Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
Walaupun suaranya terdengar rendah, nyatanya terdengar begitu jelas ditelinga Romeo.
Tapi Romeo yang memang tidak memiliki masalah dengan jenderal polisi itu, lantas kembali bersikap acuh.
Intinya semua orang akan tunduk dengan kekuasaan.
"Ada apa? Apakah telingamu itu tuli?" kata Romeo pada jenderal polisi itu.
"Romeo, kamu gak bisa melakukan ini padaku! Kita itu saudara, bahkan kita besar bersama."
Samuel masih belum menyadari akan kemarahan Romeo.
Dia masih menganggap jika Romeo itu sekarat, tidak bertenaga dan nyawanya berada diujung tanduk.
"Romeo kau menjebakku. Kau berniat menghancurkan nama dan juga reputasi dinegara ini!"
Dengan wajah acuh tak acuh. Romeo menanggapi ucapan Samuel dengan berkata dengan nada dingin, "tanpa aku hancurkan sekalipun. Nama dan reputasi mu itu sudah hancur karena ulahmu sendiri."
Samuel yang tidak bisa menahan emosinya lagi, mendekat ke arah Romeo, dia berniat ingin mengambil tongkat yang Romeo miliki.
Samuel berjalan mendekat ke Romeo dengan langkah penuh ketegangan.
Ekspresi wajahnya berubah menjadi semakin sinis seiring ia mendekat.
Dalam hatinya, ia merasa puas karena akan segera menunjukkan kepada semua orang bahwa Romeo yang tampak perkasa itu sebenarnya lemah tanpa tongkatnya.
"Kau itu sekarat, bahkan umurmu gak akan sampai dalam beberapa bulan!"
"Hmm, bahkan tanpa tongkat itu kau pasti sudah jatuh. Bahkan wibawa dan juga martabatmu ikut jatuh," batin Samuel, seraya bibirnya tersungging senyum jahat.
Tiba-tiba, jenderal polisi yang berada di samping Romeo mencoba mendekat ke Samuel, ingin mencegah tindakan yang akan dilakukan Samuel.
Gerakan tangannya Romeo memberi isyarat, seolah meminta untuk berhenti.
Namun Romeo, dengan ketenangan yang mencengangkan, mengangkat tangan menyuruh jenderal polisi itu untuk tidak campur tangan.
Samuel, yang merasa tidak ada yang bisa menghalanginya, dengan cepat merebut tongkat dari tangan Romeo.
Dia menunggu dengan antisipasi, siap melihat Romeo terjatuh tanpa alat bantunya itu.
Ingin memperlihatkan pada semua orang jika Romeo yang sekarang berbeda dengan yang dulu.
Sekarang Romeo itu lemah, itu yang sekarang ini ada didalam pikiran Samuel.
Namun, kejutan besar menanti Samuel.
Romeo, berdiri dengan tegap dan stabil, bahkan tanpa tongkat di tangannya.
Wajahnya tetap tenang, menatap Samuel dengan tatapan yang tajam dan penuh kepercayaan diri.
Romeo memperlihatkan bahwa kekuatannya tidak bergantung pada tongkat itu, melainkan dari dalam dirinya sendiri.
Kejadian itu membuat Samuel tercengang, sedangkan orang-orang di sekitarnya mulai berbisik, terkesima dengan ketangguhan Romeo yang sesungguhnya.
Semuanya juga tidak luput sorotan bebarapa reporter yang sedang meliput.
Semua orang dikota tahu, jika selama ini Romeo memang sakit keras pasca kecelakaan.
Tapi melihat Romeo yang sudah sembuh dan sehat, bahkan benar- benar dalam keadaan baik.
Para musuh Romeo yang selama ini menyerang perusahaannya mulai ketar ketir.
Mengingat Romeo tidak memiliki ampunan bagi orang-orang yang merugikan dirinya.
Bahkan Samuel pun tak luput mendapatkan hukuman, Romeo tidak pandang bulu.
"Gak ... Gak mungkin!" gumam Samuel masih tidak percaya, bahkan dengan bodohnya dia mengucek matanya berakali- kali.
Melihat ekspresi aneh yang ditunjukkan oleh Samuel, Romeo menduga.
Jika mungkin saja Samuel terlibat dengan hal yang menimpa dengan dirinya sekarang ini.
"Kau pasti bingung kan? Kenapa sekarang ini aku bisa pulih?" tanya Romeo seraya menaikkan satu alisnya.
Auranya sangat kuat.
Romeo berdiri tegak, memancarkan aura kekuasaan yang tidak terbantahkan.
Wartawan-wartawan yang awalnya berkerumun dengan penuh keberanian ingin mendekat ke arah Romeo, kini satu per satu mulai menyingkir dengan langkah yang gontai, terintimidasi oleh pandangan tajam yang Romeo lemparkan.
