NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Terakhir di Dermaga

Aris bergerak mundur satu langkah besar untuk menciptakan jarak, dengan gerakan secepat kilat, tangan kirinya meraba saku luar jaket kulit cokelatnya. Jari-jarinya langsung

mencengkeram senter National besi miliknya.

Benda itu terbuat dari baja tebal, berat, dan kokoh. Di era akhir 1989, senter jenis ini sering kali beralih fungsi menjadi gada darurat yang tak kalah mematikan dari pentungan polisi. SREET! Sang pembunuh bertudung kembali menerjang.

Pisau komando menyambar dari bawah, mengincar ulu hati Aris. Namun kali ini, Aris sudah siap. Dengan ayunan horizontal yang brutal, dia menghantamkan ujung senter besi National-nya tepat ke arah pergelangan tangan pembunuh.

Benturan keras antara senter dan pisau komando menciptakan denting nyaring. Hantaman telak senter besi Aris sukses membuat cengkeraman sang pembunuh goyah. Pisau komando itu terlepas, terlempar ke dalam tumpukan batu bara di tepi dermaga.

Meskipun senjatanya hilang, sang pembunuh tidak panik. Sebagai mantan personel pasukan khusus, dia langsung mengubah taktiknya menjadi pertarungan jarak pendek.

Dia melayangkan satu pukulan kombinasi cepat ke arah rahang Aris. Aris menangkis pukulan pertama dengan lengan kirinya, namun pukulan kedua sang pembunuh bersarang telak di pelipisnya.

Kepala Aris berdenyut hebat. Pandangannya sempat mengabur. Darah segar mulai mengalir dari alisnya, bercampur dengan air hujan.

Menyadari lawannya sempat goyah, sang pembunuh maju untuk melakukan kuncian leher yang mematikan. Aris menolak untuk menyerah. Sembari menahan rasa sakit, dia menyalakan tombol senter National-nya tepat di depan wajah sang pembunuh yang berada dalam jarak dekat.

Berkas cahaya kuning terang benderang langsung menyorot lurus ke dalam lubang tudung hitam, membakar kornea mata sang pembunuh dalam kebutaan sesaat.

Pria itu mengerang, memundurkan kepalanya sambil menutupi matanya dengan satu tangan.

Aris memanfaatkan celah itu. Menggunakan sisa seluruh tenaga di tubuhnya, dia mengayunkan senter besi National itu seperti kapak, menghantamkannya tepat ke arah tulang selangka sang pembunuh.

KREEK! suara tulang yang retak, sang pembunuh bertudung tersentak, tubuhnya ambruk berlutut di atas tanah dermaga, memegangi bahunya yang lumpuh.

Aris berdiri di atas lawannya yang sudah tak berdaya. Dia meraba kantong jaket bagian dalam, memastikan buku kas berdarah masih utuh tanpa kerusakan akibat air.

Aris mencengkeram kerah mantel hujan sang pembunuh yang sudah lemas, lalu menyeret tubuh itu di atas tanah dermaga. Tangan kirinya memegang senter yang kini ternoda darah.

Sampai di depan pintu klinik, Aris mengetuk kayu tebal itu dengan tiga kali ketukan cepat—kode bahwa bahaya di luar telah terkendali.

Bramantyo membuka pintu, dia tertahan saat melihat Aris mendorong tubuh masuk hingga terkapar di lantai semen klinik.

"Kunci lagi jendelanya, Bram! Bantu aku mengikat bajingan ini!" perintah Aris.

Menggunakan sisa tali kain makrame yang ada di sudut ruang bersalin tua itu, Aris mengikat kedua tangan dan kaki sang pembunuh ke sebuah tiang besi penyangga ranjang kosong.

Tudung hitam pria itu tersingkap memperlihatkan wajah pria berambut cepak dengan bekas luka bakar di leher kirinya, khas personel militer desersi.

Setelah memastikan tawanan mereka aman, Aris melangkah mendekati meja operasi utama. Dokter Lukas baru saja meletakkan jarum jahit bedahnya ke dalam baki stainless steel.

"Bagaimana dia, Dok?" tanya Aris, menatap Januar yang masih memejamkan mata dengan perban tebal yang membalut perut bawahnya.

Dokter Lukas melepas sarung tangan karetnya.

"Pisau itu melesat beberapa milimeter dari arteri utamanya. Beruntung kau membawanya tepat waktu, Aris. Dia melewati masa kritisnya, tapi dia butuh istirahat total setidaknya dua hari sebelum bisa digerakkan."

Aris merasa lega. Dia bersandar di dinding semen, meraba saku dalam jaket kulit cokelatnya. Buku kas itu masih berada di sana, agak lembap oleh uap air tetapi seluruh tinta catatan suap pejabat kota di dalamnya masih terbaca utuh. Pria cepak yang terikat di tiang besi itu batuk, memuntahkan sisa darah ke lantai.

Dia menatap Aris dengan mata kirinya yang bengkak akibat hantaman senter tadi.

"Kau mengira... kau sudah menang, Detektif?" bisik pria itu, suaranya diiringi seringai sinis. "Buku kas yang kau pegang... tidak akan pernah sampai ke pengadilan kota.

Wali Kota Marunda sendiri yang memerintahkan pembersihan ini. Jika aku tidak kembali ke markas dalam satu jam, seluruh kepolisian sektor selatan akan mengepung dermaga ini dengan tuduhan kau melakukan pembunuhan terhadap Ir. Anwar."

Aris mendekati pria itu, menyorotkan senter tepat ke wajah pria itu.

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!