NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terpaksa Pindah ke Kontrakan Sempit

Matahari semakin tinggi, membakar punggung mereka tanpa ampun. Laras berdiri di seberang jalan, tubuhnya tersembunyi di balik kaca mobil mewah yang ia kendarai sendiri. Dari balik kemudi, ia memperhatikan tiga sosok yang berjalan lunglai menjauh dari kontrakan sempit di gang itu. Bagas memikul tas kain besar yang tampak koyak di beberapa bagian. Ibu Melati mengikuti di belakang, jalannya tertatih, sesekali menyeka keringat dan air mata yang bercampur debu di wajahnya yang mulai keriput.

Siska tampak yang paling terpukul. Gadis itu tidak lagi memegang ponselnya dengan gaya angkuh. Ia berjalan sambil menunduk, bahunya terguncang hebat oleh isak tangis yang tertahan. Mereka tampak seperti sekumpulan pengungsi yang kehilangan arah, benar-benar jauh dari gambaran keluarga terpandang yang dulu sering memamerkan perhiasan dan gaya hidup mewah di depan Laras.

Laras mengembuskan napas panjang. Ia tidak merasakan kepuasan yang meledak-ledak, melainkan hanya rasa hampa yang dingin. Baginya, pemandangan ini adalah hasil logis dari tindakan mereka sendiri. Ia menutup kaca mobil dan memacu kendaraannya pergi dari kawasan padat tersebut, membiarkan masa lalunya lenyap ditelan debu jalanan.

Sementara itu, Bagas menghentikan langkahnya di bawah naungan pohon peneduh yang rindang di pinggir jalan raya. Ia menjatuhkan beban di pundaknya ke tanah dengan suara debuman keras. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak seolah oksigen di kota ini tidak lagi cukup untuk menghidupi dirinya. Ia menatap ke arah lalu lalang kendaraan dengan pandangan kosong.

"Kita sudah tidak punya apa-apa lagi, Bagas," ucap Ibu Melati dengan suara serak yang memilukan. "Bahkan sendok dan piring kesayanganku tertinggal di kontrakan itu. Kenapa semuanya jadi begini?"

Bagas menoleh perlahan ke arah ibunya. Ia ingin marah, ia ingin berteriak menyalahkan keadaan, namun suaranya tersangkut di tenggorokan. Ia melihat kerutan di dahi ibunya yang semakin dalam, dan untuk pertama kalinya, ia merasa sangat bersalah.

"Aku akan mencari tempat berteduh sementara, Bu," jawab Bagas dengan nada yang dipaksakan tenang. "Aku masih punya sisa uang sedikit di dompet. Mungkin cukup untuk sewa kamar harian di daerah pinggiran."

Siska yang berdiri di samping mereka langsung memotong pembicaraan dengan nada sinis meski matanya sembap. Ia menendang tas kain milik Bagas dengan ujung sepatunya yang sudah kusam.

"Kamar harian? Kamu pikir itu cukup?" teriak Siska dengan nada meninggi. "Kita butuh tempat tinggal tetap! Aku tidak mau terus-terusan diusir seperti gelandangan. Harusnya dulu kita tidak mengusir Laras dari rumah, lihat apa akibatnya sekarang!"

Bagas merasakan urat di pelipisnya menegang mendengar nama Laras disebut. Ia merasa seolah ada belati yang menghujam jantungnya setiap kali seseorang mengingatkannya pada mantan istrinya itu.

"Jangan pernah sebut nama perempuan itu di depanku lagi!" bentak Bagas sambil mencengkeram kerah bajunya sendiri dengan frustrasi. "Dia yang memulai semua ini dengan memutus semua akses keuanganku. Dia yang membuat kita jatuh miskin!"

Ibu Melati terdiam, ia menatap anaknya dengan tatapan penuh kebencian sekaligus kasihan. Ia ingat bagaimana dulu ia sering menghina Laras sebagai orang yang tidak berguna. Sekarang, saat roda nasib berputar, ia baru menyadari bahwa Laras adalah tiang penyangga yang menjaga kenyamanan mereka selama ini.

"Laras tidak memutus apa pun kalau kamu tidak memulainya dengan kesombongan itu, Bagas," desah Ibu Melati lemah. "Kita terlalu sering menginjak harga dirinya, sampai akhirnya dia sendiri yang memutuskan untuk berhenti menjadi bodoh."

Siska mendengus keras, ia melipat tangannya di dada dengan posisi defensif. Ia menatap ibunya dengan tatapan tidak suka, lalu beralih menatap jalanan yang panas di depan mereka.

