NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Tangisan Tuan Muda dan Ketegasan Tanpa Kompromi

Suasana di meja privat bagian belakang kedai kopi Kopi Sunyi terasa makin mencekam. Kartu nama bergaris emas atas nama Bimo Wira Perkasa masih tergeletak di tengah meja marmer dingin, menjadi saksi bisu terbongkarnya skenario penyamaran yang dibangun konyol oleh Bimo dan Dewa. Nadia Nugroho masih duduk anggun dengan bahu tegap, matanya yang tajam menembus bola mata Bimo yang berkaca-kaca. Di samping Nadia, Rina berdiri sigap seraya menggenggam erat dokumen kerja, menatap Bimo dengan raut muka campuran antara heran dan sangat risih.

Bimo yang merasa posisinya sudah benar-benar terdesak mendadak memajukan tubuhnya. Kedua tangannya tertangkup rapat di atas meja, menyatukan jemarinya yang gemetaran dalam posisi memohon yang amat dramatis.

"Bu Nadia... tolonglah Bu Nadia, saya mohon banget!" rengek Bimo dengan nada suara melengking dan napas tersengal-sengal. "Tolong cancel saja rencana pernikahan ini! Tolong, Bu! Saya benar-benar belum siap nikah, apalagi sama Bu Nadia yang... yang..."

"Yang apa?" potong Nadia dingin, menaikkan sebelah alisnya. "Lanjutkan kalimatmu, Bimo."

Bimo menelan ludah dengan susah payah, menggeser posisi duduknya yang makin canggung. "Maksud saya... Bu Nadia kan sangat berwibawa, sukses, pinter, sedangkan saya ini cuma laki-laki santai yang sukanya main. Kita enggak bakalan cocok, Bu! Nggak bakal bahagia pernikahan kita!"

Rina yang berdiri di sebelah Nadia menyilangkan tangannya di dada, menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah absurd pria gempal berkaos kusam di depannya. "Mas Bimo, kelakuan Mas ini bikin geli tahu nggak? Mas ini tuan muda anak pemilik perusahaan besar, tapi kok merengek-rengek kayak anak SD minta dibeliin mainan di depan bos saya?"

"Lho, Mbak Rina jangan ikut-ikutan dong!" sahut Bimo tidak terima, matanya melotot panik ke arah Rina. "Ini masalah hidup dan mati saya, Mbak! Mbak enggak tahu rasanya dipaksa nikah sama cewek yang tatapannya kayak mau memotong leher orang!"

Nadia mengetukkan jemarinya di atas meja dengan ritme teratur. TUK! TUK! TUK! Suara ketukan itu seketika membungkam mulut Bimo.

"Sudah bicaranya?" tanya Nadia datar, tanpa ada setitik pun simpati di raut wajahnya. "Kamu pikir pernikahan ini cuma urusan main-main antara kamu dan saya?"

"Ya memang bukan main-main, makanya saya minta dibatalkan sekarang juga!" ceracau Bimo lagi, kali ini hampir menghentakkan kakinya ke lantai seperti anak kecil yang sedang tantrum. "Bu Nadia kan cantik, kaya raya, bisa dapat calon suami pengusaha hebat mana saja! Kenapa harus maksa nikah sama Bimo Wira Perkasa sih?! Batalkan saja perjanjian konyol itu, Bu! Anggap saja kita enggak pernah ketemu!"

"Enak banget Mas Bimo ngomong," timpal Rina dengan nada menyindir. "Habis nyuruh orang lain nyamar di kencan perjodohan, memalsukan tanda tangan surat kesepakatan nikah, sekarang dengan gampangnya minta dibatalin gitu aja? Mas kira keluarga Nugroho bisa dipermainkan sama akting murahan Mas dan sahabat Mas itu?"

Bimo meraup wajahnya kasar, rambutnya makin berantakan. "Aduh, Mbak Rina, saya kan sudah minta maaf! Saya panik! Lagian yang Tanda Tangan Surat Pernikahan Kontrak satu tahun itu kan si Dewa, bukan saya! Berarti surat itu enggak sah secara hukum dong!"

Nadia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, mengulas senyum tipis yang terasa sangat dingin dan penuh intimidasi.

"Kamu pikir saya peduli siapa yang Tanda Tangan surat itu di Kafe Merah?" ucap Nadia dengan nada tenang namun mematikan. "Surat itu bertuliskan nama Bimo Wira Perkasa, dengan stempel kesepakatan dan saksi di atas kertas formal. Dan sekarang, saya sudah memegang bukti bahwa kamu adalah Bimo yang asli."

