Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shock : 27
Dalam ruangan serba putih, terdapat lemari kaca penuh deretan buku, dan barisan berkas — Helyara duduk disebuah kursi. Posturnya tegak, sesekali terlihat dadanya sedikit membusung guna menarik napas gugup. Kedua tangan bertautan, kuku jari pendek menekan kulit telapak empuk.
Dia tidak sendirian, sang pengacara menemani duduk disebelahnya. Berjarak, tak saling bersentuhan.
Seorang petugas laboratorium masuk keruangan dengan membawa dua amplop putih berlogo. Menyapa ramah, lalu duduk di depan wanita terlihat gugup. Mereka terhalang sebuah meja kerja.
“Nyonya Helyara Utomo, ini hasilnya. Silahkan dibuka dulu, nanti saya jelaskan apabila ada yang sulit dimengerti.” Ia mendorong amplop.
Getaran samar terlihat oleh dua pasang mata memperhatikan jemari menarik kertas berlogo nama laboratorium.
Pertama yang di sobek ujungnya amplop tes darah. Helya menahan napas, dapat didengar olehnya degup jantung tak seirama detak jarum jam, lebih cepat.
Setiap susuan kata dibaca saksama sampai penglihatan memburam. Dia tidak begitu mengerti tentang keterangan tertera, tetapi ada satu nama jenis obat dikenalnya tertulis di atas kertas dengan huruf tebal.
Gelombang kejut bak aliran listrik bertegangan rendah menyengat tubuh duduk kaku.
Melihat keterdiaman Helyara, perlahan wajahnya memucat, petugas laboratorium pun menawarkan diri.
“Amplop satu lagi silahkan dibuka, Nyonya. Dari keterangan disini, sepertinya masih berkaitan,” katanya menjaga intonasi tetap ramah.
Helya seperti berada di dunia lain, tidak merespon titah, dan diam saja seolah tak mendengar.
Abi Sakta mengambil alih, memberikan amplop ke petugas.
Diambilnya air putih tersedia diatas meja dalam botol kemasan kecil. “Minumlah dulu!”
Helyara lupa mengucapkan terima kasih. Suara menyedot minuman berbunyi cukup nyaring, bukan dikarenakan kehausan tetapi kecemasan sulit dikendalikan sampai kakinya menggigil.
Mereka memberi waktu bagi wanita sudah menangis tanpa suara, sampai beberapa saat setelahnya anggukan Helyara ditanggapi oleh petugas.
“Hasil tes darah menyatakan jika di dalam tubuh Anda terdapat zat yang memicu beberapa efek samping seperti; kenaikan berat badan, disfungsi seksual, gangguan gula darah, perubahan suasana hati secara tiba-tiba, dan memicu serangan panik, kecemasan berlebihan.”
Suara itu bak gemuruh angin ribut berkekuatan besar, berputar-putar di kepala Helyara, efeknya ke sekujur badan lemas, air mata berlinang.
“Lanjutkan, Bu,” suaranya berupa bisikan. Kedua tangan menekan ujung meja.
“Nyonya Helyara Utomo, obat antidepresan yang Anda konsumsi dalam jangka panjang sudah di tahap mengkhawatirkan. Harus segera ditangani oleh ahli medis supaya efek sampingnya bisa diobati,” ungkapnya prihatin.
“Saya, saya … hanya dua bulan mengkonsumsi obat depresi, itu pun enam tahun lalu ketika tidak bisa menerima kepergian kedua orang tua, dan adik saya begitu tiba-tiba. Sesudahnya berhenti total,” suaranya lemah, badan sepenuhnya bersandar pada kepala kursi lipat.
Seketika petugas laboratorium terdiam, keningnya mengernyit, lalu mengangguk-angguk mulai paham jika wanita shock berat ini sepertinya menjalani kehidupan bersama orang jahat.
“Disini juga diterangkan, jika penggunaan obat anti depresi pernah dihentikan secara tiba-tiba, dan efeknya membuat Anda sering mual, pusing, kinerja jantung tidak normal, dan organ penting lainnya bekerja dua kali lipat dari sebelumnya.”
Bibir Helya bergerak-gerak, tetapi gagal mengeluarkan suara. Otaknya buntu, banyaknya praduga membuatnya pusing.
“Hasil tes satu lagi …?” kalimat lirih Helya tidak terselesaikan, menggantung.
Wanita memakai kemeja polos, celana panjang, membetulkan letak kacamata bacanya. Kertas digenggam pada bagian tepian, dan ia mulai menjabarkan dengan nada lebih rendah, seolah menahan amarah.
