NovelToon NovelToon
Simpul Mati Amora Gayana

Simpul Mati Amora Gayana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Salma.Z

Amora (23) mengira takdirnya hanya sebatas membungkus es teh manis dan beradu urat dengan kuli panggul di pasar pelabuhan yang becek. Di balik tabiatnya yang ramai, dia tidak pernah tahu bahwa dirinya adalah darah daging Dinasti Klan—pemilik kasta tertinggi yang sengaja dilesapkan ke lumpur kemiskinan akibat tragedi belasan tahun lalu. Yang dia tahu, hidup kasarnya selalu aman karena dijaga oleh Hamdan (29), pria berkemeja hitam yang dingin laksana es.Namun, ketenangan itu koyak saat Gavin Raka (33), miliarder asal Swiss, datang membawa kepingan silsilah yang hilang. Amora diseret paksa masuk ke dunia elite yang penuh manipulasi finansial internasional, fitnah hubungan sedarah, hingga cakar fisik dari saingan cintanya, Elif Azra Karaca.Saat gurita dana rahasia Hamdan bergerak dingin meruntuhkan bursa efek Eropa murni demi melindunginya, seuntai anyaman gelang rumput kering di tangan Amora perlahan mulai mengoyak kabut amnesia bawah sadarnya. Dan tepat ketika rahasia malam kebakaran itu robek seutuhnya, sebuah bayangan dari masa lalu bersiap bangkit untuk meruntuhkan seluruh takhta kekuasaan dunia kelas atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Tahta di Meja Perjamuan

Suasana ruang makan utama di Mansion Tarkan malam itu mendadak terasa seperti altar kemegahan yang dingin. Sinar temaram lilin dari lampu gantung perak raksasa memantul pas di atas deretan alat makan kristal, bikin bayangan panjang menari-nari di atas taplak meja bahan sutra. Hamdan duduk tenang di kursi ujung meja dengan wibawa yang nggak bisa diganggu gugat sama siapa pun. Sementara itu, Amora mengambil posisi tepat di sebelah kanan Hamdan—sebuah posisi krusial yang awalnya sengaja disiapkan Layla Tarkan buat Elif.

Kondisi di dalam ruangan itu mendadak senyap banget. Saking sepinya, bunyi sendok yang sesekali beradu sama porselen mahal kedengaran laksana lonceng peringatan yang bikin dada terasa sesak.

Elif mencoba sekuat tenaga buat mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang sudah mulai koyak. Sembari meniru gerakan anggun yang biasa dia pelajari lewat kelas etiket, dia menyesap supnya pelan-pelan, lalu melempar pandangan meremehkan ke arah Amora.

"Urusan visi bisnis itu emang penting, Nona Amora," kata Elif, sengaja memecah keheningan pakai nada bicara yang kedengaran merendahkan secara halus. "Tapi, stabilitas buat dinasti besar sekelas Tarkan ini butuh sosok pendamping yang paham sama protokol internasional. Bukan orang yang... baru aja selesai ngebersihin debu pasar dari kakinya."

Ting.

Hamdan menaruh gelas kristalnya ke atas meja dengan ketukan tajam yang seketika bikin seisi ruangan langsung bungkam. Tapi, sebelum raut mukanya yang menegang berubah jadi omelan, Amora lebih dulu menaruh kembali serbetnya dengan gerakan yang super tenang.

"Kalau cuma protokol sih bisa dipelajari dalam waktu semalam, Nona Elif," sahut Amora pakai suara jernih tapi punya penekanan yang dingin menusuk. "Tapi status kepemilikan aset yang sah itu nggak bakal pernah bisa dibeli pakai modal etiket doang. Tuan Menteri," Amora langsung memindahkan fokus matanya ke arah ayahnya Elif, bikin pria paruh baya itu refleks menaruh alat makannya.

"Saya ini pemegang hak veto atas lahan pelabuhan utara yang dari kemarin jadi fokus utama investasi Anda. Jadi menurut saya, kita berdua bisa langsung bahas kontrak baru yang jauh lebih menguntungkan buat negara Anda, tanpa perlu diselingi drama perjodohan yang... jujur aja, kelihatan melelahkan ini."

