Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 — BENIH YANG TIDAK SEHARUSNYA MATI
Pukul lima pagi, Desa Perbatasan Utara sudah terjaga.
Bukan karena kokok ayam atau suara pedagang yang mulai membuka lapak, melainkan karena batuk para petani yang sejak beberapa hari terakhir menghirup debu hitam dari sawah mereka sendiri.
Aku terbangun ketika suara batuk itu terdengar dari luar gubuk.
Untuk beberapa detik, aku hanya menatap atap bambu yang berlubang. Udara dingin menyelinap melalui celah dinding, sementara aroma lumpur bercampur asap memenuhi ruangan sempit itu.
Aku hampir lupa di mana aku berada.
Hampir.
Sampai aku menoleh dan melihat seorang laki-laki tidur di sampingku dengan pakaian putih yang sudah berubah warna menjadi abu-abu kecokelatan.
Segara El-Bhumi.
Kaisar yang biasanya membuat seluruh penghuni istana menundukkan kepala itu kini tidur beralaskan tikar pandan. Rambutnya sedikit berantakan, dan ada noda lumpur mengering di pipinya. Salah satu tangannya masih menggenggam ujung selimut tipis yang semalam kami perebutkan karena udara terlalu dingin.
Aku menahan senyum.
Kalau para pejabat Balairung melihat kaisar mereka sekarang, mungkin mereka akan mengira sedang menyaksikan pertanda buruk bagi kerajaan.
Atau lebih buruk lagi, mereka akan menyalahkanku karena telah mengubah kaisar agung mereka menjadi petani yang bahkan tidak memiliki tempat tidur layak.
Aku menggeser tubuh perlahan, berusaha tidak membangunkannya.
Namun, baru saja kakiku menyentuh lantai bambu, suara berat terdengar dari belakang.
"Mau ke mana?"
Aku menoleh.
Segara ternyata sudah membuka mata.
"Mencari udara segar, Gusti."
"Dengan wajah seperti orang yang hendak melarikan diri?"
"Ampun, Gusti Kaisar. Kalau saya benar-benar mau melarikan diri, saya tidak akan melakukannya ketika Gusti masih memegang ujung selimut saya."
Segara melirik tangannya sendiri.
Ia segera melepaskannya.
Aku tertawa kecil sebelum keluar dari gubuk.
Tawa itu hanya bertahan sebentar.
Di hadapanku terbentang hamparan sawah yang sebagian besar menghitam. Beberapa petani sudah berdiri di pematang, memandangi tanaman mereka yang rusak tanpa tahu harus berbuat apa.
Kemarin, kami berhasil membersihkan satu petak kecil berukuran dua kali dua meter. Pekerjaan itu menghabiskan hampir seluruh tenaga kami. Arang hasil pembakaran batang padi yang rusak masih tersimpan dalam karung di dekat gerobak kayu.
Satu petak bersih.
Sementara puluhan petak lain masih menunggu.
Aku mengembuskan napas panjang.
Kalau kami terus membersihkan sawah tanpa mengetahui penyebab kerusakannya, kami hanya akan menghabiskan tenaga dan waktu.
Hari ini, aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Bukan hanya pada tanaman yang menghitam, melainkan pada benih yang ditanam para petani.
---
Kepala Desa datang tidak lama kemudian.
Laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun itu membawa nampan anyaman bambu. Di atasnya terdapat dua mangkuk tanah berisi benih padi.
"Gusti Permaisuri, sesuai perintah Gusti kemarin, saya membawa benih yang masih tersisa dari sawah yang rusak."
Aku mempersilakannya meletakkan nampan di atas tikar.
"Yang mana benih dari sawah hitam?"
Kepala Desa menunjuk mangkuk sebelah kanan.
"Yang itu, Gusti. Kami mengambilnya sebelum seluruh tanaman dibersihkan."
Aku mengambil mangkuk tersebut.
Sebagian besar benih berwarna hitam kusam. Beberapa bulir bahkan meninggalkan noda ketika kusentuh, seperti arang yang terkena air.
Aku menuangkan isinya ke atas tikar, kemudian mengamatinya satu per satu.
Awalnya, aku mengira semuanya sama.
Namun, setelah memperhatikan lebih teliti, aku menemukan sesuatu yang janggal.
Tidak semua benih memiliki bentuk dan tekstur serupa.
