Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.
"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"
"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"
Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.
Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Di Dekat Mesin Fotokopi
Sejak malam di mana rahasia besar itu terungkap di kamar apartemennya, hari-hari Raka di kantor Apex Creative tidak lagi sama. Jika biasanya ia berjalan melewati lorong kantor dengan pandangan lurus ke depan dan ekspresi dingin yang membuat para staf menunduk takut, kini sepasang mata tajam di balik kacamatanya aktif bergerak. Ia mengamati setiap pergerakan jemari karyawan perempuannya, memperhatikan bagaimana mereka memegang ponsel, dan mendengarkan dengan saksama setiap kali mereka berbicara.
Di ruang kerjanya yang luas di lantai teratas, Raka duduk di balik meja eksekutifnya dengan tumpukan map tebal. Namun, fokusnya kali ini bukan pada laporan keuangan atau progres proyek klien. Ia sedang membuka daftar biodata seluruh karyawan divisi kreatif.
Satu per satu nama dibacanya dengan teliti. Karin, Amanda, Clarissa, Naomy, Divya...
Raka mengetukkan jemarinya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit. "Ada sekitar lima belas desainer perempuan di divisi kreatif," gumamnya dengan suara bariton yang rendah. "Dan di dokumen ini, tidak ada satu pun yang menuliskan nama akun game mereka. Tentu saja."
Ia mencoba mengingat-ingat karakteristik suara si Anonim dari rekaman pesan suara yang sering ia dengar sebelum tidur. Suaranya terdengar renyah, memiliki nada yang ceria namun ada sedikit aksen manja yang natural jika sedang mengeluh tentang pekerjaan. Sangat sulit mencocokkan suara itu hanya dengan melihat selembar foto formal berlatar belakang merah atau biru di dalam draf biodata karyawan.
Hingga pada suatu siang, Raka memutuskan untuk turun ke lantai divisi kreatif dengan dalih melakukan inspeksi mendadak—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan karena biasanya ia hanya memanggil kepala divisi ke ruangannya. Kedatangan sang CEO muda tentu saja membuat seisi ruangan lantai tiga mendadak senyap bak kuburan. Para karyawan langsung pura-pura sibuk menatap layar monitor masing-masing, mengetik dengan kecepatan yang dibuat-buat agar terlihat produktif.
Raka berjalan perlahan melewati deretan kubikel kerja. Langkah sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar ritmis, menciptakan ketegangan tersendiri bagi siapa pun yang mendengarnya. Ia melangkah menuju sudut ruangan, tempat di mana mesin fotokopi besar berada.
Di sana, seorang gadis bertubuh ramping dengan rambut yang diikat asal-asalan sedang berdiri membelakanginya. Gadis itu tampak sibuk menyusun beberapa lembar kertas draf desain logo yang baru saja digandakan. Karena merasa area mesin fotokopi itu cukup sepi dan jauh dari jangkauan kubikel utama, gadis itu bergumam sendiri dengan suara yang cukup jelas.
"Duh, ini kenapa kertasnya malah macet sih? Mana harus dikumpul ke meja supervisor sepuluh menit lagi. Nanti kalau Pak Raka monster itu lewat dan tahu drafnya telat, bisa-bisa gue didepak dari bumi," keluh gadis itu pelan, menepuk-nepuk pinggiran mesin fotokopi dengan gemas.
Langkah kaki Raka mendadak terhenti tepat tiga langkah di belakang gadis itu.
Jantungnya memberikan sentakan aneh. Nada suara itu, intonasi saat mengeluh, bahkan pelesetan kata "monster" yang diucapkan dengan gerutuan kecil yang khas... tidak salah lagi. Frekuensi suara itu persis sama dengan gelombang suara yang memenuhi pelantang suara ponselnya setiap malam.
Sebuah senyum kemenangan yang tipis, hampir tak terlihat, terukir di sudut bibir Raka. Ketemu, batinnya.
Raka sengaja berdeham kecil, membuat suasana di sudut ruangan itu mendadak mendingin. "Butuh bantuan?" tanya Raka dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa.
Gadis itu terlonjak kaget. Kertas-kertas di tangannya hampir saja berserakan ke lantai jika ia tidak dengan cekatan mendekapnya di dada. Ia berbalik dengan cepat, dan wajahnya seketika memucat begitu menyadari siapa sosok tinggi tegap yang kini berdiri di hadapannya.
"P-Pak Raka..." cicit gadis itu, langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jantungnya terasa mau copot. Ia merutuki kebodohannya sendiri karena baru saja mengatai bosnya sebagai monster di tempat umum.
Raka tidak langsung menjawab. Matanya melirik ke arah papan nama kecil yang menjepit kemeja kerja gadis itu. Di sana tertulis sebuah nama dengan huruf cetak yang rapi: NAOMY.
Naomy, batin Raka, mengulang nama itu di dalam benaknya. Jadi nama asli si Anonim adalah Naomy.
Untuk memastikan tebakannya seratus persen akurat dan ingin melihat reaksi gadis di depannya, Raka sengaja menurunkan sedikit intonasi suaranya, mendekati nada santai yang biasa ia gunakan saat mengirimkan pesan suara di game Arena of Fate.
"Mesin fotokopi di lantai ini memang sering bermasalah kalau dipakai terlalu cepat. Jangan terlalu terburu-buru," ucap Raka pelan, menatap intens ke arah Naomy.
Naomy tertegun sejenak di tempatnya berdiri. Ia mendongak sedikit, menatap wajah Raka di balik kacamata tipisnya. Suara bosnya barusan... entah mengapa tidak terdengar sebeku saat di ruang rapat. Nada bicaranya yang berat namun memiliki ritme yang menenangkan itu mendadak memicu alarm di kepala Naomy. Suara itu terdengar sangat, sangat mirip dengan suara @Rrrrarrkyyy—si "Rawwwrrr" teman mabarnya.
Namun, Naomy segera menggelengkan kepalanya sedikit di dalam hati, mengusir pikiran gila tersebut. Nggak, nggak mungkin. Naomy, lo udah kebanyakan main game sampai halusinasi! Mana mungkin CEO konglomerat ini adalah cowok yang semalem mabar sambil melucu bareng lo!
"I-iya, Pak. Maaf, saya akan lebih berhati-hati," jawab Naomy dengan suara yang agak bergetar karena gugup.
Raka yang menangkap perubahan ekspresi di wajah Naomy—antara terkejut, bingung, dan menyangkal—merasa sangat terhibur. Sandiwara ini ternyata jauh lebih menarik dari yang ia bayangkan.
"Lanjutkan pekerjaanmu, Naomy. Saya tunggu draf logonya di meja evaluasi sore ini," kata Raka dengan senyum tipis yang penuh arti sebelum ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan area mesin fotokopi.
Naomy menatap punggung tegap Raka yang menjauh dengan perasaan campur aduk. Ia memegangi dadanya yang berdegup kencang. "Kenapa... kenapa rasanya aneh banget ya?" bisik Naomy pada diri sendiri, masih terpaku di depan mesin fotokopi yang kini sudah kembali berfungsi normal.