Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa
Dua tahun kemudian...
Angin pagi bertiup lembut menerpa pelataran sebuah warung kue kecil bercat putih bersih di sudut jalan desa pesisir. Aroma wangi pandan dan mentega segar menyeruak di udara, berpadu dengan kehangatan sinar matahari yang baru terbit dari balik ufuk timur.
"Ibu! Lihat! Bumi dapet kelereng banyak dari Paman Julian!"
Suara pekikan mungil dan nyaring memecahkan kesunyian pagi. Seorang balita laki-laki berusia dua tahun dengan pipi tembam kemerahan berlari-lari kecil melintasi teras warung. Kakinya yang gempal menghentak lantai kayu dengan riang, membawa sebuah kaleng kecil berisi kelereng warna-warni.
Wajah anak itu begitu bersih, tampan, dan memancarkan binar mata yang sangat tajam sebuah guratan garis wajah yang sangat mirip dengan seseorang di masa lalu.
Vivian keluar dari pintu dapur warung membawa tampah berisi kue basah yang masih mengepul hangat. Senyum manis yang tulus senyum yang dulu hilang bertahun-tahun,kini terkembang sempurna di wajah cantiknya yang makin segar dan berisi.
"Bumi, jangan lari-lari, Sayang... Nanti jatuh," tegur Vivian lembut. Suaranya terdengar begitu tenang, tanpa ada lagi jejak ketakutan atau raut trauma yang dulu membelenggunya.
"Nggak jatuh, Ibu! Bumi kan udah besar!" sahut balita itu riang seraya menepuk dadanya sendiri.
Dari ujung halaman, dr. Julian melangkah mendekat seraya menuntun sepedanya. Pria itu tertawa pelan melihat tingkah laku anak mungil itu.
"Anak jagoan Paman nggak boleh nakal, ya," panggil Julian seraya berlutut dan mengacak-acak rambut lebat Bumi dengan penuh kasih sayang.
Bumi langsung menghambur ke pelukan Julian, tertawa geli saat Julian menggendong tubuh mungilnya ke udara. "Paman Julian! Ayo main kelereng lagi!"
"Nanti sore ya, Jagoan. Paman mau bantu Ibu rapikan etalase kue dulu," balas Julian seraya menurunkan Bumi dengan sangat hati-hati.
Vivian menatap pemandangan itu dari ambang pintu. Dadanya mendadak dipenuhi rasa haru yang hangat.
Selama dua tahun ini, Julian tidak pernah memaksakan perasaan atau menuntut apa pun padanya. Dokter muda itu selalu berdiri sebagai benteng pelindung, menjadi sosok "paman" sekaligus figur pelindung yang teramat dicintai oleh Bumi.
Bagi Vivian, hidup sederhana dari hasil berjualan kue kecil-kecilan ini adalah keajaiban terbesar yang tak pernah dibayangkannya dulu. Dia telah menemukan kedamaian yang sesungguhnya kedamaian tanpa air mata dan tanpa hinaan.
"Mbak Vivian," sapa Julian lembut seraya menghampiri meja jualan. "Biar saya yang angkat tampah kue yang berat ke depan."
"Eh, tidak usah, Dok... Saya bisa sendiri," tolak Vivian halus dengan perasaan tak enak hati.
Julian tersenyum hangat, menggeleng pelan. "Mbak Vivian lupa? Tugas saya di sini kan memastikan Mbak dan Bumi tidak kecapekan."
Tatapan mata Julian yang tulus membuat Vivian menunduk malu seraya tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya setelah kehancuran masa lalunya... hati Vivian merasakan getaran ketenangan yang begitu menyejukkan.
Namun, di tempat lain yang sangat jauh dari kedamaian itu...
Gedung pencakar langit Revandhana Corp berdiri megah di pusat ibu kota.
Di dalam ruang kerja direktur utama yang sangat luas dan mewah di lantai paling atas, gorden tebal sengaja ditutup rapat. Ruangan itu gelap, dingin, dan beraroma alkohol yang sangat pekat.
Radhit duduk menyandar di kursi kebesarannya.
Pria yang dulu selalu tampil sempurna dan angkuh itu... kini tampak bagaikan bangkai bernapas.
