NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pangeran Lab dan Gejolak di Balik Meja Kantin

Siang itu, kantin fakultas sedang berada di puncak keramaian. Aroma mi ayam bercampur dengan udara panas yang dikibas angin langit-langit seolah menciptakan harmoni kesibukan mahasiswa. Kirana baru saja selesai mencatat beberapa referensi di perpustakaan dan berniat mencari segelas es jeruk untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

Saat Kirana melangkah masuk, matanya tak sengaja menangkap pemandangan di meja pojok dekat stand minuman.

Di sana, Bima sedang duduk bersama teman-teman satu gengnya. Berbeda dari biasanya yang tampak kotor oleh oli, hari ini Bima terlihat sangat rapi. Ia mengenakan PDL (Pakaian Dinas Lapangan) Teknik berwarna biru dongker yang disetrika kaku, dipadukan dengan celana jeans hitam pekat yang tampak baru.

Potongan rambutnya yang rapi dan aroma parfum maskulin yang segar bahkan tercium dari jarak beberapa meter, menutupi bau bensin yang biasanya menempel. Harus Kirana akui dalam hati, kalau sedang begini, aura ganteng Bima memang naik berkali-kali lipat.

Teman-teman Bima sedang asyik tertawa dan berdiskusi tentang proyek mesin mereka, suara mereka riuh rendah memenuhi sudut kantin.

Kirana menarik napas panjang, mencoba bersikap biasa saja dan berjalan menuju stand minuman. Kebetulan, posisi kursi Bima yang sedikit menyandar ke belakang membuat ruang gerak di jalan setapak mepet stand itu menjadi sempit. Jalanan itu adalah satu-satunya akses tercepat menuju loket pembayaran.

Langkah Kirana terhenti tepat di samping bahu Bima. Bima yang sedang memegang gelas kopi, tiba-tiba menoleh. Mata tajamnya bertemu dengan mata Kirana.

Meski teman-temannya di meja itu masih sibuk berceloteh, dunia seolah mendadak hening hanya untuk mereka berdua.

Bima tidak menyapa, wajahnya tetap dingin dan datar, namun tatapannya sempat terkunci pada Kirana selama beberapa detik—sebuah curi-curi pandang yang intens sebelum ia kembali memalingkan wajah ke arah gelas kopinya dengan gerak-gerik kaku.

Kirana membalas dengan tatapan sinis, sengaja mendengus pelan seolah kehadiran Bima di sana sangat menyesakkan baginya.

"Minggir gak lu," cetus Kirana dengan nada rendah namun tajam.

Bima tidak langsung bergerak. Ia diam sejenak, menatap Kirana dari bawah ke atas dengan tatapan malas. Lalu, ia menggeser kursinya sedikit tanpa ekspresi, memberikan ruang yang sangat pas-pasan. "Orang gua yang duluan di sini," jawabnya datar.

Suaranya rendah dan terdengar sangat tidak bersahabat, meski penampilannya sangat rapi hari ini.

"Ya santai aja kali, nggak usah nutupin jalan juga. Lu kira kantin ini punya nenek moyang lu?" balas Kirana ketus, matanya melotot tajam.

Bima hanya mendengus, kembali membuang muka. Namun, suasana tegang itu pecah saat sebuah suara bariton yang lembut menyapa dari arah pintu masuk kantin.

"Hai, Kirana!" panggil Danu dengan senyum cerah.

Wajah Kirana yang tadinya jutek dan penuh lipatan kekesalan tiba-tiba berubah drastis. Matanya berbinar, bibirnya mengukir senyum paling manis dan lembut yang ia punya. "Eh, Kak Danu!"

Bima yang duduk tepat di depan Kirana seketika menegang. Ia tidak menoleh, tapi rahangnya tampak mengatup rapat mendengar perubahan nada suara Kirana yang sangat manis itu.

"Ra, nanti sore mau pulang bareng lagi nggak? Kebetulan aku mau cari kado buat mamaku, beliau mau ulang tahun," tawar Danu sambil menghampiri posisi Kirana berdiri.

Ekspresi Kirana langsung melunak, suaranya terdengar sangat kagum. "Oh ya? Keren banget Kak Danu. Sayang banget kayaknya sama mamanya ya? Jarang lho ada cowok yang bela-belain cari kado sendirian buat mamanya."

Danu tertawa rendah, sedikit malu-malu. "Ah, biasa aja kok. Tapi aku bingung, aku kurang tau kesukaan cewek apaan. Mau ya temenin?"

"Boleh banget, Kak! Aku pasti bantuin pilih yang terbaik," jawab Kirana antusias.

"Oke sip, ntar aku tunggu depan ya pas balik kelas. Kamu kelar jam berapa?"

"Aku kelar jam empat sore, Kak," jawab Kirana dengan nada bicara yang sangat lembut.

Bima mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia merasa ada yang bergejolak di dadanya, sesuatu yang membuatnya ingin segera pergi dari sana.

"Oke, sampai ketemu nanti sore ya. Duluan ya, Ra," kata Danu, lalu ia menoleh ke arah Bima sebagai formalitas. "Duluan ya, bro," ucapnya sambil menepuk bahu Bima dengan akrab.

Bima hanya bergumam pelan, "Ya," tanpa menoleh sedikit pun. Mukanya sangat dingin dan terlihat jelas ada rasa kesel yang tertahan di matanya.

Kirana kembali menatap Bima dengan sinis sekilas. "Liat tuh, contoh cowok sopan. Nggak kayak lo, bisanya cuma diem kayak patung," sindir Kirana tajam sebelum akhirnya berlalu pergi dengan kepala tegak.

