NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Hidup Seorang Pecundang

"Tiga ratus ribu. Sisanya dipotong untuk keterlambatanmu."

Suara serak itu menabrak telinga Fais. Berbaur kotor dengan deru mesin pengaduk semen di latar belakang.

Ia menatap amplop cokelat tipis di tangan kasarnya. Amplop itu. Amplop itu. Isinya bahkan tidak cukup untuk menebus obat sang ayah untuk seminggu.

Mandor di depannya meludah ke tanah berdebu. Ludahnya nyaris mengenai sepatu bot Fais yang ujungnya sudah menganga terbuka.

"Kau lambat. Pekerjaan orang lain selesai dua jam lalu, kau baru kelar sekarang. Anda harusnya bersyukur tidak saya pecat detik ini juga," gerutu sang mandor sambil berkacak pinggang.

Fais mengunci rahang. Urat di lehernya menegang liar.

Ia ingin meninju raut arogan itu. Ia sungguh ingin menghancurkan rahang yang terus memuntahkan kalimat sampah tersebut. Tangannya sudah mengepal keras hingga buku jarinya memutih.

Namun, kepalanya seketika mengingat suara batuk dari rumah. Genggamannya mengendur. Ia menunduk dalam.

"Baik, Pak. Maaf." Suara Fais keluar seperti decitan engsel berkarat. Mentah dan dipaksakan.

Mandor itu hanya mendengus meremehkan, lalu berbalik pergi. Meninggalkan Fais berdiri diam di bawah matahari sore yang memanggang ubun-ubun. Langit sore itu memar lebam, jingga busuk seolah ikut menertawakan keringatnya yang tak berhFais.

Langkah Fais terseret-seret menyusuri lorong sempit menuju rumah. Lorong ini bau pesing. Udara di sini selalu terasa pekat seolah oksigen enggan masuk ke paru-paru penduduknya.

Setiap tapak kakinya terasa berat. Sepatunya seberat jangkar kapal.

Ia benci lorong ini. Lorong ini. Lorong laknat ini. Tapi di ujung sana adalah tempatnya pulang. Tempat satu-satunya yang menyisakan kehidupannya.

Tiba-tiba terdengar suara bantingan benda keras dari arah rumahnya.

Fais mempercepat langkah. Jantungnya memukul tulang rusuk dengan ritme panik. Pikirannya langsung meliar membayangkan hal terburuk.

Seorang pria berjaket gelap baru saja melangkah keluar dari pekarangan sempit rumah Fais. Wajah pria itu bengis, tangannya sibuk menyelipkan buku kecil ke dalam saku celana.

Penagih utang. Lintah darat keparat.

Fais berhenti bernapas sejenak. Tubuhnya mematung di pinggir jalan sempit. Ia membiarkan pria itu lewat. Tatapan mereka sempat bertemu sedetik. Sebuah tatapan penuh ancaman mati yang tak butuh diterjemahkan lewat kata.

Setelah pria itu hilang di tikungan, Fais mendorong pintu rumahnya. Pintu kayu lapuk yang menjerit pelan saat terbuka.

Ruangan sepetak itu gelap dan pengap. Bau karat besi berbaur dengan aroma obat murah langsung menyergap penciuman.

Di sudut ruangan, tepat di atas kasur tipis tanpa seprai, sesosok pria tua terbatuk hebat.

Tubuh kurus ayahnya bergetar brutal. Tiap tarikan napas dan batuk yang keluar seakan ingin mencabut paru-parunya paksa dari dalam dada.

Fais mendekat perlahan. Matanya menangkap bercak merah tua menempel di kain lusuh yang digenggam ayahnya.

Darah. Selalu darah. Kapan siksaan ini berhenti menggerogoti laki-laki tua itu.

Di arah dapur yang hanya dibatasi selembar tirai kusam, ibunya berdiri membelakangi mereka. Pundak wanita paruh baya itu naik turun dengan ritme patah-patah yang menyedihkan.

Ibunya menangis. Menangis rapat tanpa suara. Berusaha mati-matian menahan isak agar suaminya tidak mendengar. Agar anaknya tidak tahu menahu soal keputusasaan ini.

Tapi Fais tahu. Ia sangat tahu. Keheningan pura-pura ini jauh lebih mencekik daripada raungan histeris. Ia menelan ludah yang terasa setajam pecahan kaca.

Langkahnya beralih pelan ke arah meja kayu reyot di tengah ruangan. Di sana ada selembar kertas yang ditinggalkan rentenir tadi. Tergeletak begitu saja, sengaja ditumpuk di atas tumpukan resep dokter yang tak pernah tertebus.

Ia menarik kertas itu. Kertas tagihan rumah sakit daerah bulan lalu. Belum lunas. Bunganya malah membengkak memakan angka aslinya.

Mata Fais menelusuri deretan angka yang dicetak tebal di kolom paling bawah.

Tiga puluh lima juta.

Tiga puluh lima juta. Tiga puluh lima juta rupiah.

Tangannya merogoh saku celana. Menyentuh amplop cokelat dari mandor tadi. Amplop berisi tiga ratus ribu rupiah yang ia pertahankan dengan merendahkan hFais dirinya sampai sebatas sol sepatu. Tiba-tiba semua ini terasa seperti lelucon paling busuk di alam semesta.

Napasnya tercekat. Ada sesuatu yang patah di dalam dadanya. Bukan retak, tapi hancur berkeping-keping.

Dinding kayu di sekelilingnya mendadak terasa bergerak menyempit. Mencoba meremukkan sisa kewarasan yang ia punya. Udara di ruangan itu mengering seketika, menolak memberinya ruang untuk sekadar mengambil napas panjang.

Fais meremas kertas tagihan itu perlahan. Sangat perlahan hingga buku jarinya gemetar hebat.

Matanya kosong menatap ke depan. Tidak ada air mata yang jatuh. Sumurnya terlalu kering untuk menangis. Ia terlalu lelah bahkan untuk sekadar memuntahkan amarah.

Ia mendongak, menatap atap rumahnya yang bocor dan menembus langsung ke langit malam tanpa bintang.

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!