NovelToon NovelToon
Tahta Dendam Lady Aurelia: Dari Selir Terbuang Menjadi Ratu

Tahta Dendam Lady Aurelia: Dari Selir Terbuang Menjadi Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Klarina_za29

Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah di Hutan Pinus

"Pemanah ini tidak hanya ingin membunuh hamba, Yang Mulia," desis Aurelia dengan suara merdu yang dipenuhi aura intimidasi mutlak. "Mereka menggunakan racun langka milik Kerajaan Oakhaven—racun yang sama yang rencananya akan dituang ke dalam cangkir anggur Anda pada pesta musim panas nanti."

Julian membelalakkan matanya, menatap anak panah beracun itu lalu beralih pada darah yang menetes di leher Aurelia. Amarah membunuh di dalam dada sang Raja seketika meledak hingga mencapai puncaknya.

"Simpan anak panah itu, Aurelia," desis Julian dengan suara bariton yang amat mematikan. "Sebab hari ini... Faksi Vance telah menggali kuburan mereka sendiri di bawah kakiku."

Julian melangkah mendekati Aurelia dengan derap sepatu boot yang memecah keheningan rimba pinus. Amarah yang membara di balik matanya berkilat begitu pekat, seolah sanggup membakar seluruh Istana Interior dalam semalam.

Jemari tangannya yang kekar masih menggenggam erat gagang pedang kerajaan yang bernoda darah penyerang, memperlihatkan urat-urat menegang di sepanjang lengannya.

Ia meraih pundak Aurelia dengan kehati-hatian yang tak biasa, seolah takut bahwa sentuhannya dapat melukai tubuh pualam yang kini bernoda darah merah pekat tersebut. Tatapan Julian terkunci pada luka goresan di leher jenjang Aurelia, lalu beralih pada anak panah bertali hitam yang digenggam wanita itu dengan begitu stabil.

"Luka ini harus segera diatasi, Aurelia," bisik Julian dengan suara bariton yang amat dalam, berusaha menahan guncangan emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. "Racun Vipera bekerja sangat cepat lewat aliran darah, meskipun itu hanya goresan tipis."

Aurelia menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman dingin yang teramat indah dan tenang, tanpa ada sedikit pun getaran ketakutan. Dengan gerakan yang luwes, ia merogoh saku gaun malam penunggang kudanya, mengeluarkan sebuah botol pualam kecil berisi cairan penawar racun universal yang telah disiapkan oleh jaringan intelijen keluarga Montclair jauh sebelum perburuan dimulai.

Aurelia meneteskan penawar itu ke atas sapu tangan sutra milik Julian, lalu menempelkannya sendiri pada goresan lehernya. Rasa perih yang menyengat tak membuat alisnya berkerut sedikit pun.

"Hamba telah mempersiapkan segalanya sebelum melangkah ke hutan ini, Yang Mulia," ujar Aurelia halus, suaranya bagaikan alunan harpa yang memotong ketegangan di antara mereka. "Faksi Vance mengira hamba adalah mangsa yang mudah dijebak di dalam rimba... padahal hamba sengaja membiarkan diri hamba menjadi umpan agar Anda melihat dengan mata kepala Anda sendiri betapa beraninya mereka menumpahkan racun Oakhaven di tanah kerajaan ini."

Julian membelalakkan matanya samar. Kesadaran baru menghantam benak sang Raja dengan sangat telak. Wanita di hadapannya ini tidak sekadar selamat dari percobaan pembunuhan; Aurelia telah memperhitungkan arah angin, penempatan penyerang, hingga kedatangan Julian sendiri ke dalam arena pertempuran ini!

"Kau memanfaatkan dirimu sendiri sebagai umpan?" tanya Julian, suaranya bergetar antara kekaguman dan amarah yang belum padam. "Kau mempertaruhkan nyawamu sendiri hanya untuk membuktikan konspirasi Faksi Vance padaku?"

"Bagi hamba, nyawa hanyalah salah satu bidak di atas papan catur ini, Yang Mulia," sahut Aurelia seraya menatap lurus ke dalam sepasang mata kelam milik Julian. "Dan kemenangan mutlak memerlukan keberanian untuk mengorbankan sebagian kecil darah demi menjatuhkan raja musuh."

Julian membeku di tempatnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kepemimpinannya, ia merasa bahwa kontrol penuh atas permainan politik istana tidak lagi berada di tangannya, melainkan berada dalam cengkeraman wanita Montclair yang luar biasa anggun dan berbahaya ini.

Para pengawal zirah perak yang mengejar sisa pembunuh bayaran kembali ke lokasi dengan kuda yang terengah-engah. Komandan Pengawal melompat turun dan bersujud di atas tanah basah di hadapan Julian dan Aurelia.

"Ampunkan hamba, Yang Mulia! Dua pembunuh tersisa tewas menelan racun bunuh diri sebelum sempat kami interogasi," laporkan sang Komandan dengan suara bergetar. "Namun di tubuh salah satu penyerang, kami menemukan lambang segel rahasia milik pasukan khusus utara yang terhubung dengan dewan perbatasan."

"Pasukan khusus utara milik Faksi Vance," desis Julian dengan mata memicing mematikan. Sang Raja berputar menghadap para pengawalnya. "Bawa seluruh sisa senjata dan mayat ini ke markas pengawal rahasia. Jangan biarkan ada satu pun kabar mengenai insiden ini bocor ke telinga para menteri atau Lady Genevieve di tempat perkemahan utama."

