NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14.Kedatangan putra mahkota.

Suara ayunan rotan terdengar nyaring, memecah keheningan yang menyelimuti halaman depan Keluarga Zhang.

"Satu!" seru pelayan pelaksana hukuman dengan suara gemetar.

Shi Yin mengerang keras, tubuhnya tersentak ke depan. Rasa perih yang membakar langsung merambat di punggungnya, membuat napasnya tercekat.

"Dua! Tiga! Empat! Lima!"

Setiap kali rotan turun, teriakan Shi Yin makin memilukan. Ia meronta di tangan dua pelayan yang menahannya agar tetap berlutut, air mata bercampur keringat mengalir deras di wajahnya.

"Ayah! Tolong, Ayah! Sakit sekali!" teriaknya sekuat tenaga, menoleh ke arah ayahnya dengan wajah basah oleh air mata. "Aku mohon ampuni aku! Aku tidak akan mengulanginya lagi! Percayalah padaku, Ayah!"

Tuan Zhang memejamkan mata, tangannya terkepal erat di sisi tubuh. Hatinya terasa diremas pilu, namun ia tidak berpaling. "Teruskan..." ucapnya pelan, suaranya bergetar. "Siapa yang salah harus menerima akibatnya."

"Aku menyesal! Ayah, kumohon hentikan ini!" Shi Yin menangis histeris, tubuhnya gemetar hebat. "Aku janji akan berubah! Jangan hukum aku seperti ini! Aku anak kesayangan Ayah, kan?"

Li Hua berdiri tak jauh dari sana, menatap pemandangan itu dengan wajah tenang. Di balik ketenangannya, rasa puas yang manis perlahan mengalir di hatinya — bukan karena kejam, melainkan karena akhirnya keadilan mulai terlihat. Ia menyadari apa yang dirasakan Shi Yin saat dirampas sesuatu yang berharga, saat diabaikan demi orang lain. Namun ia menyembunyikan perasaan itu sebaik mungkin, tidak membiarkan siapa pun melihatnya.

Rasain! , kamu pantas mendapatkannya karena kuserahkan mu. Melihatmu di pukul seperti itu, rasanya sedih,batin Li hua.

Li yun yang bisa mendengar suara hati Li hua, menoleh kearahnya dengan wajah Li hua dengan ekspresi bingung.

Bukankah, gadis ini menginginkan akhir seperti ini. Tapi mengapa dia merasa sedih, pasti ikatan persaudaraan yang kuat, batin Li yun.

Lalu Li yun mendengar suara hati Li hua sekali lagi, kenapa...dia harus dipukul dengan wajahku?, rasanya seperti melihat diriku yang disiksa, batin Li hua sambil memunculkan ekspresi yang tidak senang.

Li yun menahan tawanya, setelah mendengarkan isi hati Li hua.

Lalu Li hua menoleh ke arah ibunya yang menunduk menahan isak tangis, bahunya bergetar pelan.

"Ibu..." panggil Li Hua lembut, merangkul lengan wanita itu. "Mari kita masuk ke dalam. Tidak baik Ibu terus melihatnya seperti ini. Nanti Ibu sakit."

Nyonya Besar mengangguk pelan, menyeka air matanya dengan ujung kain. "Benar... mari, Bibi Niang."

Bibi Niang, pelayan pribadi Nyonya Besar yang berdiri di samping, segera menyangga lengan tuannya. "Mari, Nyonya. Udara di luar makin dingin."

Ketiganya berbalik perlahan, hendak melangkah menuju pintu utama. Namun baru beberapa langkah, suara gemuruh keributan terdengar dari arah gerbang luar.

"Putra Mahkota tiba!" seru penjaga gerbang dengan suara lantang dan gemetar hormat.

Langkah kaki mereka terhenti seketika. Semua kepala menoleh serentak ke arah gerbang besar yang terbuka lebar. Kereta kuda yang dihiasi lambang kerajaan berwarna emas meluncur masuk perlahan, berhenti tepat di halaman depan. Kuda-kuda yang menariknya tampak gagah, tertutup kain sutra berwarna keemasan.

