ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Siang itu udara di dalam rumah kediaman keluarga Yhosep terasa lebih pengap dari biasanya, meski pendingin ruangan sudah menyala penuh di setiap sudut ruangan utama. Adelia duduk di pinggir kursi kayu panjang di ujung meja makan yang panjangnya mencapai sepuluh meter. Tangannya meremas ujung serbet kain dengan gelisah, matanya menatap piring kosong di hadapannya. Ia tak berani menyentuh makanan atau bahkan duduk bersandar santai sebelum semua anggota keluarga selesai dihidangkan. Itu adalah aturan tak tertulis yang harus ia patuhi sejak kecil: Adelin didahulukan segalanya, lalu orang tua, barulah ia boleh mengambil sisa di akhir.
Suara tawa renyah Adelin Yhosep terdengar dari arah pintu masuk, disusul langkah berat Adam Yhosep yang baru saja pulang dari kantor pusat Yhosep Group. Adelia segera menundukkan pandangannya ke lantai keramik berkilau, membiasakan diri untuk tidak berani menatap mata siapa pun saat mereka sedang berbicara.
"Papa lihat liputan di berita tadi pagi, cantik sekali putri Papa ini," puji Adam sambil menepuk lembut bahu Adelin sebelum duduk di kursi utamanya. "Semua komentator memuji penampilanmu dan menyebutmu sebagai model paling berbakat tahun ini. Papa bangga sekali."
Adelin tersenyum lebar, lalu mengedipkan mata pada ibunya Belinda Yhosep. "Tentu saja, Pa. Aku sudah berusaha sebaik mungkin. Lagipula aku tidak akan mengecewakan Papa dan Mama, kan?"
Belinda mengangguk setuju sambil menyendokkan sup krim ke mangkuk Adelin. "Benar sekali. Adelin memang anak yang penurut dan tahu diri. Tidak seperti..." Kalimatnya terputus seketika saat pandangannya jatuh pada Adelia yang diam di sudut. Wajahnya langsung berubah dingin. "Sudah duduk diam saja kamu. Jangan melamun, cepat ambilkan air mineral dingin untuk Ayah."
Adelia segera bangkit, menuangkan air dengan hati-hati ke dalam gelas kristal, lalu menyajikannya di depan ayahnya. Ia berniat kembali duduk, tapi tangan Adam tiba-tiba menahan lengannya.
"Kemarin manajer les privat bahasa asingmu melapor," ujar Adam dengan suara datar namun tajam. "Katanya kamu bolos dua kali berturut-turut saat jam pelajaran. Kamu pikir kami membayarmu mahal-mahal hanya untuk main-main?"
Jantung Adelia berdegup kencang tak beraturan. "Itu... itu bukan aku, Yah. Aku tidak pernah membolos. Aku bahkan datang lebih awal untuk menanyakan tugas tambahan," jawabnya pelan namun tegas.
"Berbohong!" potong Adelin cepat sambil menatap tajam pantulan Adelia di cermin lemari dinding. "Teman sekelasku melihatmu duduk di taman kota selama dua jam penuh saat jam les. Kamu memang malas dan tidak tahu berterima kasih. Sudah dikasih kesempatan belajar lebih, malah menyia-nyiakan waktu."
Adelia menatap kakaknya tak percaya. Ia tahu betul Adelin sengaja memutarbalikkan fakta—saat itu ia justru sedang di perpustakaan universitas meminjam buku referensi untuk tugas akhir S2-nya. "Kak, itu salah paham! Aku ke sana hanya untuk mencari referensi—"
"Cukup!" bentak Belinda keras hingga Adelia tersentak mundur. "Kamu berani menyangkal perkataan kakakmu? Adelin tidak mungkin berbohong. Kamu memang pembangkang sejak kecil! Lihat kakakmu, dia sudah punya nama besar, dia menjaga citra keluarga dengan baik. Sedangkan kamu? Hanya bisa membuat masalah dan menyusahkan kami."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Adelia. Ia ingin menunjukkan bukti kehadiran di perpustakaan, atau menghubungi dosen pembimbingnya, tapi ia tahu kata-katanya tak akan pernah didengar. Bagi orang tuanya, Adelin adalah kebenaran mutlak, sedangkan dirinya hanyalah sumber kesalahan yang selalu harus disalahkan.
"Maaf..." hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya, lirih dan penuh kepasrahan.
Adam mendengus kesal, lalu melepaskan cengkeramannya di lengan Adelia. "Kamu harus belajar dari kakakmu. Dia mengharumkan nama keluarga Yhosep, sedangkan kamu sampai sekarang belum memberikan apa-apa selain beban."
