NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Canggung

Komentar tentang teaser showcase bertambah sepanjang pagi.

Ada yang memuji tangan Senja. Ada yang bertanya jadwal pertunjukan. Ada juga yang mulai mengaitkan nama Wijaya begitu melihat satu akun seni mengunggah ulang video itu dengan keterangan bahwa program mendapat dukungan dari beberapa sponsor korporat.

Senja membaca tiga komentar terakhir, lalu meletakkan HP menghadap meja.

Di sanggar, Lara langsung mengambil HP itu dan membacanya tanpa izin.

"Orang internet memang hobi memakan setengah informasi lalu merasa kenyang," gerutunya.

"Jangan dibalas."

"Aku belum bilang akan membalas."

"Wajahmu sudah membalas."

Lara mendecak. "Mereka tidak tahu kamu latihan sampai jari kaki lecet. Yang mereka lihat cuma nama keluarga."

Senja mengikat rambutnya lebih kencang. "Dulu orang juga melihat nama keluarga. Bedanya, sekarang aku punya panggung untuk menjawab tanpa bicara."

Lara terdiam sebentar, lalu menepuk bahunya. "Nah. Itu baru kalimat perempuan yang sebentar lagi membuat orang susah tidur."

Latihan hari itu lebih keras dari biasanya. Ko Jefri membongkar bagian akhir koreografi. Senja diminta jatuh lebih rendah, bangkit lebih lambat, lalu berhenti dengan punggung menghadap penonton selama dua hitungan penuh.

"Dua hitungan itu jangan kosong," kata Ko Jefri. "Punggungmu harus tetap bicara."

"Bicara apa?"

"Apa pun yang selama ini mulutmu tidak sempat ucapkan."

Senja mengulang bagian itu sampai keringat turun dari pelipis ke dagunya. Setiap kali punggungnya menghadap cermin, dia melihat dirinya dari sudut yang tidak biasa. Bahu yang dulu sering merunduk. Leher yang dulu selalu dia tutupi. Tubuh yang sekarang diminta berbicara di depan orang banyak.

Pada pengulangan ketujuh, gerakannya akhirnya tidak terasa seperti menahan diri.

Ko Jefri mengetuk lantai dengan tongkat pendek. "Itu."

Lara yang duduk di pojok langsung bertepuk tangan. "Akhirnya punggungmu marah dengan elegan."

Senja tertawa sambil berbaring di lantai, napasnya berantakan.

Di langit-langit sanggar, kipas berputar lambat. Di antara suara musik yang berhenti dan napas para penari, HP Senja bergetar sekali.

Rayhan: Makan siang sudah sampai. Jangan tunggu dingin.

Senja menatap pesan itu.

Tidak ada kata manis. Tidak ada emoji. Hanya perintah singkat yang belakangan ini anehnya lebih menenangkan daripada pujian panjang.

Lara melongok. "Dari siapa?"

"Dari orang yang takut makanan lebih dulu patah hati daripada aku."

"Suamimu?"

Senja melempar handuk kecil ke arah Lara.

Makan siang datang dalam kotak putih dengan nama sanggar, bukan nama restoran mahal. Ada nasi, sup bening, ikan kukus, tumis sayur, dan satu kotak kecil berisi buah yang sudah dipotong. Untuk Lara ada porsi yang sama, hanya tanpa catatan di tutupnya.

Di tutup kotak Senja, ada tulisan kecil dengan spidol hitam.

Makan sebelum latihan kedua.

Tulisan itu bukan tulisan Rayhan. Terlalu rapi. Pasti Pak Hadi.

Namun Senja tahu siapa yang menyuruhnya.

Sore menjelang ketika latihan selesai. Tubuh Senja terasa seperti kain basah yang diperas, tetapi kepalanya lebih ringan. Komentar internet tidak lagi menempel terlalu keras. Serena juga tidak mengirim pesan baru. Untuk hari itu, diam dari Serena terasa seperti hadiah kecil.

Rayhan menjemputnya sendiri.

Bukan Pak Hadi.

Mobil hitam berhenti di depan gang sanggar tepat saat gerimis tipis mulai turun. Rayhan keluar membawa payung. Beberapa penari yang masih di depan pintu otomatis menatap. Lara, tentu saja, tidak melewatkan kesempatan untuk mengangkat alis dengan sangat menyebalkan.

"Panggung belum mulai, tapi adegan jemputan sudah matang," bisiknya.

"Diam."

"Aku diam. Mataku saja yang bicara."

Senja melangkah keluar. Rayhan memayunginya tanpa terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat bahu mereka hampir bersentuhan.

"Pak Hadi?"

"Aku selesai rapat lebih cepat."

"Atau kamu memang datang?"

"Dua hal bisa benar bersamaan."

Jawaban itu membuat Senja tidak menemukan bantahan.

Di dalam mobil, aroma hujan pertama di aspal masuk lewat celah pintu sebelum tertutup. Bukan hujan besar. Hanya gerimis pendek yang membuat kaca depan berbintik.

