JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.
Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.
Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bintang Kecil di Tengah Badai Karang
# Bintang Kecil di Tengah Badai Karang #
Dentuman keras yang meretakkan benteng sihir Teluk Bayangan memancarkan gelombang kejutan yang membentur tubuhku hingga terlempar beberapa meter ke belakang. Karang-karang tajam menggaris permukaan kulit kakiku, menyebarkan rasa perih yang menyengat. Namun, rasa sakit itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan keriuhan kacau yang mendadak meledak di seluruh penjuru istana bawah laut.
*BOOOMM!*
Retakan cahaya keemasan di udara bawah air itu pecah bagaikan kaca raksasa yang dihantam godam. Dari balik kegelapan samudra yang keruh, puluhan bayangan hitam berukuran raksasa meluncur masuk dengan kecepatan yang luar biasa. Mereka bukanlah prajurit teratur seperti pasukan Pangeran Nataniel. Mereka adalah kelompok Siren liar, makhluk-makhluk raksasa berotot kekar dengan sisik hitam legam yang kusam, sirip-sirip tajam menyerupai gergaji, dan mata merah menyala yang memancarkan kebuasan tanpa akal sehat.
"Serang! Hancurkan Istana Teluk Bayangan!"
Raungan parau dan lengkingan sihir yang memekakkan telinga terdengar bersahut-sahutan. Pasukan Siren liar itu menerjang maju tanpa mengindahkan keselamatan diri, menghantam barisan prajurit penjaga istana dengan kejam. Air laut yang semula jernih kebiruan kini bergolak hebat, berubah menjadi keruh oleh adukan lumpur dasar laut dan cipratan darah hitam yang mulai mengalir deras.
Di puncak tebing, Pangeran Nataniel tidak membuang waktu. Jubah peraknya melambai megah saat ia melompat turun dari ketinggian tebing koral, menerjang langsung ke tengah-tengah lautan musuh. Tombak perak bermata tiga di tangannya memancarkan pendaran sihir hijau magis. Setiap kali senjata purba itu dikibaskan, tebasan energi sihir murni membelah air laut dan menebas tubuh-tubuh Siren liar hingga terbelah dua.
"Lindungi batas timur! Jangan biarkan cacing-cacing liar ini menembus gerbang utama!" teriak Nataniel dengan suara berat yang menggelegar, mendominasi suara gemuruh pertempuran.
Melihat Pangeran Nataniel menyebur ke kubangan pertempuran yang brutal dan meninggalkan puncak tebing, sebuah pikiran liar seketika melintas di kepala dan benakku.
("Kesempatan!") jerit batinku histeris seraya membelalakkan mata. ("Ini kesempatan emas buat kabur! Semua prajurit lagi fokus perang lawan monster-monster gila itu! Nataniel juga lagi sibuk mbantai musuh di bawah sana! Kalau aku lari sekarang lewat lorong karang belakang...")
Aku merangkak cepat, berniat memutar tubuh dan melesat menuju lorong rahasia di balik tebing yang pernah kulihat tempo hari. Jantungku berdegup kencang oleh harapan kebebasan yang mendadak terbuka lebar di depan mata.
Namun, baru saja aku mengambil tiga langkah merangkak, mataku menangkap pemandangan mengerikan di perbatasan luar istana.
Di luar benteng, puluhan Siren liar lainnya sedang mengoyak seekor makhluk laut raksasa dan menyergap beberapa tawanan yang mencoba melarikan diri dari kubangan eksekusi. Tanpa ampun, Siren-Siren liar yang kelaparan dan haus darah itu mencabik-cabik tubuh mereka dalam hitungan detik, mengubah air laut menjadi merah pekat tanpa sisa. Mereka sama sekali tidak memiliki akal budi atau aturan seperti klan Nataniel. Mereka adalah monster kanibal yang bergerak murni berdasarkan insting membunuh!
Langkah kakiku mendadak terhenti kaku. Keringat dingin menyembur deras di seluruh permukaan kulitku.
("Gila! ini nggak akan berhasil...") bisik batin ketakutanku seraya meneguk saliva yang terasa teramat pahit. ("Kalau aku nekat kabur sekarang lewat lautan lepas, aku bakal langsung ketemu sama gerombolan kanibal itu! Kalau tertangkap Nataniel aku cuma disuruh ngelawak dan dipanggil babu, tapi kalau tertangkap klan Siren liar itu... aku bakal dikunyah hidup-hidup sampai jadi sosis koral! Mati konyol namanya itu!")
