Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.
Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.
Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.
Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.
Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.
Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTSD
"Bagaimana kondisi Putri ku, Dokter Rian?" tanya Papa Arland. Mama Soraya pun menggenggam lengan suaminya dengan erat, menunggu jawaban.
Dokter Rian mengembuskan napas pelan, mencoba memberikan senyum menenangkan.
"Secara fisik, Keana sudah stabil. Saturasi oksigennya kembali normal di angka 98% setelah kita bantu dengan oksigen. Detak jantungnya yang tadi sempat sangat cepat juga berangsur turun setelah cairan infus masuk dan sedasi ringannya bekerja."
"Namun, seperti yang kita duga, ini murni serangan panik masif akibat PTSD akut. Otaknya menginterpretasikan kejadian yang di alami tadi sebagai ancaman bahaya yang sama persis dengan kejadian di masa lalu. Efeknya membuat sistem sarafnya mengalami shock hingga memicu sinkop. Saat ini dia sedang tidur pulas karena pengaruh obat penenang. Biarkan dia istirahat dulu untuk memulihkan sarafnya."
Mendengar penjelasan itu, helaan napas lega terdengar serempak dari Papa Arland, Mama Soraya, hingga Arlo dan kedua sahabatnya.
"Terima kasih banyak, Dokter Rian," ucap Mama Soraya tulus dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kalau begitu, saya permisi" Dokter Rian meninggalkan mereka.
Papa Arland mengangguk
Baru saja langkah kaki Dokter Rian menjauh, suara langkah kaki yang lebar dan tergesa-gesa terdengar menggema dari arah koridor masuk.
Elvan melangkah masuk dengan napas yang memburu tidak beraturan. Kemeja kerjanya yang biasa rapi kini tampak sedikit kusut, dan jas dokternya tersampir asal di lengannya. Wajahnya yang biasanya datar dan sedingin es, kini memancarkan aura kepanikan dan kemarahan yang bercampur menjadi satu. Begitu mendapat kabar tentang Keana, ia langsung meninggalkan pekerjaannya tanpa berpikir dua kali.
Matanya yang tajam langsung mengunci keberadaan kedua orang tuanya, lalu beralih menatap tajam ke arah Arlo yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Papa, Mama, bagaimana keadaan Keana?!" tanya Elvan dengan suara yang rendah namun sarat akan penekanan yang menuntut.
"Tenang, Elvan. Keana sudah ditangani oleh dokter Rian. Kondisinya sudah stabil dan sekarang sedang tidur," jawab Papa Arland, mencoba menenangkan putra sulungnya yang tampak siap meledak.
Elvan menatap tajam Arlo. Ia mengunci garis wajah cowok itu. Ingatannya mendadak berputar kembali pada kejadian beberapa waktu lalu, saat ia memergoki seorang cowok mengantar Keana pulang ke rumah.
Saat itu suasana sudah sore dan Elvan memang tidak melihat jelas wajahnya karena terhalang jarak. Namun, melihat sorot mata, dan postur tubuhnya sekarang... ia sangat yakin. Pria yang bersama Keana hari itu adalah Arlo.
Elvan mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan diri untuk tidak menginterogasi Arlo di tempat umum seperti ini. Ada hal yang jauh lebih mengusik benaknya sekarang.
Elvan berbalik, menatap Papa Arland yang berdiri di dekatnya. Wajahnya yang tegang menuntut jawaban yang jujur.
"Papa," panggil Elvan dengan suara rendah, menekan setiap intonasinya.
"Soal trauma Keana... apa Papa dan Mama sebenarnya sudah tahu dari awal kalau Keana punya ketakutan mendalam terhadap api?"
Papa Arland menghela napas panjang, bahunya tampak merosot melepaskan beban yang selama ini dipendamnya sendiri. Ia menatap putra sulungnya itu dengan sorot mata penuh penyesalan.
"Papa tahu, El," jawab Papa Arland lirih.
"Sejak awal kita mengadopsi Keana enam tahun lalu, Papa sudah membaca rekam medis dan catatan psikologisnya. Papa tahu dia menyaksikan langsung bagaimana rumahnya terbakar dan kehilangan orang tua kandungnya."
Mata Elvan melebar, rahangnya mengeras. "Kalau Papa sudah tahu, kenapa Papa tidak pernah menceritakannya padaku atau Gavin? Kenapa Papa menyembunyikan hal sepenting ini dari kami?"