Sebagian tampak keriput dan ringan. Ketika kupecahkan dengan tekanan kuku, bagian dalamnya hampir kosong. Sebagian lainnya justru keras, padat, dan terasa berat di antara jari-jariku.
Aku mengambil dua bulir, lalu meletakkannya berdampingan.
"Pak Kepala Desa, apakah semua benih yang ditanam petani berasal dari tempat yang sama?"
"Setahu saya begitu, Gusti. Benih itu dikirim dari istana beberapa bulan lalu."
"Beberapa bulan lalu?"
"Iya, Gusti. Kami menerima perintah untuk mengganti sebagian benih lama dengan benih baru yang katanya lebih unggul."
Aku belum menjawab.
Perhatianku kembali tertuju pada kedua bulir di tanganku.
Di abad kedua puluh satu, aku memang bukan ahli pertanian. Sebagai mahasiswi Sejarah, pengetahuanku tentang benih padi juga tidak sedalam mahasiswa Fakultas Pertanian. Namun, teman satu kosku dahulu sering bercerita tentang penelitian tanaman, termasuk cara membedakan benih yang masih layak tanam dan benih yang telah rusak.
Ingatan itu membuatku lebih berhati-hati.
Aku tidak boleh langsung menyimpulkan sesuatu hanya karena penampilannya berbeda.
"Apakah ada alat untuk menumbuk benih ini?" tanyaku.
Kepala Desa mengangguk dan memanggil seorang pelayan desa untuk mengambil batu kecil yang biasa digunakan menggiling rempah.
Aku mencoba memecahkan salah satu benih yang tampak keriput.
Benih itu mudah hancur.
Bagian dalamnya menghitam, kering, dan mengeluarkan bau lembap yang tidak menyenangkan.
Aku mencoba benih kedua.
Batu kecil itu hanya menghasilkan bunyi nyaring ketika membentur permukaannya.
Aku mengerutkan kening.
"Segara, kemarilah sebentar."
Laki-laki itu baru saja keluar dari gubuk. Ia mendekat dengan langkah tenang, kemudian berjongkok di sampingku.
"Ada apa?"
"Lihat ini."
Aku menyerahkan dua bulir benih kepadanya.
"Yang pertama mudah hancur, tetapi yang kedua keras sekali. Bahkan dengan batu pun sulit dipecahkan."
Segara mengamatinya tanpa tergesa-gesa.
Ia mencoba menekan benih kedua dengan kuku ibu jarinya. Benih itu tidak berubah sedikit pun.
Setelah menggunakan batu yang lebih besar, barulah permukaannya retak.
Seketika, serbuk hitam keluar dari bagian dalamnya.
Aku spontan menarik tanganku menjauh.
Serbuk itu berbeda dari bagian dalam benih pertama. Warnanya lebih pekat, dengan butiran halus yang memantulkan sedikit cahaya.
Aroma tajam menyeruak dari retakan tersebut.
Bau besi berkarat.
Dan sesuatu yang mengingatkanku pada bunga yang telah lama membusuk.
Tubuhku menegang.
Aku pernah mencium bau itu sebelumnya.
Bukan di sawah.
Bukan pula di lumbung.
Melainkan ketika aku pertama kali mengetahui bagaimana pemilik tubuh ini hampir kehilangan nyawanya.
Serbuk teratai hitam.
Racun yang konon diminum Kahiyang asli sebelum aku terbangun dalam tubuhnya.
Aku menatap serbuk di atas tikar, berusaha menahan pikiran yang mulai berlarian ke mana-mana.
Tidak.
Aku tidak boleh langsung menganggap keduanya berasal dari sumber yang sama hanya karena baunya mirip.
Namun, kemiripan itu terlalu mencolok untuk diabaikan.
"Gusti?" Kepala Desa memandangku dengan wajah pucat.
Aku baru menyadari bahwa sejak tadi ia tidak bergerak.
"Ada apa?"
"Serbuk itu..." Ia menelan ludah. "Saya pernah melihatnya."
Segara mengangkat wajah.
"Di mana?"
Kepala Desa tampak ragu. Pandangannya berpindah dari Segara kepadaku, lalu kembali kepada serbuk hitam tersebut.
"Di sebuah botol kecil, Gusti. Beberapa tahun lalu, ketika kabar tentang calon permaisuri yang mencoba mengakhiri hidupnya sampai ke desa kami."
Aku merasakan tengkukku meremang.
Ia melanjutkan dengan suara yang semakin pelan.
