NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membalikkan Laras Senjata

Aris mempererat cengkeramannya pada leher pria cepak, memaksanya meringis menahan sakit. Pandangan matanya yang setajam elang menyapu jajaran polisi di balik jip dinas.

"Siapa yang memimpin operasi ini?!" bentak Aris. "Suruh komandan kalian maju tanpa senjata, atau perisai hidup ini akan saya pulangkan dalam peti mati!"

Suasana di gang dermaga pelabuhan lama menjadi sangat sunyi, hanya diiringi latar belakang suara radio Bramantyo yang masih terus mengudara membongkar borok balai kota.

Setelah beberapa detik yang menegangkan, seorang pria bertubuh gempal dengan seragam perwira keluar dari balik kap mobil paling depan. Dia adalah Ajun Komisaris Wijaya, Kepala Sektor Selatan.

Dia mengangkat kedua tangannya yang kosong ke udara. "Tahan tembakan!" perintah Wijaya pada anak buahnya, lalu berjalan mendekati teras klinik hingga jarak mereka tersisa lima meter.

"Aris, sudahlah. Kau tidak bisa memenangkan ini sendirian. Seluruh balai kota sudah bergerak untuk menutup kasus ini."

"Aku tidak sendirian, Wijaya. Seluruh Kota Marunda sedang mendengarkan radio sekarang," sahut Aris. "Kalian datang ke sini bukan untuk menegakkan hukum, tapi untuk memusnahkan bukti atas perintah Wali Kota. Katakan padaku, siapa penghubung langsung antara balai kota dan pasukan eksekutor bentukan Ir. Anwar ini?!"

Wijaya melirik ke arah pria cepak yang menjadi sandera, lalu kembali menatap jalan keluar yang buntu. Dia tahu, dengan siaran radio yang menyebar luas, menutupi konspirasi ini adalah hal yang sia-sia.

Pengaruh Wali Kota akan runtuh sebelum fajar.

"Bukan Wali Kota yang berbicara langsung pada kami, Aris," bisik Wijaya, mencoba bernegosiasi agar namanya tidak disebut di radio.

"Penghubung rahasianya adalah Sekretaris Kota, Drs. Mulya. Dia yang memegang kendali atas aliran dana proyek tanah merah dan dia juga yang mengatur kunci cadangan untuk Kamar 204 di Hotel Marunda Indah."

Nama baru mencuat ke permukaan, menyingkap lapisan konspirasi Makar di Balai Kota Marunda yang kian menggurita. Kunci kuningan tua di sakunya kini memiliki makna yang jauh lebih besar. Kamar 204 bukan sekadar tempat pelarian Anwar, melainkan pusat komando logistik hitam milik Sekretaris Kota.

Aris tersenyum, posisi Wijaya yang sudah goyah secara psikologis adalah celah terbaik untuk membalikkan keadaan. Cengkeramannya pada pria cepak di depannya tidak mengendur sedikit pun.

"Kau mendengar siaran radio itu, Wijaya," desis Aris,"Sebelum matahari terbit, tim khusus dari Polda atau bahkan Mabes pasti akan turun ke Marunda setelah makar ini menyebar luas.

Pangkat dan jabatanmu tidak akan selamat jika kau tetap berdiri di barisan Sekretaris Kota."

"Lalu... apa maumu, Aris?"

"Balikkan pasokan senjatamu. Perintahkan anak buahmu untuk menutup area dermaga ini dari intervensi luar. Kau dan jajaran Sektor Selatan sekarang bertugas mengawal evakuasi Januar dan Dokter Lukas menuju markas utama Polres kota," perintah Aris tanpa bantahan. "Jadilah polisi yang benar malam ini, atau namamu akan menjadi bab berikutnya yang dibacakan Bramantyo di radio!"

Wijaya terdiam, dia melirik para anak buahnya, lalu mengambil keputusan tercepat untuk menyelamatkan karier dan nyawanya sendiri. Wijaya berbalik melihat pasukannya.

"Semuanya, turunkan senjata! Ubah formasi! Pasang barikade di gerbang luar dermaga! Tidak ada satu pun kendaraan sipil atau dinas luar yang boleh masuk tanpa izin saya!"

Perintahnya tegas melalui megafon. Para polisi Sektor Selatan segera bergerak taktis, membalikkan arah jip mereka untuk menutup jalur gang. Aris mendorong pria cepak itu ke arah Wijaya agar segera diborgol dan diamankan ke dalam mobil tahanan.

Aris kembali masuk ke dalam klinik, mendapati Dokter Lukas yang sudah selesai merapikan peralatan medis darurat di samping ranjang Januar.

"Dok, Wijaya sudah memihak kita untuk sementara. Bawa Januar ke markas utama sekarang menggunakan mobil jip mereka. Di sana lebih aman dari jangkauan pembunuh bayaran Drs. Mulya."

Aris meraba kantong jaket kulitnya, menggenggam kunci kuningan tua Kamar 204 yang dingin.

Tugasnya di dermaga lama telah usai, namun pusat komando hitam di Hotel Marunda Indah kini menunggunya tanpa perlindungan pasukan.

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!