NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kubuat Janda

Wanita Yang Kubuat Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Angst / Amnesia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Orang tua Aris

"Kekasih?!"

Suara Bu Lidya terangkat setengah nada. Wajah anggunnya menyiratkan keterkejutan sekaligus penolakan yang amat sangat. Ia kemudian menoleh menatap suaminya dengan raut wajah tak percaya.

"Aris punya kekasih dan tinggal bersama di rumah ini? Tanpa memberitahu kita sedikit pun?!" ujar Bu Lidya dengan nada tidak senang.

Pak Baskoro mengerutkan dahinya rapat-rapat. "Raya... kalau kamu kekasih Aris, sejak kapan kalian berhubungan? Setahu saya, Aris adalah pria yang sangat tertutup mengenai kehidupan pribadinya. Dia tidak pernah membawa wanita mana pun ke dalam rumah ini."

Raya makin terdesak oleh pertanyaan-pertanyaan itu. Kekosongan ingatannya membuat ia tidak bisa memberikan tanggal, bulan, atau detail pasti tentang awal mula hubungannya dengan Aris. Ia hanya bisa mengulang potongan kebohongan yang selama ini ditanamkan oleh Aris di dalam kepalanya.

"K-kami... sudah berhubungan cukup lama, Pak," cicit Raya dengan suara bergetar pelan. "Tapi beberapa bulan lalu... saya mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah."

"Kecelakaan?" alis Pak Baskoro terangkat tinggi.

"Iya, Pak... Kecelakaan itu membuat saya mengalami amnesia total," lanjut Raya, air mata cemas mulai menggenang di sudut matanya. "Saya tidak ingat masa lalu saya. Dan selama ini... Aris lah yang merawat saya, menjaga saya, dan membawa saya tinggal di sini bersama Cyla."

Mendengar nama "Cyla", Bu Lidya makin membelalakkan matanya. "Cyla?! Siapa lagi Cyla?!"

Tepat pada saat itu, suara tangisan kecil anak terbangun dari lantai atas terdengar. Suster Santi berjalan turun menyusuri tangga seraya menggendong Cyla yang baru saja bangun tidur.

"Ibu Raya, Cyla sudah bangun—" kalimat Suster Santi terhenti seketika saat melihat dua tamu paruh baya berpenampilan mewah duduk di ruang tamu dengan atmosfer yang sangat tegang.

Cyla yang mengenakan baju tidur bergambar kelinci mengedipkan matanya yang bulat polos, lalu menunjuk ke arah Raya. "Mama! Ma... Ma!"

Bu Lidya dan Pak Baskoro berdiri dari sofa seketika, menatap anak balita satu tahun yang digendong perawat tersebut dengan wajah terperanjat luar biasa.

"Anak... anak siapa itu?!" bentak Bu Lidya, suaranya dipenuhi keterkejutan yang tak tertahankan. "Kamu... kamu sudah punya anak?!"

"Cyla... Cyla adalah anak angkat kami, Bu," terang Raya dengan napas memburu, berusaha menjelaskan sebisanya. "Aris yang mengangkat Cyla sebagai anak, dan kami merawatnya bersama-sama..."

"Anak angkat?!" Bu Lidya memegang dadanya yang kempis memburu. "Aris mengangkat anak tanpa persetujuan keluarga?! Dan dia menyembunyikan wanita amnesia beserta anak kecil di rumah pribadinya?!"

Pak Baskoro yang biasanya tenang kini ikut mengepalkan tangannya rapat-rapat. Kejanggalan cerita Raya terasa begitu masif di telinga mereka.

Aris adalah calon tunggal pewaris konsorsium bisnis keluarga Prakasa. Bagaimana bisa putranya mengambil keputusan sejauh ini, mengadopsi anak dan menyembunyikan wanita yang amnesia tanpa sepatah kata pun cerita kepada orang tuanya sendiri?

"Telepon Aris sekarang, Mas!" perintah Bu Lidya dengan suara bergetar menahan amarah dan kebingungan. "Panggil anak itu pulang detik ini juga!"

Di lantai lima belas gedung pencakar langit utama konsorsium Prakasa, Aris baru saja keluar dari ruang rapat direksi bersama Hendra. Pria itu merapikan ikatan dasinya, berniat kembali ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa berkas sebelum pulang ke rumah.

Tiba-tiba, ponsel di saku jasnya bergetar kencang.

Aris merogoh ponselnya, dan saat ia melihat nama pengirim panggilan yang tertera di layar "Papa" jantung Aris mendadak berdesir aneh.

Aris menggeser layar teleponnya dan meletakkan benda pipih itu ke telinganya. "Halo, Pa? Ada apa? Maaf aku belum sempat datang ke rumah utama karena—"

"PULANG SEKARANG, ARIS!" suara bentakan tegas Pak Baskoro memotong ucapan Aris dengan nada yang begitu dingin dan murka. "Papa dan Mamamu ada di rumah pribadimu sekarang. Pulang detik ini juga dan jelaskan siapa wanita dan anak kecil yang ada di rumahmu!"

Teeet... teeet... teeet...