Otak kreatif ku bekerja secepat kilat menimbang risiko terburuk. Kabur saat ini adalah tindakan bunuh diri yang teramat konyol. Pilihan paling aman untuk mempertahankan leher dan tubuhku tetap utuh adalah memastikan Istana Teluk Bayangan tidak jatuh ke tangan para kanibal itu, sekaligus membuktikan pada Nataniel bahwa aku bukanlah babu yang tak berguna!
"Aku harus bertahan di sini! Aku harus bikin diriku berguna!" tekadku dalam hati seraya mengepalkan kedua tangan mungilku.
Aku berbalik dan kembali merangkak cepat menuju sudut tebing koral yang paling tinggi dan paling sempit. Dari celah sudut koral yang amat sempit ini, tempat yang tidak bisa dimasuki atau dilihat oleh prajurit berbadan raksasa, aku memiliki sudut pandang paling luas untuk mengawasi seluruh pergerakan pertempuran di bawah sana.
Saat mataku menyapu area pertempuran yang kacau balau, aku melihat bahaya yang sangat fatal.
Di sudut remang-remang perbatasan timur, lima ekor Siren liar bertubuh ramping dengan sisik hitam beracun sedang merayap diam-diam di balik celah-celah karang tajam. Mereka memutar, memanfaatkan kepulan darah dan lumpur yang membubung untuk menyergap barisan belakang prajurit Nataniel yang sedang sibuk menahan gempuran utama dari depan!
Jika lima penyusup itu berhasil menyerang dari belakang, barisan pertahanan istana akan hancur total dan prajurit Nataniel akan dibantai dari dua arah!
"Waduh! Bahaya banget itu!" jeritku panik.
Tanpa memikirkan harga diri atau rasa malu lagi, aku menarik napas sejauh yang sanggup ditampung oleh paru-paruku. Aku memanfaatkan keahlian vokal dan intonasi melengking yang sering kugunakan saat memperagakan drama untuk berteriak sekuat tenaga!
"WOI! PENJAGA ISTANA! LIHAT KE ARAH JAM TIGA!" teriakku dengan suara nyaring, melengking, dan menggelegar membelah riuh gemuruh pertempuran. "ADA LIMA EKOR SIREN LIAR MERAYAP DI BALIK KARANG HITAM SEBELAH TIMUR! MEREKA MAU MENYERGAP DARI BELAKANG!"
Suara teriakanku yang amat melengking dan tidak biasa itu seketika memantul keras di dinding-dinding karang tebing, menembus riuh benturan senjata dan raungan musuh.
Panglima pasukan Nataniel yang bertubuh raksasa seketika menoleh ke arah puncak tebing, lalu menatap cepat ke sudut karang timur yang kutunjuk dengan tanganku. Matanya melotot saat menyadari ancaman penyusup tersebut!
"Putar barisan! Lindungi sayap timur!" perintah sang Panglima seraya mengayunkan kapak raksasanya.
*CRASHHH!*
Sebanyak sepuluh prajurit Siren bersisik kelabu langsung memutar posisi mereka dan menghujamkan tombak-tombak sihir tepat ke arah celah karang tajam tersebut. Lima Siren liar yang bersembunyi di sana terperanjat kaget sebelum akhirnya tewas tertusuk tombak sebelum sempat melancarkan serangan kejutan mereka!
"Bagus sekali, Babu Manusia!" teriak sang Panglima dari bawah sana dengan nada terkejut yang amat sangat.
Melihat aksiku berhasil menyelamatkan sayap pertahanan, keberanianku meledak drastis. Rasa takut akan kematian berganti menjadi pacuan adrenalin yang membakar seluruh saraf jiwaku! Dari atas celah sudut sempit karang, aku mengubah diriku menjadi menara pengawas dan pemandu tempur bagi pasukan Istana Siren!
Mataku bergerak lincah bagaikan elang, mengamati setiap pergerakan musuh yang mencoba memanfaatkan celah-celah gelap.
"PERHATIAN! TIGA MUSUH LAGI MERAYAP DI BALIK PILAR KRISTAL SEBELAH KIRI!" teriakku lagi seraya melompat-lompat kecil di atas celah karang dan menunjuk-nunjuk heboh. " MEREKA MEMBAWA TOMBAK! JANGAN DEKAT-DEKAT!"
Para prajurit Nataniel yang mendengar petunjukku langsung melemparkan perisai sihir ke arah pilar kristal, menahan sabetan tombak beracun musuh dan membalasnya dengan tebasan mematikan.
"ADA SATU YANG UKURANNYA SUPER JUMBO MAU NYERANG DARI ATAS KARANG!" jeritku tak kalah heboh, menunjuk ke arah atas benteng. "PENGASAH KAPAK, AWAS KEPALAMU!"
