NovelToon NovelToon
Teman Kecilmu Datang, Neng Pergi Ya!

Teman Kecilmu Datang, Neng Pergi Ya!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Cintapertama
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"

Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.

Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.

Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.

Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan Dimulai 22.

Dua puluh menit berlalu seperti simulasi mekanis. Nawang menghabiskan makanannya dalam diam, sementara Rendy sibuk mencoret-coret buku log OSIS tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Ketukan bolpoin Rendy di atas meja terasa seperti detak jam dinding—teratur, dingin, namun entah kenapa memberikan ritme yang menenangkan di kepala Nawang yang semula bising.

Ketika bel masuk berbunyi, Rendy berdiri lebih dulu. "Gue tunggu di lab fisika sepulang sekolah. Jangan telat, Nawang. Waktu kita nggak banyak sampai hari H olimpiade."

Nawang hanya mengangguk. Dia memperhatikan punggung Rendy yang menjauh dengan tegap. Cowok itu selalu tampak tahu ke mana arah tujuannya, kontras dengan dirinya yang belakangan ini merasa seperti layang-layang putus benang setelah hubungannya dengan Timy hancur berantakan.

Siang itu, koridor sekolah terasa lebih gerah dari biasanya.

Pelajaran terakhir baru saja usai, dan riuh suara ratusan siswa yang bersiap pulang memenuhi atmosfer.

Di parkiran belakang, Timy duduk di atas motor vespa matic putihnya.

Kunci motor diayun-ayunkan di jarinya, namun pandangannya kosong. Di sampingnya, Rio sedang asyik mengunyah es batu dari plastik, mengoceh tentang pertandingan basket minggu depan.

Timy tidak mendengar sepatah kata pun. Otaknya macet pada satu memori di kantin tadi siang.

Cepat juga ya lu nemu pelarian yang... berprestasi.

Kalimatnya sendiri terus bergema, berbalik menjadi belati yang menguliti egonya.

Dia tahu dia salah. Dia tahu Nawang melihat apa yang seharusnya tidak dilihatnya kemarin lusa—Tapi gengsi Timy terlalu besar untuk bersujud memohon maaf, dan kelelahan hati Nawang yang sudah membeku justru memicu sisi destruktifnya.

"Eh, Tim, itu mantan lu bukan?" Rio menyenggol bahu Timy menggunakan sikunya, menunjuk ke arah gerbang samping yang menghubungkan gedung akademik dengan area parkir khusus guru dan staf.

Timy menoleh cepat. Matanya menyipit.

Di sana, di bawah bayang-bayang pohon angsana yang rimbun, Nawang sedang berjalan berdampingan dengan Rendy.

Tidak ada kedekatan fisik yang intim.

Mereka berjarak sekitar setengah meter. Namun, cara Rendy menyesuaikan langkah kakinya yang panjang agar selaras dengan langkah kecil Nawang tidak luput dari perhatian Timy.

Rendy membawa sebuah helm tiruan berwarna putih di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang ransel Nawang yang tampak berat.

"Wah, bener memang gercep juga si Ketua OSIS," gumam Rio, menggeleng-gelengkan kepala tanpa membaca situasi. "Tapi masuk akal sih. Mereka kan sama-sama anak pinter. Lu tahu sendiri, kaum-kaum elite sekolah emang biasanya bikin koloni sendiri."

"Jangan bacot terus, Yo, dari tadi gercep-gercep mulu lu" desis Timy. Suaranya rendah, berbahaya.

Rio langsung bungkam, menelan sisa es batunya bulat-bulat.

Timy tidak bisa mengalihkan pandangannya. Dia melihat Rendy berhenti di depan sebuah motor matic besar yang bersih tanpa stiker—tipikal Rendy. Rendy menyerahkan helm putih itu kepada Nawang.

Ada jeda beberapa detik di mana Nawang tampak ragu, sebelum akhirnya menerima helm tersebut dan memakainya.

Saat Nawang kesulitan mengunci tali helmnya di bawah dagu, Rendy mengulurkan tangan.

Dari jarak tiga puluh meter, Timy bisa melihat dengan jelas bagaimana jemari Rendy bergerak tenang, membenarkan pengait helm Nawang. Nawang mendongak, menatap Rendy lurus-lurus. Tidak ada penolakan. Tidak ada kemarahan seperti saat Nawang berhadapan dengannya di kantin tadi siang. Yang ada hanya kepatuhan yang pasrah.

