NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33 Puri Candra yang Terkunci

"Ke gudang arsip Puri Raja. Dan satu peti mengeluarkan bau minyak cendana yang sama seperti catatan malam Permaisuri Candra jatuh sakit."

Anindya mencium bahaya dari kalimat itu lebih jelas daripada bau minyak yang disebut Garuda.

Peti sudah dipindahkan. Kunci Puri Candra sudah diganti. Naradewa telah bergerak lebih cepat daripada seorang ayah yang hanya tersinggung oleh rasa ingin tahu anaknya.

"Kita tidak bisa menerobos gudang arsip Puri Raja," kata Anindya.

"Belum," jawab Arjuna.

Kata itu membuat Wulan menahan napas.

Raden Harsa datang tidak lama kemudian dengan jubah Pengadilan Kerajaan yang masih berdebu. Ia membaca catatan yang disusun Adi, lalu mengetuk meja dengan ujung jari.

"Untuk gudang arsip Puri Raja, kita perlu titah langsung atau alasan hukum yang tidak bisa ditolak. Tetapi untuk Puri Candra, ada jalan."

Arjuna menatapnya. "Surat palsu?"

"Benar. Karena pembawa surat pembatalan palsu berasal dari Puri Candra, Pengadilan boleh memeriksa pintu, daftar abdi, dan ruang yang mungkin dipakai sebagai jalur keluar. Aku tidak bisa membuka semua peti, tetapi aku bisa masuk sebagai saksi proses."

Anindya langsung berkata, "Aku ikut."

Arjuna menoleh.

"Puri Candra adalah ruang perempuan," lanjut Anindya sebelum ia melarang. "Jika ada benda milik Permaisuri yang tidak boleh disentuh laki-laki, kehadiranku berguna. Selain itu, aku mengenali catatan persediaan. Jika ada barang yang hilang, aku bisa mencocokkan."

Harsa menunduk, menyembunyikan senyum kecil. "Alasan hukum itu masuk akal."

Arjuna memandang Harsa dengan tatapan yang tidak sepenuhnya ramah.

Anindya memegang tepi meja. "Aku naik tandu. Wulan ikut. Jika tubuhku tidak kuat, aku pulang."

"Kau sudah menyiapkan semua jawabannya."

"Karena Kakanda selalu menyiapkan larangan."

Harsa tiba-tiba batuk kecil.

Arjuna akhirnya berkata, "Kau ikut, tetapi tidak menyentuh apa pun tanpa sarung kain."

"Setuju."

***

Puri Candra berdiri di sisi timur dalam keraton, tidak jauh dari taman lama yang kini jarang dilewati.

Bangunannya indah dengan cara yang menyedihkan. Ukiran bulan di atas pintu masih terlihat, tetapi warnanya pudar. Bunga melati tumbuh liar di sudut halaman. Kolam kecil di depan pendopo tertutup daun kering.

Kunci baru tergantung di pintu utama.

Pengurus dari Puri Raja berdiri di depan pintu dengan wajah kaku. Ia membawa daftar inventaris baru dan dua abdi yang jelas-jelas lebih takut kepada Emban Agung Darma daripada kepada Pengadilan.

Harsa menunjukkan tanda Pengadilan Kerajaan. "Pemeriksaan jalur surat palsu."

"Puri Candra sedang diinventarisasi atas titah Baginda."

"Justru karena itu, Pengadilan perlu mencatat kondisi sebelum inventaris berubah lagi."

Pengurus itu tidak bisa membantah tanpa terlihat menghalangi hukum.

Pintu dibuka.

Bau pertama yang keluar adalah debu.

Bau kedua adalah minyak cendana.

Arjuna berhenti di ambang pintu.

Anindya melihatnya. Wajah suaminya tetap tenang, tetapi tangan di sisi tubuhnya tidak bergerak sama sekali, seperti orang yang takut jika satu gerakan kecil akan membuat masa lalu runtuh di depan mata.

"Kakanda," panggil Anindya pelan.

Arjuna menoleh.

"Masuklah dengan pelan."

Kalimat sederhana itu membuat sesuatu di matanya berubah.

Ia melangkah masuk.

Di dalam, kain putih menutup sebagian perabot. Sebuah meja rias tua berdiri di dekat jendela. Cermin perunggunya buram. Di sudut ruangan, tempat rak obat seharusnya berada, hanya tersisa bekas persegi bersih di lantai, tanda benda besar baru saja dipindahkan.

Anindya menunjuknya. "Rak itu baru diangkat."

