NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius / Tamat
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

Alya adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Ruang kerja utama CEO di lantai tertinggi menara Dirgantara Group kembali tenang setelah gelombang cemburu Alya mereda. Ciuman hangat Devan di sofa kulit tidak hanya meluruhkan keraguan di hati Alya, tetapi juga menegaskan kembali siapa pemegang tahta tertinggi di hidup sang kaisar bisnis.

Setelah menghabiskan makan siang nutrisi tinggi bersama, Devan tidak membiarkan Alya langsung pulang ke Penthouse Lavender. Pria itu menyuruh Alya beristirahat di kamar tidur privat yang terhubung langsung dengan ruang kerjanya. Sementara itu, Devan memanggil Yudha masuk ke ruang kerja dengan pintu tertutup rapat.

"Tuan Muda," panggil Yudha seraya membungkuk hormat, membawa sebuah map tebal berwarna hitam dengan stempel rahasia. "Mengenai instruksi Anda tentang Clarissa..."

Devan yang sedang berdiri di dekat jendela besar memutar tubuhnya perlahan. "Pindahkan dia ke kantor cabang Jenewa mulai minggu depan. Berikan dia kompensasi kenaikan jabatan dan bonus yang sesuai, tetapi pastikan dia tidak lagi memegang urusan diplomasi langsung denganku."

Yudha tersenyum tipis, mengangguk paham. "Baik, Tuan Muda. Keputusan yang sangat bijaksana untuk menjaga ketenangan Nyonya Muda. Lalu... mengenai berkas akuisisi ini, Tuan Besar Abraham meminta saya untuk menyerahkannya langsung kepada Anda dan Nyonya Muda hari ini."

Devan menerima map hitam itu, menaikkan sebelah alisnya. "Kakek memberikan ini? Untuk apa?"

"Tuan Besar bilang, ini adalah 'hadiah penenang' dan bentuk syukuran atas perkembangan usia kandungan Nyonya Muda yang akan memasuki lima bulan," jawab Yudha dengan wajah berseri-seri.

---

Satu jam kemudian, Alya terbangun dari tidur siangnya. Tubuhnya terasa jauh lebih segar. Ketika ia melangkah keluar dari kamar tidur privat, ia menemukan Devan sedang duduk di meja kerjanya dengan map hitam terbuka di depannya.

Alya melangkah mendekat, merapikan gaun hamil kremnya yang sedikit kusut. "Devan? Kamu belum selesai bekerja?"

Devan mendongak, matanya yang hangat langsung menyambut Alya. Pria itu berdiri, mengandeng tangan Alya dan mendudukkannya di kursi kebesaran CEO, lalu Devan sendiri berdiri di sampingnya, merangkul bahu Alya dari belakang.

"Lihat ini, *Wifey*," bisik Devan serak di telinga Alya, menunjuk berkas-berkas di atas meja.

Alya mengernyitkan dahi, membaca judul dokumen bersampul emas tersebut: **Sertifikat Pengalihan Kepemilikan Pulau Cendrawasih & 15% Saham Utama Dirgantara Medical Center.**

Alya terperanjat, matanya membelalak menatap deretan angka dan nama yang tertera di sana. Nama *Alya Dirgantara* tercetak jelas sebagai pemilik tunggal atas sebuah pulau pribadi di kawasan Nusa Tenggara dan pemegang saham terbesar kedua di jaringan rumah sakit paling mewah di Asia Tenggara. Total nilai aset di dalam map itu mencapai tak kurang dari lima triliun Rupiah!

"D-Devan?! Apa-apaan ini?!" Alya menoleh kaget, menatap suaminya dengan rasa tidak percaya. "Ini... ini terlalu banyak! Kenapa Kakek memberikan pulau dan saham sebanyak ini atas namaku?"

Devan terkekeh pelan, mengecup pipi Alya yang merona kaget. "Kakek sangat menyayangimu, Alya. Lagipula, pulau itu sengaja dibeli untuk dijadikan tempat peristirahatan pribadi kita saat persalinanmu nanti. Kakek ingin kamu dan anak kita mendapatkan fasilitas kesehatan dan udara tersuci tanpa ada gangguan dari media atau musuh bisnis."

