NovelToon NovelToon
THE 13TH FLOOR

THE 13TH FLOOR

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:221
Nilai: 5
Nama Author: Putri CS

1. "THE 13TH FLOOR"

Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist

Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.

Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.

Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21 panggilan yang tak seharusnya terhubung

Naura menatap layar ponselnya tanpa berkedip

Kontak "Alea" masih ada.Tidak ada nomor,Tidak ada foto profil Hanya satu nama Tangannya gemetar saat menekan tombol panggil.

Tut...

Tut...

Sambungan langsung terhubung.

"Hallo?"

Suara perempuan terdengar dari seberang Hangat, Tenang Naura terdiam.

"Siapa ini?" tanya suara itu lagi.

"K... Kak Alea?"

Suara di ujung telepon mendadak hening.

"Darimana kamu tahu namaku?"

Naura menarik napas panjang.

"Aku... aku nggak tahu harus mulai dari mana."

"Ada yang aneh."

"Aku terus mendapat pesan tentang Hotel Karunia Heritage."

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Lalu terdengar suara Alea yang berubah serius.

"Siapa namamu?"

"Naura."

"Naura..."

Suara Alea terdengar seperti sedang mengingat sesuatu.

"Tunggu."

"Kamu jangan ke mana-mana."

"Aku akan datang."

"Hah?"

"Tolong percaya padaku."

"Jangan berangkat ke study tour sebelum kita bertemu."

Sambungan telepon terputus.

Naura memandang layar ponselnya.

Perasaannya campur aduk.

Bagaimana mungkin perempuan yang belum pernah ia kenal langsung mempercayai ceritanya?

Di kota lain...

Alea perlahan menurunkan ponselnya.

Ia kini berusia dua puluh satu tahun.

Di atas meja kerjanya terdapat sebuah pigura foto.

Foto dirinya bersama Naya, Raka, Keanu, Dimas, dan Liora.

Di samping foto itu...

Masih tersimpan kalung perak berbentuk angka 13.

Kalung yang seharusnya sudah kehilangan kekuatannya.

Namun malam itu...

Kalung tersebut memancarkan cahaya redup.

Raka yang sedang berkunjung langsung menyadarinya.

"Kalungnya..."

"Aktif lagi?"

Alea mengangguk pelan.

"Aku baru ditelepon seorang anak SMA."

"Namanya Naura."

Raka langsung berdiri.

"Naura?"

Alea menatapnya.

"Kenapa?"

Raka mengambil dompetnya.

Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah foto lama.

Foto keluarga.

Di belakang foto tertulis sebuah nama.

Naura Azzahra.

"Itu..."

"...nama anak dari Om Ardi."

"Siapa Om Ardi?" tanya Alea.

"Arsitek yang dulu membantu Ayahku menyelidiki Hotel Karunia."

"Beliau menghilang beberapa tahun setelah kutukan berakhir."

Keheningan memenuhi ruangan.

Kalau begitu...

Mungkin Naura bukan dipilih secara acak.

Mungkin...

Seseorang memang sedang mencarinya.

Di sisi lain...

Di ruang bawah tanah Hotel Karunia Heritage.

Seorang pria berjas hitam berdiri di depan layar monitor.

Puluhan kamera CCTV menampilkan setiap sudut hotel.

Di salah satu layar...

Terlihat wajah Naura.

Pria itu tersenyum tipis.

"Lacak terus."

Seorang wanita di sampingnya bertanya,

"Apakah dia pewaris yang kita cari?"

Pria itu mengangguk.

"Ya."

"Dan kali ini..."

"...jangan biarkan siapa pun mengganggu rencana kita."

Wanita itu menatap layar CCTV lain.

Di sana muncul wajah Alea.

Ia tersenyum dingin.

"Kalau begitu..."

"...kita singkirkan penyintas lama terlebih dahulu."

Lampu ruang kontrol padam.

Sementara di salah satu monitor...

Lift Hotel Karunia Heritage berhenti sendiri.