"Karena Papa tidak ingin kalian memperlakukan Keana seperti orang sakit atau korban trauma," potong Papa Arland dengan nada memohon agar anaknya mengerti.
"Papa ingin Keana tumbuh di rumah ini dengan perasaan bahagia menjadi bagian dari keluarga kita tanpa harus terus-menerus diingatkan pada bayang-bayang masa lalunya yang kelam. Papa pikir... dengan menjauhkannya dari segala pemicu secara diam-diam, itu sudah cukup. Apalagi ada Gavin yang selalu membuat Keana ceria"
"Tapi faktanya hari ini kecolongan, Pa"
"Sudahlah, El. Musibah tidak ada yang tahu. Tentang kejadian hari ini, bisa menjadi pelajaran untuk kita" sela Mama Soraya.
"Maaf menyela, saya izin pamit ya, Dok. Saya mau kembali ke sekolah untuk melihat kondisi di sana" guru yang sejak tadi diam di kursi tunggu kini berdiri dan menghampiri ketiganya.
"Oh tentu, Pak. Terima kasih sudah mengantar ke anak ke sini" jawab Papa Arland.
"Sudah tugas saya sebagai seorang guru"
Papa Arland dan Mama Soraya mengangguk. Pak guru kemudian pergi, tapi sebelum itu ia mengajak ke dia muridnya untuk mengantarkannya pulang namun Mereka menolak.
"Kenapa kalian tidak ikut pulang?" tanya Mama Soraya melihat ketiga teman putrinya.
"Emm.... kami masih ingin menunggu keana, Dok" jawab Tania.
"Panggil Tante saja" ucapa Mama Soraya.
"Keana mungkin akan bangun lebih lama, karena pengaruh obat penenang, jadi lebih baik kalian pulang saja dulu besok kalian bisa ke sini untuk menjenguknya" lanjut Mama Soraya.
Arlo, Tari, dan Tania saling pandang, mereka mengangguk sepakat.
"kalau begitu kami pulang dulu om, tante, bang" ucap Arlo.
"Ini untuk ongkos kalian pulang" Papa Arland mengeluarkan uang kertas seratus ribu dan memberikannya pada Arlo.
"Eh…" Arlo ingin menolak tapi Papa Arland tetap memaksa. Akhirnya, ia menerimanya dan meninggalkan rumah sakit untuk pulang ke rumah mereka masing-masing karena tidak mungkin untuk kembali ke sekolah mengingat kondisi yang masih belum kondusif.
Arlo, Tari, dan Tania saling pandang, lalu mengangguk sepakat bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk memberikan privasi bagi keluarga Hardian.
"Kalau begitu kami pulang dulu Om, Tante, Bang," ucap Arlo sopan, mewakili kedua temannya.
Saat ketiganya baru saja berjalan menjauh dari depan ruang observasi, seorang bidan, petugas medis yang mendampingi Mama Soraya di poli klinik kandungan, berjalan tergesa-gesa mendekat.
"Dokter Soraya, maaf mengganggu waktu Ibu," ucap bidan tersebut dengan raut sungkan.
"Di poli sudah ada empat pasien hamil yang menunggu untuk jadwal pemeriksaan antenatal dan USG. Salah satunya sudah mengeluhkan flek ringan."
Mama Soraya menghela napas berat.
"Apa bisa di alihkan ke dokter lain dulu?" tanya Mama Soraya.
"Tidak bisa, Dok. Pasien yang lain penuh"
Mama Soraya mengangguk kecil. Berat rasanya melangkah pergi di saat putrinya masih terbaring lemah, namun sumpah janji profesinya tidak bisa diabaikan. Ia menatap cemas ke arah kaca ruang observasi.
"Baik, Bidan Dini. Saya segera ke sana."
Belum sempat Mama Soraya melangkah pergi, pager di saku jubah bedah Papa Arland tiba-tiba berbunyi nyaring, menampilkan kode darurat. Sebagai seorang Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular (Bedah Jantung), panggilan darurat berarti hitungan detik antara hidup dan mati. Seorang perawat dari ruang operasi (OK) berlari menghampirinya.
"Dokter Arland, pasien pasca-operasi Coronary Artery Bypass Grafting di ruang ICU mengalami tamponade jantung akut! Terjadi akumulasi cairan di rongga perikardium yang menekan jantungnya. Kita harus segera melakukan re-explorasi bedah darurat untuk menghentikan perdarahan dan menstabilkan hemodinamik pasien!"
