Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Area gudang Erlangga Group terasa panas dan pengap sejak pagi. Suara troli berlalu-lalang, bunyi kardus disusun, serta teriakan instruksi para pekerja memenuhi ruangan besar itu. Berbeda jauh dengan ruangan ber-AC tempat Haikal biasa duduk sebagai manajer.
Kini pria itu berdiri di depan pintu gudang dengan seragam kusam yang terasa sangat memalukan baginya. Wajahnya penuh amarah dan rasa tidak terima. Tatapannya menyapu seluruh isi gudang. Beberapa pekerja sibuk mengecek barang di rak besar. Sebagian lainnya mengangkat kardus dan mencatat stok.
“Hei!” Suara keras seorang karyawan membuatnya menoleh kesal.
Seorang pria bertubuh besar berjalan mendekat sambil membawa clipboard.
“Ngapain berdiri aja?” bentaknya kasar. “Kerja!”
Wajah Haikal langsung mengeras.
“Aku baru masuk,”
“Terus kenapa?” pria itu mendecih. “Di sini semua kerja!" Tatapannya kemudian jatuh pada Haikal dari atas sampai bawah.
“Kamu yang pegawai baru bagian gudang, kan?”
Rahang Haikal langsung menegang. Sebelum sempat menjawab, pria itu langsung menunjuk beberapa kardus besar di sudut gudang.
“Angkat barang itu ke rak belakang,”
Haikal langsung melotot tidak percaya.
“Kamu suruh aku angkat barang?”
Pria itu mengernyit kesal.
“Ya iyalah.”
“Aku bukan kuli!”
Beberapa pekerja lain langsung menoleh mendengar nada tinggi Haikal. Namun, pria bertubuh besar itu justru tertawa sinis.
“Kalau nggak mau kerja, keluar aja!” Bentaknya kesal.
Haikal mengepal tangannya kuat-kuat. Pria itu kembali berkata dingin,
“Itu tugas kamu sekarang,"
Ucapan itu seperti tamparan keras bagi harga diri Haikal. Kemarin, dirinya masih duduk di ruang manajer dengan pakaian rapi dan bawahan yang menghormatinya. Tetapi, kini dirinya bahkan disuruh mengangkat kardus seperti pekerja kasar biasa. Dengan rahang mengeras menahan malu dan emosi, Haikal akhirnya berjalan menuju tumpukan kardus besar di sudut gudang.
Tangannya menarik salah satu kardus dengan kasar.
“Dasar sialan...” gerutunya pelan.
Bahunya menabrak salah satu pekerja yang sedang membawa barang.
“Hei! Lihat jalan!” bentak pekerja itu kesal.
Haikal langsung mendecih malas tanpa meminta maaf. Kardus di tangannya bahkan hampir terlepas saat tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Salah satu staf refleks menahan kardus itu sebelum jatuh. Beberapa orang mulai melirik Haikal dengan tatapan tidak suka. Karena jelas terlihat pria itu sama sekali tidak terbiasa bekerja kasar. Napas Haikal mulai memburu, punggungnya terasa pegal. Tangannya mulai sakit hanya karena beberapa kali mengangkat barang.
“Hei, kamu!” Suara lain kembali memanggilnya.
Haikal menoleh kesal.
Seorang staf senior gudang menunjuk troli besar berisi beberapa dus berat.
“Bawa itu ke area belakang!"
Wajah Haikal langsung berubah.
“Aku baru selesai angkat barang,”
“Terus?”
“Ada orang lain, suruh mereka saja!”
Suasana langsung sedikit hening. Beberapa pekerja diam-diam mulai memperhatikan. Staf senior itu kemudian berjalan mendekat dengan tatapan dingin.
“Kamu nolak kerja?”
Haikal mendecih. “Aku bukan babu!"
Pria itu langsung tersenyum sinis.
“Kalau begitu saya laporkan ke atasan.”
Napas Haikal langsung tertahan.
“Silakan,"
“Bagus.” pria itu mengeluarkan ponselnya santai. “Sekalian saya bilang kalau pegawai pindahan dari atas itu menolak kerja dan bikin masalah.”
Wajah Haikal langsung memerah. Karena dirinya tahu, kalau laporan itu sampai naik ke atas, dirinya bisa makin dihancurkan lagi.
Rahangnya mengeras penuh frustrasi. Beberapa detik kemudian, Haikal akhirnya merebut pegangan troli itu kasar.
“Banyak omong.”
Pria itu hanya tertawa kecil sinis.
“Dari tadi juga kamu yang paling banyak omong,”
Urat di leher Haikal sampai terlihat menegang menahan amarah. Dia tetap harus mendorong troli berat itu menuju belakang gudang di tengah tatapan orang-orang yang mulai merendahkannya. Panas gudang semakin terasa menyiksa menjelang siang. Keringat membasahi punggung Haikal sejak tadi. Rasa kesal dalam dirinya semakin menumpuk setiap menit.