"Orang-orang mengatakan bahwa perempuan itu meminum racun teratai hitam. Sebagian warga bahkan percaya keluarganya membawa kesialan bagi kerajaan."
Aku mengepalkan tangan.
Jadi, kabar itu telah menyebar hingga ke perbatasan.
Bahkan setelah bertahun-tahun, orang-orang masih mengingat Kahiyang sebagai perempuan pembawa sial.
Aku menatap benih-benih di atas tikar.
Kalau memang seseorang sengaja memasukkan serbuk berbahaya ke dalam benih, masalah ini bukan sekadar persoalan pertanian.
Ada seseorang yang mungkin mengetahui racun yang pernah digunakan untuk melukai tubuh ini.
Dan orang itu mungkin sedang berusaha mengulang sesuatu yang pernah terjadi.
---
"Jangan sentuh serbuk itu lagi," ujar Segara kepada para petani yang mulai berkumpul di depan pintu.
Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat semua orang berhenti bergerak.
"Siapkan kain bersih. Tutup mangkuk ini dan simpan di tempat terpisah. Jangan dibakar, jangan dicampur dengan benih lain, dan jangan dibawa ke mana pun sebelum diperiksa."
Aku mengangguk setuju.
"Kita juga harus memastikan para petani tidak menyentuh benih yang mencurigakan dengan tangan kosong. Debunya bisa terhirup."
Segara menoleh kepadaku.
"Kau yakin serbuk ini berbahaya?"
"Aku belum bisa memastikan jenisnya. Tetapi melihat bentuk dan baunya, kita tidak boleh mengambil risiko."
Ia tidak membantah.
Untuk sesaat, aku merasa lega karena ia tidak memaksaku memberikan jawaban yang belum kumiliki.
Aku kemudian meminta Kepala Desa mengambil beberapa wadah tambahan.
Kami mulai memisahkan benih berdasarkan ciri-cirinya. Benih yang rapuh dan berisi bagian dalam yang rusak ditempatkan di satu wadah. Benih yang keras dan mengeluarkan serbuk hitam disimpan di wadah lain.
Pekerjaan itu jauh lebih lama daripada yang kubayangkan.
Tidak semua benih mudah dibedakan. Ada beberapa yang permukaannya hitam, tetapi bagian dalamnya masih menyerupai benih biasa. Ada pula yang tampak utuh, tetapi meninggalkan noda hitam ketika ditekan.
Aku harus memeriksa semuanya dengan teliti.
Segara tetap duduk di sampingku.
Sesekali ia mengambil benih yang keliru, lalu mengembalikannya setelah aku menjelaskan perbedaannya.
"Kau mempelajari semua ini di abad kedua puluh satu?" tanyanya setelah beberapa lama.
"Sebagian. Sisanya aku ingat dari cerita teman."
"Temanmu seorang tabib?"
"Bukan. Mahasiswa pertanian."
Segara terdiam sebentar.
"Di zamanmu, apakah semua orang mempelajari hal yang berbeda?"
Aku menoleh kepadanya.
"Tentu saja. Ada yang mempelajari sejarah, pertanian, pengobatan, bangunan, bahkan cara membuat benda kecil yang bisa digunakan untuk berbicara dengan orang jauh."
Ia menatapku seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Kalau begitu, mungkin kerajaan ini membutuhkan lebih banyak orang sepertimu."
Aku hampir menjawab dengan candaan, tetapi urung ketika melihat ekspresinya.
Segara tidak sedang memujiku.
Ia benar-benar memikirkan sesuatu.
"Dulu," katanya kemudian, "aku hanya menerima laporan hasil panen. Berapa banyak karung yang masuk, berapa yang disimpan, dan berapa yang dibagikan kepada rakyat."
Ia mengambil sebuah benih dari wadah di depannya.
"Aku tidak pernah berpikir bahwa satu bulir kecil bisa menjadi awal dari masalah sebesar ini."
Aku memperhatikannya dalam diam.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke perbatasan, aku melihat seorang kaisar yang tidak hanya memikirkan siapa yang harus dihukum ketika sesuatu berjalan salah.
Ia mulai ingin memahami mengapa hal itu bisa terjadi.
Dan entah mengapa, pemandangan itu membuatku sedikit lebih tenang.
---
Menjelang tengah hari, Mbok datang membawa rantang makanan.