"Sudahlah, percuma saja menyesal sekarang," kata Siska dingin. "Yang perlu kita lakukan sekarang adalah mencari cara untuk bertahan hidup tanpa bantuan siapa pun. Bagas, cepatlah pergi cari tempat sewa itu. Aku sudah tidak tahan berdiri di bawah terik matahari ini."

Bagas memungut kembali tasnya dengan gerakan kasar. Ia merasa lelah secara fisik dan mental. Ia tidak memiliki visi, tidak memiliki rencana, dan tidak memiliki sisa harga diri untuk meminta bantuan kepada teman-temannya yang dulu selalu ia banggakan.

"Ayo," ajak Bagas singkat. "Kita akan berjalan ke arah utara. Di sana ada kawasan industri, mungkin ada rumah warga yang mau disewa dengan harga murah."

Mereka kembali melangkah di atas trotoar yang retak. Di sepanjang jalan, Siska terus mengeluh tentang sepatunya yang tidak nyaman dan panasnya cuaca. Ibu Melati sesekali berhenti untuk mengatur napas, tubuhnya yang gemuk memang tidak terbiasa berjalan jauh di bawah terik matahari.

Bagas memimpin di depan, matanya menatap tajam ke arah gedung-gedung bertingkat di kejauhan. Di sanalah ia dulu bekerja sebagai eksekutif, di sanalah ia pernah memegang kendali atas banyak hal. Sekarang, ia hanyalah seorang pria tanpa masa depan yang sedang menyeret keluarganya menuju jurang kemiskinan yang lebih dalam.

"Kak, apa kita harus benar-benar meninggalkan kota ini jika tidak ada yang mau menampung kita?" tanya Siska tiba-tiba dengan suara yang mulai melunak, diwarnai rasa takut yang nyata.

Bagas berhenti melangkah. Ia menatap adiknya sejenak sebelum membuang pandang ke arah cakrawala. Pertanyaan itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang panjang dan menyesakkan di antara mereka.

"Jika memang tidak ada tempat bagi kita di sini," jawab Bagas pelan, "mungkin kita harus kembali ke desa. Kita jual apa yang tersisa, lalu menetap di rumah panggung tua milik kakek."

Ibu Melati tersentak mendengar kata desa. Baginya, kembali ke desa adalah bentuk kekalahan mutlak. Ia sudah bertahun-tahun membangun citra sebagai orang kota yang sukses, dan kembali sebagai orang miskin adalah mimpi buruk yang lebih menyakitkan daripada kematian.

"Tidak! Ibu tidak mau ke desa!" teriak Ibu Melati sambil memegang lengan Bagas dengan kuat. "Di sana tidak ada apa-apa, Bagas! Kita akan mati konyol di rumah panggung yang reot itu!"

Bagas menatap ibunya dengan lelah. Ia tidak memiliki argumen lagi untuk menenangkan wanita tua di depannya itu. Ia hanya bisa menghela napas panjang, sebuah helaan yang sarat dengan kekalahan.

"Lalu Ibu mau kita melakukan apa?" tanya Bagas sambil menatap tajam ke arah ibunya. "Tidur di jalanan? Menjadi pengemis di lampu merah? Pilihannya sudah sangat sedikit, Bu."

Ibu Melati terdiam, air mata kembali membasahi pipinya yang kusam. Ia menunduk, tidak berani menatap mata anaknya. Siska pun hanya bisa memalingkan wajah, menahan gejolak emosi di dalam dadanya.

Mereka bertiga berdiri di pinggir jalan yang bising, terjepit di antara hiruk-pikuk kehidupan kota yang tidak peduli pada penderitaan mereka. Bagas menyadari bahwa kebanggaannya telah benar-benar hancur, terkikis oleh waktu dan realitas yang kejam.

Ia mulai berjalan lagi, menyeret kakinya yang terasa berat. Ia tidak tahu ke mana mereka akan pergi, namun ia tahu satu hal: hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Masa depan yang dulu ia bayangkan penuh dengan kejayaan, kini telah sirna, menyisakan reruntuhan yang harus ia pikul sendirian bersama ibu dan adiknya.

Matahari mulai condong ke barat, memberikan bayangan panjang dari tubuh mereka yang tampak kecil di tengah kota yang luas. Langkah mereka berlanjut, menjauh dari ingatan tentang kemewahan, menuju hari esok yang tidak pasti dan penuh dengan kepahitan. Bagas tetap berjalan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk menghadapi hari yang belum berakhir ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!