memulai hidupnya dari titik nol yang paling sunyi.