**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Pagi itu, di Penthouse Lavender, Alya sedang duduk di sofa ruang tengah sembari melipat beberapa pakaian bayi yang baru dibeli secara *online*. Kandungannya yang kini hampir menginjak usia lima bulan sudah terlihat semakin membulat cantik.
*Cklek.*
Devan keluar dari kamar dress room dengan setelan jas abu-abu gelap buatan Italia. Pria itu tampak sangat tampan dan gagah seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang berbeda—di saku jasnya terselip sebuah pin perak berlogo khusus yang belum pernah Alya lihat sebelumnya.
"Devan," panggil Alya lembut, menghentikan kegiatannya. "Hari ini kamu ada acara luar kantor?"
Devan melangkah mendekat, berlutut di samping sofa dan langsung mendaratkan kecupan hangat di kening Alya, lalu berpindah ke perut membuncit istrinya. "Hari ini ada penandatanganan MOU dengan investor asal Prancis di kantor pusat, *Wifey*. Kenapa? Kamu mau ikut ke kantor?"
Alya menggeleng pelan, lalu menyentuh pin perak di jas Devan. "Tidak... hanya saja, kemarin aku dengar dari Yudha kalau ada sekretaris eksekutif baru yang baru direkrut?"
Devan mengangguk santai. "Benar. Namanya **Clarissa**. Dia lulusan terbaik Harvard yang sebelumnya bekerja untuk konsorsium di Jenewa. Dia diisi khusus untuk menangani klien Eropa agar beban kerja Yudha berkurang."
"Oh... begitu," sahut Alya pelan. Ada sedikit desakan aneh di relung hatinya—sebuah sensasi asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sejak menikah, Devan selalu dikelilingi oleh pria atau wanita paruh baya. Mengetahui ada wanita muda dengan kualifikasi sempurna yang akan mendampingi suaminya setiap hari membuat perasaan Alya sedikit terusik.
> *[Hmm... Sinyal cemburu terdeteksi dari frekuensi jantung Ibu!]*
> *[Tenang saja, Ibu! radar batin biologisku mencatat bahwa detak jantung Ayah saat menyebut nama 'Clarissa' berada di angka 72 bpm—sangat datar dan tanpa emosi sama sekali! Artinya, bagi Ayah, sekretaris baru itu hanyalah mesin pembuat dokumen biasa!]*
Suara Baby El yang tiba-tiba bergaung di kepala Alya membuat pipi Alya memerah seketika. "E-El! Siapa yang cemburu?! Ibu cuma bertanya!" batin Alya membela diri dengan cepat.
> *[Hehehe, jangan bohong pada janin ajaibmu ini, Ibu! Tingkat hormon oksitosin dan sedikit kadar kortisol di tubuhmu meningkat. Itu bukti ilmiah kalau Ibu takut Ayah dilirik wanita lain!]*
Devan yang melihat perubahan ekspresi di wajah Alya—antara merona merah dan sedikit mengatupkan bibir—mengulas senyuman tipis yang sangat menawan. Ia mengusap pipi Alya dengan jemarinya. "Ada apa, Alya? Kenapa wajahmu memerah begitu?"
"T-tidak ada apa-apa, Devan! Kamu berangkatlah, nanti terlambat," elak Alya sembari memalingkan wajahnya.
Devan terkekeh rendah, mengecup bibir Alya sekilas sebelum berdiri. "Aku akan berusaha pulang sebelum jam enam sore. Jangan lupa minum vitaminmu, mengerti?"
---
Pukul dua siang, Alya merasa bosan berada di penthouse. Atas saran dari Kakek Abraham yang meneleponnya tadi pagi, Alya memutuskan untuk membawakan makan siang nutrisi tinggi yang dibuatkan oleh koki pribadi untuk Devan ke kantor pusat Dirgantara Group.
Dengan balutan gaun hamil warna krem yang anggun dan celana kain kasual yang nyaman, Alya melangkah keluar dari lift khusus VVIP di lantai tertinggi menara Dirgantara Group. Para staf yang berpapasan langsung membungkuk hormat penuh ketakutan dan kepatuhan.
