NovelToon NovelToon
Pembalasan Senyap Sang Istri Sah

Pembalasan Senyap Sang Istri Sah

Status: tamat
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:58.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Selama ini Tania hidup dalam peran yang ia ciptakan sendiri: istri yang sempurna, pendamping yang setia, dan wanita yang selalu ada di belakang suaminya. Ia rela menepi dari sorot lampu demi kesuksesan Dika, mengubur mimpinya menjadi seorang desainer perhiasan terkenal, memilih hidup sederhana menemaninya dari nol hingga mencapai puncak kesuksesan.
Namun, kesuksesan Dika merenggut kesetiaannya. Dika memilih wanita lain dan menganggap Tania sebagai "relik" masa lalu. Dunia yang dibangun bersama selama lima tahun hancur dalam sekejap.
Dika meremehkan Tania, ia pikir Tania hanya tahu cara mencintai. Ia lupa bahwa wanita yang mampu membangun seorang pria dari nol, juga mampu membangun kembali dirinya sendiri menjadi lebih tangguh—dan lebih berbahaya.
Tania tidak menangis. Ia tidak marah. Sebaliknya, ia merencanakan pembalasan.

Ikuti kisah Tania yang kembali ke dunia lamanya, menggunakan kecerdasan dan bakat yang selama ini tersembunyi, untuk melancarkan "Balas Dendam yang Dingin."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Sore hari merayap masuk ke ruang keluarga, mengubah cahaya menjadi keemasan. Ibu Dika, Tania, dan Farah sedang bersantai bersama. Televisi menyala, menyiarkan acara gosip sore, tapi tidak ada yang benar-benar menonton.

Tania duduk tenang di sofa tunggal, sebuah buku ada di pangkuannya, tapi matanya sesekali melirik jam dinding. Di seberangnya, di sofa panjang, Farah duduk gelisah. Ponselnya terus-menerus dipegang, dahinya berkerut setiap kali layar gelap. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Dika dan melampiaskan kekesalannya karena pesannya yang tak kunjung ditanggapi.

Tepat pada pukul enam sore, suara mobil memasuki garasi, diikuti tak lama kemudian oleh suara ketukan pintu depan yang familiar.

Secara refleks, Tania dan Farah bersamaan berdiri tegak dari duduk mereka, seperti dua boneka yang ditarik oleh benang yang sama.

Tania menatap Farah sejenak. Ekspresi panik sesaat melintas di wajah Farah, yang langsung digantikannya dengan wajah sok santai. Tania tersenyum tipis, senyum dingin yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.

"Loh, kenapa kamu berdiri juga, Far?" tanya Tania dengan nada ramah yang dibuat-buat, memecah keheningan. "Kamu mau ikut nyambut kepulangan Mas Dika, suami aku?"

Farah terdiam sesaat, lidahnya kelu. Di balik punggungnya, ia mengepalkan tangannya erat-erat, mengutuk kecerdikan Tania yang kembali menyindirnya di depan Ibu Dika.

"Itu pasti Mas Dika, Far, bukan kekasih kamu," tambah Tania, penuh penekanan.

Tanpa menunggu jawaban Farah yang terdiam kaku, Tania melangkah ke arah pintu depan, senyum menyeringai terlukis jelas di bibirnya. Setiap langkahnya adalah kemenangan kecil baginya.

Tania melangkah ke pintu depan dan membukanya. Di luar, Dika berdiri, tampak lelah setelah bekerja.

"Mas, sudah pulang?" sapa Tania manja, berbeda dari nada profesionalnya saat video conference. Tanpa menunggu respons, Tania segera mengaitkan lengannya ke lengan Dika, dan menyandarkan kepalanya manja di bahu suaminya.

Sebenarnya, ia merasa jijik setelah apa yang Dika lakukan padanya semalam dan hinaan-hinaan Dika yang ia dengar. Namun, Tania sengaja melakukan hal tersebut untuk memanas-manasi Farah yang ia tahu sedang mengawasi dari ruang keluarga.

Mereka berjalan masuk, Dika sedikit terkejut dengan sikap manja Tania yang tidak biasa, tapi dia menikmatinya.

Sampai di ruang keluarga, Farah yang duduk di sofa menatap tajam Dika dan Tania. Meskipun itu adalah hal yang wajar karena keduanya suami dan istri, tatapan Farah penuh dengan kecemburuan dan amarah.

Mengerti dengan tatapan tajam Farah, Dika berusaha melepaskan tangan Tania yang mengapitnya dengan halus, merasa tidak nyaman ada Farah di sana. Tania pun melepaskan tangannya, tetapi sebenarnya tanpa Dika lepas, ia pun ingin melepaskan sendiri.