Li Hua menahan napas. Jun Yi... batinnya. Dia datang.

Li yun yang mendengar suara hati Li hua, dia terkejut. Apa dia kenal dengan Jun yi?, batinnya.

Pintu kereta terbuka, dan sesosok pemuda melangkah turun. Ia tampak berwibawa dalam jubah kebesaran berwarna ungu tua yang dihiasi benang emas di ujung lengan dan kerahnya. Wajahnya rupawan, namun matanya tajam, menatap sekeliling dengan pandangan yang menilai segalanya. Inilah Jun Yi, Putra Mahkota Negeri Ye Lu.

Seluruh penghuni kediaman segera menunduk dalam, tak berani menatapnya langsung. Hanya Li Yun yang berdiri tegak, menatap lurus ke arah pemuda itu tanpa menunduk sedikit pun. Di matanya tidak ada rasa takut, hanya kewaspadaan yang tajam.

Jun Yi melangkah maju, langkahnya tenang namun berwibawa. Ia menatap ke arah kerumunan, lalu pandangannya tertuju pada Shi Yin yang masih berlutut di tanah, punggungnya terlihat memerah dan terluka.

Melihat itu, wajah Shi Yin berubah seketika. Rasa sakitnya seakan terlupakan sejenak. Harapan menyala di matanya. Dia datang! pikirnya girang. Putra Mahkota datang menyelamatkanku!

Dengan sisa tenaga yang ada, Shi Yin melepaskan cengkeraman pelayan yang menahannya, bangkit berdiri meski kakinya gemetar hebat. Ia berlari terhuyung-huyung menuju Jun Yi, wajahnya tersenyum di antara air mata, lalu menempelkan dirinya ke lengan pemuda itu dengan penuh keakraban.

"Putra Mahkota!" suaranya merayu, manja dan penuh kepasrahan. "Selamatkan aku! Kumohon, selamatkan aku!"

Jun Yi terdiam sejenak, menatap gadis yang memeluk lengannya itu. Ada rasa iba yang muncul di wajahnya melihat punggung Shi Yin yang terluka.

"Apa yang terjadi di sini?" tanyanya, suaranya rendah namun terdengar tegas ke seluruh penjuru halaman. "Siapa yang berani menyakiti putri Keluarga Zhang?"

Shi Yin mengeratkan pelukannya, menatap Jun Yi dengan tatapan memohon. "Itu dia... saudariku Li Hua... dan Pangeran Li Yun! Mereka menjebakku! Menuduhku mengambil barang yang tidak pernah kusentuh! Ayah percaya pada mereka dan menghukumku begitu! Kumohon, Putra Mahkota... tolong aku!"

Jun Yi mengerutkan kening, menatap ke arah Tuan Zhang yang masih berdiri kaku di tempatnya. Sebelum ia sempat bicara, sesosok gadis melangkah maju dari kerumunan.

"Ibu..." bisik Nyonya Besar berusaha menahan tangan putrinya. "Jangan, Li Hua..."

Namun Li Hua menggeleng pelan, melepaskan genggaman ibunya. Ia melangkah maju, berdiri tegak, lalu menunduk hormat sesuai aturan kerajaan — tidak terlalu rendah, tidak terlalu merendahkan diri.

Jun Yi menatapnya lekat-lekat. Matanya menyipit, seakan terpesona sejenak. Wajah gadis ini sama persis dengan Shi Yin, namun ada sesuatu yang berbeda — ketenangan, keanggunan yang alami, tatapan yang jernih dan jujur. Bahkan tanpa pakaian paling mewah, ia tampak memancarkan cahaya yang tidak dimiliki saudara kembarnya.

"Kau..." ucap Jun Yi pelan. "Apakah kau saudara kembar Shi Yin yang baru kembali?"

"Benar, Putra Mahkota," jawab Li Hua dengan suara yang tenang dan jelas, tidak bergetar sedikit pun. "Nama saya Li Hua. Saya memberanikan diri maju ke depan karena apa yang dikatakan Kakak Shi Yin tidak sepenuhnya benar."