Menteri asal Turki itu langsung tersentak di kursinya. Dia sempat melirik ke arah Layla Tarkan yang mukanya udah memerah padam gara-gara menahan berang, sebelum akhirnya menatap Amora pakai binar hormat yang mendadak muncul. Politikus senior itu langsung sadar kalau perempuan bergaun merah di depannya ini bukan cuma tunangan Hamdan, melainkan raksasa ekonomi asli yang baru aja bangun dari tidur panjangnya.

Layla Tarkan yang nggak sudi kehilangan muka di depan kolega besarnya langsung mencoba mengambil alih obrolan. "Amora, tolong dijaga ya ucapan kamu! Elif ini tamu kehormatan kita dan dia calon—"

"Ibu," potong Hamdan cepat. Suaranya kedengaran begitu dingin, dan nggak menerima bantahan dalam bentuk apa pun. "Cukup. Acara perjamuan malam ini bukan lagi tempat buat urusan perjodohan yang Ibu rancang. Perjodohan itu resmi batal sepihak dari saya detik ini juga."

Elif melotot nggak percaya. Air mata langsung menggenang di sepasang matanya yang indah. Dia mencoba melihat ke kanan-kiri ruangan, berharap ada orang yang mau belain dia, tapi bahkan ayahnya sendiri sekarang kelihatan jauh lebih tertarik buat diskusi sama Amora ketimbang merespons anaknya. Merasa dihina habis-habisan di depan umum, Elif langsung berdiri dari kursinya dengan gerakan kasar.

"Aku nggak pernah ngerasa serendah ini!" tangis Elif akhirnya pecah juga.

Perempuan Turki itu langsung lari meninggalkan ruang makan dengan dramatis. Langkahnya segera diikuti sama ibunya yang sempat melempar tatapan mata penuh amarah ke arah Layla karena merasa sudah dipermalukan dalam perjamuan malam itu.

Hamdan bangkit dari duduknya, lalu mengangkat tinggi-tinggi gelas jus delima miliknya. Dia sama sekali nggak sudi menatap para tamu undangan yang hadir. Sepasang mata elangnya cuma terkunci rapat pada Amora, memancarkan binar pemujaan dewasa yang begitu dalam.

"Buat Amora Gayana Klan," ucap Hamdan pakai vokal berat yang menggetarkan seisi ruangan. "Perempuan yang udah berhasil menjaga kehormatannya di tengah hantaman badai besar, dan satu-satunya pemilik takhta di hatiku sekaligus di dalam kediaman ini."

Melihat pergerakan Hamdan, semua tamu undangan, termasuk Sang Menteri Turki yang cara berpikirnya pragmatis, perlahan-lahan ikut berdiri dan mengangkat gelas mereka buat bersulang. Layla Tarkan cuma bisa duduk mematung sendirian di kursinya. Dia terpaksa menyaksikan pakai mata kepalanya sendiri gimana anak laki-laki yang dia bentuk susah payah buat jadi senjata bisnis, sekarang justru berbalik menghancurkan seluruh kekuasaannya demi perempuan bergaun merah di sampingnya.

Kepergian Elif yang dramatis tadi sempat menyisakan keheningan yang janggal di ruang makan, tapi Hamdan nggak membiarkan kecanggungan itu bertahan lama. Begitu kembali duduk, dia langsung menggeser kursi makannya jadi jauh lebih dekat ke arah Amora. Gerakan itu seolah pengin mempertegas ke semua orang yang hadir kalau jarak di antara mereka berdua sudah dihapus selamanya.

"Tuan Menteri," Hamdan kembali membuka suara, kali ini pakai nada bisnis yang kedengaran jauh lebih kalem tapi tetap kerasa tajam. "Saya harap ketidaksopanan dari keluarga saya malam ini nggak bikin minat Anda pada proyek pelabuhan kita jadi berkurang. Tapi, ya seperti yang dibilang Amora tadi... segala urusan keputusan strategis mulai besok pagi harus lewat persetujuan dia sebagai kepala keluarga Klan."