Namun, begitu Alya berjalan mendekati pintu ruang kerja utama Devan, langkah kakinya mendadak terhenti.
Di depan meja sekretaris yang tak jauh dari pintu ruangan Devan, seorang wanita muda berambut pirang kecokelatan dengan gaun *pencil dress* yang sangat pas menonjolkan lekuk tubuhnya sedang berdiri sangat dekat di samping Devan.
Wanita itu—Clarissa—sedang memegang sebuah berkas, dan wajahnya tersenyum manis saat berbicara dengan Devan dalam bahasa Prancis yang sangat fasih. Yang membuat dada Alya semakin berdesir panas adalah saat Clarissa tanpa sengaja membetulkan letak peniti dokumen di kemeja Devan dengan gerakan yang tampak sangat terbiasa.
Devan memang langsung menepis tangan itu secara halus dan mundur satu langkah, namun pemandangan itu sudah cukup untuk membuat perasaan Alya mendadak hampa dan memanas.
> *[WOI! BISA BISA-NYA DIA MENYENTUH BAJU AYAHKU?!]*
> *[Ibu! Buka pintunya! Biarkan aku menyentrum jarinya dengan gelombang spiritual sekarang juga! Kurang ajar sekali wanita pirang itu!]*
Suara Baby El yang mendadak murka di dalam kepala Alya justru membuat Alya menahan napasnya. Rasa panas di dadanya menjalar menjadi rasa cemburu yang begitu nyata. Selama ini Alya selalu merasa aman karena Devan begitu protektif, tetapi melihat wanita sesempurna Clarissa berada di dekat suaminya membuat rasa tidak percaya diri dari masa lalunya sebagai gadis miskin sedikit mencuat kembali.
Alya tidak berteriak atau marah-marah. Ia menarik napas dalam-dalam, merapikan gaun hamilnya, lalu melangkah maju dengan keanggunan mutlak seorang Nyonya Muda.
*Tuk... Tuk... Tuk...*
Suara ketukan hak sepatu Alya di atas lantai marmer membuat Devan dan Clarissa seketika menoleh.
Begitu mata abu-abu Devan menangkap sosok Alya yang berdiri memegang rantang makanan, raut wajah dingin sang CEO seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Sorot matanya yang tegas mendadak dipenuhi oleh rasa terkejut dan kehangatan yang luar biasa.
"Alya?" Devan langsung meninggalkan Clarissa begitu saja, melangkah cepat menghampiri Alya dan merangkul pinggang istrinya dengan sangat protektif. "Kenapa kamu ke sini tanpa memberi tahu aku dulu? Kamu pasti lelah."
Alya mengulas senyuman manis—senyuman yang sangat tenang namun memiliki tekanan yang sanggup membuat udara di koridor itu terasa membeku. "Aku hanya membawakan makan siang untukmu, Devan. Tapi sepertinya... kamu sedang sangat sibuk dengan sekretaris barumu."
Clarissa yang berdiri di belakang Devan sedikit tersentak. Ia melangkah maju dan membungkuk sopan. "Selamat siang, Nyonya Dirgantara. Saya Clarissa, sekretaris eksekutif baru Tuan Devan. Tadi saya hanya sedang mengonfirmasi jadwal kunjungan delegasi Paris."
Alya menatap Clarissa dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan yang sangat tenang. "Selamat siang, Nona Clarissa. Terima kasih atas kerja kerasmu. Tapi di perusahaan ini, ada aturan ketat mengenai batas jarak profesional antara staf dan CEO. Saya harap kamu mengetahuinya."
Kalimat Alya yang begitu tenang namun tajam bagaikan sembilu membuat wajah Clarissa seketika memucat. Wanita lulusan Harvard yang biasanya selalu percaya diri itu mendadak merasa terintimidasi oleh wibawa alami dari seorang wanita hamil di depannya.
