NovelToon NovelToon
Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Bluetherine

Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.

Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.

"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Empat

Tiga hari berikutnya berlalu persis seperti yang telah diprediksi oleh Shen Ran. Perintah dari Istana Barat berjalan dengan efisiensi yang kejam. Tidak ada lagi pelayan yang mengantarkan makanan, bahkan yang basi sekalipun. Pasokan arang dihentikan total, membiarkan ruangan Istana Dingin membeku di bawah cengkeraman cuaca malam yang ekstrem. Penjaga di gerbang depan sengaja diganti dengan orang-orang suruhan Selir Agung Chu, memastikan tidak ada satu pun bantuan yang bisa lolos masuk.

Mereka ingin menyiksa Shen Ran secara perlahan. Mereka ingin melihat sang Permaisuri merangkak keluar sambil menangis, memohon belas kasihan di kaki Chu Xinyue.

Namun, di dalam ruangan yang gulita itu, Shen Ran justru melewatkan waktunya dengan meditasi dan merancang strategi. Dengan latar belakangnya sebagai pengacara korporat yang terbiasa bekerja di bawah tekanan tenggat waktu yang gila, rasa lapar dan dingin hanyalah variabel fisik yang bisa dikendalikan oleh kekuatan mental.

Pada malam ketiga, hawa dingin mencapai puncaknya. Angin bersiul kencang melalui celah-celah kayu. Tepat saat lonceng istana berdentang tiga kali menandakan tengah malam, seberkas angin kencang berembus dari arah jendela. Siluet tinggi berpakaian hitam mendarat dengan keanggunan seekor predator malam.

Topeng perak itu memantulkan cahaya bulan yang samar. Pangeran Feng Muye telah kembali.

Shen Ran, yang sedang duduk bersila di atas ranjang dengan selimut tipis melingkari bahunya, perlahan membuka mata. "Tepat waktu. Saya harap Anda membawa apa yang saya minta, Pangeran."

Feng Muye tidak langsung menjawab. Ia menatap wanita di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di bawah suhu ekstrem yang bisa membuat pelayan biasa mati membeku, Shen Ran masih memiliki sorot mata yang jernih, tajam, dan sama sekali tidak goyah.

Bugh.

Feng Muye menjatuhkan sebuah kantong kain besar ke atas meja kayu. Aroma ayam panggang madu yang hangat dan wangi rempah langsung menyeruak, memicu rasa lapar di perut Shen Ran. Tak hanya itu, dua kantong arang berkualitas tinggi berlogo paviliun kerajaan juga diletakkan di sudut ruangan.

"Informasimu..." Feng Muye membuka suara, nadanya terdengar lebih berat dan ada getaran kekaguman yang coba ia sembunyikan. "...100% akurat. Tiga menteri yang kau sebutkan baru saja memindahkan dana rahasia mereka malam ini melalui jalur sutra selatan. Dan berkat petunjukmu, pasukanku berhasil mencegat setengah dari pasokan emas mereka."

Shen Ran tersenyum tipis. Ia turun dari ranjang, berjalan mendekati meja tanpa memedulikan etiket, lalu merobek paha ayam panggang itu dan memakannya dengan anggun namun efisien. Energi instan langsung mengalir ke tubuhnya yang lemas.

"Tentu saja akurat. Saya tidak pernah memberikan analisis yang salah kepada klien saya. Sekarang, karena modal kepercayaan sudah terbangun, mari kita bicarakan bisnis yang sebenarnya," ujar Shen Ran setelah menelan makanannya. Ia menyeka bibirnya dengan saputangan.

Feng Muye menarik kursi di hadapan Shen Ran, lalu duduk dengan santai, melipat kedua tangannya di atas meja. "Katakan. Apa langkahmu selanjutnya untuk menghancurkan Istana Barat? Chu Xinyue baru saja memotong seluruh pasokanmu. Dia ingin kau mati kelaparan di sini."

"Dia ingin aku mati kelaparan? Kalau begitu, mari kita beri dia apa yang dia inginkan. Besok pagi, aku akan mati," Shen Ran terkekeh, sebuah tawa sarkas yang terdengar sangat memikat.

Feng Muye menyipitkan matanya. "Maksudmu, memalsukan kematianmu?"

"Tidak. Kematian politik," jelas Shen Ran, matanya berkilat licik bak rubah. "Besok adalah hari peringatan kematian mendiang Ibu Suri. Kaisar, meskipun dia seorang tirani yang kejam, sangat menghormati ingatan ibunya. Jika besok pagi tersebar berita bahwa Permaisuri yang sah dibiarkan mati kelaparan dan membeku di Istana Dingin tepat di hari suci ini karena ulah seorang selir... menurutmu apa yang akan terjadi pada reputasi Kaisar dan Selir Agung Chu di hadapan para tetua istana dan rakyat?"

Feng Muye tertegun. Otak politiknya langsung menangkap arah permainan Shen Ran. Ini bukan sekadar balas dendam wanita istana; ini adalah pembunuhan karakter secara massal lewat opini publik.

"Kau menggunakan dirimu sendiri sebagai umpan untuk memicu kemarahan publik dan opini moral. Kaisar akan dipaksa oleh para menteri kolot untuk menyelidiki Istana Dingin demi menjaga nama baiknya," gumam Feng Muye, menatap Shen Ran dengan pandangan baru. Wanita ini benar-benar kejam, bahkan terhadap dirinya sendiri.

"Tepat," sahut Shen Ran sambil mengetukkan jarinya ke meja. "Dan saat Kaisar datang ke sini untuk memeriksa mayatku, dia tidak akan menemukan wanita yang sekarat. Dia akan menemukan bukti-bukti korupsi keluarga Chu yang sengaja tertinggal di ruangan ini. Aku akan menyeret seluruh faksi Selir Agung Chu ke dalam lubang kehancuran tanpa aku harus mengotori tanganku sendiri."

Shen Ran memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Feng Muye. "Tugas Anda, Pangeran, adalah memastikan para sejarawan istana dan perwakilan rakyat di luar gerbang mengetahui spekulasi ini sebelum matahari terbit. Bagaimana? Apakah Anda bisa melakukannya?"

Feng Muye menatap wajah pucat namun bercahaya milik Shen Ran. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang Pangeran Pemberontak merasa bahwa takhta Kekaisaran Yan mungkin memang ditakdirkan untuk runtuh, bukan oleh pedang pasukannya, melainkan oleh strategi brilian dari wanita yang duduk di hadapannya ini.

Perlahan, Feng Muye mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam.

"Kesepakatan tercapai, Permaisuri Shen. Mari kita buat pertunjukan besok pagi menjadi pembantaian yang indah."

1
Emily
keren ceritamu thour
Fajar Fathur rizky
cepat bantai long tianqi
Fajar Fathur rizky
bikin shen ran sendiri yang membunuh long tianqi
Fajar Fathur rizky
tidak sabar long tianqi mati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!