Rayhan menyalakan pemanas kursi sebentar, lalu mematikannya ketika Senja menatap heran.

"Bajumu basah."

"Sedikit."

"Sedikit tetap basah."

Senja ingin mengatakan dia tidak selemah itu, tetapi tubuhnya memang mulai menggigil setelah latihan dan gerimis. Jadi dia diam.

Rayhan mengambil handuk kecil dari laci mobil dan menyerahkannya. Handuk itu bersih, digulung rapi. Seolah mobil seorang CEO memang seharusnya menyimpan handuk untuk penari yang nekat berdiri di bawah gerimis.

"Terima kasih."

Rayhan tidak langsung menyalakan mobil. "Komentar hari ini mengganggumu?"

Senja menatap kaca depan. Butir gerimis turun lambat, meninggalkan garis tipis di kaca.

"Sedikit."

"Aku bisa minta tim komunikasi menjelaskan dukungan program."

"Jangan."

Rayhan menoleh.

Senja menggenggam handuk di pangkuan. "Kalau setiap orang bicara dan kamu langsung menjelaskan, nanti aku tidak pernah belajar berdiri sendiri. Aku mau menari dulu. Kalau setelah itu mereka masih bicara, baru kita lihat."

Untuk beberapa detik, Rayhan hanya memandangnya.

"Baik."

Satu kata. Tanpa debat.

Senja tersenyum kecil. "Kamu makin pintar."

"Aku mencatat semua teguranmu."

"Aku tidak banyak menegur."

"Kamu banyak menahan. Itu lebih sulit dibaca."

Kalimat itu jatuh terlalu dekat.

Senja menunduk, mengusap ujung rambut yang lembap dengan handuk. Suasana mobil berubah pelan, dari pembicaraan tentang internet menjadi sesuatu yang lebih sunyi. Gerimis di luar membuat dunia terlihat lebih sempit. Di dalam mobil, hanya ada napas mereka, wangi kulit jok, dan jarak yang tidak benar-benar jauh.

Rayhan menyalakan mesin, tetapi tidak langsung menjalankan mobil.

"Senja."

"Hm?"

"Tentang tanggal di kalender."

Tangannya berhenti.

Dia tidak bertanya bagaimana Rayhan tahu. Mungkin dia melihat kalendernya saat mengantar dokumen. Mungkin dia menghitung sendiri. Mungkin bagi orang seperti Rayhan, perjanjian bukan sesuatu yang bisa dilupakan meski hati mulai berubah.

"Tanggal itu," lanjut Rayhan, suaranya rendah, "bukan tagihan."

Senja menatapnya.

"Bukan kewajiban. Bukan tanda bahwa kamu harus memberikan sesuatu hanya karena tiga bulan selesai."

Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang tidak bisa langsung diberi nama.

"Aku tahu," katanya, tetapi suaranya terdengar lebih pelan dari yang dia inginkan.

"Kalau kamu mau, batas itu bisa diperpanjang. Satu bulan, satu tahun, atau sampai kamu sendiri yang menghapusnya."

Gerimis makin rapat di kaca.

Senja menelan ludah. Dulu dia mengira laki-laki seperti Rayhan hanya tahu cara mengambil. Mengatur. Membeli. Menentukan. Namun pria di sebelahnya justru membicarakan batas seperti seseorang yang sedang menjaga pintu dari dalam, bukan mendobraknya dari luar.

"Kalau aku tidak mau memperpanjang?" Pertanyaan itu keluar sebelum dia sempat menahannya.

Jari Rayhan mengencang di setir.

Dia tidak menoleh cepat. Dia menarik napas dulu, seakan sedang memastikan dirinya tidak salah menangkap makna.

"Kalau begitu," katanya akhirnya, "aku tetap menunggu kamu mengatakannya dengan jelas. Bukan dari kalender. Bukan dari takut kehilangan. Dari kamu."

Panas naik ke wajah Senja.

Mobil akhirnya bergerak.

Sepanjang perjalanan pulang, mereka tidak membicarakan tanggal itu lagi. Namun diam kali ini bukan canggung yang kosong. Diam itu seperti tangan yang diletakkan dekat sekali, belum menyentuh, tetapi sama-sama tahu keberadaannya.

Malamnya, setelah mandi dan mengganti pakaian, Senja duduk di depan meja rias. Kalender kecil itu terbuka pada bulan yang sama. Tinta biru melingkari tanggal showcase. Di bawahnya, tanda kecil tentang akhir tiga bulan terlihat lebih jelas daripada semua angka lain.

Dia mengambil pulpen, lalu menghitung pelan.

Satu, dua, tiga.

Sampai tujuh.

Tiga bulan itu tinggal satu minggu lagi.

Senja menutup pulpen, tetapi tidak menutup kalender.

Jantungnya berdebar terlalu cepat untuk seseorang yang seharusnya hanya sedang menghitung hari.

Dia tidak tahu apa yang sedang dia takutkan.

Lebih parah lagi, dia tidak tahu apa yang diam-diam mulai dia tunggu.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!