Keberadaannya di sana, di tengah kerumunan yang gempar, bagaikan singa yang siap menerkam mangsanya.
Keseriusan terpancar dari setiap kata yang keluar dari bibirnya, "Sekarang kau bisa bawa Samuel ke kantor polisi!" ujarnya kepada jenderal polisi yang berdiri di sampingnya.
Jenderal itu, dengan penuh rasa hormat dan kepatuhan, mengangguk tegas sebelum memberikan isyarat kepada para bawahannya untuk melaksanakan perintah tersebut.
Sementara Samuel dibawa pergi, Romeo berbalik menghadap para dewan direksi yang berdiri agak jauh di belakangnya, wajahnya tidak menunjukkan belas kasihan.
"Walaupun Samuel sepupu adalah saya, saya tidak pandang bulu. Semua akan diadili atas kesalahannya!" tegasnya dengan nada suara yang tidak terbantahkan.
Kata-katanya itu bukan hanya pernyataan, tetapi juga janji yang menunjukkan integritas dan ketegasannya dalam memegang prinsip keadilan, meskipun itu melibatkan saudaranya sendiri.
Para dewan direksi yang berada disana saling pandang satu sama lain.
Ada beberapa yang tetap setia berada dikubu Romeo.
Ada yang beberapa dewan direksi yang berada di bawah kubu Samuel.
Mereka saling tatap dengan bebarapa pemikiran masing-masing.
"Jika setelah ini aku masih menemukan kecurangan! Aku gak akan segan-segan memasukkan kalian ke dalam penjara," titah Romeo seraya melirik ke arah Yasa.
Yasa menganggukkan kepalanya, dia lantas membalikan bebarapa dokumen kepada para dewan direksi.
*****
Sementara itu.
Di dalam ruangan yang dipenuhi dengan kemewahan, dinding-dinding yang dilapisi dengan kayu mahoni yang mengkilap dan perabotan berlapis emas, Violet tenggelam dalam pesta makanan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Meja sofa yang besar dan juga mewah di tengah ruangan itu penuh dengan berbagai jenis makanan yang menggiurkan.
Dari hidangan laut yang segar, sushi yang lezat, hingga dessert yang manis.
Dengan mata berbinar, Violet mencicipi satu persatu makanan yang tersaji, rasa daging yang empuk, krim yang lembut di mulutnya, dan rempah yang meresap sempurna membuatnya terkesima.
Suasana hati Violet sangat baik bahkan dia sampai melupakan rasa lemas dan pusing yang sebelumnya menghantam dirinya, dia tersenyum lebar sambil mengunyah, sesekali terkekeh kecil mengingat bagaimana dulu dia hanya makan makanan yang sederhana bersama Felix.
"Felix, oh Felix, selama ini aku terlalu bucin padamu," gumam Violet lirih, matanya terpejam menikmati suapan demi suapan.
Memori tentang Felix yang selalu membatasi pilihan makanannya muncul dalam benaknya, bagaimana dia selalu harus menghindari makanan enak karena alasan 'gendut' yang Felix lontarkan.
Sekarang, di hadapan piring-piring kosong yang berceceran, Violet merasa sebuah kebebasan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Tidak ada lagi rantai yang menahan dirinya untuk menikmati kehidupan.
Dia meneguk minuman merah dari botol yang dia tuang ke dalam gelas, matanya memandang ke luar jendela kantor Romeo yang menghadap ke kota yang sibuk di bawah cahaya matahari yang mulai terbenam, menyadari bahwa dunia ini penuh dengan rasa yang belum dia jelajahi.
Walaupun merasa jika minuman itu aneh di lidahnya.
Namun karena rasa haus yang sangat menggangu, membuat Violet tidak punya pilihan lain selain tetap meminumnya.
"Kuk ... " Violet malah cegukan setelah meminum minuman merah itu.
Ntah kenapa Violet merasa tubuhnya meringan, bahkan dia merasa bahagia dan dunia ini sangat indah.
Bahkan wajah Romeo sekarang ini terus terngiang-ngiang didalam otak kecilnya.
"Kenapa bukan wajah Felix? Tapi wajah Tuan Meo?" celetuk Violet disertai dengan cegukan.
"Loh, kok malah terus cegukan! Padahal aku habis minum," ujar Violet lagi dengan nada bingung.
Walaupun minuman tadi rasanya aneh, tapi Violet tetap meminumnya.
Mengingat tadi yang disediakan hanya makanan dan botol merah itu berada tak jauh dari meja kerja Romeo.
Walaupun makanan yang disediakan tadi banyak yang berkuah, tetap saja habis makan tetap harus minum bukan? Itu hal yang terlintas didalam benak Violet.