Makan siang pun berlanjut dalam keheningan yang menyesakkan. Adelia hanya makan sedikit sekali—hanya sisa lauk yang tidak disentuh Adelin—lalu segera membereskan piring bekas makan keluarganya seperti biasa. Sering kali tugas pelayan rumah justru dibebankan padanya sebagai hukuman tanpa alasan yang jelas.
Sore mulai berganti senja saat akhirnya ia selesai. Ia berjalan perlahan menuju halaman belakang, satu-satunya sudut rumah yang tidak terasa asing. Di sana ada bangku kayu tua di bawah pohon mangga rindang, tempat ia sering bersembunyi saat hatinya terasa terlalu berat.
Belum lama ia duduk, suara deru motor sport yang sangat ia kenal terdengar mendekat. Tak lama kemudian, dua pemuda melompati pagar tanaman hias: Julian Leonard dan Tama Alvaro.
Julian melepas helmnya, menampakkan rambut hitam agak berantakan dan tato kecil di dekat telinganya. Wajahnya yang biasanya santai kini tampak cemas melihat mata Adelia yang bengkak. Ia segera duduk di sampingnya.
"Siapa lagi yang menyakitimu?" tanyanya langsung, nadanya tegas namun penuh perhatian. "Adelin lagi? Atau orang tuamu?"
Tama ikut duduk di sisi lain, menepuk punggung tangan Adelia pelan. "Kami lewat tadi dan melihatmu dari jauh. Ceritalah pada kami, Del. Kami di sini."
Adelia menceritakan semuanya: tuduhan bohong Adelin, kemarahan orang tuanya, dan betapa sia-sianya ia berusaha menjelaskan kebenaran.
"Selalu begitu..." bisiknya di akhir cerita. "Apapun yang kakakku katakan, itu benar. Apapun yang aku katakan, itu dusta. Aku merasa seperti hantu di rumahku sendiri, yang keberadaannya hanya diakui saat ada kesalahan yang harus ditanggung."
Julian mengepal tangannya kuat. "Ini keterlaluan. Kamu jauh lebih cerdas, lebih jujur, dan lebih baik hati daripada mereka semua digabungkan. Adelin cemburu padamu, Del. Dia takut nanti orang tahu kalau adiknya jauh lebih hebat darinya. Itulah sebabnya dia selalu memojokkanmu."
"Benar," tambah Tama. "Ibuku pun sering bilang begitu. Adelin menyembunyikanmu bukan karena dia malu, tapi karena dia takut tersaingi."
Adelia menatap langit jingga di kejauhan. "Kadang aku bertanya-tanya... apakah aku memang anak yang tidak diinginkan? Mengapa aku harus selalu kalah, bahkan sebelum aku sempat berusaha?"
"Jangan bicara begitu!" potong Julian tegas. "Kamu berharga. Suatu hari nanti dunia akan tahu siapa Adelia Yhosep yang sebenarnya. Kamu tidak akan selamanya hidup dalam bayang-bayang."
Malamnya, udara dingin masuk melalui celah jendela kamar Adelia yang jarang diperbaiki. Ia terbangun karena batuk-batuk hebat, dadanya terasa sesak luar biasa. Ia meraba inhaler di meja, tapi tangannya gemetar hingga menjatuhkan gelas air yang pecah berantakan.
Suara pecahan kaca memecah keheningan malam. Tak lama pintu terbuka kasar, Belinda berdiri di sana dengan wajah mengantuk dan penuh amarah.
"Kamu kenapa sih! Selalu saja berisik! Kamu sengaja ingin membangunkan Adelin yang sedang istirahat? Kamu memang tidak pernah punya hati!" bentaknya tanpa melihat Adelia yang sedang memegang dadanya susah payah.
"Aku... aku tidak sengaja... aku sakit..." napas Adelia tersendat-sendat.
Belinda mendengus sinis sambil berbalik hendak pergi. "Sakit-sakitanmu itu cuma cari perhatian! Bersihkan sekarang juga. Jangan sampai ada pecahan yang melukai Adelin. Dan jangan harap aku akan membelikan obat baru kalau kamu terluka."
Pintu ditutup keras. Adelia menangis tanpa suara, berusaha menenangkan napasnya sendiri, lalu perlahan merangkak membersihkan pecahan kaca itu dengan tangan kosong.
Di rumah megah itu, Adelia belajar satu hal paling menyakitkan: di mata keluarganya, ia bukanlah anak. Ia hanyalah cadangan yang disembunyikan, orang yang ditakdirkan untuk selalu kalah, bahkan sebelum pertandingan dimulai.