Dulu Tiara berbohong pada mantan suaminya jika bayi yang dilahirkannya telah meninggal dunia. Itu semua dilakukannya karena kecewa pada pria tersebut yang mengabaikannya saat akan melahirkan.
Namun kini dia harus kembali berurusan dengan mantan suaminya tersebut, karena putra mereka membutuhkan bantuan donor sumsum tulang belakang.
Lalu bagaimana dengan reaksi Tom saat mengetahui jika anaknya yang lain masih hidup, dan dalam keadaan sekarat karena penyakit yang yang dideritanya?
"Menikahlah denganku lagi, Tiara." Tom.
"Baiklah tapi setelah aku hamil dan melahirkan, kita berpisah." Tiara.
Follow Ig : mom_tree_17
Tik Tok : Mommytree17
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy tree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, akhirnya mobil yang ditumpangi Tom dan Zack pun sampai di sebuah apartemen mewah yang ada di Jakarta. Tanpa menunggu lama, Tom pun segera masuk ke lantai di mana unit milik kekasihnya berada.
Tet.., tet.
Julia yang tengah duduk di atas sofa dengan kedua mata terpejam, memanggil sepupunya yang bernama Asti.
"Coba lihat siapa yang datang!" perintahnya. Karena ia merasa lelah baru saja sampai setelah pergi ke kediaman Tom.
Asti pun segera berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Sementara Julia kembali memejamkan kedua matanya, karena kepalanya terasa pusing setelah berdebat dengan Tiara.
"Siapa yang datang?" tanya Julia saat mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Emm, itu yang datang —"
"Berani sekali kau datang ke rumahku dan membuat onar di sana!" sentak Tom dengan berjalan penuh amarah menghampiri Julia.
"Tom..."
Julia yang terkejut dengan kedatangan Tom yang tiba-tiba, tak sempat untuk beranjak dari tempat duduknya saat kedua tangan Tom mencengkram lehernya dengan kuat.
"Sebenarnya apa maumu, ha!" untuk kedua kalinya Tom membentak mantan kekasihnya yang duduk di atas sofa.
"Tom...." ucap Julia dengan terbata sambil meronta agar terlepas dari cekikikan dilehernya.
"Berani sekali kau menyentuh putraku!" geram Tom dengan kemarahan yang meledak.
Entah apa yang dilakukan Julia pada Gio saat datang ke rumahnya tadi. Tapi yang jelas dalam pesan singkatnya, Tiara begitu marah bahkan mengancam akan pergi dari rumah mereka jika Julia berani menyentuh Gio lagi.
"To-m ..." lirih Julia dengan lemas karena tenggorokannya semakin tercekat.
Sementara itu Zack dan Asty yang sejak tadi diam saja karena ketakutan, kini berusaha menarik Tom agar melepas Julia.
"Tuan lepaskan! Anda bisa membunuhnya," Zack berusaha mengingatkan tuannya.
"Biar saja, aku ingin dia mati!"
"Tapi Tuan, kasihan Nona Tiara dan Gio jika Anda sampai melakukan tindak kejahatan."
Mendengar nama istri dan anaknya disebut, Tom pun tersadar dengan melepaskan cengkraman pada leher Julia.
"Sial!" umpatnya dengan menatap tajam wajah mantan kekasihnya yang terlihat merah.
"Kau gila, Tom!" ucap Julia dengan terbatuk-batuk setelah dengan susah payah bisa bernapas. "Kau ingin membunuhku dan calon anak kita!"
"Anak itu bukan anakku!" tolak Tom dengan tegas masih dengan kemarahan.
Julia tersenyum sinis. "Seribu kali kau menolaknya, tidak akan merubah kenyataan jika anak yang ada di dalam kandunganku ini anakmu!" ucapnya sembari beranjak dari atas sofa. "Kau pasti ingat bukan, sebelum ke Jakarta kita melakukannya berulang kali."
"Diam kau!" sentak Tom dengan nada peringatan untuk tidak memancing amarahnya lagi.
Namun wanita itu sepertinya tidak mempedulikan peringatannya itu, seakan lupa jika beberapa saat tadi ia hampir membunuhnya.
"Anak ini anakmu sayang," ucap Julia dengan meletakkan tangan Tom pada perutnya. "Aku ingin kau bertanggung jawab dengan menikahi aku."
"Menikahimu?" Tom tertawa sembari menarik tangannya dari perut Julia. "Jangan mimpi! Aku tidak akan pernah bertanggung jawab, sebelum janin itu terbukti milikku."
