NovelToon NovelToon
Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Status: tamat
Genre:Showbiz / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

"Bukan Laknat, namaku Rahmat."

Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."

15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.

Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.

Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.

Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?

"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: "Kamu Bukan Laknat"

Untuk pertama kalinya, dunia tidak sepenuhnya abu-abu.

Sejak hari itu, Laknat mulai menyelinap ke rumah sakit setiap kali Hendra lengah.

Tidak sering. Tidak lama. Hanya beberapa menit saat orang dewasa sibuk mengurus administrasi, membeli kopi, atau berbicara dengan dokter. Ia tahu anak seperti dirinya tidak seharusnya berkeliaran di lorong rumah sakit yang bersih, dengan sandal murahan dan baju yang masih berbau debu studio. Namun setiap kali memikirkan Wenny terbaring pucat karena makanan miliknya, kakinya berjalan sendiri.

Hari ketiga Wenny dirawat, ia menemukan pintu kamar sedikit terbuka.

Di dalam, Wenny duduk bersandar pada bantal tinggi. Wajahnya belum sepenuhnya segar, tetapi matanya sudah lebih hidup. Di atas selimut ada beberapa gulungan benang warna-warni, gunting kecil tumpul, dan potongan kertas bergambar pola sederhana.

Laknat berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk.

Wenny melihatnya lebih dulu.

"Kamu datang lagi."

Ia menunduk. "Aku bisa pergi."

"Aku tidak bilang begitu."

Wenny menepuk sisi ranjang. Bukan meminta ia duduk di ranjang, hanya memberi tanda agar ia mendekat. Laknat berjalan pelan sampai berdiri di dekat kursi tamu.

"Kamu sudah makan?" tanya Wenny.

Pertanyaan itu membuat tenggorokannya terasa sempit.

Ia mengangguk, meski tidak sepenuhnya benar.

Wenny menyipitkan mata. "Bohong ya?"

Laknat terkejut. "Tidak."

"Kalau kamu bohong, matamu lihat lantai."

Ia langsung mengangkat mata.

Wenny tertawa kecil, lalu batuk ringan. Laknat panik setengah langkah maju.

"Jangan takut," kata Wenny cepat. "Aku sudah boleh pulang besok kata dokter. Mama cuma masih cerewet."

"Karena kamu sakit."

"Iya, tapi bukan karena kamu."

Laknat menggenggam ujung bajunya.

Wenny melihat gerakan itu. Anak perempuan itu tidak menatapnya dengan kasihan. Ia menatap seperti sedang mencoba memahami bagian dirinya yang terlalu sering disembunyikan.

"Duduk," katanya.

Laknat ragu.

"Kursi itu bukan punya orang lain. Kamu boleh duduk."

Kalimat sederhana itu membuatnya lagi-lagi harus belajar bahwa tidak semua benda di dunia akan diambil kembali hanya karena ia menyentuhnya.

Ia duduk di kursi paling ujung.

Wenny mengambil beberapa helai benang. "Aku bosan. Mama beli ini supaya aku tidak minta pulang terus."

"Itu apa?"

"Gelang persahabatan."

Laknat menatap benang di tangan Wenny. "Untuk teman?"

"Iya."

"Kamu punya banyak teman?"

Wenny memikirkan itu. "Di lokasi syuting banyak orang. Di sekolah juga ada. Tapi teman yang benar-benar teman..." Ia mengangkat bahu kecil. "Tidak tahu. Aku sering pindah-pindah karena syuting."

Bagi Laknat, jawaban itu aneh. Anak perempuan yang semua orang sapa, semua orang jaga, semua orang beri makanan bagus, ternyata juga bisa tidak yakin punya teman.

Wenny mulai memilin benang.

Warnanya biru, kuning, putih, dan sedikit merah muda. Jarinya kecil tapi lincah. Ia mengikat satu ujung benang pada penjepit kertas, lalu mulai mengepang pelan.

"Biru untuk langit," jelas Wenny, seolah ia sedang mengajari pelajaran penting. "Kuning untuk matahari. Putih untuk awan. Merah muda karena aku suka."

Laknat memandangi benang-benang itu.

"Kenapa harus ada artinya?"

"Supaya kalau dilihat, ingat sesuatu yang bagus."