"Mas, sepertinya lelah sekali, ya?" kata Tania, mengabaikan ketegangan yang ia ciptakan. "Duduk dulu, aku ambilkan minum."

Misi Tania membuat Farah cemburu sudah berhasil. Dia tersenyum tipis saat melangkah ke dapur, meninggalkan Dika yang kikuk dan Farah yang terbakar cemburu di ruang keluarga.

Tania melangkah ke dapur, senyum tipis masih menghiasi bibirnya. Dia tidak langsung membuatkan minuman untuk Dika. Begitu berada di area yang aman, Tania dengan cepat mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya cekatan membuka aplikasi pengawas rahasia, lalu menyambungkannya ke earphone nirkabel yang disematkan di telinganya.

Tania yakin pasti akan ada percakapan yang menarik di ruang keluarga saat dirinya pergi. Dia mulai menuang air ke teko, tapi fokusnya terarah pada suara yang masuk melalui earphone-nya. Dan ternyata benar saja, suara Farah yang penuh amarah segera memenuhi pendengarannya.

[Beralih ke Ruang Keluarga]

Begitu Tania menghilang ke dapur, suasana di ruang keluarga langsung berubah tegang. Farah langsung berdiri dan menghampiri Dika dengan wajah cemberut.

"Mas, gimana sih," sembur Farah.

"kenapa pesan aku dari tadi nggak dibalas juga? Aku udah kayak orang gila nungguin balasan kamu, Mas! Kamu tuh sebenarnya cinta nggak sih sama aku? Kalau cinta harusnya kamu nggak mengabaikan aku kayak gini, Mas! Kamu sama Tania benar-benar bikin aku kesal tahu!"

Dika, yang baru saja duduk di sofa, menghela napasnya sejenak. Wajahnya terlihat lelah. Sebenarnya ia merasa sangat lelah, ingin bersantai dan melepas penatnya di dalam rumah yang tenang dan damai. Biasanya, Tania sudah memberikan kedamaian saat Dika pulang dari kantor dengan segala perhatian dan ketenangannya. Tapi sekarang, ia disambut oleh rentetan amarah Farah.

"Farah, aku capek," kata Dika, mencoba menenangkan. "Aku baru pulang. Bisa kita bicara nanti?"

[Kembali ke Dapur]

Di dapur, Tania tersenyum dingin mendengar kemarahan Farah. Dia mencatat setiap kata amarah Farah dan setiap nada lelah Dika. Rekaman itu adalah emas baginya. Sambil tersenyum puas, Tania mulai meracik minuman, menikmati simfoni konflik yang ia ciptakan sendiri.

Tania mematikan aplikasi perekam di ponselnya, menyimpan bukti pertengkaran itu dengan senyum puas. Dia memasang kembali topeng istri yang sempurna, menuang jus jeruk segar ke dalam gelas, dan melangkah kembali ke ruang keluarga.

Suasana di ruang keluarga masih sedikit tegang, meskipun Farah sudah duduk kembali di sofa, cemberut, sementara Dika memijat pelipisnya.

"Maaf lama, Mas," sapa Tania lembut, menyuguhkan gelas jus dingin ke meja di depan Dika. "Capek, ya? Ini minum dulu biar segar."

Dika mendongak, menatap Tania yang tersenyum tulus (padahal palsu). Dia mengambil gelas itu. Untuk sesaat, Dika merasa dirinya seharusnya tidak bermain-main dengan Farah. Tania saja sudah lebih dari cukup; Tania yang tenang, perhatian, dan selalu tahu cara menciptakan kedamaian di rumah ini. Farah, di sisi lain, hanya membawa drama dan amarah.

Penyesalan singkat melintas di benak Dika, sebelum kembali tenggelam dalam kekacauan emosionalnya.

"Makasih, Tania," jawab Dika, suaranya terdengar hambar.

Farah mendengus kesal melihat interaksi manis itu, sementara Tania hanya tersenyum tipis, puas karena berhasil membuat Dika merasa tidak nyaman dan membuat Farah semakin terbakar cemburu. Permainan pikiran Tania baru saja dimulai, dan dia menikmati setiap detiknya.

Tania tidak berhenti sampai di situ. Setelah Dika menyesap jusnya, Tania mendapat ide jahil untuk mengerjai Farah. Tania duduk di samping Dika. Tanpa diminta, Tania memijat lembut paha Dika.

Awalnya Dika terkejut, tapi kemudian Dika justru menikmati pijatan Tania. Ia bersandar di sofa, menutup matanya, merasakan kenyamanan yang Tania berikan.

Melihat hal tersebut, Farah semakin geram dan cemburu. Farah berdiri dengan menghentakkan kakinya, membuat Dika terperanjat dan membuka mata. Farah langsung bergegas pergi dari ruang keluarga.

