Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 — KAMBING KENDIT UJUNG KULON
Pagi fajar menyingsing menyiramkan cahaya kuning suram di atas atap rumah panggung kami.
Aku berdiri kaku di ambang pintu kamar, memandangi ibu jari tangan kananku yang dibalut kain.
Noda hitam berbentuk batu nisan di bawah kuku ibu jariku mendadak berdenyut-denyut sangat dingin.
Sensasi dingin membekukan merambat naik dari pergelangan tangan hingga menembus ke siku lengan.
Ningsih terbangun dari tidurnya, melangkah mendekatiku dengan raut wajah yang sangat pucat cemas.
“Mas... kenapa kamu berdiri membisu di pintu kamar pagi-pagi begini?” tanya Ningsih berbisik pelan.
“Aku harus pergi ke Ujung Kulon pagi ini, Ningsih,” jawabku dengan nada suara bergetar pelan.
“Ada keperluan apa kamu pergi jauh ke Ujung Kulon, Mas?” tanya Ningsih penuh rasa heran.
“Simbah dan Ujang menuntut sajen kambing kendit hitam buat malam Jumat Kliwon depan, Ningsih,” jawabku jujur.
Ningsih terperanjat kaget, mundur satu langkah sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
Air mata kecemasan mendadak menggenang basah di pelupuk matanya yang sembap karena ketakutan.
“Astagfirullahaladzim, Mas... kenapa sajen iblis itu makin hari makin besar dan menakutkan?” jerit Ningsih.
“Kemarin dulu ayam cemani hitam, sekarang mereka minta kambing kendit!” lanjutnya menangis terisak.
“Aku tidak punya pilihan lain lagi, Ningsih,” jawabku merangkul kedua bahu kemejanya yang gemetar.
“Simbah semalam memperingatkanku di depan halaman rumah panggung kita,” jelasku dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau aku tidak membawa darah kambing kendit itu... nyawa Dedek yang ditarik sebagai gantinya,” ringisku.
Ningsih meremas jemari tangannya sendiri, menangis histeris mendengarkan ancaman maut gaib tersebut.
“Kenapa hidup keluarga kita jadi tersiksa dan dikejar-kejar bayangan iblis begini, Mas?” amuk Ningsih.
“Apakah tidak ada jalan lain lagi buat membatalkan perjanjian gaib ini, Mas?” tanyanya memohon.
“Tidak ada jalan lain lagi, Ningsih,” jawabku menahan kepedihan di dada.
“Maafkan aku, Ningsih... semua dosa ini adalah tanggung jawabku sebagai kepala keluarga,” rintihku pasrah.
“Tolong jaga Dedek baik-baik selama aku pergi mencari kambing kendit itu di Ujung Kulon,” pesanku.
Ningsih mengangguk pelan menerima kenyataan pahit, mengusap air matanya dengan ujung selendang lusuh.
“Hati-hati di jalan ya, Mas... pulanglah membawa keselamatan buat keluarga kita,” bisik Ningsih meratap.
Aku menganggukkan kepala kaku, lalu melangkah menuju bangunan toko di samping rumah panggung.
Aku merogoh uang kertas puluhan ribu rupiah dari dalam kotak kasir kayu meja toko.
Uang kertas hasil pesugihan itu terasa sangat dingin membekukan, seolah baru dikeluarkan dari dalam es.
Aku memasukkan tumpukan uang kertas dingin itu ke dalam kantong goni tua yang lusuh.
Sepeda motor tua di samping rumah segera kunyalakan mesinnya dengan engkol kaki yang keras.
Motor memacu cepat menyusuri jalanan tanah desa menuju wilayah perkampungan Ujung Kulon di barat.
Perjalanan menuju Ujung Kulon memakan waktu hampir satu jam menembus bukit dan kebun bambu.
Udara pagi di sepanjang jalan terasa sangat dingin dan lembap, diselimuti gumpalan kabut tebal.
Pohon-pohon jati tua dan rimbunan pohon pisang liar mendominasi pemandangan di kiri kanan jalan.
Aroma bau pandan basah dan kamboja busuk seakan-akan terus mengekor di belakang roda motorku.
Satu jam berkendara, aku tiba di pemukiman terpencil Ujung Kulon yang sangat sepi sunyi.
Rumah-rumah panggung warga berdiri terpisah jauh, dipagari oleh rimbunan kebun bambu yang gelap.
Aku memperlambat laju motor tua, mencari keberadaan rumah Pak Wiryo sang peternak kambing tua.
Seorang warga desa yang sedang mengangkut kayu bakar menunjuk ke arah rumah kayu di ujung.
Aku menghentikan sepeda motor di depan halaman rumah kayu tua milik Pak Wiryo.
Grombol!
Suara pintu bambu kandang di samping rumah Pak Wiryo berderit nyaring tertiup angin dingin.
Seorang lelaki tua berbadan bungkuk melangkah keluar teras dengan mata katarak yang memutih kaku.
Pak Wiryo berjalan diseret memakai tongkat kayu, mendatangi keberadaanku di halaman rumah.
“Siapa orang di luar sana pagi-pagi begini?” tanya Pak Wiryo dengan suara serak berat.
“Saya Surya dari desa sebelah, Pak Wiryo,” jawabku santai sambil menundukkan kepala sopan.
“Saya datang ke sini mau membeli ekor kambing kendit hitam milik Bapak,” tambahku berterus terang.
Pak Wiryo mendadak menghentikan langkah kakinya, menatap ke arahku dengan matanya yang buta kusam.
“Kambing kendit hitam?” tanya Pak Wiryo dengan nada suara yang bergetar penuh keraguan.
“Untuk apa kamu mencari kambing kendit hitam di kandang saya, anak muda?” selidiknya curiga.
“Saya butuh kambing itu buat keutuhan sajen keselamatan keluarga saya, Pak Wiryo,” jawabku jujur.
Pak Wiryo terkekeh pelan, sebuah tawa serak mengerikan yang mengeluarkan bau tanah dari mulutnya.
“Sajen keselamatan keluarga... atau sajen penetapan Makam Keramat Panjang, Surya?” bisik Pak Wiryo.
Darahku terasa membeku seketika mendengarkan sebutan Makam Keramat Panjang dari bibir Pak Wiryo.
Lelaki tua buta ini ternyata sudah sangat paham tentang tujuan kedatangan pembeli kambing kendit.
“Bagaimana Pak Wiryo bisa tahu tentang Makam Keramat Panjang?” tanyaku dengan jantung berdegup keras.
“Hanya orang-orang yang terikat perjanjian pesugihan makam itu yang mencari kambing kendit, Surya,” jawabnya.
“Dua tahun lalu, Kasan dari desamu juga datang ke kandang ini membeli kambing kendit,” tambahnya.
“Lihatlah bagaimana nasib Kasan sekarang... raganya membusuk menjadi bangkai hidup di kebunnya!” ujar Pak Wiryo.
Seluruh bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak mendengarkan pengakuan jujur Pak Wiryo.
“Apakah kambing kendit itu benar-benar mahluk khusus buat perjanjian gaib, Pak Wiryo?” tanyaku.
“Apakah tidak ada hewan lain yang bisa menggantikan posisi kambing kendit itu, Pak Wiryo?” tanyaku lagi.
Pak Wiryo menganggukkan kepalanya perlahan, melangkah menuju kandang bambu di samping rumah.
“Kambing kendit dengan sabuk putih di perutnya bukan kambing ternak biasa, Surya,” jelas Pak Wiryo.
“Kambing jenis ini adalah wadah penampung darah gaib yang disukai oleh penunggu makam,” sambungnya.
“Tidak ada hewan lain yang bisa menggantikan kedudukan kambing kendit ini buat sajen,” tegas Pak Wiryo.
Pak Wiryo membuka selot bambu pintu kandang, lalu menuntun seekor kambing keluar ke halaman.
Seekor kambing jantan berbulu hitam pekat berdiri kaku di depan mata kepalaku sendiri.
Di bagian tengah perut kambing itu, terdapat lingkar bulu putih mulus menyerupai sabuk kain.
Kambing kendit itu membisu kaku tanpa mengembik sedikit pun, menatapku dengan mata keemasan redup.