Dada Timy mendadak terasa sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya habis terbakar. Itu adalah tempatnya.

Biasanya, dialah yang memakaikan helm ke kepala Nawang, mengacak-acak rambut gadis itu sebelum mereka membelah jalanan kota, lalu menertawakan bedak Nawang yang luntur karena keringat.

Sekarang, rutinitas itu diambil alih oleh orang lain. Seseorang yang bahkan tidak perlu berteriak atau membuat keributan untuk mendapatkan kepatuhan Nawang.

Rendy naik ke atas motornya, menyalakan mesin yang suaranya halus tak terdengar.

Nawang menyusul naik di jok belakang. Dia tidak memeluk pinggang Rendy—tentu saja tidak—tapi dia memegang ujung jaket almamater OSIS yang dikenakan cowok itu.

Motor matic itu perlahan bergerak, melewati gerbang sekolah, dan menghilang di balik tikungan jalan raya tanpa menyadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan dengan badai yang berkecamuk di dalamnya.

"Tim? Lu mau langsung balik?" tanya Rio hati-hati, melihat Timy yang masih mematung di atas motornya yang mati.

Timy tidak menjawab. Dia menurunkan standar motornya dengan kasar, lalu melompat turun. "Lu balik duluan aja, Yo. Gue ada urusan."

"Urusan apa? Mau gue temenin?"

"Enggak usah."

Timy berjalan meninggalkan area parkir, melangkah tanpa arah tujuan yang jelas sampai kakinya membawa cowok itu kembali ke koridor lantai dua yang sudah sepi.

Dia berhenti di depan lab fisika. Pintunya terkunci. Dia menatap ke dalam lewat kaca jendela yang berdebu.

Ruangan itu kosong. Di papan tulis bagian dalam, sisa-sisa rumus mekanika kuantum yang ditulis dengan spidol hitam masih berantakan.

Tempat ini yang menyita waktu Nawang belakangan ini.

Tempat ini yang membuat Nawang punya dunia baru di mana dirinya tidak lagi dilibatkan.

Timy menyandarkan punggungnya ke dinding koridor yang dingin. Dia merosot hingga duduk di lantai ubin, melipat kedua lututnya.

Keheningan sekolah setelah jam pulang selalu terasa magis, namun kali ini terasa mencekam. Semua tameng kemarahan, sarkasme, dan ego yang dia bangun sejak pagi tadi mendadak runtuh tanpa sisa.

Dia ingat bagaimana Nawang menatapnya di kantin. Kosong. Tidak ada benci, tidak ada dendam. Dan bagi Timy, tatapan kosong itu jauh lebih mengerikan daripada makian.

Itu berarti Nawang sedang dalam proses menghapus namanya dari daftar orang yang penting di hidupnya.

Rendy benar. Urusan domestik mereka sudah selesai. Dan Rendy memegang kendali penuh atas apa yang terjadi selanjutnya, menggunakan otoritasnya yang sah, sementara Timy hanya punya reputasi sebagai kapten basket pemberontak sekolah yang hobi bikin onar.

Kecemburuan itu datang menubruknya. Bukan jenis cemburu yang meledak-ledak dan ingin menghajar orang, melainkan jenis cemburu yang mengakar, merayap pelan di pembuluh darah, dan menyumbat paru-parunya hingga dia kesulitan bernapas. Itu adalah kecemburuan yang tidak berhak. Dia yang melempar batu, dia yang merusak hubungan ini, tapi kenapa sekarang dia yang merasa paling sekarat?

Timy menatap lurus ke ujung koridor yang remang-remang. Bayangan Nawang yang memegang ujung jaket Rendy kembali berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Menyakitkan, konstan, dan nyata.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun dikenal sebagai cowok keras kepala yang tak tersentuh di SMA Veteran, pertahanan Timy jebat total.

Sudut matanya terasa panas menyengat. Pandangannya terhadap deretan loker di depannya perlahan mengabur, berbayang, dan bergoyang.

Dia mengedipkan mata, mencoba menghalau rasa lemah itu, namun sebutir cairan bening justru lolos merayap melewati pipinya.

