NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.

Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.

Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.

Balapan liar, berkelahi, membolos.

Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.

Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.

Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"

Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...

Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.

Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Setelah kehadiran Alena dirumah mewah itu kini ada banyak aturan yang sebelumnya tidak pernah ada aturan termasuk jam makan malam,tepat jam 19.30 semua orang harus berkumpul untuk makan malam.

Di ruang makan yang luas dengan lampu gantung kristal dan jendela besar yang menghadap taman belakang rumah megah itu, Sean sudah duduk dengan hoodie hitam kebesarannya. Di seberangnya, Aditya dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, menatap jam tangan Rolex-nya dengan raut dingin.

Piring-piring sudah tersaji rapi oleh Chef Junaedi. Steak wagyu, mashed potato, dan salad segar. Tapi kursi di ujung meja masih kosong.

Kursi Alena.

Chef Junaedi, pria paruh baya yang sudah 15 tahun bekerja di rumah Pondok Indah itu, berdiri gugup di dekat pintu dapur yang mengarah ke taman.

Sean mengerutkan kening, menatap kursi kosong itu. "Chef, kemana dia ?" tanya Sean mencari ibu tirinya.

Aditya tidak mengangkat kepala, tapi sendok di tangannya berhenti di udara. Telinganya jelas mendengarkan dengan seksama. Sejak tadi matanya beberapa kali melirik ke arah tangga marmer yang menuju ke kamar-kamar di lantai dua dibangunan megah miliknya itu.

"Tuan Muda Sean," Chef Junaedi menunduk hormat. "Nyonya Alena tadi berpesan... beliau tidak turun untuk makan malam malam ini. Beliau hanya minta saya menyiapkan makan malam untuk Tuan Aditya dan Tuan Muda Sean saja."

Sean langsung bersandar di kursinya. "Kenapa? Sakit?"

"Katanya... sedikit lelah, Tuan Muda. Badannya pegal-pegal.

Aditya diam-diam mendengarkan ucapan chef Junaidi namun ia tetap bersikap acuh.

Hening seketika menyelimuti ruang makan,tak ada suara apapun lagi selain suara sendok dan garpu yang beradu.

Sean menatap kosong ke arah tangga. Ada rasa aneh di dadanya. Sejak kemarin, sejak wanita berjilbab itu dengan santainya balapan motor di jalanan komplek Pondok Indah dan mengalahkannya, otaknya terus memikirkan Alena. Wanita itu ternyata tidak seperti ibu-ibu sosialita Pondok Indah yang biasanya ia lihat.

"Asisten rumah tangga baru kok malah manja sih," gumam Sean, tapi nada suaranya tidak setajam biasanya. Lebih seperti... kecewa karena tidak melihat Alena.

Aditya tidak menjawab. Ia memotong steaknya dengan gerakan pelan tapi rahangnya mengeras. Lelah? Baru beberapa hari menikah, baru sekali balapan motor sebentar sudah lelah? Apa ini trik wanita itu untuk mencari perhatian?

Padahal di dalam hatinya, Aditya justru khawatir. Sangat khawatir. Sejak Maghrib, Alena tidak terlihat keluar dari kamarnya. Rendra melapor kalau Alena masuk kamar setelah dari taman dan tidak lagi keluar sampai jam makan malam.

Tapi Aditya Pradana tidak boleh terlihat peduli. Tidak pada pernikahan kontrak ini. Tidak pada wanita yang ia nikahi hanya demi Sean.

"Jika dia tidak mau makan, biarkan saja," ucap Aditya akhirnya, dingin. "Jangan biasakan dimanja.Habiskan makananmu, Sean!."

Sean mendengus, tapi tetap makan. Namun makan malam itu terasa hambar. Tidak ada suara Alena yang biasanya meski lembut tapi menenangkan. Tidak ada aroma parfum vanilla-nya yang samar yang biasanya mengisi ruang makan itu.

Setelah makan malam selesai, Sean langsung naik ke kamarnya di lantai dua sambil membanting pintu. Aditya masih duduk sendiri di ruang makan yang luas itu, menatap kursi kosong Alena.

Dengan gerakan cepat, ia mengambil ponselnya dan mengetik pesan.

*[Aditya: Rendra, cari tahu kenapa Alena tidak turun makan malam.]*

Lima menit kemudian, balasan masuk.

*[Rendra: Baik, Pak Aditya.]*

Aditya masuk ke ruang kerjanya yang ada di lantai satu. Ia mencoba fokus pada laporan keuangan perusahaannya, tapi angka-angka itu berloncatan tidak karuan. Bayangan Alena yang pucat, Alena yang memegangi pinggangnya setelah balapan motor di jalanan kemarin, terus muncul di kepalanya.

Setengah jam kemudian, Rendra mengetuk pintu ruang kerja dengan pelan.

"Masuk."

Rendra masuk dengan wajah sedikit menahan senyum geli. "Pak, saya sudah tanya ke Mbak Siti yang tadi mengantar teh hangat ke kamar Nyonya di lantai dua."

"Terus? Apa katanya?"