Kemeja mewahnya kusut dan terbuka di bagian dada, matanya cekung dan memerah dipenuhi serat-serat darah, serta rahangnya ditumbuhi cambang tipis tak terurus.
Bisnisnya memang berada di puncak kejayaan. Uangnya makin melimpah tak terhitung. Namun, seluruh hartanya itu tak lebih dari tumpukan sampah yang tak mampu memberi hangat sedikit pun pada jiwanya yang telah mati.
Di atas meja kerjanya yang luas, terdapat puluhan foto-foto lama Vivian yang diambil secara diam-diam dulu, berpadu dengan lembaran diari lusuh milik Vivian yang selalu dibawanya ke mana pun dia pergi.
Radhit mengusap foto wajah tersenyum Vivian yang polos dengan jemarinya yang gemetar hebat.
Air mata kepedihan menetes perlahan dari pelupuk matanya yang lelah, membasahi kaca meja kerja yang dingin.
Dua tahun. Ratusan hari dan ribuan jam telah dilaluinya dalam penyiksaan rasa bersalah yang teramat dahsyat.
Tidak ada satu malam pun Radhit bisa memejamkan mata dengan tenang. Setiap kali dia mencoba tidur, rintihan Vivian yang pendarahan dan kalimat dari diarinya ("Maaf ya Mas udah ngerusak hidup Mas Radhit...") terus berdering gila membakar otak dan dadanya sampai dia harus meminum obat penenang dosis tinggi.
"Vivian..." bisik Radhit dengan suara yang sangat parau dan pecah.
Pria itu meremas dadanya yang terasa begitu remuk dan kosong. Rasa sepi yang luar biasa mencekik lehernya hingga dia tersengal-sengal mencari udara.
"Kamu di mana, Sayang..." isak Radhit meraung dalam kegelapan ruangan mewahnya. Pria paling berkuasa di perusahaan itu kini menangis bersujud di atas mejanya sendiri.
"Dua tahun saya hidup kayak mayat, Vivian... Tolong kembalilah... Hukumlah saya, siksalah saya... tapi tolong biarkan saya melihat kamu sekali saja..."
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu memecahkan raungan tangis Radhit.
Sekretaris pribadinya melangkah masuk dengan terburu-buru, membawa sebuah map dokumen tipis. Wajah sekretaris itu tampak sangat tegang.
"P-pak Radhit..." panggil sekretaris itu ragu-ragu. "Detektif utama yang Bapak sewa dari luar negeri... baru saja mengirimkan pembaruan sinyal keberadaan Ibu Vivian."
DEG.
Radhit berdiri mendadak dari duduknya hingga kursi mewahnya terdorong kasar dan jatuh ke lantai.
Napas Radhit tertahan. Pandangan matanya yang semula redup dan mati... mendadak membara oleh benturan harapan liar yang gila.
"Apa kamu bilang?!" cerca Radhit seraya mencengkeram kerah baju sekretarisnya dengan tangan bergetar hebat. "Katakan! Di mana istri saya?!"
Sekretaris itu menelan ludah dengan susah payah.
"Beliau... berada di sebuah desa pesisir di Jawa Tengah, Pak. Beliau membuka warung kue kecil..."
"Dan Pak..." sekretaris itu ragu-ragu melanjutkan. "Laporan terbaru menyebutkan bahwa Ibu Vivian... saat ini sedang membesarkan seorang anak laki-laki berusia dua tahun yang sangat mirip dengan Anda."
DUAR!
Dunia Radhit seketika bergetar hebat!
Bagaikan dihantam dentuman ribuan petir, seluruh darah di tubuh Radhit terasa mendidih seketika.
Anak laki-laki berusia dua tahun...
Darah dagingnya yang dulu dikutuknya... masih hidup!
Air mata bahagialah dan rasa tidak percaya meluap dahsyat dari mata Radhit. Tubuhnya bergetar dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Siapkan mobil..." peritah Radhit dengan suara yang bergetar penuh histeria dan desakan yang teramat sangat.
"SIAPKAN MOBIL DAN HELIKOPTER SEKARANG JUGA! SAYA MAU KE SANA DETIK INI JUGA!"
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian