Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Jejak Kepergian Ivy
Tuan Gilbert menatap tajam ke arah Jack.
“Jadi, kau sama sekali tidak mengenal pria itu?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan, Jack menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Tuan. Saya benar-benar tidak mengenalnya."
Gilbert terdiam beberapa saat, tatapannya kemudian beralih pada jack yang berada di hadapannya.
“Cari tahu siapa dia.” Perintah tuan Gilbert.
“Baik, Tuan.” Jack mengangguk.
“Aku ingin tahu kenapa pria itu yang memesan mobil rental untuk Ivy, apakah dia mengenal Ivy? Apakah Ivy meminta bantuannya? Dan yang paling penting...” Gilbert berhenti sejenak. “Cari tahu ke mana Ivy pergi.”
Jack mengangguk lagi.
“Cari juga siapa pengemudi yang mengantarkan Ivy pada hari itu, aku ingin tahu rute mobil tersebut sejak Ivy meninggalkan apartemennya.”
“Baik, Tuan Gilbert. Saya akan segera mencarinya.”
Jack langsung pergi untuk menjalankan perintah tersebut. Tiga jam kemudian, Jack akhirnya kembali.
“Tuan.”
Gilbert yang sejak tadi menunggunya segera menoleh.
“Bagaimana?” Tanya Gilbert penasaran.
“Kami sudah menemukan pria yang memesan mobil rental tersebut.” Kata Jack menatap Gilbert serius.
“Siapa?” Tanya Gilbert.
“Namanya Timmy.”
Gilbert mengernyitkan keningnya, siapa Timmy itu, apakah dia teman Ivy.
“Bawa dia kemari.” Perintah Gilbert.
“Sudah, Tuan. Dia menunggu di luar.” Kata Jack.
“Suruh dia masuk.”
Beberapa menit kemudian, seorang pria muda masuk dengan wajah gugup. Timmy berdiri beberapa langkah di depan Gilbert.
"Timmy?” Tanya Gilbert memastikan.
“I-iya, Tuan.” Jawab Timmy gugup, bagaimana tidak gugup jika Gilbert menatapnya setajam itu. Keringat dingin bahkan mulai membasahi bajunya.
“Apakah kau yang memesan mobil rental untuk Ivy?” Tanya Gilbert tajam.
Timmy mengangguk gugup.
“I iya, Tuan.” Jawab Timmy terbata.
“Kenapa?” Tanya Gilbert kembali.
“Saya memesannya karena Nona Ivy yang meminta saya tuan.” Jawab Timmy dengan tubuh gemetar.
Gilbert langsung menyipitkan matanya.
“Ivy yang memintanya?” Tanya Gilbert, entah kenapa dia merasa tidak puas dengan jawaban Timmy.
“Benar, Tuan.” Jawab Timmy.
“Lalu, apa kau tahu siapa pengemudi yang mengantarkan Ivy?” Gilbert kembali bertanya, karena jawaban Timmy masih tidak membuatnya menemukan jawaban yang dia cari.
Timmy segera menggeleng.
“Tidak, Tuan. Saya tidak tahu, saya hanya diminta memesan mobil. Setelah mobil datang, saya tidak ikut pergi bersama Nona Ivy.” Jawab Timmy ketakutan.
Gilbert memperhatikan ekspresi Timmy dengan saksama.
“Apakah kau mengenal Ivy sebelumnya?” Tanya Gilbert memicing.
“Tidak, Tuan.” Timmy kembali menggeleng.
“Tidak pernah?”
“Tidak pernah.” Jawab Timmy jujur, karena dia memang sama sekali tidak mengenal Ivy sebelumnya. Dia membantu Ivy karena Ivy menawarkan dia sejumlah uang jika dia mau membantu Ivy memesan mobil itu. Lagipula siapa yang tidak mau uang, apalagi jika pekerjaan yang di berikan itu termasuk ringan.
“Lalu bagaimana kau bisa mengenalnya?” Tanya Gilbert lagi.
Timmy menelan ludah sebelum menjawab.
“Saya bekerja sebagai cleaning service di apartemen tempat Nona Ivy tinggal.”
Gilbert terdiam.
“Semenjak kapan?”
“Baru beberapa hari, Tuan.”
“Jadi sebelum bekerja di sana, kau tidak pernah mengenal Ivy?”
“Tidak tuan, saya tidak mengenal nona Ivy.”
Gilbert menyandarkan tubuhnya ke kursi, dia merasa tidak nyaman dengan kebenaran yang di sampaikan oleh Timmy padanya tadi.
“Baik, kau boleh pergi.”
Timmy membungkuk dan segera meninggalkan ruangan itu.
Begitu pintu tertutup, Gilbert kembali menatap Jack.
“Ada sesuatu yang tidak masuk akal.”
Jack diam menunggu.
“Ivy pergi dengan begitu tergesa-gesa, dia menggunakan orang yang bahkan tidak mengenalnya untuk memesan mobil rental. Dia juga memastikan tidak ada orang yang tahu ke mana dia pergi.”
Gilbert berdiri.
“Jack.”
“Ya, Tuan?”
Tuan Gilbert terdiam cukup lama setelah mendengar jawaban Timmy.
Pikirannya mulai dipenuhi dengan berbagai kemungkinan tentang ke mana Ivy pergi. Namun, tiba-tiba sebuah ingatan muncul di benaknya.
Semalam, Jack mengatakan sesuatu kepadanya.
Ivy berencana untuk pergi ke Jepang, bahkan menurut laporan Jack, Ivy sudah memesan tiket pesawat dan menyiapkan seluruh dokumen yang dibutuhkannya untuk perjalanan tersebut.
Mata Gilbert langsung melebar.
“Jepang...” gumamnya pelan.
Dia segera menoleh kepada Jack.
“Jack, cepat periksa seluruh jadwal penerbangan ke Jepang hari ini.”
Jack langsung mengangguk.
“Baik, Tuan.”
Jack segera mengambil ponselnya dan mulai menghubungi bagian yang dapat memberikan informasi mengenai daftar penumpang. Sementara itu, Gilbert terus berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Di dalam kepalanya hanya ada satu pertanyaan.
Apakah Ivy benar-benar pergi?
Beberapa menit kemudian, Jack kembali dengan wajah yang terlihat jauh lebih serius.
“Tuan...”
Gilbert langsung menghampirinya.
“Bagaimana?” Tanya Gilbert penasaran.
Jack menarik napas sebelum menjawab.
“Saya sudah memeriksanya.”
“Bagaimana hasilnya?” tanya Gilbert dengan suara tegang.
Jack menatap layar ponselnya sekali lagi untuk memastikan informasi tersebut benar.
“Ada penumpang bernama Ivy Alexandra Myles yang tercatat dalam salah satu penerbangan menuju Jepang hari ini.”
Gilbert membeku.
“Ivy?”
“Benar, Tuan.”
Gilbert segera berdiri.
“Pesawatnya masih di bandara?”
Jack terdiam sesaat sebelum menjawab.
“Sayangnya tidak, Tuan.”
“Apa maksudmu?”
“Pesawatnya sudah lepas landas sekitar tiga puluh menit yang lalu tuan.”
Ruangan itu mendadak terasa sunyi, Gilbert hanya berdiri mematung. Kini dia benar-benar kehilangan Ivy, bagaimana dia akan menyampaikan ini pada istrinya. Gilbert menatap Jack dengan wajah tidak percaya.
“Tiga puluh menit yang lalu?” Tanya Gilbert lirih n
“Ya, Tuan.”
Gilbert mengepalkan tangannya, jadi selama ini dugaannya benar, Ivy benar-benar pergi ke Jepang. Dan yang lebih buruk lagi, dia sudah terlambat. Jika saja mereka datang ke bandara lebih cepat, mungkin mereka masih bisa menghentikan Ivy. Namun sekarang pesawat itu sudah berada di udara, membawa Ivy semakin jauh dari mereka.
Gilbert menarik napas dalam-dalam.
“Apakah kau yakin itu benar-benar Ivy?”
“Saya sudah memeriksa beberapa kali, Tuan. Nama lengkapnya sama, nomor paspornya juga sesuai dengan data yang kita miliki.”
Gilbert terdiam.
“Jepang...” bisik Gilbert lirih.
Tangannya mengepal erat, sepertinya Ivy benar-benar ingin meninggalkan semuanya. Mungkin rasa sakit yang di berikan oleh putra bodohnya itu terlalu besar hingga membuat Ivy memutuskan untuk pergi dan sepertinya mantan menantunya itu telah merencanakan semua ini sejak lama. Gilbert juga tau sesuatu, Ivy tidak hanya pergi berlibur tapi mungkin dia akan menetap di sana untuk waktu yang lama.
Setelah lama terdiam, gilbert akhirnya berpikir untuk menghubungi Ivy. Semoga saja mantan menantunya itu bisa di hubungi, dia bahkan melupakan jika saat ini Ivy sudah berada di dalam pesawat.
“Apa kau bisa menghubungi Ivy, jack?” tanya Gilbert dengan suara berat.
Jack menggeleng perlahan.
“Sayangnya tidak tuan, ponsel Nona Ivy tidak dapat dihubungi sejak tadi pagi. Sejak saya mengetahui nona Ivy meninggalkan apartemennya, saya sudah berusaha menghubungi nona Ivy, tapi sayangnya ponselnya tidak aktif, tuan.” Kata Jack.
Mendengar perkataan Jack, Gilbert hanya bisa memejamkan matanya. Ketakutan-ketakutan mulai muncul, bagaimana jika Ivy tidak ingin di temukan oleh mereka.
“Siapkan mobil, Jack.” Perintah Gilbert.
Jack terkejut.
“Tuan?”
“Kita pergi ke bandara, sekarang.” Kata Gilbert.
“Tapi pesawatnya sudah—”
“Aku tahu!” bentak Gilbert.
Dia kemudian menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya.
“Aku tahu pesawat itu sudah lepas landas, tapi aku tetap ingin pergi ke sana untuk memastikan semuanya sendiri.”
“Kenapa, Tuan?”
Gilbert menatap layar ponsel Jack yang masih menampilkan informasi penerbangan Ivy.
“Karena aku ingin memastikan, apakah dia benar-benar sudah pergi atau tidak.”
Ada rasa sesak yang perlahan memenuhi dadanya, kini Gilbert mulai menyadari bahwa kehilangan Ivy mungkin bukan lagi sesuatu yang bisa dia cegah dengan mudah.
Ivy sudah memilih jalannya sendiri.
Dan kali ini...
dia benar-benar pergi, meninggalkan semua yang sudah melukainya.
Bersambung