Timy buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangan yang gemetar.

Tapi sia-sia. Tekanan di dadanya terlalu masif. Mata Timy mulai berkaca-kaca kembali, menampung seluruh penyesalan, gengsi yang terlambat diturunkan, dan kesadaran pahit bahwa dia telah benar-benar kehilangan Nawang—bukan karena direbut orang lain, melainkan karena kebodohannya sendiri yang membukakan pintu bagi Rendy untuk masuk.

Di koridor sepi itu, Timy hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut, membiarkan air matanya jatuh di atas ubin sekolah yang dingin tanpa ada satu orang pun yang tahu.

......................

...****************...

Tbc,

1
Luna
tenang Nawang sitimy udah punya pandangan baru 😆😆😆😆,dia akan jadi tameng mu karena rasa bersalah nya,kalo ulet Naya pasti mencak mencak deh,,,,,
Luna
ternyata Rendy sama sama begonya sama timy,Bima, heran juga sih cowok lebih suka cewek yg model nya kalem tapi menenggelamkan, sebelum jauh lebih baik stop dari sekarang Nawang, kewarasan lo lebih penting, nyatanya sirendy gampang dimanipulasi Naya ,
Luna
nih cewek GK ada kapok kapoknya yh,,,🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
mangkanya,,, jangan bermuka dua jangan pura pura,yg ada lama lama kamu masuk rumah sakit jiwa beneran loh🤣🤣🤣🤣
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 Bima laki apaan banci main keroyokan .. andai ini nawang kayak jihan Badas pasti keren sayangnya nawang menye menye 🤭
Luna
mantep Rendy dan Nawang,,,, orang kek Naya seharusnya dibikin trauma nya makin parah 🤣🤣🤣🤣🤣,
falea sezi
🤣🤣🤣 jihan ini tipe cewek sok asik sok pahlawan biar apa biar di kenal kan😒😒 ayo donk thor bahas kisah nawang masak second lead trs yg di bahas
Luna
berarti mereka ada konflik sebelum nya di Jakarta, seharusnya Nawang ikutan bringas juga sebagai protagonis utama perempuan dia setelah putus belum ada panggung lagi,🤣🤣🤣🤣🤣,,,enak kali si Naya dia niat cari kedamaian sekolah dibandung" kedamaian matamu nay" lah elu udah ngerusak hubungan orang peak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
sebagai tim hore ,,,cuma bisa menyoraki timy ,,,ayo tim kamu itu tokoh protagonis pria ,,,, jangan putus asa pantang mundur lah
falea sezi
uda Nawang move on aja di timy aja kayak nya mau move on🤣 ehh dia emank cpet berpaling denggg🤭 maklum cwok plin plan
falea sezi
males deh malah bahas jihan terossssssssss😒 ini MC nya siapa nawang kan 🤣 kenapa jihan teros di bahas thor second lead gk penting
falea sezi: klo protagonis nya timy trs MC nya siapa kak bawang timy kan
total 3 replies
Luna
timy jadi obsesi😱😱😱🤣🤣🤣🤣
falea sezi
malah bahas jihan timy🤣🤣 melenceng dr judul thor😒
Luna
cie cie cie🤭🤭🤭
falea sezi
lah kenapa malah kisan jihan timy lebih bagus🤣🤣 gimana sih author apakah karena nawang menye menye.. karena pembaca suka cwek badasss
Luna
bintang 5 buat nih novel, dapat banget lah karakter para tokoh disini,ikut greget juga sih🤭🤭🤭, terus berkarya yh author ,
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣timy oh timy ayo dong bangkit dari rasa bersalah mu ,kalo aku jadi kamu sudah habis kubabat si Bima dan Naya 🤭🤭🤭🤭,balas sakit hati mu yg dipermainkan Naya, lupakan Nawang tengok si Jihan
falea sezi
🤣🤣🤣 suka bgt cwek Badas gini dripada nawang yg menye menye
Luna
enteng kali dia bilang gabut bikin onar hubungan orang, kayak nya si Naya ini belum sembuh bener sudah menjadi penyakit jiwa alias gila ,😱😠
falea sezi
🤣🤣 berharap ap lu ma nawang noleh aja ogah klo q jd nawang nasi tim
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!