> *[MANTAP, IBU! Bikin dia gemetar! Jangan beri ampun!]*
Devan yang menyadari perubahan atmosfer itu—dan mendengar ketegasan yang tak biasa dari istrinya—bukannya marah, ia justru merasa hatinya dipenuhi oleh rasa bahagia yang tak terhingga. Pria batu itu akhirnya menyadari satu hal: **Istrinya sedang cemburu.**
Devan tidak mampu menahan sudut bibirnya yang terangkat forming sebuah senyuman tipis yang sangat menawan. Ia meraih rantang makanan dari tangan Alya, lalu tanpa mempedulikan keberadaan Clarissa atau staf lainnya, Devan mendadak mengangkat tubuh Alya ke dalam gendongan *bridal style*.
"D-Devan! Apa yang kamu lakukan?! Ini di kantor!" pekik Alya kaget, refleks melingkarkan tangannya di leher Devan dengan wajah merona merah padam.
"Clarissa," panggil Devan dingin tanpa menoleh ke arah sekretarisnya. "Batalkan semua rapatku untuk sisa hari ini. Jangan ada yang berani mengganggu saya dan Nyonya Muda di dalam ruangan."
"B-baik, Tuan Muda!" jawab Clarissa dengan suara bergetar.
Devan membawa Alya masuk ke dalam ruang kerja mewahnya, lalu mengunci pintu rapat-rapat. Pria itu menurunkan Alya dengan sangat hati-hati di atas sofa kulit empuk, lalu berlutut di depan Alya, mengurung tubuh istrinya dengan kedua lengannya di sisi sofa.
"Devan... lepaskan, kamu membuatku malu di depan stafmu," bisik Alya sembari menunduk, tidak berani menatap mata abu-abu Devan yang kini berbinar tajam.
Devan meraih dagu Alya, mengangkatnya lembut hingga mata mereka saling mengunci. "Wifey... apakah kamu baru saja cemburu pada Clarissa?"
Alya memalingkan wajahnya ke samping, menggigit bibir bawahnya. "T-tidak... siapa yang cemburu? Aku cuma mengingatkan tata krama kantor."
Devan terkekeh rendah—sebuah tawa seksi yang amat jarang terdengar. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup pipi Alya yang terasa hangat berkali-kali. "Bohong. Kamu cemburu, Alya. Dan sejujurnya... ini adalah hal paling indah yang pernah kurasakan sepanjang hidupku."
Alya menatap Devan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Dia cantik, Devan. Dia serba bisa, pintar, dan cocok berada di sisimu di dunia bisnis. Sedangkan aku..."
"Alya!" potong Devan dengan suara yang mendadak sangat dalam dan penuh penekanan. Pria itu menggenggam kedua tangan Alya, menempelkannya di dadanya sendiri yang berdetak kencang. "Dengar baik-baik. Di mataku, di hatiku, dan di seluruh hidupku, hanya ada kamu. Tidak ada Clarissa, tidak ada wanita mana pun di dunia ini yang bisa menggantikan posisimu sebagai istri dan ibu dari anakku."
"Besok aku akan memindahkan Clarissa ke divisi luar negeri jika keberadaannya membuatmu tidak nyaman," lanjut Devan tanpa ragu sedikit pun.
Alya tertegun menatap kesungguhan di mata Devan. Rasa tidak percaya diri dan kecemburuan yang sempat membakar dadanya seketika luruh, tergantikan oleh rasa haru yang teramat sangat.
> *[Wah, wah... Ayah Siaga memberikan deklarasi cinta seratus persen murni tanpa pemanis buatan!]*
> *[Ibu, dengar kan? Kau adalah satu-satunya Ratu di hati kaisar dingin ini. Jadi, mari kita habiskan makan siang ini bersama Ayah dengan tenang!]*
Alya tersenyum manis, mengelus rahang tegas Devan. "Tidak perlu memindahkannya, Devan. Aku percaya padamu. Hanya saja... jangan biarkan wanita mana pun menyentuh bajumu lagi selain aku."
Devan mengulas senyuman paling hangat yang pernah ia miliki, menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang mendalam, lembut, dan penuh kehangatan cinta di dalam ruang kerja megah di atas awan ibu kota.