> *[WAKSAU! Lima triliun Rupiah?! Kakek Tua Abraham benar-benar tahu cara memanjakan cucu dan menantunya!]*

> *[Ibu! Terima saja! Pulau pribadi itu punya ekosistem alam yang sangat bagus untuk perkembangan energi otakku nanti. Aku bisa berjemur di pantai pribadi tanpa perlu khawatir difoto oleh paparazzi!]*

Suara Baby El yang melonjak kegirangan di dalam kepala Alya membuat Alya mengelus perutnya yang membuncit manis. "El, kamu ini... jangan terlalu matre," batin Alya terkekeh pelan.

> *[Ini bukan matre, Ibu! Ini namanya kalkulasi aset masa depan! Sebagai calon pewaris Dirgantara Group, aku harus memastikan Ibuku punya benteng finansial yang tak tergoyahkan bahkan jika Ayah Siaga mendadak kumat lagi dinginnya!]*

Devan yang merasa perut Alya mendadak berdenyut halus, langsung menempelkan telapak tangan besarnya di sana. "Dia bicara lagi?" tanya Devan dengan binar mata yang dipenuhi rasa takjub yang tak pernah pudar.

Alya mengangguk tersenyum. "Iya, dia bilang dia sangat menyukai hadiah dari Kakek."

Devan mengulas senyuman paling menawan di wajahnya, mengecup perut Alya melalui kain gaunnya. "Apapun untuk kaisar kecilku dan ibunya."

---

Namun, di balik kebahagiaan dan kemewahan yang menyelimuti keluarga Dirgantara, sebuah bayangan hitam yang jauh lebih berbahaya dari Edward Vance atau Tante Melinda sedang mengintai dari kegelapan.

Pukul empat sore, sebelum Alya dan Devan bersiap untuk pulang ke Penthouse Lavender, telepon rahasia di meja kerja Devan kembali berdering. Kali ini, nomor yang tertera di layar adalah nomor terenkripsi dari jaringan intelijen tingkat tinggi di Eropa.

Devan mengisyaratkan Alya untuk menunggu di sofa, lalu mengangkat gagang telepon tersebut. "Bicara."

"Tuan Muda Devan," suara agen intelijen bernada berat dan dingin berbunyi dari seberang samudra. "Laporan darurat dari London. Edward Vance memang telah dilumpuhkan secara finansial setelah serangan IRS kemarin, tetapi... sebelum asetnya dibekukan, ia sempat menghubungi **Klan Blackwood**."

Mendengar nama *Klan Blackwood*, jemari Devan yang memegang gagang telepon seketika mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang semula hangat mendadak berubah menjadi sangat kelam dan memancarkan aura membunuh yang begitu pekat.

Klan Blackwood adalah sindikat tentara bayaran dan organisasi bayangan terbesar di Eropa yang bergerak dalam bisnis pembunuhan berbayar, sabotase politik, dan penculikan VVIP. Mereka tidak pernah gagal dalam mengeksekusi target jika bayarannya sesuai.

"Apa perintah yang diberikan Edward Vance sebelum dia ditangkap?" tanya Devan, suaranya sedingin es yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

"Edward Vance menyerahkan sisa dana tunai tersembunyinya sebesar seratus juta Euro kepada Klan Blackwood dengan satu perintah tunggal, Tuan Muda," jawab agen tersebut dengan nada bergetar. "Target utama mereka bukan Anda... melainkan Nyonya Muda Alya dan janin di dalam kandungannya."

*KRAK!*

Gagang telepon di tangan Devan mendadak retak akibat cengkeraman kekuatannya yang tak terkontrol. Mata abu-abu sang CEO membakar penuh dengan kemurkaan yang tak tertandingi.

"Mereka sudah mengirimkan tim ke Indonesia?" tuntut Devan rendah.

