NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Langkah Pertama di Gedung Megah

Pagi masih sangat kabut ketika Arga melangkah keluar dari kontrakan sempitnya. Seragam baru berwarna krem bersih dengan celana panjang hitam menempel pas di tubuhnya yang tegap. Di bagian dada sebelah kanan, papan nama berbahan mika hitam mengkilap bertuliskan "ARGA D." terpajang rapi. Sepatu pantofel hitam yang baru disemir kilap memantulkan cahaya lampu jalan yang belum sepenuhnya padam.

Sepeda motor tuanya menderu membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan. Berdasarkan lembar penempatan tugas yang diterima dari Yayasan Garuda Mandiri kemarin, Arga harus melapor ke komandan regu keamanan di sebuah gedung perkantoran mewah yang terletak di kawasan bisnis paling elit di pusat kota.

Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit, Arga menghentikan sepeda motornya di persimpangan jalan utama. Matanya mendongak menatap sebuah gedung pencakar langit berarsitektur modern dengan dinding kaca biru menjulang tinggi menembus awan pagi.

"Buset... Megah banget ini gedung," gumam Arga terkagum-kagum, mematikan mesin motornya di area parkir khusus karyawan bawah tanah.

Arga segera melangkah menuju pos komando keamanan di lantai dasar bawah tanah. Di sana, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan kumis tebal dan seragam bergaris komandan sedang memeriksa papan tugas.

Arga berdiri tegap di depan pintu, lalu memberi hormat secara militer.

"Selamat pagi, Komandan! Saya Arga Dewa Putra, anggota baru dari Yayasan Garuda Mandiri melapor siap bertugas!" seru Arga mantap dengan suara bulat.

Pria berkumis tebal itu menoleh, membalas hormat Arga dengan gerakan cepat lalu menyipitkan matanya mengamati Arga dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Selamat pagi. Saya Komandan Bambang, kepala keamanan di gedung ini," jawab pria itu tegas, suaranya berat dan berwibawa. "Postur kamu bagus, Arga. Rapi, tegap, dan kelihatan sigap."

"Siap, terima kasih, Komandan!" sahut Arga lugas.

Komandan Bambang berjalan mendekati Arga, menepuk bahu tegap pemuda itu dua kali. "Kamu beruntung langsung ditempatkan di sini. Ini salah satu gedung perkantoran paling prestisius di kawasan ini. Standar keamanan di sini sangat tinggi, enggak boleh ada kesalahan sekecil apa pun."

"Siap, siap menjalankan tugas sesuai prosedur, Komandan!"

"Bagus," ujar Komandan Bambang seraya mengisyaratkan Arga untuk mengikutinya melangkah keluar menuju lorong utama lantai dasar. "Gedung ini punya lima puluh lima lantai. Ada ribuan karyawan yang lalu-lalang setiap hari, belum lagi tamu-tamu VIP, pengusaha asing, sampai pejabat tinggi."

Arga berjalan di samping Komandan Bambang, matanya tak henti-hentinya menyapu interior lantai dasar yang dibuat dari marmer mahal yang mengkilap bagai cermin. Lampu-lampu gantung kristal berukuran raksasa memancarkan cahaya keemasan yang sangat mewah.

"Luas banget ya, Ndan. Ini gedung kantor apaan aja isinya?" tanya Arga santai saat mereka berhenti di dekat pilar utama.

Komandan Bambang menoleh, tersenyum tipis. "Ini gedung markas pusat holding company raksasa, Arga. Hampir delapan puluh persen lantai di gedung ini dipakai sama anak-anak perusahaan mereka. Sisa lantainya disewa sama bank swasta ternama dan kantor hukum internasional."

"Oh, perusahaan holding..." manggut-manggut Arga tanpa rasa curiga sedikit pun. "Pasti bos pemilik gedung ini kaya raya banget ya, Ndan?"

"Ya iyalah! Pemiliknya itu salah satu konglomerat tertua dan paling berpengaruh di negeri ini," jelas Komandan Bambang bangga. "Makanya keamanan di lobby utama itu krusial banget. Kamu nanti saya posisikan di lobby depan dekat pintu masuk pemindai logam."