Menteri Turki itu mengangguk sopan, dia bahkan sempat mengangkat gelasnya sebagai tanda hormat ke arah Amora. "Saya paham, Tuan Hamdan. Seorang pemimpin sejati itu tahu kapan waktu yang pas buat mengenali kekuatan yang jauh lebih besar. Nona Amora, saya sangat menantikan diskusi bisnis kita di kantor pusat besok pagi."

Layla Tarkan, yang dari tadi cuma bisa mengepalkan tangannya kencang-kencang di bawah taplak meja sutra, akhirnya berdiri juga. Wajahnya yang biasanya dipenuhi keangkuhan sekarang kelihatan retak gara-gara kombinasi rasa marah sama malu yang udah nggak tertahankan lagi.

"Kamu udah tega menghancurkan aliansi bisnis yang Ibu bangun selama bertahun-tahun, Hamdan," desis Layla pakai suara yang bergetar hebat. "Kamu lebih milih perempuan ini dan membuang harga diri Tarkan di depan tamu-tamu kita!"

Hamdan mendongak, menatap langsung ke mata ibunya pakai pandangan yang paling dingin. "Aku nggak lagi membuang kehormatan Tarkan, Ibu. Aku justru lagi memulihkannya dari cara-cara kotor yang selama ini Ibu pakai buat mempertahankannya. Harga diri itu nggak dibangun di atas paksaan perjodohan atau penahanan rahasia secara ilegal. Dan kalau lagi bahas urusan rahasia..."

Hamdan melirik ke arah pintu besar ruang makan yang perlahan-lahan mulai terbuka kembali dari luar. "...aku rasa perjamuan kita ini belum benar-benar lengkap kalau belum ada kehadiran tamu kehormatan kita yang sebenarnya."

Amora refleks menahan napasnya, jantungnya langsung berdegup kencang pas melihat sosok perempuan yang berjalan masuk dengan dibantu oleh Farid. Itu adalah ibunya sendiri, Saphira Elara. Wanita itu sekarang memakai gaun beludru warna hitam yang kelihatan cantik banget, bikin penampilannya nampak anggun bak seorang ratu yang baru aja bangkit dari kegelapan masa lalu.

Semua tamu undangan yang hadir di sana langsung terkesiap kaget. Beberapa orang bangsawan tua bahkan sampai refleks berdiri dari duduknya gara-gara syok mengenali wajah wanita yang selama tujuh belas tahun ini dianggap sudah mati jadi tanah. Layla Tarkan langsung jatuh terduduk kembali ke kursinya dengan lemas, matanya melotot ketakutan laksana baru aja melihat hantu dari masa lalunya yang paling kelam.

Pandangan mata Hamdan tetap terkunci ke arah pintu besar, mengambil alih seluruh perhatian orang-orang di dalam ruangan. Amora bisa merasakan jemari tangan Hamdan yang hangat menggenggam erat tangannya di bawah meja, seolah-olah lagi menyalurkan seluruh sisa kekuatannya supaya Amora tetap bisa berdiri tegak menghadapi apa pun yang bakal terjadi di depan mata.

Layla Tarkan mulai terengah-engah, napasnya kedengaran pendek dan tajam. "Hamdan, apa-apaan sih kamu?! Hentikan semua drama ini sekarang juga!"

Tapi, perintah dari Layla sekarang rasanya nggak ubahnya seperti bisikan angin lalu yang sama sekali nggak punya arti lagi. Saphira Elara melangkah masuk dengan langkah kaki yang pasti. Walaupun jalannya perlahan dan siluet tubuhnya kelihatan agak ringkih, aura sebagai seorang istri dari Baron Alaric Klan tetap memancar kuat banget. Dia nggak lagi memakai baju lusuh mirip pas di sel bawah tanah; perempuan itu sekarang mengenakan kembali keanggunan yang sudah lama dirampas dari hidupnya.

