Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang Kesabaran
"Vivian, jangan pergi! Kalau kau pindah dari sini, sama saja kau mempermalukan keluarga Wei!" bentak Mike.
Vivian menatapnya tajam.
"Tuan Wei, kedua anakmu memang bodoh, tetapi aku tidak menyangka kau juga demikian. Seorang direktur utama perusahaan besar bisa begitu mudah percaya pada perkataan mereka tanpa bukti. Mereka hanya menebak dan asal menuduh, tetapi kau langsung mempercayainya."
"Vivian, kau tidak bisa berbicara seperti itu kepada papamu!" tegur June.
"Ma, kedua anakmu menuduhku tanpa bukti, tetapi kau sama sekali tidak menyalahkan mereka. Apakah kau benar-benar ibuku?" tanya Vivian.
"Jangan selalu mengulang ucapan yang sama!" ketus June. "Apa yang dikatakan Vivi benar. Kalau bukan karena kau memiliki hubungan dengan Delvin Yang, mana mungkin semudah itu kau menjadi juara dan mendapatkan pekerjaan di Yang Group? Ada ribuan staf di Yang Group, kenapa hanya kau yang mendapatkan tempat tinggal?"
Vivian menatap mereka satu per satu dengan amarah yang tertahan.
"Aku benar-benar mual melihat mereka sampai ingin muntah."
Vivian mengelus dadanya. Tiba-tiba rasa mual kembali datang hingga membuatnya membungkuk.
Vivi langsung memperhatikan keadaan itu.
"Gawat, Papa, Mama! Jangan-jangan Vivian hamil," ujar Vivi sengaja.
"Hamil kepalamu!" bentak Vivian kesal.
"Vivian, apakah benar yang dikatakan Vivi?" tanya June.
"Tidak! Aku masih perawan dan tidak pernah tidur dengan pria mana pun!" jawab Vivian tegas.
"Vivian, jangan berbohong lagi. Bagaimanapun kita adalah keluarga. Kalau kau hamil, kau harus mengatakannya kepada kami," kata Vivi dengan wajah pura-pura peduli.
"Vivi Wei, apakah mulutmu tidak bisa dijaga? Jangan selalu menghasut!" bentak Vivian.
"Vivian, kau benar-benar mempermalukan keluarga! Hamil di luar nikah. Sungguh murahan!" ketus Tom.
Vivian perlahan melipat lengan bajunya.
"Apakah kalian tahu bagaimana caranya aku memberi pelajaran kepada para bajingan di penjara?"
Mike langsung berubah tegang.
"Untuk apa kau selalu membahas itu? Apakah kau sedang mengancam kami?"
Mike menunjuk ke arah Vivian.
"Kalau memang kau hamil, cepat pergi ke rumah sakit dan gugurkan bayimu!"
Vivian menatapnya dengan tidak percaya.
"Kenapa aku bisa dilahirkan di keluarga sebodoh ini?" gumamnya sambil menepuk dahinya.
"Vivian, jangan marah. Papa dan Mama sangat menyayangimu," ujar Vivi sambil mendekatinya. "Lihatlah dirimu, belum tamat kuliah sudah hamil. Bagaimana Papa dan Mama harus berhadapan dengan orang lain?"
"Vivi Wei, kau..." Vivian menggelengkan kepala. "Aku benar-benar tidak tahu lagi bagaimana menggambarkan sikapmu."
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Vivi.
"Ah!"
"Hei! Apa yang kau lakukan?" teriak Tom.
"Vivian!" teriak June dan Mike bersamaan.
Vivian langsung mencengkeram rambut Vivi dengan tangan kirinya hingga gadis itu menjerit kesakitan.
"Lepaskan tanganmu!" bentak Mike.
"Memintaku melepaskan tangan?" Vivian menatap mereka dengan dingin. "Baik. Kalau begitu, sekarang aku akan menunjukkan kepada kalian bagaimana caraku menghajar tahanan yang mencari masalah denganku di penjara."
Plak! Plak! Plak!
Vivian menampar pipi kiri dan kanan Vivi berkali-kali.
"Vivian, jangan sampai aku yang mengajarimu!" bentak Tom sambil maju hendak menyerangnya.
Vivian segera mengangkat kakinya dan menendang Tom dengan keras.
Bruk!
Tubuh Tom terjatuh ke lantai.
"Aahh!"
"Vivian, kau berani sekali memukul kakakmu!" bentak June.
Vivian menatap kedua orang tuanya dengan dingin.
"Pa, Ma, kalian tidak bisa mendidik anak kalian dengan baik. Jadi, biar aku yang melakukannya."
Vivian langsung menarik Vivi keluar dari kamar menuju kamar mandi. Rambut Vivi dicengkeram kuat hingga wajahnya meringis kesakitan.
"Pa! Ma! Tolong aku!" teriak Vivi.
June dan Mike segera menyusul ke kamar mandi.
"Vivi!" teriak June panik.
Tom yang masih kesakitan juga bangkit dan mengikuti kedua orang tuanya.
"Lepaskan aku!" teriak Vivi sambil berusaha melepaskan tangan Vivian.
"Bukankah kau sangat suka menghasut?" kata Vivian dengan tatapan tajam. "Kalau mulutmu tidak bisa digunakan dengan baik, jangan salahkan aku."
Vivian menarik Vivi hingga mendekati bathtub yang sudah terisi air.
Kemudian, ia menendang kaki Vivi.
Byur!
Tubuh Vivi tercebur ke dalam bathtub.
"Vivian!" teriak Mike dan June bersamaan.
Vivian langsung ikut masuk ke dalam bathtub dan menekan kepala Vivi ke dalam air.
Vivi meronta panik.
"Kalian jangan mendekat!" bentak Vivian dengan emosi yang meledak. "Kalau kalian berani maju, aku pastikan dia mati di sini!"
Mike dan June langsung berhenti.
Mereka menatap Vivian dengan wajah pucat.
"Vivian, apa kau sudah gila? Dia adalah kakakmu!" teriak June dengan panik.
"Lepaskan Vivi! Kalau tidak, aku akan memberimu pelajaran!" bentak Tom.
"Vivian, kalau sampai terjadi sesuatu pada Vivi, aku akan memasukkanmu kembali ke penjara!" ancam Mike.
Vivi meronta sambil menangis ketakutan.
"Tolong selamatkan aku!"
Vivian menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
"Takut?" tanyanya dingin. "Dulu, ketika aku dipenjara, kau membayar mereka untuk menyiksaku. Aku harus menghadapi mereka sendirian hanya agar aku bisa bertahan hidup."
"Tidak! Aku tidak melakukan apa pun!" sangkal Vivi dengan panik.
"Vivian, kakakmu begitu lembut dan baik hati. Mana mungkin dia melakukan hal seperti itu?" kata June, masih berusaha membela Vivi.
"Baik hati?" Vivian tertawa sinis.
"Kalau dia memang begitu baik, kenapa bukan dia yang masuk penjara? Kenapa harus aku?"
Vivian kembali menekan kepala Vivi ke dalam air.
"Vivian!" teriak June dan Mike panik.
"Jawab aku!" bentak Vivian. "Selama ini kalian selalu melindunginya. Bahkan ketika dia melakukan kesalahan, aku yang kalian korbankan!"
Vivi terus meronta di dalam bathtub, sementara Tom, Mike, dan June hanya bisa menatap dengan wajah tegang.
"Aku akan tunjukan pada kalian, cara aku menghajar tahanan," ujar Vivian.