Dika membuka matanya kaget. Dia melihat Farah berdiri dengan wajah merah padam karena amarah, menatapnya dengan pandangan penuh kekesalan, lalu bergegas pergi dari ruang keluarga. Dika mengernyitkan dahi. Ada apa lagi dengan wanita ini? pikirnya kesal. Dia baru saja merasa tenang, tapi Farah merusak momen itu. Kelelahan fisiknya kembali terasa, bercampur dengan frustrasi emosional.

Berbeda dengan Tania. Ia tersenyum tipis melihat kepergian Farah. Setiap hentakan kaki Farah di lantai adalah kemenangan kecil baginya. Pergilah, Farah, pikir Tania dingin. Semakin kamu menunjukkan dirimu, semakin cepat Mas Dika muak. Idenya berhasil total. Dia telah menabur benih keraguan dan drama di antara mereka, dan dia menikmati setiap detiknya.

Dan ternyata, bukan hanya Tania yang tersenyum. Ibu Dika pun tersenyum melihat hal tersebut. Ada rasa puas yang tersamar di wajahnya. Bagus, Tania, pikir Ibu Dika. Tunjukkan pada wanita tidak tahu diri itu tempatnya. Dia pikir dia bisa dengan mudah menggantikan mu. Senyum Ibu Dika adalah dukungan diam-diam untuk menantunya yang sabar dan cerdik.

Bersambung...

1
Rina Arie
good book
Eve_Lyn: kak...nanti baca juga novel aku yang baru yaa..smntra ak banyakin babnya..seru kak...cameo nya Hartadinata sekeluarga hehehe...
total 1 replies
Irene Rambing
Luar biasa naluri i ai
Eve_Lyn: terimakasih kak...udah baca sampe tamat...nanti baca novelku yang baru ya kak...lagi otw beberapa bab...seru ada cameonya Keluarga Hartadinata alias Tania,dll...hehehehe
total 1 replies
Irene Rambing
Begitulah klu orang tersakiti apalagi dia pinter.
Irene Rambing
maklum kalau pelakor memang seperti itu tingkah nya. urat malu sudah putus.
Irene Rambing
bagus banyak pembelajaran hidup.
Eve_Lyn: terimakasih kak...
total 1 replies
Eve_Lyn
luar biasa!
Arin
/Heart/
Osie
Google.. aku mampir..ku suka wanita tangguh yg gak menye menye..smart apalagi kalau dibarengi jago bela diri..beeuuh paket komplit banget dah
Eve_Lyn: terimakasih...nnti aku bikin novel kek gtu yaa kak hehehe...kalo si Tania mainnya di otak dia kak.hehehe
total 1 replies
cinta semu
jgn gegabah ...main cantik aja ...kuras harta Dika ,,kalo miskin mana ada pelakor nempel 😂😂
Arin
Orang-orang begini mana pernah puas. Sebelum ambisinya tercapai. Biarpun dengan cara licik sekalipun
Eve_Lyn: 2 bab lagi kak...jangan bosen yaa
total 1 replies
Hasanah
🤣🤣 di kra dengan mereka mnyerang Tania dengan foto itu awal dari kbahagian mereka tau2 x itu adlah awal khancuran
Eve_Lyn: terimakasih kakak...stay terus yaa kak hehehe...kita masih punya 40 bab k depan lagi...di pertengahan ada bab refresh di akhir akan ada konflik lagi...stay tune kak hehehehe
total 1 replies
Hasanah
🤣🤣🤣 Farah kmu slah lawan dia lupa bahwa Tania punya semua bukti x
Hasanah
🤣🤣🤣 di kira mereka udah mnang
Hasanah
🤣🤣 trnyta kmu sdar juga Farah klau Tania lbih maju dri kmu yg tidak ad ap2x
Hasanah
kpan si terungkanya
Hasanah
minimal punya malu kmu Farah jngan trllu ngelunjak
Hasanah
🤣🤣🤣 nikmati aj Farah
Arin
Aku kira Rei seperti dulu. Saat masih terus memantau Dika. Ternyata gampang juga terpengaruh hanya dengan kata-kata beracun dari Bianca. Tanpa cek dulu kebenarannya
Eve_Lyn: hihihihi...gak baik kalo trllu sempurna kak..wkwkwk
total 1 replies
Arin
Bawa kabur 800 juta itu banyak lo..... Kemana uangnya? Jadi apa? Gak berwujud. Malah jebak suami orang untuk menutupi utang-utang.....
Arin
Niatnya gertak Tania. Malah terkejut sendiri kan Farah??? 😄 Ternyata Tania punya hal yang kalau diungkap bisa jadi "BOOM" dan bisa merugikan dirimu nantinya. Persiapan saja dirimu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!