NovelToon NovelToon
Abi Baik, Abi Gak Jahat

Abi Baik, Abi Gak Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:637
Nilai: 5
Nama Author: Eritasyofia

Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Bukti

Suara pintu yang terbanting keras masih menyisakan dengung di ruangan kerja Rangga. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, napasnya memburu dengan pelipis yang bersimbah keringat dingin. Waktu yang dimilikinya tidak banyak. Viona bukan tipe wanita yang hanya menggertak sambal, jika ia berkata akan memeriksa CCTV, dalam hitungan jam koneksinya di restoran itu pasti sudah bergerak.

​Dengan jemari yang sedikit gemetar, Rangga meraih ponselnya dari atas meja. Ia menelusuri daftar kontak hingga menemukan nama Pak Hartono, pemilik restoran tempat kejadian mematikan itu berlangsung, sekaligus mitra bisnis strategis yang proyeknya baru saja diteken bulan lalu.

​Panggilan pertama dialihkan. Rangga mengumpat pelan dalam hati. Pada panggilan kedua, suara berat Hartono akhirnya terdengar di ujung telepon.

​"Halo, Pak Rangga? Ada apa nih? Tumben telepon jam segini, biasanya lewat sekertaris," sapa Hartono santai.

​"Pak Hartono, mohon maaf mengganggu waktunya. Ini... ini ada hal yang sangat mendesak,"

potong Rangga tanpa basa-basi, berusaha menyembunyikan getar dalam suaranya.

​"Mendesak? Ada masalah dengan draf kerja sama kita?"

nada suara Hartono berubah menjadi agak serius.

​"Bukan, Pak. Bukan soal proyek,"

Rangga menarik napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.

"Ini soal hal pribadi yang sayangnya berpotensi berimbas besar pada bisnis kita. Saya butuh bantuan Anda sekarang juga. Sangat butuh."

​Di ujung telepon, hening sejenak sebelum Hartono terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana.

"Soal pribadi? Jangan bilang soal heboh-heboh di restoran ? Anak-anak staf saya sempat cerita ada yang lihat kamu makan siang sama..."

​"Pak Hartono, tolong,"

potong Rangga cepat, nadanya setengah memohon.

"Istri saya, Viona, sedang dalam perjalanan menuju restoran Anda. Dia bermaksud meminta akses rekaman CCTV jam makan siang dia hari lalu."

​Hartono terdiam. Sebagai pengusaha kawakan, ia langsung menangkap gawatnya situasi ini.

 "Lalu, apa yang bapak mau saya lakukan?"

​"Tolong hapus atau amankan rekaman CCTV di area meja pojok antara jam satu sampai jam tiga siang dia hari lalu . Kalau Viona datang dan memaksa, tolong katakan sistem CCTV restoran sedang rusak atau dalam pemeliharaan. Saya mohon, Pak. Jika Viona melihat isi rekaman itu, bukan cuma rumah tangga saya yang hancur, tapi nama baik saya dan kelangsungan proyek kita bisa ikut runtuh."

​Suara di balik telepon terdengar mendesah berat. Hartono tahu betul siapa Viona dan seberapa besar pengaruh keluarga wanita itu di dunia bisnis. Menolak permintaan Viona bisa berisiko, namun merusak hubungan dengan Rangga yang memegang proyek jutaan dolar juga bukan pilihan bijak.

​"Rangga, kamu tahu kan sistem keamanan di sana dipegang tim IT profesional? Menghapus rekaman tertentu butuh prosedur."

​"Saya akan tanggung semua kerugian atau biaya teknisnya, Pak! Apapun itu. Tolong, beri saya waktu untuk menyelesaikan kekacauan ini secara personal sebelum Viona menghancurkan segalanya,"

bisik Rangga penuh penekanan.

​Hening berlanjut selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian bagi Rangga.

​"Baik,"

akhirnya Hartono bersuara, nadanya tegas.

 "Saya akan hubungi manajer operasional di sana sekarang. Saya perintahkan mereka untuk mematikan server rekaman hari ini dengan alasan gangguan jaringan. Tapi ingat, pak Rangga... ini cuma menahan Viona sebentar. Kalau dia pakai jalur hukum atau orang dalam restoran, saya tidak bisa menahannya lebih lama."

​"Terima kasih banyak, Pak Hartono. Saya hutang budi besar pada Anda,"

ucap Rangga lega, meski beban di dadanya belum sepenuhnya terangkat.

​Sambungan telepon terputus. Rangga menatap layar ponselnya yang redup, lalu teringat pada Winta. Wanita itu telah mematikan ponselnya, berlari dari kenyataan yang kini siap melumat mereka berdua.

​Rangga bangkit dari kursinya, menyambar jas dan kunci mobilnya. Ia tahu Viona akan tertahan di restoran untuk beberapa saat karena ulah Hartono, dan jeda waktu yang sempit itu harus ia gunakan untuk menyembunyikan Winta sebelum Viona menemukan jejak wanita itu lewat jalur lain.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!