Begitu melihat kami duduk di atas tikar dengan tangan kotor, ia langsung mengangkat kedua alisnya.
"Aduh, Gusti! Sejak pagi belum makan, ya?"
Aku melirik matahari yang sudah cukup tinggi.
"Sebentar lagi, Mbok."
"Sebentar lagi bagaimana? Dari tadi saya dengar Gusti masih memisahkan benih. Kalau perut Gusti kosong, nanti malah pusing. Kalau Gusti pingsan, siapa yang akan mengurus semuanya?"
Aku menghela napas.
"Baiklah, Mbok. Kami makan sekarang."
Mbok membuka rantang berisi nasi, tempe goreng, dan sambal. Untuk ukuran makanan sederhana di desa perbatasan, aromanya cukup menggugah selera.
Segara mengambil tempat di sampingku.
"Di mana minumnya?" tanyanya.
Mbok menunjuk kendi tanah di sudut gubuk.
"Air sumur, Gusti. Maaf, saya belum sempat membuat teh."
Segara memandang kendi itu dengan ekspresi datar.
Aku menahan tawa.
"Tenang, Gusti. Tidak ada garam di dalamnya."
Ia menoleh tajam.
"Kahiyang."
Aku akhirnya tertawa.
Bahkan di tengah sawah yang rusak dan penyelidikan yang semakin mencemaskan, rupanya aku masih sempat menggoda seorang kaisar.
Mbok hanya menggeleng melihat kami.
"Sudah, sudah. Makan dulu. Jangan sampai nanti yang menghitam bukan cuma padi, tetapi juga wajah Gusti karena kelaparan."
Untuk pertama kalinya pagi itu, aku melihat sudut bibir Segara bergerak tipis.
Hampir menyerupai senyuman.
---
Menjelang sore, pekerjaan kami akhirnya selesai.
Dari seluruh benih yang berhasil diperiksa, sebagian besar menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Namun, sekitar tiga puluh persen memiliki ciri yang berbeda: keras, padat, dan menyimpan serbuk hitam di bagian dalamnya.
Angka itu membuatku sulit tenang.
Jika perbandingannya serupa pada benih yang dibagikan kepada para petani lain, jumlah benih mencurigakan tersebut tidak sedikit.
Aku meminta Kepala Desa mencatat hasil pemeriksaan sementara. Kami belum memiliki alat untuk memastikan kandungan serbuknya, sehingga aku melarang siapa pun menyebutnya sebagai racun yang sudah terbukti.
Namun, satu hal sudah jelas.
Ada perbedaan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan mengatakan bahwa semua tanaman rusak karena penyakit.
Aku mengangkat wajah kepada Kepala Desa.
"Pak, saya ingin tahu dari mana benih ini berasal. Siapa yang mengirimnya?"
Wajah laki-laki itu langsung berubah.
"Saya... saya tidak tahu persis, Gusti."
"Kalau begitu, siapa yang menerima kiriman tersebut?"
Kepala Desa meremas ujung pakaiannya.
"Benih itu datang dari istana sekitar dua bulan lalu. Dibawa oleh beberapa orang menggunakan gerobak kerajaan."
"Apakah ada surat perintah?"
"Ada, Gusti. Suratnya disimpan di lumbung desa. Pengiriman itu dilakukan atas perintah Patih Agung."
Nama itu membuat Segara terdiam.
Perubahan pada wajahnya sangat kecil, tetapi aku sempat melihat rahangnya mengeras.
"Patih Agung sendiri yang menandatangani surat tersebut?" tanyanya.
Kepala Desa menggeleng cepat.
"Saya tidak berani memastikan, Gusti. Surat itu membawa segel istana. Saya hanya menerima dan menjalankan perintah."
Segara tidak melanjutkan pertanyaan.
Ia mengambil kain bersih, membungkus wadah berisi benih mencurigakan, lalu menyerahkannya kepada pengawal yang sejak tadi berjaga di luar.
"Jaga baik-baik. Tidak seorang pun boleh mengambil atau memindahkannya tanpa izinku."
"Siap, Gusti."
Setelah pengawal pergi, Segara kembali menatap Kepala Desa.
"Besok pagi, bawa kami ke lumbung. Aku ingin melihat surat perintah, catatan penerimaan, dan seluruh persediaan benih yang masih tersisa."
Kepala Desa membungkuk dalam-dalam.
"Baik, Gusti."
Aku memandang wadah yang kini berada dalam penjagaan pengawal.