Ia tidak punya banyak hal bagus untuk diingat. Tetapi cara Wenny berkata membuatnya ingin percaya bahwa benda kecil bisa menyimpan hari yang baik, seperti kotak bekal kuning menyimpan rasa nasi hangat kemarin.

"Kamu mau?" tanyanya.

Laknat menggeleng cepat. "Itu untuk teman."

"Iya."

"Aku bukan temanmu."

Wenny berhenti mengepang.

"Kenapa bukan?"

Ia tidak bisa menjawab.

Karena ia anak Hendra. Karena namanya Laknat. Karena ia tidak punya apa-apa untuk diberikan balik. Karena setiap orang yang dekat dengannya bisa ikut kena sial. Karena Wenny masuk rumah sakit setelah menukar makanan dengannya.

Semua alasan itu terlalu besar.

"Aku tidak bagus," katanya akhirnya.

Wenny mengerutkan kening. "Gelang tidak pilih orang bagus."

"Tapi aku..."

"Kamu apa?"

Laknat menatap lantai lagi.

"Namaku Laknat."

Ruangan hening.

Dari luar terdengar roda troli obat lewat di lorong. Di kamar itu, Wenny menatapnya lama. Bukan dengan takut. Bukan dengan jijik. Lebih seperti anak yang menemukan kata asing dan tidak suka arti yang dibawanya.

"Siapa yang kasih nama itu?"

"Hendra."

"Kenapa?"

Laknat mengangkat bahu. "Katanya aku kutukan."

Wenny langsung menegakkan tubuh, lalu meringis sedikit karena gerakannya terlalu cepat.

"Jangan bergerak," kata Laknat panik.

"Aku marah."

Ia terdiam.

Wenny yang masih pucat di ranjang rumah sakit itu memegang benang di tangan seperti memegang sesuatu yang sangat penting.

"Kamu bukan Laknat," katanya.

Laknat menatapnya.

"Namaku memang itu."

"Tidak. Kalau nama itu jelek dan bikin kamu sedih, kita pakai nama lain."

"Tidak bisa."

"Bisa."

Keyakinan Wenny begitu besar sampai untuk sesaat Laknat hampir percaya dunia memang bisa diubah oleh anak tujuh tahun yang sedang dirawat karena alergi.

"Nama lain apa?" tanyanya sangat pelan.

Wenny melihat benang di tangannya, melihat wajah Laknat, lalu berkata, "Rahmat."

Kata itu terdengar berbeda.

Lebih lembut. Lebih terang. Tidak seperti batu yang dilemparkan ke tubuhnya. Lebih seperti tangan kecil yang membuka pintu.

"Rahmat?" ulangnya.

"Iya. Rahmat."

"Artinya apa?"

Wenny tersenyum, dan lesung pipinya muncul meski wajahnya masih lelah.

"Artinya anugerah. Kamu hadiah dari Tuhan."

Laknat, atau anak yang baru saja diberi nama lain itu, tidak bernapas selama beberapa detik.

Hadiah.

Tidak ada orang yang pernah memakai kata itu untuknya.

Hendra menyebutnya beban. Pembawa sial. Anak yang merusak hidup Qiu Mei. Kru menyebutnya anak suruhan. Orang-orang melihatnya seperti noda kecil di lantai studio.

Wenny menyebutnya hadiah.

"Aku bukan hadiah," katanya, tetapi suaranya pecah.

"Kamu hadiah," Wenny bersikeras. "Mungkin orang yang dapat hadiahnya belum tahu cara jaga. Tapi kamu tetap hadiah."

"Kalau orang lain tidak mau panggil begitu?"

Wenny menggigit bibir, berpikir keras. Pertanyaan itu jelas tidak ada dalam dunia kecilnya sebelumnya. Di dunianya, orang dewasa biasanya mendengar ketika ia bicara. Di dunia Laknat, orang dewasa bisa memberi nama buruk dan semua orang membiarkannya.

"Kalau mereka panggil nama jelek itu," katanya akhirnya, "kamu boleh dengar di luar saja."

"Dengar di luar?"

Wenny menunjuk dadanya sendiri. "Di dalam sini, kamu jawab Rahmat."

Ia menatap dada kecil Wenny, lalu menatap dadanya sendiri.

"Kalau Hendra marah?"