Pendar cahaya keemasan dari mata kambing itu menatap lurus ke arah ibu jari tangan kananku.
“Kambing kendit hitam ini yang kamu butuhkan buat sajen Jumat Kliwon depan, Surya,” kata Pak Wiryo.
“Berapa harga pembayaran yang harus saya serahkan buat kambing ini, Pak Wiryo?” tanyaku merogoh kantong.
“Dua juta rupiah tunai... jangan kurang satu rupiah pun!” jawab Pak Wiryo tegas.
Aku merogoh kantong goni, mengeluarkan tumpukan uang kertas merah hasil penjualan toko.
Aku menyerahkan dua puluh lembar uang seratus ribu rupiah ke atas telapak tangan Pak Wiryo.
Begitu jemari Pak Wiryo menyentuh uang kertas itu, lelaki tua itu mendadak menggigil hebat.
“Uang kertas dari Makam Keramat Panjang ini terasa sangat dingin membekukan, Surya!” bisik Pak Wiryo.
“Kenapa uang kertasmukau ini baunya seperti bunga kamboja dan tanah kuburan basah?” selidiknya.
“Uang ini asli hasil penjualan toko kelontong saya, Pak Wiryo,” kelitku membohongi alasannya.
Pak Wiryo memasukkan uang dingin itu ke dalam saku bajunya, lalu menyerahkan tali tambang kambing.
“Bawa kambing kendit ini pergi sekarang sebelum matahari berada di atas kepala,” pesan Pak Wiryo.
“Ingat baik-baik, jangan pernah membiarkan kambing ini bersuara sebelum disembelih di atas nisan!” ancamnya.
“Kalau kambing ini mengembik sebelum disembelih... darah anakmu yang menggantikan posisinya!” gertak Pak Wiryo.
Jantungku melonjak keharuan luar biasa bercampur rasa takut yang sangat menyiksa dada.
“Apakah ada aturan lain yang wajib saya patuhi selama perjalanan pulang, Pak Wiryo?” tanyaku bergetar.
“Jangan pernah membiarkan orang asing menyentuh sabuk putih di perut kambing ini!” jawab Pak Wiryo.
“Baiklah, Pak Wiryo, saya janji akan menjaga kambing ini sampai ritual Jumat Kliwon,” sahutku pasrah.
Aku menuntun kambing kendit hitam itu mendekati sepeda motor tua saya di halaman.
Kambing itu melangkah kaku bagaikan patung kayu, menuruti setiap tarikan tali di tanganku.
Aku mengikat tubuh kambing kendit itu di jok belakang sepeda motor tua memakai tali tambang tebal.
Perjalanan pulang menuju rumah panggung terasa sangat panjang dan mencekam di sepanjang jalan.
Kambing kendit di belakangku tetap membisu kaku, tidak bergerak atau mengembik sama sekali.
Namun hawa dingin membekukan merambat keluar dari bulu hitam kambing itu, menyengat punggungku.
Aroma bau tanah kuburan basah dan kamboja busuk makin pekat tercium sepanjang perjalanan pulang.
Sore harinya pukul empat lebih lima belas menit, aku tiba di halaman rumah panggung kami.
Ningsih berlari keluar teras, terbelalak lebar memandangi sosok kambing kendit di jok motor.
“Mas... ini kambing kendit hitam yang kamu cari dari Ujung Kulon itu?” tanya Ningsih gemetar.
“Iya, Ningsih, ini kambing kendit sajen buat ritual malam Jumat Kliwon depan,” jawabku pelan.
“Kenapa kambing ini baunya seperti bangkai basah di pekuburan tua ya, Mas?” tanya Ningsih ketakutan.
“Kambing ini dikhususkan buat wadah sajen darah penunggu makam, Ningsih,” tuturnya menenangkan.
Aku melepaskan ikatan tali tambang, lalu menuntun kambing kendit itu menuju pondok kurungan belakang.
Pondok kurungan di samping kebun pisang menjadi tempat peristirahatan sementara kambing tersebut.
Dedek melangkah keluar dari dalam rumah panggung, melongok penasaran memandangi kambing hitam.