Lantainya hanya satu 13

Dan pintunya...Perlahan terbuka

Dua hari kemudian...

Alea dan Raka tiba di kota tempat Naura tinggal.

Mereka memilih sebuah kafe kecil yang tenang sebagai tempat bertemu.

Naura datang tepat pukul empat sore.

Begitu melihat Alea, ia langsung mengenali wajah perempuan yang ada di artikel berita itu.

"Kak Alea?"

Alea tersenyum tipis.

"Kamu Naura?"

Naura mengangguk.

Beberapa saat mereka hanya saling memandang.

Entah mengapa, Naura merasa pernah bertemu Alea, padahal itu adalah pertemuan pertama mereka.

"Kamu bilang mendapat pesan misterius?" tanya Raka.

Naura menyerahkan ponselnya.

"Aneh... semua pesannya selalu hilang."

Alea mencoba memeriksa ponsel itu.

Tidak ada pesan.

Tidak ada nomor tak dikenal.

Namun saat membuka galeri...

Mereka bertiga membeku.

Ada sebuah foto yang tidak pernah diambil Naura.

Foto itu memperlihatkan sebuah lorong hotel yang gelap.

Di ujung lorong berdiri seorang pria mengenakan jas hitam.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Tetapi di belakang jasnya terdapat sebuah lambang XIII

"Tiga belas..." gumam Raka.

"Itu bukan angka biasa."

Alea memperbesar foto tersebut.

Lambang itu berbentuk lingkaran dengan tiga belas garis mengelilinginya.

Simbol yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Tiba-tiba ponsel Naura bergetar.

Bukan karena pesan.

Melainkan sebuah panggilan video.

Nama pengirimnya hanya satu huruf X

Raka segera menekan tombol jawab.

Layar sempat gelap beberapa detik.

Lalu muncul seorang pria bertopeng putih.

Suaranya tenang.

"Selamat sore."

"Akhirnya para penyintas berkumpul lagi."

Alea langsung berdiri.

"Siapa kamu?"

Pria itu tertawa kecil.

"Kalian boleh memanggilku..."

Direktur Tiga Belas.

"Organisasi kami sudah ada jauh sebelum Hotel Karunia dibangun."

"Kalian memang berhasil menghancurkan kutukan."

"Tapi..."

"...kalian tidak pernah menghancurkan orang-orang yang menciptakannya."

Wajah Alea berubah tegang.

"Jadi selama ini..."

"...perjanjian itu dibuat oleh manusia?"

"Bukan."

Pria bertopeng itu menggeleng.

"Perjanjiannya memang nyata."

"Tetapi selalu ada manusia yang memanfaatkannya."

Ia mengangkat sebuah buku.

Sampulnya hitam.

Persis seperti Buku Hitam yang pernah mereka hancurkan.

"Kalian menghancurkan satu Buku Perjanjian."

"Sayangnya..."

"...itu bukan satu-satunya."

Sambungan video tiba-tiba dipenuhi gangguan.

Sebelum terputus, pria itu mengucapkan satu kalimat.

«"Selamat datang di permainan kedua."»

Layar langsung mati.

Suasana di meja menjadi sunyi.

Naura memandang Alea dengan wajah pucat.

"Kak..."

"Berarti semuanya belum selesai?"

Alea menggenggam kalung angka 13 yang kembali terasa hangat.

Ia menatap Raka.

Lalu berkata pelan,

"Bukan."

"Ini..."

"...baru permulaan."

Di sisi lain kota...

Di sebuah gedung tua yang dijaga ketat, pria bertopeng itu berdiri di depan dua belas orang berjubah hitam.

Di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar.

Di atasnya...

Terletak dua belas Buku Hitam.

Sementara satu tempat terakhir...

Masih kosong.

Pria itu tersenyum.

"Segera."

"Kita akan memiliki Buku Ketiga Belas."

Lampu ruangan padam.

Dan dari balik bayangan...

Terdengar suara lift yang sangat mereka kenal.

DING...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!