Sementara, para pekerja gudang mulai berhenti sejenak untuk mengambil minuman yang dibagikan staf logistik. Botol air dingin dibagikan satu per satu.
Namun, saat giliran Haikal, staf itu hanya melirik botol plastik miliknya yang hampir kosong karena tadi tak sengaja jatuh dan tumpah saat dirinya mendorong troli.
“Air cadangan habis,” katanya datar. “Nanti tunggu pengiriman berikutnya,”
Wajah Haikal langsung berubah. “Apa?”
“Ya habis,”
Salah satu pekerja lain bahkan masih sempat minum santai di depannya. Hal itu langsung membuat emosi Haikal meledak.
“Jadi cuma aku yang nggak dapat?!”
Beberapa orang mulai menoleh tetapi staf tadi hanya mengangkat bahu.
“Bukan urusan saya...”
Haikal langsung melempar botol kosong itu ke lantai keras. Air yang tersisa memercik ke mana-mana.
“Sialan kalian!” Suasana gudang langsung berubah tegang. Tatapan semua pekerja tertuju pada Haikal yang kini benar-benar kehilangan kesabaran.
“Kalian sengaja, kan?!” bentaknya penuh amarah. “Mentang-mentang aku dipindahkan ke sini!”
Beberapa pekerja mulai terlihat kesal. Salah satu pria yang sejak tadi tidak menyukai sikap Haikal langsung berdiri.
“Jaga mulutmu!”
“Kalau nggak mau kerja di sini, keluar sana!” timpal yang lain.
Haikal justru semakin emosi.
“Gudang busuk begini aja sok berkuasa!” Kalimat itu langsung memancing keributan.
“Hei!” Seseorang mendorong bahu Haikal kasar.
Haikal membalas dorongan itu hingga terjadi saling tarik baju.
Suasana gudang langsung kacau.
“Berhenti!”
“Woi!” Suara teriakan memenuhi ruangan saat beberapa pekerja mencoba melerai.
Haikal yang sudah dipenuhi emosi sejak pagi terus memaki sambil berusaha menyerang pria di depannya. Raut wajahnya benar-benar merah penuh kemarahan dan rasa terhina.
Sementara, di lantai botol air yang tadi dilempar masih menggelinding pelan di tengah kekacauan gudang hari itu. Keributan di dalam gudang semakin tidak terkendali. Haikal yang sudah dipenuhi emosi mendorong pria di depannya dengan kasar.
"Agrh!" Pria itu terjatuh mundur dan menghantam rak penyimpanan di belakangnya. Beberapa kardus besar langsung bergoyang keras. Hingga satu tumpukan barang perusahaan jatuh berserakan ke lantai. Suara pecahan terdengar nyaring memenuhi gudang.
Seluruh pekerja langsung membeku. Tatapan semua orang perlahan tertuju pada barang-barang yang kini rusak di lantai. Beberapa kotak terbuka memperlihatkan perlengkapan elektronik perusahaan yang pecah dan retak.
Wajah Haikal langsung berubah, napasnya tercekat sesaat. Haikal sadar, harga barang-barang itu jelas tidak murah.
“Sial...” gumamnya pelan.
Pekerja yang tadi bertengkar dengannya langsung berdiri panik.
“Barangnya rusak!”
“Habislah kita...”
Suasana mendadak tegang.
Haikal justru kembali emosi.
“Semua ini gara-gara kalian!” Tatapannya penuh amarah pada pekerja lain.
“Kalau kalian nggak cari masalah dari tadi—”
“Cukup!” Satu suara dingin tiba-tiba terdengar dari pintu gudang. Seluruh orang spontan menoleh. Saat melihat siapa yang datang, wajah beberapa pekerja langsung pucat.
Emran Richard berdiri di sana dengan jas hitam rapi dan tatapan tajam yang menekan seluruh ruangan.
Di belakangnya, Han dan beberapa staf perusahaan ikut berdiri diam. Suasana gudang langsung berubah mencekam. Tatapan Emran perlahan jatuh pada barang-barang rusak di lantai, lalu pada Haikal. Sorot matanya dingin tanpa emosi.
“Barang perusahaan yang rusak wajib diganti,”
Haikal langsung mengepalkan tangannya. Emran melangkah masuk perlahan.
“Nanti biaya kerusakan dihitung,"
Nada suaranya datar.
“Kalian yang terlibat keributan juga kena sanksi.”
Tatapannya menyapu semua pekerja.
“Tidak boleh kerja beberapa hari ... atau gaji dipotong ... hanya ada dua pilihan.”
Beberapa pekerja langsung menunduk panik. Haikal mendecih kesal sambil mengusap wajah kasar.
“Sial...” gerutunya pelan penuh frustrasi.
Emran justru masih menatapnya tanpa iba sedikit pun.
bahwa kehadirannya sungguh berharga