Jun Yi mengangkat alisnya. "Lalu apa yang sebenarnya terjadi?"

"Kakak Shi Yin dihukum karena ditemukan bukti yang jelas, Putra Mahkota," ucap Li Hua mantap. "Lencana identitas Pangeran Li Yun ditemukan tersembunyi di kamarnya. Selain itu, gelang giok merah pemberian Ibu kepadaku juga dirampas dan disimpan di tempat yang sama. Jika itu sekadar gelang, mungkin tidak terlalu penting. Tapi lencana Pangeran Li Yun adalah lambang identitas seorang Pangeran dari negeri sekutu. Jika hilang atau jatuh ke tangan yang salah, bisa memicu kesalahpahaman besar antara dua negeri."

Li Hua menatap lurus ke mata Jun Yi, tidak menghindar. "Ayah menjatuhkan hukuman itu bukan tanpa alasan, Putra Mahkota. Justru Ayah melakukan ini demi menjaga kedamaian dan kehormatan keluarga, serta demi menjaga hubungan baik dengan Negeri Tang Liang. Bagaimanapun juga, Pangeran Li Yun berada di sini atas persetujuan Kerajaan Ye Lu. Jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, atau jika barang penting miliknya hilang di sini, Kaisar pasti akan marah. Dan itu tidak akan menguntungkan siapa pun."

Jun Yi terdiam. Kata-kata Li Hua masuk akal. Ia melirik ke arah Li Yun yang masih berdiri diam menatapnya. Jika ia membela Shi Yin sekarang, bukan hanya akan merusak wibawanya sebagai Putra Mahkota yang bijaksana, melainkan juga bisa memancing kemarahan ayahnya, Kaisar. Demi kedamaian kerajaan, ia tidak bisa membiarkan urusan ini menjadi lebih rumit.

Perlahan Jun Yi melepaskan pelukan tangan Shi Yin dari lengannya.

"Shi Yin..." ucapnya pelan namun tegas. "Ada bukti yang memberatkanmu. Keputusan Ayahmu sudah tepat. Jalani hukumanmu."

Wajah Shi Yin pucat seketika. Ia menatap Jun Yi tak percaya. "Tapi... Putra Mahkota... aku..."

"Sudah cukup," potong Jun Yi lembut namun tegas. "Lakukan apa yang dikatakan Ayahmu."

Tuan Zhang segera melangkah maju, menunduk hormat. "Terima kasih atas kebijaksanaan Putra Mahkota. Izinkan hamba mengantar Putra Mahkota masuk ke dalam aula."

Jun Yi mengangguk. "Mari,ada yang aku bicarakan."

Ia berjalan masuk ke kediaman Keluarga Zhang diiringi Tuan Zhang, Li Yun, dan Nyonya Besar yang berjalan di belakang. Li Hua ikut melangkah masuk, namun sebelum itu ia sempat menoleh sekilas ke arah kakaknya.

Shi Yin ditinggalkan sendirian di halaman, kakinya lemas tak bertenaga. Pelayan segera mendekat untuk menariknya kembali ke tempat hukuman.

"Tidak! Jangan bawa aku kembali!" teriak Shi Yin meronta, menatap pintu utama yang perlahan tertutup. "Putra Mahkota! Kembalilah! Tolong aku! Li Hua... Li Yun... kalian semua jahat! Aku tidak akan memaafkan kalian!"

Teriakannya memudar seiring pintu besar yang tertutup rapat, menyisakan ia sendirian di halaman yang mulai terasa dingin.

Di dalam aula utama, suasana hening dan penuh penghormatan. Jun Yi duduk di kursi kehormatan, menatap ke arah Li Hua yang berdiri tenang di antara keluarganya. Ia teringat wajah gadis itu tadi — tenang, jujur, dan tegas. Tidak seperti Shi Yin yang selalu mencari perhatian dengan tangisan dan rayuan.

Dia berbeda... batin Jun Yi perlahan, jika saja Shi yin memiliki setengah sifatnya, dia akan sempurna.

​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!