Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]
Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Hidup Seorang Pecundang
"Tiga ratus ribu. Sisanya dipotong untuk keterlambatanmu."
Suara parau itu menabrak telinga Fais. Berbaur kotor dengan deru bising mesin pengaduk semen di latar belakang proyek.
Ia menatap amplop cokelat tipis di tangan kasarnya. Amplop itu. Amplop itu. Isinya bahkan tidak cukup untuk menebus obat sang ayah untuk seminggu. Apalagi untuk menebus rasa malu.
Mandor di depannya meludah ke tanah berdebu.
Ludah berbusa itu nyaris mengenai sepatu bot Fais. Ujung sepatu yang kulit sintetiknya sudah menganga terbuka memperlihatkan kaus kaki kotor.
"Kau lambat. Pekerjaan orang lain selesai dua jam lalu, kau baru kelar sekarang. Anda harusnya bersyukur tidak saya pecat detik ini juga," gerutu sang mandor.
Pria itu menatap Fais dari atas ke bawah seperti menilai rongsokan besi kiloan.
"Dua jam, Pak," ucap Fais pelan. Suaranya ditahan sedemikian rupa di tenggorokan. "Saya cuma terlambat dua jam karena harus mengurus administrasi antrean rumah sakit pagi tadi. Potongannya kenapa sampai setengah upah?"
Mandor itu mendecak keras. Matanya memicing sinis.
"Itu aturanku. Anda tidak suka? Pintu keluar ada di sana. Besok tidak usah datang lagi. Masih banyak orang miskin di luar sana yang antre mau menggantikan posisimu dengan bayaran lebih murah."
Fais mengunci rahang. Urat di lehernya menegang liar.
Ia sungguh ingin meninju raut arogan itu. Ia ingin menghancurkan rahang yang terus memuntahkan kalimat sampah tersebut. Tangannya sudah mengepal keras di dalam saku.
Satu pukulan cukup. Satu ayunan tangan untuk merontokkan gigi berlapis nikotin itu ke aspal.
Namun, kepalanya seketika mengingat suara batuk parah dari rumah. Genggamannya mengendur. Ia kehilangan semua tenaga perlawanannya dalam hitungan detik. Ia menunduk dalam.
"Baik, Pak. Maaf." Suara Fais keluar seperti decitan engsel berkarat. Mentah dan dipaksakan.
Mandor itu hanya mendengus meremehkan. Pria itu mengibaskan tangan seolah mengusir lalat, lalu berbalik pergi menuju posnya tanpa menoleh lagi.
Meninggalkan Fais berdiri diam.
Langkah Fais terseret-seret menyusuri lorong sempit menuju rumah.
Lorong ini bau pesing. Tumpukan limbah di sudut gang dibiarkan membusuk tanpa ada yang peduli.
Setiap tapak kakinya terasa berat.
Ia benci lorong ini.
Lorong ini.
Lorong laknat ini.
Tapi di ujung sana adalah tempatnya pulang. Tempat ia harus kembali merangkak menjadi manusia biasa setelah seharian diperlakukan seperti mesin penyedot debu.
Tiba-tiba terdengar suara bantingan benda keras dari arah depan.
Fais mempercepat langkah. Jantungnya memukul tulang rusuk dengan ritme panik. Pikirannya langsung meliar membayangkan hal terburuk.
Seorang pria berjaket kulit gelap baru saja melangkah keluar dari pekarangan sempit rumah Fais.
Wajah pria itu bengis dengan codet melintang di pelipis. Tangannya sibuk menyelipkan buku kecil catatan utang ke dalam saku celana. Mulutnya menggumamkan umpatan tak jelas yang mengendap di udara.
Penagih utang.
Fais berhenti bernapas sejenak. Tubuhnya mematung di pinggir jalan sempit. Ia membiarkan pria itu lewat. Ia merapatkan punggungnya pada tembok sengkarut gang.
Tatapan mereka sempat bertemu sedetik.
Pria berjaket gelap itu berhenti melangkah. Sepatu kulitnya berderit pelan menahan bobot tubuh. Ia menoleh sedikit, menatap Fais dari sudut matanya dengan malas.
"Keluargamu punya waktu sampai lusa," ucap pria itu. Suaranya rendah. Menggema di antara dinding bata sempit.
Fais diam. Ia menahan napasnya.
"Lewat dari itu, kami ambil surat tanah ini. Atau sesuatu yang lain dari dalam rumah."