"Informasi terakhir menyebutkan bahwa empat tentara bayaran elit kelas atas Klan Blackwood telah masuk ke Jakarta menggunakan paspor diplomatik palsu dua hari yang lalu. Mereka sedang memetakan rute perjalanan Nyonya Muda dari Penthouse Lavender ke kantor yayasan," tutur agen tersebut.

Devan tidak menjawab lagi. Ia membanting gagang telepon kembali ke tempatnya, napasnya memburu. Pria itu berdiri kaku, berusaha menekan aura membunuhnya agar tidak menakuti Alya yang sedang duduk di sofa.

Namun, getaran emosi yang begitu kuat dari Devan ternyata tidak bisa disembunyikan dari kepekaan spiritual Baby El.

Di dalam rahim Alya, janin ajaib itu mendadak menghentikan aktivitas gembiranya. Sebuah alarm bahaya tingkat tinggi bergetar di seluruh saraf spiritual Alya.

> *[IBU! Waspada!]*

> *[Ada aura darah dan kematian yang sedang mendekati wilayah kita! Empat ekor serigala bayaran dari Eropa berani melangkah ke tanah ini untuk menyentuh kita!]*

> *[Ayah! Jangan biarkan mereka mendekati Penthouse Lavender! Jika mereka berani mengusik Ibuku... aku sendiri yang akan menghancurkan organ dalam mereka dari jarak jauh!]*

Alya tersentak dari duduknya, memegang perutnya yang mendadak terasa hangat dan tegang. Ia menatap Devan dengan mata membelalak. "Devan... apa yang terjadi? El... El bilang ada bahaya?"

Devan dengan cepat melangkah menghampiri Alya, berlutut dan merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan yang sangat erat dan protektif. Ia membenamkan wajahnya di leher Alya, menghirup aroma menenangkan dari tubuh istrinya untuk mengontrol emosinya.

"Tidak ada yang akan menyentuhmu, Alya. Tidak akan pernah," bisik Devan, suaranya bergetar dengan janji mati yang mutlak. "Siapapun mereka... aku akan memusnahkan mereka sebelum mereka sempat melangkah sepuluh meter di dekatmu."

Devan melepaskan pelukannya, menatap mata Alya dengan ketegasan seorang kaisar yang siap berperang. Pria itu menekan tombol panggil di ponselnya.

"Yudha! Aktifkan Protokol Pertahanan Tingkat VIP Sembilan! Kunci seluruh Penthouse Lavender dengan sistem keamanan militer, ganti seluruh pengawal biasa dengan tentara bayaran internal Dirgantara, dan perintahkan tim pemburu untuk menyisir setiap sudut Jakarta!" perintah Devan tanpa jeda.

"Siap, Tuan Muda! Protokol Sembilan diaktifkan sekarang!" jawab Yudha dari seberang telepon.

Di atas ketinggian menara Dirgantara Group, angin sore berembus kencang membawa aroma badai yang jauh lebih besar dan berdarah. Perang di meja bisnis kini telah bergeser menjadi pertarungan hidup dan mati di dunia bawah. Namun, dengan Devan yang siap menjadi iblis demi melindungi keluarganya, dan Baby El yang memegang kekuatan spiritual tak tertandingi, para pembunuh bayaran Klan Blackwood sama sekali tidak tahu bahwa mereka sedang melangkah menuju neraka buatan Nyonya Muda Dirgantara.

1
dewi
kereeen
Ayu Rahayu
/Drool//Drool/
Riza Syamsi Y
aku mampir thor, semangat💪💪💪 untuk berkarya
Rina ylna: Terima kasih kk
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Devan and Alya 😄🙏 welcome to the world the new baby boy 🤭🙏
LanLan.CNL
semangat ya kak💪
LanLan.CNL: makin keren
total 1 replies
M. T🌻
keren juga, kalau punya bayi kayak gitu🤭
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya....
Ariany Sudjana
musik klasik bisa jadi stimulus yang bagus bagi perkembangan otak janin
beybi T.Halim
keren👍👍👍👍
beybi T.Halim
yaa jgn nama juga laa.,bisa hubby,ayah.,ayang beb🤭kannn gak sopan manggil nama doank
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!