Gema ketukan langkah kaki Saphira di atas lantai marmer seolah-olah jadi hitungan mundur buat runtuhnya kekuasaan Layla. Para tamu undangan, yang rata-rata adalah saksi hidup dari masa kejayaan keluarga besar Klan belasan tahun lalu, mulai berdiri satu per satu sebagai bentuk tanda hormat. Suara isak tangis tertahan sama gumaman nggak percaya langsung memenuhi seisi ruangan.

"Saphira?" suara salah seorang bangsawan tua terdengar bergetar hebat. "Apa ini beneran kamu, Nyonya Besar Klan?"

"Sepertinya memang dia! saat live DNA itu, Saphira ada terlihat dikamera wartawan," celutuk bangsawan yang lain.

Saphira menghentikan langkah kakinya tepat di sebelah Amora. Dia sama sekali nggak sudi menatap para tamu undangan, melainkan memilih memandangi Layla Tarkan pakai sorot mata kelembutan yang mematikan. "Tujuh belas tahun itu ternyata waktu yang lama banget ya buat bersembunyi di dalam rumah sahabat sendiri, bukan begitu, Layla?"

Kalimat itu, walaupun diucapkan Saphira pakai intonasi yang tenang banget, efeknya laksana sebuah ledakan bom di tengah ruangan. Skandal gosip hubungan sedarah yang tadi sempat diembuskan buat menjatuhkan mental Amora, sekarang berbalik sepenuhnya jadi skandal penahanan orang secara ilegal yang dilakukan oleh Layla Tarkan.

Amora langsung berdiri tegak, lalu merangkul protektif bahu ibunya di depan seluruh pasang mata yang lagi memandangi mereka. Dia menoleh ke arah menteri Turki sama para kolega bisnis yang masih mematung di tempatnya masing-masing. "Inilah alasan utama kenapa Tarkan Group sama Dinasti Klan bakal bersatu. Bukan gara-gara urusan perjodohan politik murahan, tapi karena kebenaran yang baru aja berhasil pulang ke rumahnya sendiri."

Hamdan ikut berdiri tegap, memposisikan badannya tepat di samping Amora dan Saphira. Dia memandangi ibunya buat yang terakhir kali di dalam acara perjamuan itu. "Acara makan malam ini sudah resmi berakhir buat orang-orang yang nggak sanggup melihat kebenaran. Farid, tolong antar Ibu balik ke kamarnya. Beliau butuh istirahat... selamanya dari semua urusan publik."

Layla Tarkan cuma bisa diam mematung tanpa sanggup mengeluarkan kata-kata lagi. Gurat mukanya kelihatan hancur lebur gara-gara rasa malu yang nggak bisa dilukiskan lagi pas para pelayan yang biasanya patuh, sekarang justru menuntun dia keluar dari ruangan di bawah tatapan mata menghakimi dari para tamu elite yang hadir.

 To be continued...

1
Wawan
Salam kenal buat Amora 😍
Yu
Semangat!
Yu
Luarbiasa
Rabi Salim
Semangat author nulisnya!!!!
Iki Riat
Lanjut kak. Semangat nulisnya!!
Tisa
Asyiknya... 🤩🤩
Naura
Hamdan 😍
Andy Rajasa
kelanjutannya mana?
Salma.Z: ditunggu aja kak
total 1 replies
Guntur
Cinta yang posesif
Reni
Semangat kak!! lanjutkan ceritanya...
Nayla
Berdebar-debar saat membaca. Cerita yang menggebu-gebu.
Hana Unil
Next...lanjut
Hana Unil
Hmmm...
Hana Unil
Lanjut kak..lanjut🙏
Rara Lani
Ceritanya bagus hanya saja masih sedikit peminatnya. Tetap semangat author. Lanjutkan!
Salma.Z: Terima kasih
total 1 replies
Sari
Semangat!! Lanjutkan!
Ika Yani
Cinta yang dramatis...
Cantika
Alurnya bikin gemes🤭
Andy Rajasa
Amora dan Hamdan punya chemistry yang bisa buat diriku meleleh 😍
udin sini
Cintanya mewah, tapi lukanya lebih mahal. Semoga saja happy ending.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!