Pria itu menyeringai remeh, lalu melangkah pergi, hilang di tikungan gang yang temaram.
Fais menelan ludah asam. Ia mendorong pintu rumahnya dengan tangan gemetar.
Pintu kayu lapuk itu menjerit pelan saat terbuka.
Ruangan sepetak di baliknya gelap dan pengap. Cahaya sore kesulitan menembus ventilasi berdebu.
Di sudut ruangan, tepat di atas kasur tipis tanpa seprai, sesosok pria tua terbatuk hebat.
Tubuh kurus ayahnya bergetar brutal. Tiap tarikan napas dan batuk yang keluar seakan ingin mencabut paru-parunya paksa dari dalam dada. Bahunya terguncang berulang kali membentur dinding anyaman bambu di belakangnya.
Fais mendekat perlahan.
Matanya menangkap bercak merah tua. Menempel basah di kain lusuh yang digenggam ayahnya.
Darah. Selalu darah. Kapan siksaan ini berhenti menggerogoti laki-laki tua itu.
"Fais..." panggil ayahnya parau. Suaranya putus-putus. "Orang tadi..."
"Tidak apa-apa, Yah. Fais sudah urus," potong Fais cepat. Ia refleks berbohong. Dusta yang sudah ia hafal di luar kepala bagaikan mantra.
Ayahnya menutup mata rapat. Guratan rasa bersalah tercetak jelas di wajah keriputnya. Pria tua itu tahu anaknya berbohong. Ia selalu tahu. Tapi ia tidak punya sisa tenaga sedikit pun untuk mendebat realita.
Di arah dapur yang hanya dibatasi selembar tirai kusam, ibunya berdiri membelakangi mereka.
Pundak wanita paruh baya itu naik turun. Dengan ritme patah-patah yang menyedihkan. Panci aluminium di depannya hanya merebus air kosong yang mendidih sia-sia.
Ibunya menangis. Menangis rapat tanpa suara.
Berusaha mati-matian menahan isak agar suaminya tidak mendengar. Agar anaknya tidak tahu menahu soal keputusasaan rumah ini.
Tapi Fais tahu.
Ia sangat tahu.
Keheningan pura-pura ini jauh lebih mencekik daripada raungan histeris. Ia menelan ludah yang kini terasa setajam serpihan kaca di tenggorokannya.
Langkahnya beralih pelan ke arah meja kayu reyot di tengah ruangan.
Di sana ada selembar kertas yang ditinggalkan rentenir tadi. Tergeletak begitu saja. Sengaja ditumpuk kasar di atas tumpukan resep dokter yang tak pernah tertebus sejak bulan lalu.
Ia menarik kertas itu lambat-lambat.
Kertas tagihan rumah sakit daerah. Belum lunas. Bunganya dari rentenir malah membengkak liar memakan angka aslinya. Kolaborasi paling sempurna antara nasib buruk dan lintah darat untuk memiskinkan manusia.
Mata Fais menelusuri deretan angka yang dicetak tebal di kolom paling bawah.
Ia mengeluarkan amplop tipis itu. Meletakkannya bersebelahan dengan kertas tagihan tebal tersebut.
'Gajiku hanya tiga ratus ribu...'
Sedangkan angkanya berkali-kali lipat lebih banyak.
'...Apa yang harus kulakukan?'
Tiba-tiba semua ini terasa seperti lelucon buruk. Usahanya memeras keringat seharian penuh di bawah terik matahari bahkan tidak cukup untuk membayar bunga utangnya di minggu ini saja.
Napasnya tercekat.
Ada sesuatu yang patah di dalam dadanya. Bukan retak, tapi hancur berkeping-keping menjadi debu.
Fais meremas kertas tagihan itu perlahan.
Sangat perlahan. Menggulungnya dalam kepalan hingga jarinya gemetar hebat.
Ia tidak merobeknya.
Percuma.
Merobek kertas itu tidak akan merobek riwayat utangnya di buku catatan si penagih.
Matanya kosong menatap lurus ke depan.
Tidak ada air mata yang jatuh. Sumurnya terlalu kering untuk menangis. Ia terlalu lelah. Sangat lelah bahkan untuk sekadar memuntahkan amarah kepada nasib.
'Tidak ada yang bisa aku lakukan...'
Ia mendongak pelan, melepaskan kepalan tangannya.