Ya, Tom merasa anak yang ada di dalam kandungan Julia bukan benihnya. Meskipun mereka sering melakukannya, tapi dia selalu menggunakan pengaman. Dan kalau pun terakhir kali mereka melakukannya tanpa pengaman, benihnya selalu ia keluarkan di luar.
"Bukti apa lagi yang kau inginkan?"
"Tes DNA, bukankah sejak awal aku meminta itu? Tapi kau menolak."
"Tentu saja aku menolaknya, aku takut terjadi apa-apa pada kandunganku jika melakukan tes DNA saat ini," jelas Julia. "Tapi setelah anak ini lahir aku berjanji akan melakukan tes DNA yang kau inginkan, karena aku yakin ini anakmu."
"Kalau begitu tanggung jawab itu pun akan kuberikan setelah anak itu lahir! Dan sampai hari itu tiba, jangan pernah berani menganggu keluargaku lagi!"
"Tapi Tom —"
"Ingat Julia! Aku tidak akan segan-segan menyakitimu kalau kau sampai nekat melakukan itu lagi!" ancam Tom dengan tatapan membunuhnya.
Hingga membuat Julia dan Asty ketakutan, sampai tak dapat berkata-kata bahkan setelah Tom pergi dari apartemen tersebut.
"Kau gila, Julia!" ucap Asty pada akhirnya setelah cukup lama terdiam karena begitu terkejut dengan apa yang terjadi. Bagaimana tidak terkejut, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri sang sepupu hampir mati tercekik. "Kenapa kau cari masalah dengannya?"
Julia yang juga masih terkejut dengan apa yang menimpanya, langsung terduduk lemas di atas sofa dengan tersenyum miris.
"Hentikan kegilaanmu itu Julia, aku tidak ingin melihatmu mati konyol hanya karena obsesimu," nasehat Asty dengan duduk di samping sepupunya.
"Berhenti kau bilang?" sahut Julia masih dengan tersenyum miris. Sungguh ia kecewa dan terluka dengan apa yang dilakukan Tom tadi, karena Julia tak menyangka pria yang dicintainya itu dengan tega hampir membunuhnya hanya karena ia mendatangi istri dan anaknya. "Bahkan ini baru saja dimulai!"
"Kau benar-benar gila, Julia," Asty menggelengkan kepalanya.
"Ini bukan kegilaan, tapi ini cinta. Aku mencintai Tom, dan aku tidak mau kehilangannya."
"Cinta kau bilang?" Asty tertawa sinis. "Kalau kau mencintainya, tidak mungkin kau selingkuh bahkan hamil dari benih pria lain."
Ya, Asti tahu betul anak yang ada di dalam kandungan Julia milik selingkuhan sepupunya itu. Tapi Julia justru menggunakan kehamilannya tersebut sebagai senjata untuk merusak hubungan Tom dan istrinya.
"Aku tidak selingkuh, pria sialan itu yang mengambil keuntungan di saat aku mabuk," Julia membela diri karena memang itu yang sebenarnya terjadi.
Pria sialan yang merupakan teman baiknya itu dengan sengaja menidurinya di saat ia mabuk, dan sialnya perbuatan satu malam itu membuat Julia hamil. Tadinya ia berpikir untuk menggugurkan kandungannya sebelum Tom mengetahui tentang kehamilannya itu. Tapi niat tersebut tidak jadi Julia lakukan, karena ingin menggunakan janin yang ada di perutnya sebagai alat untuk mengikat Tom dalam hubungan pernikahan.
Tapi sayang sebelum niat itu berhasil. Tom ternyata sudah lebih dulu menikah dengan Tiara, dan kini kehamilannya itu akan ia gunakan sebagai alat untuk merusak hubungan Tom dengan Tiara.
"Ya, apa pun itu. Tapi yang jelas anak itu bukan anak Tom, dan kau sedang bermain-main dengan api. Apa kau tidak takut terbakar?" nasehat Asty kembali. Karena ia tidak ingin melihat sepupunya semakin berbuat nekat hanya demi mendapatkan seorang pria.
"Tidak, karena jika aku terbakar maka aku ingin mereka juga ikut terbakar. Kalau aku tidak bisa mendapatkan Tom, maka wanita lain juga tidak boleh mendapatkannya."
Ya, Julia tahu betul tidak akan bisa lagi memiliki Tom setelah melihat dengan jelas betapa besar rasa cinta Tom pada Tiara. Tapi meskipun begitu, ia tidak ingin menjadi orang yang paling menderita di dalam kisah ini. Julia ingin semuanya ikut menderita termasuk anak mereka yang penyakitan itu, karena anak laki-laki itulah yang sudah menjadi penyebab utama Tom kembali ke dalam pelukan Tiara.