Anak kecilku mendekati pondok kurungan, menatap sosok kambing kendit dengan mata bulat polosnya.
“Bapak... kenapa kambing hitam ini baunya persis sama dengan paman tinggi di jendela?” tanya Dedek polos.
“Kenapa mata kambing ini merah menyala memandangi tangan kanan Bapak terus?” tambah Dedek bingung.
Jantungku mendadak berhenti berdetak sejenak mendengarkan kepolosan ucapan anak kandungku.
“Dedek... kamu jangan dekat-dekat sama kambing itu ya, Nak!” seru Ningsih panik merangkul Dedek.
“Iya, Bu, kambing hitam itu matanya merah memandangi tangan Bapak terus,” jawab Dedek jujur.
Ningsih membawa Dedek masuk kembali ke dalam rumah panggung dengan rasa takut yang amat sangat.
Aku mengunci selot bambu pintu pondok kurungan, memastikan kambing kendit aman di dalam.
Malam harinya, suasana di dalam rumah panggung kami terasa sangat dingin dan penuh misteri.
Angin malam bertiup kencang, menggoyangkan dedaunan pohon pisang dan atap seng dapur.
Srik!
Suara langkah kaki mendadak terdengar mendekati teras depan rumah panggung kami.
Ujang melangkah masuk ke dalam teras dengan raut wajah yang sangat tegang dan serius.
“Surya! Apakah kamu benar-benar berhasil mendapatkan kambing kendit dari Ujung Kulon?” tanya Ujang.
“Kambing kendit hitam itu sudah kukurung rapat di pondok samping kebun pisang, Jang,” jawabku pelan.
Ujang bergegas berjalan ke samping rumah, memeriksa keadaan kambing kendit di dalam pondok.
Di balik celah dinding bambu, mata keemasan kambing kendit menatap wajah Ujang di dalam kegelapan.
Ujang bernapas lega, lalu berbalik jalan mendatangi keberadaanku di teras depan.
“Kambing kendit ini benar-benar wadah sajen sempurna yang ditagih oleh Simbah, Mas!” puji Ujang.
“Apakah kambing kendit ini pasti bisa menyelamatkan nyawa anak dan istriku, Jang?” tanyaku tegang.
“Pasti bisa, Mas! Sajen darah kambing kendit adalah puncak penetapan ikatan perjanjian gaib!” tegas Ujang.
“Apakah ada persiapan khusus yang harus kusiapkan buat besok lusa, Jang?” tanyaku memastikan.
“Kamu harus menyiapkan pisau dapur tajam dan tujuh liter air mawar segar!” jawab Ujang.
“Malam Jumat Kliwon besok lusa kamu wajib menuntaskan penyembelihan di atas batu nisan!” tambahnya.
“Ingat pesan Pak Wiryo, jangan pernah membiarkan kambing ini mengembik sebelum disembelih!” gertak Ujang.
“Kalau kambing ini mengembik di jalan... perjanjian gaib batal dan anakmu ditarik permanen!” ancamnya.
Aku menelan ludah yang terasa sangat pahit dan menyiksa tenggorokan mendengarkan peringatan Ujang.
“Aku pasti akan menjaga mulut kambing ini rapat-rapat sampai ke atas nisan, Jang,” janji pasrahku.
“Baguslah kalau kamu paham, siapkan pisau tajam dan tujuh liter air mawar buat besok lusa!” pesan Ujang.
“Aku mendoakan semoga ritual puncakmu nanti malam berjalan lancar tanpa ada cela,” tambah Ujang.
Ujang menepuk bahuku keras, lalu berbalik melangkah jalan menuju kendaraan sepeda motornya.
Deru mesin motornya meraung pelan sebelum akhirnya menghilang ditelan keheningan malam desa.
Aku berdiri sendirian di teras rumah panggung, memandangi ibu jari tangan kananku yang bernoda nisan.
Di bawah pendar sinar rembulan malam, noda batu nisan di kuku ibu jariku memancar terang.
Garis-garis hitam kebiruan berbentuk akar pohon tua makin merambat menembus kulit dagingku.
Malam Jumat Kliwon penetapan sajen darah kambing kendit di Makam Keramat Panjang makin mendekat.
---