"Siap, Komandan!" jawab Arga penuh semangat. "Tugas spesifik saya di sana apa aja, Ndan?"

"Tugas kamu sederhana tapi butuh ketelitian ekstra," beber Komandan Bambang sambil menunjuk area pintu kaca otomatis yang sangat lebar. "Satu, menyapa setiap tamu dan karyawan dengan ramah tapi tetap tegas. Dua, memastikan semua pengunjung menempelkan kartu akses atau memakai tanda pengenal tamu. Tiga, kalau ada hal-hal mencurigakan atau orang asing tanpa identitas yang memaksa masuk, kamu harus cegah dan amankan sesuai standar."

"Siap, mengerti!" tegas Arga.

Saat mereka berdiri di tengah lobby, beberapa staf kebersihan dan karyawan yang datang lebih awal mulai melintas. Mereka mengangguk sopan ke arah Komandan Bambang dan Arga. Arga membalas senyuman mereka dengan sikap sempurna. Bagi Arga, menjadi petugas keamanan di gedung seluas dan semewah ini adalah sebuah kehormatan dan kesempatan besar untuk membuktikan kualitas dirinya.

Di dalam benaknya, Arga sama sekali tidak menyadari bahwa gedung megah berlantai lima puluh lima tempatnya berdiri saat ini adalah Menara Utama Nugroho Group, kantor pusat dari imperium bisnis milik kakek Nadia Nugroho, CEO wanita dingin yang beberapa hari lalu mengancam akan menghancurkan perusahaan keluarga Bimo.

"Nanti sekitar jam delapan pagi, lalu lintas karyawan bakal padat banget," lanjut Komandan Bambang memberikan petunjuk operasional. "Terus jam sembilan biasanya para direksi sama pimpinan puncak gedung ini baru pada datang lewat pintu khusus drop-off depan."

"Pimpinan puncak? Maksudnya CEO-nya, Ndan?" tanya Arga sekadar basa-basi untuk mengikis rasa gugupnya di hari pertama.

"Iya, direktur utama sama jajaran komisaris," sahut Komandan Bambang. "Gedung ini dipimpin langsung sama cucu tunggal pendiri perusahaan. Dia masih muda, cewek, tapi tegasnya luar biasa. Kalau beliau lewat, kita wajib berdiri tegap dan memberi hormat tanpa ada kekeliruan."

Arga terkekeh pelan. "Galak banget ya keliatannya, Ndan?"

"Bukan galak lagi, tapi profesional banget," tegas Komandan Bambang menyenggol lengan Arga. "Pokoknya kamu jaga sikap. Jangan malu-maluin regu keamanan kita dari Yayasan Garuda Mandiri."

"Siap, Komandan! Saya bakal jaga nama baik regu dan yayasan!" sahut Arga dengan nada penuh keyakinan.

Komandan Bambang melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Udara pagi di luar gedung mulai berganti hangat seiring bertambahnya arus kendaraan yang memadati jalan protokol.

"Oke, Arga. Waktu persiapan sudah selesai," tegas Komandan Bambang dengan raut wajah yang kembali sangat serius. "Sekarang kamu berdiri di posisi kamu di sebelah kanan pintu masuk utama. Pasang mata, pasang telinga, dan tetap sigap!"

"Siap, Komandan!"

Arga melakukan balik kanan dengan gerakan patah-patah yang sempurna, lalu melangkah mantap menuju posisinya di samping pintu kaca otomatis yang tinggi menjulang.

Ia berdiri di atas lantai marmer yang licin bersih. Kedua kakinya dibuka selebar bahu, kedua tangannya dikatupkan secara bersedekap rapi di belakang pinggangnya, dan pandangan matanya menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang tajam namun menenteramkan. Arga menyerap atmosfer kemewahan dan kesibukan gedung di sekelilingnya dengan dada membusung bangga. Dengan seragam kremnya yang bersih dan tubuh tegapnya yang atletis, Arga berdiri kokoh bagaikan benteng utama, siap sepenuhnya untuk menjalankan tugas sebagai pengaman gedung megah tersebut.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!