Seorang prajurit Siren langsung merunduk cepat tepat saat sabetan cakar Siren liar melintas satu senti di atas kepalanya. Prajurit itu dengan cepat membalikkan tubuh dan menancapkan pedangnya ke perut musuh hingga tewas.
Selama hampir satu jam penuh pertempuran brutal itu berlangsung, suaraku yang melengking konyol namun teramat akurat terus bergema di seluruh penjuru Teluk Bayangan. Aku menjadi mata tambahan bagi para prajurit di tengah kekacauan air laut yang keruh oleh darah dan lumpur. Akting ketakutanku terbuang habis, berganti dengan performa terbaikku sebagai pengawas sudut sempit karang yang tak tergantikan!
Pertempuran sengit itu perlahan-lahan mulai mencapai puncaknya. Dengan panduan penunjuk arah dariku dan ketangguhan para prajurit istana, kelompok Siren liar mulai terdesak hebat. Mayat-mayat monster bersisik hitam itu bergelimpangan di dasar tebing, mengapung kaku di antara genangan darah yang membeku.
Nataniel di dasar kubangan mengamuk bagaikan dewa kematian. Kini dengan satu tebasan sihir yang mengeluarkan cahaya keemasan yang teramat dahsyat, ia memenggal kepala pemimpin Siren liar yang berukuran paling raksasa.
*BOOOMM!*
Ledakan energi dari tebasan terakhir Nataniel menghentakkan sisa-sisa musuh yang hidup, membuat mereka melolong ketakutan dan melesat kabur meninggalkan area Teluk Bayangan dengan tubuh terluka parah.
Sorak-sorai kemenangan dari para prajurit Siren yang tersisa meledak memenuhi udara bawah air. Mereka mengangkat senjata-senjata mereka yang berdarah hitam ke udara dengan napas memburu.
Aku yang berdiri di atas celah sudut sempit karang mendadak terduduk lemas di atas batu basah. Tenggorokanku terasa amat kering, perih, dan terbakar karena terus-terusan berteriak histeris selama satu jam tanpa henti. Seluruh otot tubuhku terasa gemetar hebat akibat kelelahan batin dan fisiknya yang luar biasa.
("Selamat... kita selamat...") bisik batin lelahku seraya mengelak napas lega yang teramat panjang. ("Ya Tuhan.. suaraku rasanya mau putus! Tapi yang penting aku nggak jadi sosis koral hari ini!")
Namun, saat aku menyapu pandanganku kembali ke dasar kubangan pertempuran, helaan napas legaku seketika tertahan di tenggorokan. Tensi udara di sekitar istana yang tadinya mulai mereda, mendadak kembali menegang dan membeku dalam hening yang mencekam.
Dari tengah-tengah tumpukan mayat musuh dan genangan darah hitam yang membubung pekat, sebuah figur tegap berjalan keluar dengan langkah lambat namun teramat berat.
Pangeran Nataniel.
Jubah perak megahnya telah koyak di beberapa bagian dan basah kuyup oleh darah hitam milik musuh-musuhnya. Namun yang paling mengerikan adalah... cairan darah segar berwarna hitam pekat merembes deras dari balik baju zirah dadanya yang retak akibat sabetan cakar beracun pimpinan musuh tadi.
Nataniel memegang gagang tombak peraknya yang mulai meredup, bernapas berat dengan dada yang naik turun tak teratur. Rambut hitamnya yang bergelombang berantakan menempel di pelipisnya yang basah oleh peluh dan darah.
Dari dasar kubangan berdarah itu, Nataniel perlahan mendongakkan kepalanya ke atas.
Iris mata keemasannya yang menyala tajam, dingin, dan sarat akan aura membunuh yang belum surut sepenuhnya menembus langsung ke celah koral tempatku berada, mengunci seluruh keberadaanku dalam tatapan tunggal yang membekukan darah.
⭐⭐⭐⭐⭐
Waduh! Alessia emang cerdik banget ya, ketimbang mati konyol dimakan siren liar, dia malah jadi caller penunjuk arah buat prajurit Nataniel! 😂 uhuk...uhuk...gantian suaraku yang mau habis nih!
Tapi lihat tuh, Nataniel kembali dari pertempuran dengan tubuh berdarah-darah dan menatap tajam ke arah Alessia! Gimana nasib Alessia saat harus berhadapan dengan pangeran iblis yang lagi terluka parah di Bab 13 nanti?
Jangan lupa klik **LIKE**, **KOMENTAR** heboh kalian, dan **VOTE** cerita ini ya! Sampai jumpa di Bab 13! ✨