Patih Agung.
Nama itu pernah muncul dalam pembicaraan tentang urusan kerajaan, dan sekarang kembali muncul di tengah masalah yang semakin rumit.
Namun, aku tidak ingin terburu-buru menuduhnya.
Bisa saja ia terlibat.
Bisa juga namanya digunakan oleh seseorang yang ingin menyembunyikan identitas pelaku sebenarnya.
Apa pun jawabannya, lumbung desa mungkin menyimpan petunjuk pertama yang benar-benar bisa kami periksa.
---
Malam turun perlahan di Desa Perbatasan Utara.
Aku kembali duduk di atas tikar pandan, sementara Segara memeriksa beberapa catatan yang berhasil dikumpulkan Kepala Desa. Di luar, angin berembus melewati sawah yang menghitam, membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran.
Aku mengusap kedua telapak tanganku yang masih terasa kotor meskipun sudah dicuci berkali-kali.
Di hadapanku, dua wadah benih tersimpan terpisah.
Satu berisi benih yang menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
Satu lagi berisi benih keras yang bagian dalamnya mengandung serbuk hitam mencurigakan.
Aku teringat kembali pada botol kecil yang pernah dikaitkan dengan kematian pemilik tubuh ini.
Dahulu, orang-orang menganggap Kahiyang sebagai perempuan yang membawa kesialan. Mereka mungkin tidak pernah bertanya mengapa ia sampai mencoba mengakhiri hidupnya. Mereka hanya menerima cerita yang paling mudah dipercaya.
Sekarang, sawah di perbatasan menghadapi masalah serupa.
Tanaman menghitam, rakyat ketakutan, dan orang-orang mulai mencari seseorang untuk disalahkan.
Jangan-jangan, ada pihak yang sengaja menciptakan keadaan ini agar semua orang kembali percaya bahwa kehadiranku membawa petaka.
"Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Segara.
Aku mengangguk.
"Aku hanya merasa ada hubungan antara benih ini dan kejadian yang menimpa tubuh Kahiyang sebelumnya."
Segara meletakkan catatan di pangkuannya.
"Karena serbuknya?"
"Karena serbuknya, dan karena semuanya terlalu kebetulan. Tapi aku belum punya bukti yang cukup."
Ia terdiam cukup lama.
"Aku tidak akan meminta kau berhenti menyelidiki," katanya akhirnya. "Namun, berjanjilah satu hal."
"Apa?"
"Jangan menghadapi orang yang mungkin ingin mencelakaimu seorang diri."
Aku menatapnya.
Di istana, Segara terbiasa memberi perintah. Bahkan ketika menunjukkan perhatian, kata-katanya sering terdengar seperti larangan.
Namun, malam ini suaranya berbeda.
"Aku akan berusaha," jawabku.
"Itu bukan jawaban yang meyakinkan."
"Kalau begitu, aku berjanji tidak akan sengaja mencari bahaya. Puas, Gusti Kaisar?"
Segara mengembuskan napas, seolah menyadari bahwa berdebat denganku hanya akan membuat malam semakin panjang.
Ia kembali merapikan catatan.
Aku berbaring, menarik selimut hingga menutupi bahu. Jarak kami hanya selebar satu jengkal, tetapi pikiranku masih tertinggal di antara benih-benih hitam yang kami periksa sepanjang hari.
Besok, kami akan mendatangi lumbung desa.
Kami akan melihat surat perintah yang membawa nama Patih Agung, memeriksa catatan persediaan, dan mencari tahu apakah benih mencurigakan itu memang berasal dari istana.
Aku belum tahu siapa yang berada di balik semua ini.
Aku juga belum tahu apakah serbuk hitam tersebut benar-benar berkaitan dengan racun teratai hitam yang pernah merenggut nyawa pemilik tubuhku.
Namun, aku tidak akan membiarkan orang lain menentukan kebenaran hanya melalui tuduhan dan desas-desus.
Di luar, angin kembali bertiup melewati hamparan sawah yang menghitam.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak tiba di perbatasan, aku merasa bahwa misteri yang sedang kuhadapi jauh lebih besar daripada sekadar kegagalan panen.
Seseorang telah mengirim benih yang seharusnya tidak pernah ditanam.
Sekarang, aku hanya perlu menemukan siapa orang itu.
Besok pagi, penyelidikan akan dimulai dari lumbung desa.