NovelToon NovelToon
AEXDREAM HIGH SCHOOL

AEXDREAM HIGH SCHOOL

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:625
Nilai: 5
Nama Author: Viana18

SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.

Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Hari keberangkatan pun tiba. Pagi itu, langit Jakarta cerah bersih, sinar matahari menyinari bandara internasional yang sudah ramai. Tapi di salah satu terminal keberangkatan, ada rombongan yang langsung jadi pusat perhatian semua orang. Enam pasangan remaja ini tampil dengan gaya santai tapi berkelas, pakaian mereka rapi, barang bawaan lengkap dengan koper-koper mewah, dan wajah-wajah ceria penuh antusiasme. Mereka semua anak-anak dari keluarga terpandang, jadi segala kebutuhan perjalanan sudah diurus sempurna—mulai dari jalur khusus, petugas pendamping, hingga pesawat yang sudah disiapkan kenyamanannya.

"WOHOOO! BALI KITA DATANG! Rasanya udah nggak sabar banget pengen cepet-cepet sampe!" teriak Haechan sambil mengangkat tangannya ke udara, berjalan dengan langkah lebar di samping Ningning.

Ningning tertawa kecil, merangkul lengan cowoknya. "Udah ah, jangan teriak-teriak kayak anak kecil. Orang-orang pada liat tau. Tapi... iya sih, gue juga udah nggak sabar banget rasanya."

Mark berjalan paling depan, memimpin rombongan dengan tenang dan berwibawa. Di sebelahnya Gisel berjalan santai, sesekali membetulkan letak tas bahunya sambil memandangi sekeliling dengan mata berbinar.

"Tenang aja semuanya. Pesawatnya udah siap. Kita terbang kelas satu, jadi nggak bakal ada yang nggak nyaman. Perjalanan sekitar satu jam setengah, nanti sampe sana mobil-mobil jemputan udah nunggu," jelas Mark, membuat semua orang makin lega dan bersemangat.

Sesampainya di dalam pesawat, mata mereka semua membelalak kagum. Kabinnya luas, kursi kulit empuk yang bisa direbahkan jadi tempat tidur, ada layar hiburan pribadi, meja lipat, dan pelayanan pramugari yang sangat ramah. Minuman segar dan camilan lezat langsung disajikan begitu mereka duduk.

"Wah... mewah banget sih! Emang nggak main-main ya fasilitasnya," ucap Jaemin sambil duduk nyaman di sebelah Winter.

Winter tersenyum tipis, membenarkan letak tas kecil di pangkuannya. "Iya. Tapi yang paling bikin nyaman itu bukan fasilitasnya, tapi bisa duduk di sebelah lo dan teman-teman semua."

Jaemin langsung tersenyum lebar, matanya menyipit senang mendengar itu. "Gimana sih lo... manis banget pagi-pagi gini. Nanti di Bali gue bakal bikin hari-hari lo jadi paling indah tau!"

Di kursi seberang, Chenle duduk dengan gaya sangat santai dan penuh percaya diri, kaki disilang, tangan di belakang kepala. Miyeon di sebelahnya hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli.

"Lihat nih Miyeon, emang cuma kita yang bisa liburan sekeren ini. Pesawat mewah, tujuan indah, ditemenin orang terbaik. Hidup emang indah kalau ada gue di dalamnya kan?" ucap Chenle bangga diri.

"Iya iya, Raja Segalanya. Udah nikmatin aja perjalanannya, jangan kebanyakan ngomong nanti lelah," jawab Miyeon sambil mengelus punggung tangan cowoknya.

Di kursi paling belakang, agak terpisah sedikit tapi tetap dekat dengan yang lain, duduk pasangan bungsu: Jisung dan Shuhua. Di sinilah momen yang ditunggu-tunggu bakal terjadi. Jisung duduk dengan kaku, tangannya berkeringat dingin karena gugup setengah mati. Mukanya merah merona, matanya sesekali melirik ke arah Shuhua yang duduk tenang di sebelahnya, memandangi awan putih yang bergulung-gulung di luar jendela pesawat.

Jantung Jisung berdegup kencang sekali. Sudah lama dia menyiapkan ini, sudah lama dia menyimpan rasa, dan hari ini, di ketinggian ribuan kaki di atas tanah, dia bertekad buat mengungkapkan semuanya. Dia nggak mau lagi cuma jadi teman dekat, dia mau resmi, dia mau menjaga Shuhua sebagai pacarnya sepenuhnya.

"Ka-Kak Shuhua..." panggil Jisung pelan, suaranya bergetar halus.

Shuhua langsung menoleh, tersenyum manis saat melihat wajah cowok itu yang sudah memerah padam karena gugup. "Ya, Jisung? Ada apa? Mau minum atau mau dengerin musik bareng?"

Jisung menggeleng pelan. Dia menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang dia punya. Dia menatap mata Shuhua dalam-dalam, matanya berbinar tulus dan penuh rasa sayang yang besar banget.