Begitu Kirana benar-benar keluar dari jangkauan pendengaran, teman-teman Bima yang tadi pura-pura sibuk ngobrol mendadak berhenti tertawa. Mereka ternyata menyimak setiap detiknya.

"Aduh, kalah cepet nih bro gua ama Danu," celetuk Roni sambil menyenggol lengan Bima dengan muka jahil.

"Wah, parah sih. Mau gua bantuin deketin gak bro?" timpal temannya yang lain sambil menahan tawa.

"Asli, lu harus mulai deketin sih bro. Ntar lu keduluan beneran ama si Danu, makin kusut lagi ntar tu muka lu di markas kalau liat mereka bareng terus," sambung yang lain lagi yang langsung disambut tawa pecah seisi meja.

"Apasih lu pada!" bentak Bima dengan muka yang ditekuk, ia langsung berdiri dan menyambar kunci motornya, meninggalkan meja dengan perasaan yang makin tidak keruan.

Sore harinya di markas mesin, Bima duduk di sofa dengan wajah yang lebih kusut dari biasanya, meski baju PDL-nya masih terlihat sangat rapi. Ia tidak lagi membanting baju, tapi auranya sangat gelap.

Adit yang sedang bersiap-siap memperhatikan sahabatnya. "Kenapa lu, bro? Kusut amat."

"Gak papa," jawab Bima pendek.

"Gua duluan ya, mau jemput cewek gue. Jangan kusut banget tuh muka, kayak belum disetrika aja lu," ledek Adit sambil mengajak tos.

Bima membalas tos Adit dengan tidak semangat, tangannya lemas dan mukanya tetap datar dingin. Adit hanya menggelengkan kepala lalu melesat pergi.

Di gerbang kampus, Maya dan Kirana sudah menunggu. Sari sudah pulang lebih dulu karena dijemput sopirnya tadi siang. Begitu Adit sampai, dia langsung bergabung dengan mereka.

"Gatau lagi tuh si kunyuk satu, melas lagi mukanya. Kayaknya patah hati lagi dia, By," bisik Adit pada Maya, tapi terdengar oleh Kirana.

"Oh, iyakata?" sahut Kirana refleks.

"Iya, barusan di markas auranya gelap banget," jawab Adit.

Kirana terdiam. Ia teringat kejadian di kantin tadi siang. Apa karena dia cemburu liat gue sama Kak Danu tadi? Soalnya mukanya emang kesel banget pas Kak Danu nepuk bahunya, batin Kirana. Namun, secepat kilat ia menggelengkan kepala. Apaan sih gue, mikir macem-macem.

Maya dan Adit yang melihat Kirana melamun sambil menggeleng-geleng langsung saling lirik. "Kenapa lu, Kir?" tanya Maya.

"Gak papa!" jawab Kirana cepat.

"Awas lu kesambet ntar, jangan kayak Bima kebanyakan bengong," ledek Adit. Kirana mendengus. "Apaan sih lu berdua, sama aja suka godain gue."

"Namanya juga jodoh, ya gak By?" kata Adit sambil merangkul Maya. "Dih, mau muntah gue dengernya. Tapi semoga langgeng dah lu pada yak," ucap Kirana.

"Amiiin!" jawab Maya dan Adit barengan. "Udah ya Kir, kita jalan duluan ya, daaa!"

Kirana melambaikan tangan. Selang beberapa menit kemudian, mobil putih Danu berhenti di depannya. Danu turun dan membukakan pintu buat Kirana. "Kamu nunggunya udah lama ya?" tanya Danu perhatian.

"Enggak kok, Kak," jawab Kirana sambil tersenyum, merasa sangat dihargai oleh perhatian gentle Danu.

Mereka pun meluncur ke mall. Di sana, mereka membeli tas untuk mama Danu atas pilihan Kirana. "Kamu ada yang mau dibeli nggak?" tanya Danu. "Aku mau ke toko buku sebentar, Kak," jawab Kirana. Sambil berjalan ke toko buku, Danu bertanya tentang hobi baca Kirana dan mereka banyak bercanda.

"Eh, kamu suka baca puisi ini?" tanya Danu sambil memegang buku puisi klasik di toko buku. Kirana mengangguk. "Aku juga suka tahu. Soalnya mamaku juga suka banget baca sama buat puisi dulu. Kapan-kapan aku ajak ke rumah deh, kalian pasti cocok banget," kata Danu tulus. Kirana tersenyum, merasa momen ini sangat manis.

Malam harinya, Danu mengantar Kirana sampai rumah. Begitu masuk, Kirana tidak bisa menyembunyikan senyum tipis di bibirnya.

"Kenapa senyum-senyum?" tanya Mamanya dari ruang tengah.

"Gak papa, Ma," jawab Kirana malu-malu.

"Hayoloh, jatuh cinta ya? Tadi siapa cowok yang anterin kamu pulang?"

"Ah, Mama mau tahu aja," jawab Kirana sambil berlari ke kamarnya.

Di kamar, Kirana langsung mandi dan berganti baju. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, memikirkan momen bersama Danu tadi. Hatinya berbunga-bunga.

Namun, di tengah rasa bahagianya, bayangan wajah dingin Bima di kantin tadi tiba-tiba muncul. Kirana langsung bangkit duduk dan menepis pikiran itu.

"Apaan sih, kenapa gue mikirin dia? Iww, gak jelas banget," gumamnya kesal.

Ia kembali berbaring, mencoba memfokuskan pikiran hanya pada Danu. Hingga akhirnya ia terlelap dengan perasaan senang. Sejak SMP sampai kuliah, hari-harinya terasa boring, tapi hari ini, Kirana merasa hidupnya jadi lebih berwarna dan berbunga-bunga karena diperlakukan seistimewa itu oleh Kak Danu.

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!