"Kamu tidak usah bilang keras-keras. Simpan dulu. Tapi kamu harus tahu."

"Tahu apa?"

"Bahwa nama jelek itu salah."

Kata `salah` keluar dari mulut Wenny dengan keyakinan polos, tetapi bagi anak laki-laki itu, rasanya seperti seseorang mencabut duri yang selama ini tertanam terlalu dalam.

Air mata jatuh sebelum ia bisa menahannya.

Rahmat cepat menunduk, malu. Selama ini ia pernah menangis karena sakit, lapar, atau takut. Tapi kali ini dadanya sakit dengan cara yang lain. Tidak tajam. Tidak memukul. Lebih seperti sesuatu yang beku akhirnya terkena panas dan tidak tahu harus menjadi apa.

"Jangan nangis," kata Wenny, ikut panik.

"Aku tidak."

"Itu air mata."

"Bukan."

"Iya."

Ia mengusap wajah dengan punggung tangan.

Wenny tidak menertawakannya. Ia hanya melanjutkan mengepang benang sampai bentuk gelang itu cukup panjang. Gerakannya lebih pelan karena tubuhnya masih lemah, tetapi ia tetap menyelesaikannya.

"Tanganmu," katanya.

Rahmat ragu, lalu menyodorkan pergelangan tangan kiri.

Wenny mengikat gelang itu dengan simpul kecil. Benang warna-warni itu terlihat terlalu cerah di kulitnya yang penuh bekas gores kecil. Wenny menarik simpulnya sekali, memastikan tidak mudah lepas.

"Selesai."

Rahmat mengangkat tangan, menatap gelang itu.

Tidak mahal. Tidak rapi sempurna. Ada satu bagian yang kepangannya longgar.

Namun bagi Rahmat, itu benda pertama yang diberikan seseorang bukan karena ia bekerja, bukan karena ia disuruh, bukan karena kasihan yang cepat berlalu.

"Kalau nanti kamu sedih," kata Wenny, "lihat gelangnya."

Rahmat masih menatap pergelangan tangannya.

"Kalau lapar?"

Wenny tampak sedih sebentar, lalu menjawab dengan serius, "Kalau lapar, cari aku kalau bisa."

"Kalau tidak bisa?"

"Ingat kamu Rahmat dulu. Nanti kalau ketemu aku lagi, aku bagi bekal."

Kalimat itu terlalu sederhana untuk menyelesaikan lapar. Tetapi tidak semua rasa lapar ada di perut. Ada yang tinggal di tempat yang lebih dalam, dan untuk rasa lapar yang itu, Wenny baru saja memberinya sesuatu.

"Ini untuk teman," katanya.

"Berarti kamu temanku."

"Kalau Hendra lihat..."

"Bilang saja dari aku."

"Dia bisa buang."

Wenny berpikir keras. "Kalau begitu sembunyikan kalau perlu. Tapi jangan buang."

Rahmat menutup gelang itu dengan telapak tangan kanannya, seolah takut benda itu hilang hanya karena disebut.

"Aku tidak akan buang."

"Janji?"

Ia mengangguk.

Wenny mengangkat jari kelingkingnya.

Rahmat menatap jari itu, tidak paham.

"Janji kelingking," kata Wenny. "Kalau sudah begini, tidak boleh bohong."

Rahmat mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Wenny. Jari anak perempuan itu hangat, kecil, dan masih sedikit lemah.

"Aku akan selalu pakai," katanya.

"Selalu?"

"Selalu."

Wenny tersenyum puas. "Bagus. Mulai sekarang kamu Rahmat."

Nama itu masih terasa asing, tetapi untuk pertama kalinya, sesuatu yang asing tidak membuatnya takut. Ia ingin mengulangnya pelan-pelan sampai percaya.

Rahmat menatap gelang itu lagi.

Di luar kamar, Hendra memanggil namanya yang lama dengan suara kasar.

"Laknat! Pulang!"

Tubuh Rahmat tersentak.

Namun sebelum ia berlari keluar, Wenny memanggilnya lebih pelan.

"Rahmat."

Ia berhenti.

Untuk pertama kalinya, ia menoleh pada nama yang tidak melukainya.

Lima belas tahun kemudian, gelang itu masih ada di pergelangan tangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!