"Tapi yang Tanda Tangan itu Dewa, Bu Nadia! Dewa!" teriak Bimo frustasi, menunjuk-nunjuk dadanya sendiri. "Saya enggak pernah nyentuh pulpen itu! Batalin dong, Bu! Tolonglah... saya janji bakal bujuk Papa saya buat bayar ganti rugi apa saja deh, asal pernikahan ini ditiadakan!"

Nadia memajukan tubuhnya, menatap Bimo tepat di manik matanya dengan ketegasan mutlak yang membekukan udara di sekitar meja.

"Dengarkan saya baik-baik, Bimo," tegas Nadia, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang sangat jelas. "Saya tidak akan pernah meng-cancel pernikahan ini. Keputusan saya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat."

Bimo melotot tegang, mukanya yang tadinya memerah kini mendadak pucat kembali. "K-kenapa, Bu Nadia?! Kenapa enggak mau dibatalin?! Bu Nadia kan tahu ini semua cuma skenario palsu!"

Nadia mengembuskan napas halus, memoles tatapan matanya menjadi kian tajam. "Karena Kakek saya—pendiri Nugroho Group yang sedang terbaring sakit—sudah mendengar kabar perjodohan ini dua hari lalu. Beliau sangat bahagia. Dan kemarin sore, Kakek sudah terlanjur mengumumkan berita pernikahan antara cucu tunggalnya dengan Bimo Wira Perkasa dari Wira Perkasa Group ke seluruh media nasional dan relasi bisnis raksasa kita!"

DEGG!

Pernyataan Nadia bagaikan palu godam yang menghantam dada Bimo hingga tak berbekas. Bimo tersandar kaku di kursinya, mulutnya terbuka sedikit tanpa sanggup mengeluarkan patah kata pun.

Rina melipat dokumennya, menatap Bimo dengan pandangan serius. "Mas Bimo paham kan konsekuensinya? Berita pernikahan ini sudah tersebar di jajaran saham eksekutif dan pers. Kalau sampai pernikahan ini dibatalkan secara sepihak hanya gara-gara tingkah konyol Mas Bimo, saham Nugroho Group dan Wira Perkasa Group bakal anjlok seketika!"

"Bukan cuma itu," lanjut Nadia dengan suara pelan yang amat menakutkan. "Kalau pernikahan ini batal karena kebohongan konyol yang kamu ciptakan bersama sahabatmu itu, saya pastikan detik ini juga seluruh investasi Nugroho Group di perusahaan ayahmu ditarik total. Wira Perkasa Group akan bangkrut dalam hitungan hari, dan keluarga kamu harus menanggung denda penalti puluhan miliar rupiah yang akan membocorkan seluruh asetmu."

Bimo gemetaran hebat. Air mata keputusasaan benar-benar menetes di pipinya. "T-tapi Bu Nadia... saya enggak cinta sama Bu Nadia... saya takut..."

"Pernikahan ini adalah bisnis dan kewajiban, Bimo. Saya tidak butuh cintamu," pangkas Nadia tanpa belas kasihan. "Acara pernikahan dan penandatanganan berkas resmi akan tetap berjalan minggu depan sesuai jadwal. Kamu cukup datang, berdiri rapi memakai jas, dan jangan coba-coba bikin ulah lagi kalau tidak mau melihat keluarga kamu hancur."

Nadia tetap duduk di kursinya seraya menyilangkan tangan di dada, memandangi Bimo yang tertunduk lesu dan putus asa di seberang meja.

"Satu hal lagi, Bimo," ucap Nadia seraya memperbaiki posisi duduknya tanpa ada niat sedikit pun untuk beranjak dari kedai kopi. "Jangan sekali-kali kamu memberi tahu sahabatmu—si 'Dewa' alias Arga itu—bahwa saya sudah tahu rahasia penyamaran kalian."

Bimo mendongak pelan dengan tatapan kosong dan keputusasaan yang kentara. "M-maksud Bu Nadia?"

Nadia mengulas senyum misterius yang penuh perhitungan, jemarinya mengelus tepi cangkir di mejanya. "Biarkan sahabatmu itu tetap berpikir penyamarannya dengan masker hitam di kantor saya berjalan mulus. Saya sendiri yang akan mengurus Satpam bermasker itu dengan cara saya sendiri."

Di meja privat belakang kedai kopi yang sepi itu, Nadia dan Rina masih bertahan duduk bergeming, membiarkan Bimo tenggelam sendirian dalam rawa keputusasaan yang teramat dalam. Kedua tangan Bimo mencengkeram kepalanya yang terasa mau pecah. Seluruh celah pelarian yang ia impikan sejak pagi telah tertutup rapat oleh ketegasan mutlak Nadia Nugroho, sementara Nadia tetap berada di dalam kedai, menikmati kemenangan mutlaknya atas penyamaran konyol tersebut.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!