Sambungan telepon diputus secara sepihak.

Dunia di sekitar Aris serasa runtuh seketika dalam satu detik.

Ponsel di tangannya hampir terlepas jatuh ke atas lantai. Wajah Aris yang tadinya segar mendadak pucat pasi bagaikan mayat. Darah di tubuhnya seolah menyusut habis, dan rasa panik yang puluhan kali lipat lebih dahsyat dari insiden di taman kota menghantam jiwanya tanpa ampun.

"Pak Aris?! Ada apa, Pak?!" tanya Hendra panik saat melihat atasannya terhuyung menyandar ke dinding koridor.

"Orang tuaku... Hendra..." suara Aris bergetar parah, matanya membelalak lebar dalam ketakutan yang luar biasa. "Papa dan Mama... mereka ada di rumahku sekarang. Mereka bersama Raya!"

Mata Hendra ikut membelalak kaget. "A-apa?! Bagaimana bisa Beliau ke sana tanpa kabar?!"

"Aku harus pulang!" jerit Aris histeris. Ia berlari kencang menyusuri koridor kantor tanpa memedulikan tatapan heran dari puluhan staf perusahaannya. "Siapkan mobil, Hendra! Cepat!"

Sepanjang perjalanan menuju mansion, Aris mengemudikan mobil sports nya dengan kecepatan gila-gilaan, menembus lampu merah dan memotong jalanan kota dengan klakson yang bersahutan.

Tangannya yang mencengkeram kemudi basah oleh keringat dingin. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai kemungkinan terburuk.

Jika orang tuanya mendesak Raya... jika mereka menanyakan asal-usul Cyla secara detail... jika mereka curiga dan menggunakan jaringan kekuasaan mereka untuk melacak identitas asli Raya dan Cyla... seluruh kebohongan indahnya akan meledak hancur di depan mata Raya!

Pukul dua belas lewat lima belas menit, mobil Aris berhenti dengan rem mendecit kencang di depan mansion.

Aris melompat keluar dari mobil, dan tidak memedulikan pintu mobil yang belum tertutup rapat, lalu berlari kencang masuk ke dalam rumah.

Saat Aris menerobos masuk ke ruang tamu, pemandangan mencekam menyapa matanya.

Pak Baskoro dan Bu Lidya duduk tegak di sofa dengan raut wajah sangat dingin dan penuh wibawa yang menekan. Di sofa seberang, Raya duduk menunduk dalam-dalam seraya meremas gaunnya, air mata pun menetes di tangannya karena cemas dan bingung.

Sedangkan Suster Santi, ia berdiri canggung di sudut ruangan sambil memangku Cyla yang tampak heran melihat suasana hening tersebut.

"Papa... Mama..." suara Aris terdengar parau dan tersengal-sengal saat ia melangkah mendekati mereka.

Bu Lidya berdiri dari duduknya, dan menatap putranya dengan tatapan murka seorang ibu yang merasa dibohongi. "Bagus, akhirnya kamu pulang, Aris! Jelaskan pada Mama sekarang! Cerita gila apa yang sedang kamu mainkan di rumah ini?!"

Aris menarik napas panjang seraya memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha menekan kepanikan di dalam dadanya. Ia melangkah maju, lalu berdiri memblokir pandangan orang tuanya dari sosok Raya, dan secara refleks kembali menjadi benteng pelindung bagi wanita itu.

"Mama, Papa... tolong pelankan suara kalian," panggil Aris dengan nada memohon yang sangat rendah. "Jangan bicara di sini. Kita bicara di ruang kerja secara pribadi."

"Tidak!" potong Bu Lidya tegas. "Mama mau penjelasan sekarang juga di depan wanita ini! Dia bilang dia kekasihmu! Dia bilang dia amnesia karena kecelakaan! Dan dia bilang anak ini adalah anak angkat kalian! Apakah itu benar, Aris?!"

Bersambung...

1
YuWie
aris jg menderita..klo mental raya sdh kuat..jujur saja pak aris.. drpada broken semuanya
YuWie
masih di kota yg sama mana bisa sembunyi terus menerus pak aris..pindah gih ke luar negri
YuWie
lhaa gimn.. katanya semua sdh dijauhkan..kok malah terbaca tuh berita
YuWie
Luar biasa
YuWie
dang nikahi raya nya pak aris.
YuWie
klo ingatan raya kembali, apa jadinya pak aris
Aurora: kita cari tau jawaban di next episode-episode berikutnya...😃🤗
total 1 replies
YuWie
kebetulan ya ris..cintamu kau dptkan 😁
Aurora: Xixixi... hanya terbalut banyak boong 😅😅
total 1 replies
YuWie
pandangan pertama langsung jatuh cinta, suami nya pas is death..mmg jodohmu si raya ini pak arus..tapi sayang nya..jalannya tragis.
Aurora: yup, cinta pada pandangan pertama tak jarang terjadi 🤗
total 1 replies
YuWie
mabuk kok nyopir sendiri pak aris...
YuWie
secantik apa wanita itu aris..sehingga membuatmu falling inlove in first moment
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!