Harsa segera mencatat.

Sumini yang ikut sebagai saksi berdiri di belakang Wulan. Wajahnya pucat sejak memasuki halaman, tetapi saat melihat bekas rak itu, ia menutup mulut.

"Di sana dulu peti obat Permaisuri," katanya.

"Peti yang dibawa ke arsip?" tanya Harsa.

"Mungkin salah satunya."

Anindya berjongkok perlahan. Arjuna langsung bergerak, tetapi ia mengangkat tangan. Wulan sudah menopang bahunya.

Di lantai tempat rak dipindah, ada bekas goresan halus. Bukan goresan baru dari kaki peti, melainkan garis lama yang membentuk sudut kecil di dekat papan lantai.

"Ada rongga di bawah sini," kata Anindya.

Pengurus Puri Raja langsung maju. "Gusti Putri, lantai tua mudah rusak."

Harsa menatapnya. "Mundur."

Pengurus itu membeku.

Garuda yang berdiri di dekat pintu mengambil pisau tipis dan membuka papan lantai dengan hati-hati. Debu naik. Di bawahnya ada ruang sempit, cukup untuk menyimpan sesuatu yang kecil.

Sumini mulai gemetar.

"Aku tidak tahu ada ini," bisiknya.

Di dalam rongga, terdapat bungkusan kain kecil yang sudah menguning. Anindya mengambilnya dengan sarung kain. Saat dibuka, terlihat sepotong kain bayi halus dan kertas tipis yang dilipat empat.

Kain bayi itu membuat Arjuna berhenti bernapas.

Tidak ada noda darah. Tidak ada benda mengerikan. Justru kelembutan kain itulah yang membuat ruangan terasa seperti kehilangan sesuatu yang belum sempat hidup.

Anindya menyerahkan kain itu kepada Arjuna.

"Ini milik adikmu," kata Sumini, suaranya pecah.

Arjuna menerima kain itu seolah menerima tulang kecil.

Ia pernah tahu ibunya wafat saat mengandung. Semua orang mengatakannya dengan suara rendah, seperti menyebut cuaca buruk yang tidak bisa diubah. Namun kain ini berbeda. Kain ini memiliki ukuran, lipatan, dan kelembutan. Ada seseorang yang pernah ditunggu, seseorang yang mungkin akan memanggilnya kakak, seseorang yang hilang sebelum sempat menangis.

Untuk pertama kalinya, kehilangan itu tidak lagi samar.

Anindya membuka kertas.

Tulisannya pudar, tetapi masih terbaca. Hurufnya berbeda dari catatan Sumini. Lebih bulat, lebih lembut, namun garis akhirnya tegas.

Sumini langsung berlutut. "Itu tulisan Permaisuri."

Anindya membaca pelan agar semua saksi mendengar.

"Jika aku tertidur terlalu lama, jangan biarkan ramuan kedua masuk. Darma datang lagi malam ini. Kirim kabar kepada Ayah."

Ruangan tidak bergerak.

Harsa berhenti menulis.

Garuda menatap pintu.

Pengurus Puri Raja memucat.

Arjuna menunduk pada kertas itu. Untuk sesaat, ia bukan Pangeran Mahkota. Ia hanya anak yang mendengar suara ibunya dari bawah lantai setelah bertahun-tahun terlambat.

Anindya melipat kertas itu kembali dengan tangan yang sangat hati-hati.

"Ini bukan bukti lengkap," katanya, suaranya sedikit bergetar. "Tapi ini cukup untuk melindungi Sumini dan membuka pemeriksaan terhadap Darma."

Arjuna mengangkat mata.

Kemarahan di sana begitu sunyi sampai Anindya merasa lebih takut daripada jika ia berteriak.

"Tidak," katanya.

Semua orang menatapnya.

Arjuna menyimpan kain bayi itu di dalam kotak bukti yang dibawa Harsa.

"Darma hanya tangan. Aku ingin tahu siapa yang memberinya keberanian untuk datang dua kali ke kamar ibuku."

Di luar Puri Candra, lonceng kecil istana berbunyi menandai tengah hari.

Pada saat yang sama, seorang abdi berlari masuk ke halaman dengan wajah panik.

"Tuan Harsa, Yang Mulia," katanya terengah, "Emban Sumini tidak boleh kembali ke Puri Timur."

Harsa menoleh tajam. "Siapa yang berkata begitu?"

Abdi itu menelan ludah.

"Titah dari Puri Raja. Emban Sumini akan dibawa untuk ditanyai langsung oleh Baginda."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!