NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Halo teman-teman, aku sedang memperbaiki & memperpanjang cerita ini supaya makin seru. Perubahan bertahap ya, terima kasih dukungannya!

---

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Ayah Budi dengan Dr. Hendra

Hari Kamis, pukul 10.00. Aku di sekolah, tapi pikiranku di tempat lain.

Ayah Budi sedang dalam perjalanan menuju kantor Dr. Hendra. Dia pamit pagi buta—jam 6—sebelum aku bangun. Bunda bilang dia tidak bisa tidur semalaman.

"Nay, kamu pucet banget," bisik Sasha.

"Aku nggak bisa konsentrasi. Ayahku mau ketemu Dr. Hendra."

Sasha membelalak. "Apa?!"

"Pelan-pelan, Sha. Nanti didengar orang."

"Maaf, maaf." Sasha menurunkan volume suaranya. "Tapi itu gila! Ayah kamu ketemu ular itu sendirian?"

"Bukan sendirian. Dia bawa pengacara dan dua mantan polisi temannya."

"Tetep aja gila."

Aku menghela napas. "Aku tahu."

---

Pukul 11.00 — Chat dari Ayah Budi

Ayah Budi (11.02): "Nak, Ayah sudah sampai."

Nayla (11.02): "Gimana, Yah? Dr. Hendra terima?"

Ayah Budi (11.03): "Dia terima. Tapi dengan syarat. Ayah harus datang sendiri ke kantornya. Tanpa pengacara, tanpa polisi."

Aku membeku.

Nayla (11.03): "Jangan, Yah. Itu jebakan."

Ayah Budi (11.04): "Ayah tahu. Tapi Ayah tidak punya pilihan."

Nayla (11.04): "Ayah..."

Ayah Budi (11.05): "Doakan Ayah, Nak."

Chat berhenti. Aku menelepon. Tidak diangkat. Aku menelepon lagi. Tidak diangkat.

"Nay, kenapa?!" tanya Sasha panik.

"Ayahku—dia mau ketemu Dr. Hendra sendirian. Tanpa pengawalan."

Sasha pucat pasi.

---

Pukul 13.00 — Jam Istirahat

Makanan di piringku tidak tersentuh. Sasha sudah menghabiskan seporsi nasi goreng dan sekarang sedang memainkan sendoknya dengan gelisah.

"Kamu harus makan, Nay."

"Nggak laper."

"Khawatir sama ayah kamu?"

"Iya."

"Tapi ayah kamu pasti baik-baik aja. Dia bilang dia akan hati-hati."

Aku tidak menjawab.

Handphoneku bergetar. Aku hampir menjatuhkannya karena buru-buru.

Ayah Budi (13.15): "Nak, Ayah selamat."

Aku menghela napas lega—lega yang membuat seluruh tubuhku lemas.

Nayla (13.15): "Ayah nggak apa-apa? Dr. Hendra ngapain?"

Ayah Budi (13.16): "Dia baik-baik saja. Sopan. Ramah. Bahkan menawarkan kopi dan kue."

Nayla (13.16): "Terus?"

Ayah Budi (13.17): "Tapi di balik senyumnya, Ayah bisa lihat mata ular. Mata yang dingin. Mata yang tidak pernah puas."

Nayla (13.17): "Apa yang dia bilang?"

Ayah Budi (13.18): "Dia bilang dia tidak kenal Dinda. Dia bilang Dinda bukan siapa-siapa."

Nayla (13.18): "Bohong."

Ayah Budi (13.19): "Ayah tahu. Tapi Ayah tidak bisa membuktikannya di sini. Di kantornya. Di wilayah kekuasaannya."

Nayla (13.19): "Terus Ayah ngapain di sana?"

Ayah Budi (13.20): "Ayah menyampaikan pesan."

Nayla (13.20): "Pesan apa?"

Ayah Budi (13.21): "Bahwa Ayah tidak takut padanya. Bahwa Ayah akan melindungi keluarganya. Bahwa Ayah siap mati demi kamu."

Aku tidak bisa membalas chat itu. Tanganku gemetar.

Ayah Budi (13.22): "Jangan khawatir, Nak. Ayah baik-baik saja. Sekarang Ayah pulang. Doain Ayah sampai rumah."

Nayla (13.22): "Hati-hati, Yah."

---

Pulang sekolah, aku langsung berlari ke rumah.

Ayah Budi duduk di ruang tamu, masih dengan kemeja batik yang sama—tapi kusut di bagian kerah, seperti ada yang menariknya. Kacamatanya retak tipis di sisi kiri.

"Yah! Ayah kenapa?!"

"Tenang, Nak. Ayah nggak apa-apa."

"Apa yang terjadi?!" Aku duduk di sampingnya, memeriksa wajahnya—tidak ada luka, tidak ada memar. Tapi kacamata yang retak...

"Di parkiran. Dua orang menghampiri Ayah. Mereka bilang, 'Dr. Hendra kirim salam.' Lalu mereka... menarik kerah Ayah. Memecahkan kacamata Ayah."

"Ayah harus lapor polisi!"

"Ayah sudah lapor. Tapi mereka bilang, tanpa bukti, sulit."

Aku menangis. "Ini semua salah aku, Yah."

"Nak." Ayah Budi memelukku. "Ini bukan salah kamu. Ini salah mereka yang jahat."

"Tapi—"

"Tidak ada tapi." Ayah Budi melepas pelukannya, menatap mataku. "Ayah tidak akan menyerah. Dan kamu juga tidak boleh menyerah. Janji?"

Aku mengusap air mataku. "Janji, Yah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!