Papa Arland menegang. Tugasnya sebagai dokter bedah jantung sangat krusial—mulai dari melakukan pembedahan pada katup jantung yang rusak, menangani diseksi aorta, hingga operasi darurat seperti sekarang. Ia tidak punya pilihan.
Papa Arland menatap Elvan dengan sorot mata yang penuh beban.
"El, Papa titip Keana. Kebetulan jadwal tugasmu sedang kosong, kan? Jaga adikmu baik-baik."
"Baik, Pa. Serahkan Kea pada El," jawab Elvan tegas.
Setelah Mama Soraya dan Papa Arland bergegas pergi ke unit tugas masing-masing, koridor itu mendadak sunyi. Tersisa Elvan seorang diri.
Sebagai seorang dokter di rumah sakit tersebut, Elvan tentu saja memiliki otoritas penuh untuk memasuki ruang observasi. Setelah melakukan sterilisasi tangan dengan hand rub, Elvan mendorong pintu kaca dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang dingin dan hanya didominasi oleh suara ritmis dari mesin bedside monitor.
Elvan berjalan mendekati brankar Keana. Ia menatap wajah adiknya yang masih terpejam dalam pengaruh sedasi ringan. Tangan Elvan terulur, menyentuh kening Keana yang terasa dingin oleh keringat. Rasa bersalah dan cemas yang sejak tadi ia sembunyikan di balik wajah datarnya kini perlahan runtuh.
Namun, di saat yang sama, di dalam ruang gelap alam bawah sadarnya, Keana justru sedang terlempar kembali ke masa lima tahun lalu.
Di dalam mimpinya, Keana kembali menjadi anak perempuan berusia 12 tahun yang ketakutan. Langit di kepalanya berwarna merah membara, dipenuhi kepulan asap hitam yang mencekik tenggorokan. Di depannya, rumah masa kecilnya runtuh pelan-pelan dilalap api raksasa. Keana tidak bisa berlari. Ia akhirnya jatuh terduduk, memeluk kedua lututnya erat-erat, dan menenggelamkan wajahnya di sana sambil menangis ketakutan.
"Ibu…ayah…" lirih Keana.
“Keana…”
Sebuah suara lembut memanggil namanya. Keana merasakan sebuah sentuhan hangat mendarat di bahunya yang bergetar. Saat ia mendongak dengan mata sembap, air matanya menetes lebih deras. Di sana, di tengah kobaran api yang mendadak terasa sejuk, berdiri ayah dan ibu kandungnya. Mereka tersenyum sangat manis, mengulurkan tangan seolah mengajak Keana untuk ikut pergi bersama mereka ke dalam cahaya.
Di dunia nyata, pergolakan di alam mimpi itu termanifestasi secara mengerikan pada fisik Keana. Gejala syok psikisnya menembus dinding pertahanan obat penenang.
BIIIIP... BIIIIP... BIIIIP...
Mesin monitor di samping tempat tidur tiba-tiba berbunyi nyaring dengan nada peringatan yang cepat. Elvan tersentak saat melihat grafik di layar monitor berubah drastis.
Napas Keana yang tadinya teratur mendadak berubah menjadi hiperventilasi hebat, pendek, cepat, dan tersedat-sedat seolah pasokan udara di paru-parunya mendadak hilang. Dada Keana naik turun dengan sangat tidak beraturan. Garis grafis EKG melonjak tajam menunjukkan angka 145 kali per menit, Keana mengalami sinus tachycardia ekstrem akibat lonjakan adrenalin yang masif di dalam mimpinya.
Tidak hanya itu, angka saturasi oksigen (SpO2) yang tadinya stabil di 98% mulai merosot turun ke angka 91%. Keringat dingin kembali bercucuran deras di pelipis dan seluruh tubuhnya yang mendadak menegang kaku.
"Keana!" Elvan panik. Wajah dinginnya runtuh seketika.
"Kea! Bangun! Ini kakak! Jangan lihat ke sana, Kea!" seru Elvan panik sambil memeriksa pupil mata adiknya dan dengan cepat menekan tombol darurat di dinding untuk memanggil tim medis bantuan.
Tangan Elvan gemetar saat ia menggenggam erat tangan Keana yang mendadak kejang halus, berjuang menahan adiknya agar tidak semakin tenggelam dalam jemputan ilusi masa lalunya.
.
.