"Ka-Kak... gue mau ngomong sesuatu. Hal yang udah lama banget gue simpan, hal yang bikin gue tiap hari seneng, tiap hari semangat, tapi juga tiap hari deg-degan banget..." Jisung mulai bicara, tangannya gemetar pelan saat berusaha menyentuh ujung jari Shuhua yang ada di atas sandaran tangan.

Shuhua diam, senyumnya perlahan memudar berganti rasa penasaran dan harap-harap cemas. Dia menatap Jisung lekat-lekat, membiarkan cowok itu melanjutkan.

"Kak... dari pertama kali kita kenal, dari pertama kali Kakak bantuin gue pas gue kesusahan di sekolah dulu... gue udah ngerasa beda. Kakak itu baik banget, sabar banget, cantik banget, dan ngertiin gue banget. Tiap kali ada Kakak, gue ngerasa aman, ngerasa berani, ngerasa dunia gue jadi cerah banget."

Jisung menjeda sebentar, menelan ludah karena gugup, tapi tatapannya makin mantap.

"Gue tau gue masih muda, gue tau gue masih banyak kurangnya, gue tau gue sering canggung dan bingung. Tapi percaya sama gue, Kak... Rasa sayang gue ke Kakak itu tulus banget, dalem banget, dan nggak kalah sama rasa sayang teman-teman kita ke pacar mereka. Gue pengen jagain Kakak. Gue pengen bikin Kakak ketawa terus. Gue pengen ada di samping Kakak terus, bukan cuma jadi adik atau teman, tapi jadi cowok Kakak. Jadi pacar Kakak..."

Air mata bahagia mulai menggenang di mata Jisung, suaranya makin pelan tapi jelas banget.

"Kak Shuhua... Mau nggak... jadi pacar gue? Gue janji bakal usaha banget jadi cowok terbaik, jadi cowok yang bisa dibanggain, jadi cowok yang bakal nemenin Kakak sampe kapanpun. Gue sayang banget sama Kakak... lebih dari apa pun."

Di saat yang sama, pesawat itu melewati gumpalan awan besar, dan sinar matahari yang cerah banget masuk lewat jendela, menyinari wajah Jisung yang penuh harap dan cemas.

Shuhua diam terpaku, matanya memanas dan berkaca-kaca. Dia sudah menunggu momen ini sejak lama. Dia tau Jisung itu anak yang baik, tulus, dan punya rasa sayang yang murni banget. Dia juga sudah lama menyimpan rasa yang sama, tapi dia menunggu sampai Jisung sendiri yang berani bicara, menunggu sampai Jisung siap.

Perlahan, senyum terindah mekar di bibir Shuhua. Dia mengusap pipi Jisung yang basah sedikit karena air mata bahagia, lalu menggenggam tangan cowok itu erat dan hangat banget.

"Jisung... bodoh... Lo kira gue nggak tau? Gue udah nunggu kata-kata ini dari lama banget tau," suara Shuhua bergetar halus, penuh kebahagiaan. "Gue juga sayang sama lo, Jisung. Udah dari lama banget. Lo emang masih muda, lo emang kadang canggung, tapi di mata gue... lo itu cowok paling tulus, paling manis, dan paling berharga sedunia. Gue bangga banget sama lo, bangga banget lo berani ngomong gini."

Dia mendekatkan wajahnya sedikit, menatap mata Jisung lekat-lekat.

"Iya, Jisung. Gue mau. Gue mau jadi pacar lo. Gue mau kita bareng terus, sama-sama tumbuh, sama-sama belajar, sama-sama bahagia. Mulai sekarang, kita resmi ya? Gue milik lo, dan lo milik gue. I love you too, Jisung."

Jisung melongo sebentar, belum percaya sama apa yang dia denger. Detik berikutnya, wajahnya bersinar cerah banget, senyum lebar dan bahagia mekar di bibirnya. Dia hampir teriak senang tapi langsung ditahan karena malu, dia cuma meremas genggaman tangan Shuhua erat banget, matanya berbinar banget kayak bintang.

"Beneran Kak?! Beneran nggak nih?! Ya Allah... gue seneng banget... gue janji bakal jagain Kakak seumur hidup gue! Makasih ya... makasih udah terima gue..." bisik Jisung bahagia luar biasa, mukanya makin merah merona tapi kali ini karena kebahagiaan murni.

Di kursi-kursi depan, teman-teman mereka yang diam-diam memperhatikan dari tadi langsung saling pandang sambil tersenyum haru dan senang.

"Akhirnya... lengkap sudah. Enam pasangan resmi semua nih! Perfect banget," bisik Mark sambil merangkul Gisel.

Gisel mengangguk sambil mengusap mata yang sedikit berkaca. "Iya... Jisung udah berani juga ya. Gemes banget deh. Pas banget, momennya pas banget di atas awan gini."

Tak terasa, pengumuman pramugari terdengar menandakan pesawat bakal mendarat. Mereka semua bersiap, hati penuh kebahagiaan baru dan semangat membara.