"Nyonya Alena... sepertinya badannya pegal-pegal semua, Pak. Kata Mbak Siti, Nyonya bilang sudah lama tidak olahraga berat. Kemarin kan habis balapan motor sama Tuan Muda Sean Jadi ototnya kram semua ditambah dia juga main futsal jadi beliau memutuskan untuk istirahat saja.

Aditya diam. "Jadi karena itu?"

Mendadak ada rasa bersalah yang menusuk hatinya. Tapi juga... ada rasa hangat yang aneh yang belum pernah ia rasakan selama tinggal satu rumah dengannya.

"Dia makan?" tanya Aditya, suaranya lebih pelan dan tidak sedingin tadi.

"Belum, Pak. Katanya tidak nafsu makan. Mungkin masih lelah."

Aditya mengangguk pelan. Rendra paham, ia langsung keluar dari ruang kerja dan kembali ke paviliun staf di belakang.

Jam menunjukkan pukul 22.30. Suasana rumah megah itu sudah senyam dan hening. Semua lampu taman sudah menyala temaram.

Lorong lantai dua rumah mewah itu juga sepi. Hanya lampu tidur yang menyala redup. Aditya berdiri di depan pintu kamar Alena. Pintu kayu jati berwarna putih itu tertutup rapat. Sudah beberapa hari menikah dan tinggal bersama ini pertama kalinya ia berdiri di depan kamar istrinya sendiri dengan jantung berdebar.

Ia mengetuk pelan. Tok... tok... tok...

Dari dalam terdengar suara kaget Alena. "Siapa?"

"Saya. Aditya."

Hening beberapa detik. Lalu terdengar langkah kaki tergesa dan sedikit terpincang karena pegal. Pintu dibuka.

Alena berdiri di sana. Hijabnya sudah dilepas, rambutnya terurai indah dan gamis tidur panjang berwarna sage yang longgar dan anggun. Wajahnya pucat, tanpa make up, tapi tetap cantik mempesona. Matanya membelalak kaget melihat Aditya berdiri di depan kamarnya di rumah Pondok Indah ini.

Untuk pertama kalinya setelah menikah, Aditya masuk ke dalam kamarnya.

Kamar itu wangi vanilla dan melati, sangat berbeda dengan kamar Aditya yang beraroma kayu. Rapi, bersih, ada sajadah terlipat di sudut dan Al-Qur'an di atas meja nakas dekat jendela yang menghadap ke taman.

Alena mematung di dekat pintu, pikirannya kalang kabut.

"Ya Allah, kenapa dia kesini jam segini,Kenapa dia masuk kamarku? Akankah... akankah dia meminta haknya sebagai seorang suami? Ah ngawur saja kamu Alena! Ini kan pernikahan kontrak.Buang jauh-jauh fikiran itu Alena!" Gumamnya dalam hati.

Pipi Alena terlihat memerah padam.

Aditya melihat Alena mematung, ia berdeham untuk menutupi kegugupannya. Ia harus mencari alasan agar tidak terlihat khawatir.

"Jadi ini saja kemampuanmu?" Aditya mulai dengan nada dinginnya yang khas, menyilangkan tangan di dada. "Baru beberapa hari sudah seperti ini? Pucat, tidak turun makan malam, bermanja-manja di kamar? Apa kamu sudah menyerah menghadapi Sean?"

Alena yang tadinya gugup, langsung tersulut emosinya mendengar itu.

"Apa kamu kesini hanya untuk mengejek saya?!" Alena mendengus kesal, rasa takutnya hilang diganti amarah. Ia memegangi pinggangnya yang masih pegal. "Enak saja kamu bilang menyerah!"

Aditya mengangkat alis. "Lalu apa namanya? Bagaimana kamu bisa menghadapi Sean selama 3 bulan kalau baru begini saja sudah tumbang? Saya ragu."

Itu hanya alasan Aditya. Alasan bodoh untuk bisa menemui dan berbicara dengan Alena.

Alena melangkah maju, menatap Aditya dengan berani. "Dengar ya, Tuan Aditya Pradana saya pastikan, dalam satu bulan, Sean akan memanggil saya Bunda! Bukan tiga bulan! Satu bulan!"

Aditya terkejut. "Jangan sombong, Alena."

" Kita lihat saja nanti." ucap Alena dengan sombongnya.

Aditya terdiam,

" Kenapa anda meragukan saya?"

Aditya terdiam dan Ia berbalik menuju pintu. Sebelum keluar dari kamar ia berhenti tanpa menoleh.

"Chef Junaedi membuat bubur ayam. Saya suruh antar ke kamarmu dan makanlah selagi hangat. Jangan sampai besok kamu tidak bisa bangun."

Pintu tertutup.

Alena menyentuh dadanya yang berdebar kencang. Malam itu, untuk pertama kalinya, sikap Aditya terasa hangat.

Bersambung..

1
Atha Diyuta
trimakasih kk😊
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Atha Diyuta
Karya terbaruku bantu ramaikan teman-teman ☺️☺️
Atha Diyuta: oke siap ka diperbaiki trimakasih kk ☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!