“Cairan tersebut adalah zat psikoaktif golongan halusinogen — memicu penglihatan atau sensasi yang terasa sangat nyata di dalam pikiran namun tidak ada di dunia nyata. Halusinasi,” pelan-pelan dia menjelaskan.
“Menyebabkan lonjakan emosi yang intens, baik euforia mendalam maupun kecemasan, mempengaruhi kondisi mental. Obat ini sangat berbahaya, dan tidak diedarkan secara legal, termasuk dalam golongan narkotika,” imbunya.
“Apa, apa obat tersebut sudah merusak organ vital saya, Bu? Atau sejauh mana kerusakan disebabkan zat berbahaya itu?” Helya meremas-remas tisu yang diberikan Sakta sebagai pengalihan rasa cemas.
“Belum, Nyonya. Zat berbahaya itu baru sekali disuntikkan ke tubuh Anda, dan dilakukan belum lama ini. Sebaiknya segera memeriksakan diri ke rumah sakit, agar mendapatkan penanganan tepat,” usulnya prihatin.
“Bolehkah saya bertanya, Bu?” pinta Sakta.
“Silahkan.”
“Dari penjelasan Anda barusan, saya dapat menyimpulkan, apa mungkin si pemberi obat antidepresi paham tentang zat-zat kimia yang terkandung pada pil dan sebagainya?” ia menyimpulkan jika entah siapa itu mengetahui dunia medis.
“Kemungkinan ada dua, Pak … pertama, bisa jadi si pemberi berkonsultasi dulu dengan ahli medis secara berkala sebelum mencekoki nyonya Helyara. Atau, dia termasuk orang kesehatan,” opsinya masuk akal.
Sang pengacara mengangguk, pemikirannya dan petugas laboratorium berjalan searah, sama. Dia mengambil lagi tisu di dalam kotak kardus di atas meja, dan diulurkan ke Helyara tanpa menatapnya.
Helya menyambar tisu tersebut, mengelap air mata yang terus menerus berguguran.
“Berarti dalam darah saya sama sekali tidak terdapat obat penyubur kandungan ya, Bu?” suaranya serak, sepasang bola mata berair, memerah.
“Tidak ada, Nyonya,” sahutnya berempati.
Tisu sudah kusut, lembab dilebarkan dan digunakan menutupi wajah. Tangis Helya tak terbendung, terdengar memenuhi ruangan.
Beberapa menit pun terlewati, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tangan Helya terlipat di atas meja, wajahnya bersembunyi di sana. “Jika tubuh saya terus-terusan menerima obat berbahaya itu, apa mungkin bisa menyebabkan kegilaan, Bu?”
Petugas laboratorium menepuk siku wanita yang menangis tersedu-sedu.
“Tujuannya memang kesana, Nyonya. Sebaiknya Anda langsung ke rumah sakit, nanti ahli medis pasti bisa mengobati. Ini bisa dikatakan belum terlambat meskipun membutuhkan waktu untuk penyembuhan.”
“Terima kasih banyak, Bu.” Sakta menyalami tangan wanita ditaksir berumur empat puluhan tahun.
Ketika Helya berdiri, badannya limbung, pandangan berputar-putar.
Sakta melingkari pinggang wanita yang menyandarkan kepala di lengan atasnya. Menarik tas tangan, dan mengambil kunci mobil berada di bagian atas tas tidak ditutup.
“Bu, jika suatu saat nanti kami membutuhkan pengakuan, kejujuran Anda di ruang sidang, apa bersedia?” tanya Sakta sebelum benar-benar keluar. Tadi, dia merekam semua percakapan barusan.
“Atas nama kemanusiaan, saya siap bersaksi, Pak,” pelupuk matanya mengenang, tidak tega melihat wajah pucat pasi Helyara.
Abi Sakta mengucapkan terima kasih, lalu dia memapah kliennya, bersama mereka berjalan pelan-pelan keluar dari dari ruangan, terus lurus sampai teras.
Security sangat sigap, pintar membaca situasi, membantu membukakan pintu mobil yang sudah lebih dulu pengunci otomatis jendela ditekan menggunakan remote.
Helya tidak sadar sudah duduk di jok depan. Sabuk pengaman pun terpasang di tubuhnya — dia melamun, lalu menangis, kemudian tertawa kecil.
“Sebaiknya kita ke rumah sakit besar, periksa ke dokter spesialis kandungan.”
.
.
Bersambung.
kamar kita???
helllooowwwwww