Begitu keluar dari bandara Ngurah Rai Bali, pemandangan indah langsung menyambut mereka. Udara segar, pohon-pohon hijau, dan suasana khas Bali yang damai. Di luar, sudah ada deretan mobil mewah berjejer rapi—mobil sedan mewah dan van besar yang siap mengantar mereka.

Perjalanan menuju penginapan memakan waktu sekitar 45 menit. Sepanjang jalan, mata mereka nggak pernah lepas dari pemandangan: sawah hijau terhampar luas, bangunan-bangunan indah berukiran khas, jalanan berkelok yang asri. Dan saat mobil berbelok masuk ke gerbang besar yang dijaga rapi, semua orang serentak menahan napas kagum.

Di hadapan mereka berdiri sebuah Villa Mewah seluas lebih dari 3.000 meter persegi, bergaya arsitektur Bali modern yang sangat indah dan megah. Halaman luas penuh taman bunga dan tanaman hijau rapi, kolam renang biru jernih yang panjangnya puluhan meter, pemandangan langsung menghadap ke laut lepas yang biru membentang sampai cakrawala. Bangunannya luas, banyak kamar tidur mewah, ruang keluarga besar, ruang makan terbuka, dan fasilitas lengkap seperti ruang hiburan, tempat pijat, hingga dapur lengkap dengan koki pribadi.

"GILA... INI BUKAN PENGINAPAN, INI ISTANA SIH SEBENERNYA!" seru Haechan melompat turun dari mobil, berputar-putar melihat sekeliling dengan mulut menganga kagum.

"Emang dong! Keluarga kita kan nggak main-main kalau ngurus sesuatu. Fasilitas bintang lima plus plus, aman, nyaman, dan indah banget," ucap Chenle dengan gaya bangga diri yang wajar banget saat itu.

Mereka langsung membagi kamar, masing-masing pasangan dapat satu kamar luas dan mewah dengan pemandangan indah. Setelah beres-beres dan ganti baju, hari pertama liburan resmi dimulai.

Sore itu, sekitar jam empat sore, mereka semua berjalan kaki dari villa menuju pantai pribadi yang ada tepat di bawah komplek penginapan mereka. Pasir putih halus, air laut biru jernih yang tenang, dan ombak kecil yang memecah perlahan. Matahari mulai condong ke barat, warnanya keemasan hangat, bersinar indah banget.

Mereka semua berpakaian santai, baju pantai yang nyaman dan keren. Mark dan Gisel berjalan paling depan sambil bergandengan tangan, tertawa membicarakan betapa indahnya tempat itu. Haechan lari ke sana ke mari kadang mengejar ombak kadang mengajak Ningning foto-foto. Jaemin duduk di pasir sambil menatap laut, ditemani Winter yang bersandar nyaman di bahunya. Jeno dan Karina berjalan berdua di pinggir air, berbicara pelan sambil menikmati angin laut yang sejuk. Chenle berpose-pose keren di depan kamera Miyeon, pamer gaya paling kece. Dan di belakang sekali, Jisung dan Shuhua berjalan beriringan, tangan mereka saling genggam erat dan malu-malu tapi bahagia banget.

"Indah banget ya Kak... Pemandangannya, udaranya, semuanya... apalagi sekarang kita udah resmi bareng," kata Jisung pelan sambil menatap matahari yang makin turun.

Shuhua menoleh, tersenyum manis banget. "Iya, Sayang. Ini baru awal aja lho. Seminggu ke depan bakal penuh hal indah kayak gini. Kita bakal ingat hari ini selamanya ya?"

"Pasti. Sampe kapanpun," jawab Jisung mantap.

Mereka semua duduk berkelompok di atas hamparan pasir putih, membentuk lingkaran menghadap ke laut. Angin laut berhembus lembut menerpa wajah-wajah bahagia mereka. Tawa riuh terdengar menyatu dengan suara deburan ombak. Di depan mata mereka, matahari mulai terbenam perlahan, mewarnai langit jadi merah muda, jingga, dan ungu yang sangat indah dan mempesona.

"Gue rasa... ini adalah hari terbaik dalam hidup gue sejauh ini," ucap Mark pelan, menatap teman-temannya satu per satu dengan mata berbinar. "Dikelilingi sahabat terbaik, pacar yang paling gue sayang, di tempat seindah ini... nggak ada yang bisa ngalahin kebahagiaan ini."

"Bener banget!" sahut Chenle semangat. "Dan inget ya, masih ada 6 hari lagi! Kita bakal bikin kenangan yang nggak bakal terlupakan seumur hidup kita!"

Hari pertama liburan mereka di Bali berakhir dengan keindahan matahari terbenam, dengan cinta yang makin kuat, dan dengan lengkapnya semua pasangan yang saling mencintai. Di surga kecil ini, kisah mereka baru saja dimulai petualangannya yang paling indah, paling seru, dan paling romantis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!