"Baik, Yang Mulia!" seru para pengawal seraya bergerak cepat mengeksekusi perintah.

Julian memutar tubuhnya kembali menuju Aurelia. Ia mengulurkan tangannya, membantu Aurelia naik ke atas kuda cokelatnya dengan kehangatan dan rasa hormat yang amat dalam.

"Kita kembali ke perkemahan utama sekarang," perintah Julian tegap. "Bungkus lehermu dengan kain sutra tebal. Aku ingin melihat bagaimana reaksi Genevieve saat mendapati kau berjalan masuk tanpa cacat sedikit pun."

Aurelia menerima uluran tangan Julian, melompat naik ke atas pelana dengan keanggunan yang sempurna. "Tentu, Yang Mulia. Pertunjukan sejati di perkemahan perburuan baru saja dimulai."

Di perkemahan utama yang dipenuhi kemewahan tenda-tenda sutra bangsawan, aroma daging panggang dan anggur merah merebak hangat di udara. Lady Genevieve duduk di kursi ukir panggung kehormatan, memegang cangkir kristal berisi teh herbal dengan ketenangan palsu yang terukir sempurna di wajah mewahnya.

Di sampingnya, beberapa selir junior dari Faksi Vance sedang bersenda gurau, sementara para menteri dewan sibuk membicarakan hasil buruan rusa yang didapatkan oleh para duke. Namun, di balik senyuman anggunnya, mata Genevieve terus melirik ke arah rimba pinus dengan kecemasan terselubung.

Seharusnya panah racun itu sudah menancap di leher gadis Montclair itu, batin Genevieve seraya meremas cangkir kristalnya. Pemanah terbaik Oakhaven yang kukirim tidak pernah meleset dari sasaran.

Tiba-tiba, suara tiupan terompet emas pengawal kerajaan bergema nyaring melintasi lembah perkemahan, menandai kembalinya rombongan sang Raja.

"Yang Mulia Raja telah kembali!" seru kasim pengawal dengan suara lantang.

Seluruh bangsawan, menteri, dan selir berdiri serentak, menundukkan kepala saat kuda hitam perkasa milik Julian melangkah memasuki pelataran utama perkemahan. Namun, perhatian seluruh hadirin seketika teralih pada sosok yang memacu kuda tepat di samping kanan sang Raja.

Aurelia Montclair melangkah anggun di atas kuda cokelatnya, mengenakan jubah bulu rubah putih yang terikat rapi di lehernya. Wajah pualamnya memancarkan pendar kecantikan yang segar, tanpa ada sedikit pun riak cemas atau keletihan. Di tangan lentiknya, ia menggenggam busur panah perak pemberian Julian beserta seekor burung elang rimba hasil buruannya yang sudah terkulai.

Gelas kristal di jemari Genevieve bergetar hebat. Wajah anggun selir tertua itu seketika memucat pasih, seolah baru saja melihat hantu yang bangkit dari dalam kubur.

Bagaimana mungkin?! jerit Genevieve dalam hatinya dengan amarah yang membakar. Bagaimana mungkin gadis itu kembali tanpa luka sedikit pun?!

Aurelia yang menyadari tatapan pucat Genevieve dari atas panggung kehormatan memutar kepalanya perlahan. Mata cokelat mewahnya mengunci pandangan Genevieve, lalu sebuah senyuman dingin—senyuman yang sarat akan kemenangan dan ejekan mutlak—terkembang indah di bibir merah alaminya.

Raja Julian melompat turun dari kudanya, berjalan mendampingi Aurelia menuju tangga panggung kehormatan di hadapan ratusan pasang mata bangsawan kerajaan.

"Hasil perburuan hari ini sangat memuaskan," seru Julian dengan suara baritonnya yang menggelegar di seluruh perkemahan. "Lady Aurelia tidak hanya menunjukkan keberaniannya di tengah rimba, tetapi juga berhasil mengamankan buruan paling berharga untuk kerajaan ini."

Para bangsawan dan menteri dari faksi netral serta faksi selatan memberikan tepuk tangan riuh, mengagumi kedekatan yang kian nyata di antara sang Raja dan putri keluarga Montclair tersebut.

Aurelia membungkuk anggun di hadapan Julian, lalu melangkah menuju meja kehormatan tempat Genevieve duduk terpaku. Aurelia sengaja menghentikan langkahnya tepat di samping kursi Genevieve, menunduk sedikit hingga suaranya hanya bisa didengar oleh selir tertua itu.

"Hutan Pinus hari ini sungguh sangat indah, Lady Genevieve," bisik Aurelia dengan suara merdu yang amat berbisa. "Pemanah-pemanah di dalam rimba tadi menembak dengan sangat buruk... tetapi anak panah beracun mereka sudah berada di tempat yang sangat aman di tangan Yang Mulia Raja."

Genevieve membeku total. Napasnya tertahan di tenggorokan saat menyadari makna mendalam di balik kata-kata Aurelia. Jebakan berburu yang ia rancang dengan sangat teliti tidak hanya gagal total, melainkan telah menyerahkan bukti langsung konspirasi militer Faksi Vance lurus ke dalam genggaman sang Raja.

Aurelia merapikan jubah bulu rubah putihnya, lalu berjalan meninggalkan panggung kehormatan dengan keanggunan seorang calon Ratu. Di belakangnya, kejatuhan Faksi Vance kini hanya tinggal menghitung hari menjelang malam puncak Perayaan Musim Panas.

~ To Be Continue

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!